Bacaan : Efesus 2:1-10
Ketika berusia 24 tahun, Ernest Gordon menjadi seorang tahanan
perang di bawah kekuasaan Jepang. Bersama tahanan lainnya, mereka
dipaksa membangun jalan kereta api di hutan Birma. Proses ini
memakan korban sekitar 16.000 jiwa. Namun, Gordon bertahan hidup,
malahan ia makin meresapi arti hidup dan pengorbanan. Suatu hari,
seorang rekannya menyerahkan diri agar komandannya tidak dibunuh.
Akibatnya orang itu dianiaya dengan sangat kejam melalui penyaliban.
Cucuran darah orang itu mengingatkannya bahwa penebusan berharga
mahal.
Pada dasarnya kita semua sudah mati karena pelanggaran dan dosa.
Akibatnya, kita memerlukan seseorang yang mampu menolong kita agar
tetap hidup. Dalam hal ini, darah menjadi unsur terpenting sebagai
syarat kehidupan. Tanpa penumpahan darah, pengampunan tidak akan
terjadi. Inilah standar yang ditetapkan agar seseorang bisa
dihidupkan kembali dari kematian akibat dosa.
Kebangkitan Yesus dari kematian menjawab bagaimana kita bisa
memperoleh hidup. Kita tak mungkin diselamatkan karena perbuatan
baik, karena kita sudah mati karena dosa. Mungkin banyak orang
dikatakan "baik". Namun, apakah yang sesungguhnya dapat disebut
"baik"? Kriteria"baik" menurut kacamata Sang Penebus adalah bila
seseorang percaya kepada anugerah kasih Allah dan menerima Yesus
sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Inilah pemberian Allah, bukan usaha
kita.
Semuanya hanya oleh anugerah. Tak satu pun usaha kita bisa
menyelamatkan. Setiap perbuatan baik kita hanyalah kesaksian bahwa
kita sudah memiliki hidup yang baru -BL
KITA DISELAMATKAN
HANYA KARENA ANUGERAH
|