Bacaan : Roma 8:1-17
Ludwig Ingwer Nommensen dikenal sebagai Rasul Suku Batak. Ia memulai
misinya di Tanah Batak dengan mempelajari bahasa dan adat-istiadat
setempat untuk menjalin hubungan dan mempererat pergaulan. Ia juga
bersahabat dengan raja-raja setempat. Suatu hari se-orang raja
bertanya kepadanya, apa sebenarnya perbedaan kekristenan dengan
tradisi Batak. "Kami juga tahu hukum yang melarang orang mencuri,
mengambil istri orang, atau bersaksi dusta," kata raja itu.
Misionaris itu menjawab dengan lembut, "Tuan saya memberikan
kemampuan untuk mematuhi hukum-hukum-Nya." Raja itu terperanjat.
"Dapatkah Anda mengajarkan hal itu pada rakyat saya?" tanyanya.
"Tidak, saya tidak dapat mengajarkannya," jawab Nommensen. "Namun,
Allah dapat memberikan kepada mereka kemampuan itu jika mereka
meminta kepada-Nya dan mendengarkan firman-Nya."
Seperti suku Batak, kita masing-masing juga mengetahui hukum tentang
apa yang benar dan yang jahat. Ironisnya, pemeo "hukum itu ada untuk
dilanggar" terus terbukti dari generasi ke generasi. Fakta tersebut
menggarisbawahi kebenaran bahwa semua orang telah berdosa, sehingga
tidak ada yang mampu mematuhi hukum Tuhan dengan kekuatannya
sendiri.
Syukurlah, anugerah Allah tidak hanya menebus dan menyelamatkan kita
dari dosa. Bahasa Yunani untuk anugerah, charis, mencakup efek
kemurahan Allah tersebut di dalam tindakan praktis. Dengan demikian,
anugerah Allah juga memampukan kita untuk menaati dan melakukan
hukum-hukum-Nya. Bersediakah kita mengandalkan anugerah-Nya? -ARS
ALLAH TIDAK HANYA MEMBERIKAN HUKUM
NAMUN JUGA MEMAMPUKAN KITA UNTUK MEMATUHI HUKUM-NYA
|