Bacaan : Yohanes 13:21-30
Wajah para murid tampak tegang. Masing-masing menaruh curiga; siapa
di antara mereka yang bakal jadi pengkhianat. "Yang jelas bukan
aku," pikir mereka. Hanya Yohanes yang menampakkan raut wajah
tenang. Duduk bersandar di kanan Yesus, hati murid yang dikasihi
Yesus ini peka akan pergumulan Gurunya. Inilah suasana yang
tergambar dalam lukisan The Last Supper karya Leonardo Da Vinci.
Dalam karyanya itu, Da Vinci ingin memotret reaksi para murid
setelah Yesus berkata bahwa salah satu dari mereka akan berkhianat.
Sebenarnya, siapakah yang mengkhianati Yesus malam itu? Apakah hanya
Yudas? Tidak! Petrus pun menyangkali-Nya (Yohanes 18:12-27). Bahkan
Matius 26:56 menyatakan, "Semua murid itu meninggalkan Dia dan
melarikan diri." Mereka yang seharusnya menjadi pengikut setia,
justru bersembunyi dan menyelamatkan diri sendiri. Ini juga sebuah
bentuk pengkhianatan. Kita berkhianat bukan hanya saat membocorkan
informasi kepada lawan, melainkan juga saat bersikap tidak loyal
terhadap orang yang seharusnya kita bela. Malam itu, semua murid
Yesus berkhianat!
Kita pun bisa terjerumus mengkhianati Yesus, jika ada hal-hal lain
yang lebih kita bela daripada diri-Nya. Tidak sedikit orang
mengesampingkan imannya demi mengejar karier, mendapat teman hidup,
memperoleh kesembuhan, atau menikmati kesenangan duniawi. Ada orang
yang enggan dikenal sebagai orang kristiani, karena takut kehilangan
teman atau peluang bisnis. Kristus telah memilih kita untuk menjadi
sahabatsahabat-Nya, mari kita terus jagai hati dan hidup kita agar
terus setia kepada-Nya --JTI
KESETIAAN DIUJI BUKAN PADA MASA TENANG
NAMUN JUSTRU PADA MASA SUKAR
|