Bacaan : Yohanes 9:1-12
Seorang bayi yang sakit parah terbaring di rumah sakit, berjuang
untuk bernapas. Ia menderita radang paru-paru, dan perjuangan untuk
bertahan hidup begitu berat bagi bayi yang baru berusia 8 bulan itu.
Dokter, perawat, dan keluarganya berjuang untuk menyelamatkan bayi
lelaki yang lemah ini.
Sebagian orang mengatakan bayi itu seharusnya tidak perlu bertahan
sampai usia 8 bulan. Beberapa orang lain mengatakan anak yang
berharga ini mestinya tak usah diberi kesempatan untuk lahir, atau
seharusnya dibiarkan mati setelah dilahirkan.
Mengapa mereka berkata begitu? Karena satu alasan sederhana: Dylan
menderita sindrom Down. Cucu keponakan saya ini memiliki ekstra
kromosom bukan karena kesalahannya sendiri maupun orangtuanya, dan
ia akan menghadapi lebih banyak perjuangan di dalam hidupnya.
Tetapi bukankah hidupnya seberharga bayi sakit yang tidak memiliki
ekstra kromosom? Bukankah kita semua sama berharganya di mata Sang
Pencipta? Bukankah kita semua tidak sempurna? Kekurangan kita
seharusnya mengingatkan kita bahwa tak seorang pun berhak menghakimi
apakah orang lain berharga atau tidak.
Ketidaksempurnaan kita merupakan kesempatan bagi pekerjaan Allah
dalam hidup kita. Itulah jawaban Yesus kepada murid-murid-Nya ketika
mereka bertanya mengapa ada seorang pria yang dilahirkan buta. Dia
berkata hal itu terjadi karena “pekerjaan-pekerjaan Allah harus
dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3).
Kita sedang melihat Allah bekerja di dalam hidup Dylan. Untuk itulah
ia ada di sini, seperti kita semua —Dave Branon
JIKA ALLAH TIDAK MEMPUNYAI TUJUAN BAGI KITA
KITA TIDAK AKAN ADA DI SINI
|