Bacaan : Ayub 1:1-5
Ada orang-orang yang mengalami "pertobatan besar", yakni mereka yang
mengalami perubahan radikal dalam hidupnya. Misalnya, Zakheus (Lukas
19:1-10); yang tadinya seorang pendosa, menjadi pengikut Kristus
yang taat. Atau, Paulus (Kisah Para Rasul 9:1-19); yang tadinya
pembenci kekristenan, menjadi seorang pekabar Injil yang gigih.
Namun, setelah perubahan yang demikian drastis, ternyata mereka
tidak serta merta menjadi orang suci dan tidak bercela lagi. Sebab,
bagaimanapun kita tetap makhluk yang terbatas dan penuh kelemahan.
Tidak lepas dari dosa. Entah dosa dalam perbuatan, atau dalam
pikiran dan perasaan. Entah dosa "aktif", atau dosa "pasif". Seperti
kata Yakobus, "Jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik,
tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yakobus 4:17). Karena
itu, kita perlu selalu "bertobat setiap hari".
Dalam Perjanjian Lama, pertobatan diwujudkan dalam persembahan
korban bakaran. Seperti yang dilakukan Ayub untuk anak-anaknya.
Setiap pagi, setelah mereka mengadakan pesta keluarga, ia
mempersembahkan korban bakaran untuk mereka. "Mungkin anak-anakku
sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati," begitu
Ayub berpikir (Ayub 1:5).
Pada zaman sekarang, pertobatan tidak lagi diwujudkan dalam rupa
persembahan korban, tetapi dalam tiga langkah ini: kesadaran,
penyesalan, dan tindakan untuk berbalik. Ketiganya merupakan
kesatuan. Sadar saja tidak cukup kalau tidak diiringi penyesalan.
Dan, penyesalan perlu diiringi tindakan berbalik; menjauhi dosa dan
tidak melakukan dosa itu lagi -AYA
EVALUASI DAN INSTROSPEKSI DIRI SETIAP HARI
ADALAH PINTU MASUK KEPADA PERTOBATAN
|