Bacaan : Maleakhi 3:1-10
Tentang persepuluhan, ada yang berkata, "Persepuluhan harus
dikembalikan ke gereja lokal, kalau tidak, berarti kita merampok
milik Tuhan". Sebaliknya, ada pula yang berkata, "Itu sistem di
Perjanjian Lama. Bukankah kita hidup di zaman Perjanjian Baru, zaman
anugerah, jadi yang penting kita memberi dengan rela dan sukacita."
Begitulah, kita bisa terjebak dalam kebingungan bila mengubah,
menambah, atau mengurangi ayat Alkitab semau kita menjadi "lebih
indah dari warna aslinya". Padahal, Maleakhi 3:10 dan Imamat 27:30
telah menuliskan persepuluhan ini dengan jelas. Tak ada kata tuduhan
"merampok" atau "merampas". Kita hanya menerima nasihat, "bawalah
milik TUHAN". Selanjutnya, persepuluhan tidak hanya disebut dalam
Perjanjian Lama, tetapi juga dalam Perjanjian Baru. Yesus mengatakan,
"Yang satu (persepuluhan) harus dilakukan dan yang lain jangan
diabaikan" (Matius 23:23). Bahkan lebih jauh Perjanjian Baru juga
menegaskan, bahwa tak hanya sepersepuluh, tetapi juga seluruh hidup
kita adalah milik Tuhan, karena kita sudah ditebus dengan darah Yesus
yang mahal (1Petrus 1:18,19).
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru berbicara sangat jelas
mengenai persembahan. Yang penting; baik persepuluhan, persembahan
iman dan syukur, atau apa pun namanya, harus diberikan bukan dengan
duka atau terpaksa. Namun, dengan motivasi yang benar, bukan untuk
pamer (Matius 6:3) dan dengan rela dan sukacita (2Korintus 9:7).
Dengan demikian, Allah pun berkenan atas setiap persembahan kita.
Inilah prinsip yang utuh di dalam seluruh Alkitab -ACH
BIARLAH ALLAH DIMULIAKAN
MELALUI SETIAP PERSEMBAHAN YANG KITA BAWA
|