Bacaan : Ibrani 4:14-5:10
Kedua putra mendiang Lady Diana, Pangeran William dan Harry, telah
beranjak dewasa. Beberapa tahun lalu mereka masuk ke sekolah militer
dan dididik dengan cara militer yang keras serta disiplin. Seorang
wartawan pernah bertanya, apakah kedua anak raja ini mendapat
perlakuan khusus. Pihak sekolah menjawab tegas: Tidak! Keduanya
diperlakukan sama seperti calon tentara lain supaya bisa merasa
senasib sepenanggungan, juga agar mereka bisa belajar taat pada
perintah. Jadi, status sebagai anak raja harus dilupakan di sekolah
itu.
Yesus pun mendisiplinkan diri-Nya untuk belajar taat selama hidup di
bumi. Sekalipun status-Nya "Anak Allah" (Ibrani 5:8) dan Bapa-Nya
sanggup menyelamatkan-Nya dari maut (ayat 7), semua hak istimewa itu
Dia lupakan. Dia menolak diperlakukan khusus. Bukannya menempuh
jalan aman dan nyaman, Dia justru memilih jalan penderitaan, bahkan
disalibkan. Meskipun hanya manusia terhina yang pernah menempuh
jalan itu. Di jalan salib, Yesus mengalami begitu banyak rasa sakit,
godaan, dan pencobaan. Namun, setelah misi-Nya menyelamatkan manusia
tercapai, Dia sendiri bisa menjadi Imam Besar yang berempati. Dia
mengerti pergumulan kita (Ibrani 4:15), karena Dia pernah mengalami
segala derita yang kita alami.
Jalan penderitaan ternyata banyak gunanya. Melaluinya kita bisa
belajar bersikap taat, menjadi lebih peka, dan mengerti pergumulan
orang lain. Sebab itu, apabila kita harus menghadapi penderitaan,
mari kita mohon kekuatan Allah untuk tidak menolaknya,
menghindarinya, atau meminta perlakuan khusus. Imam Besar kita
memerhatikan dan menemani kita untuk melaluinya -JTI
TIDAK SEORANG PUN DAPAT MENJADI HAMBA TUHAN
TANPA MELALUI JALAN KETAATAN
|