Bacaan : Markus 12:18-27
Ketika masih menjadi mahasiswa di Moody Bible Institute, saya
mengenal seorang profesor yang istrinya telah meninggal. Lalu ia
menikahi seorang janda yang adalah mantan istri sahabatnya. Suatu
hari seorang mahasiswa bertanya kepadanya, “Akankah istri pertama
Anda mengetahui pernikahan kedua Anda ketika Anda berjumpa dengannya
di surga kelak, dan jika ya, menurut Anda bagaimana reaksinya?”
Profesor itu tersenyum dan berkata, “Tentu saja ia tahu, dan karena
ia sempurna, ia takkan cemburu. Meski kami tak lagi hidup sebagai
suami-istri, saya yakin kami akan saling mengenali. Kami semua akan
menjadi sahabat selamanya.”
Dalam Markus 12, kita membaca tentang beberapa musuh Yesus yang
mengarang kisah tentang seorang wanita yang suaminya meninggal dan
tidak meninggalkan seorang anak lelaki pun. Menurut hukum Yahudi,
saudara dari orang yang meninggal harus mengawini jandanya demi
mendapatkan seorang anak lelaki (Ulangan 25:5). Menurut cerita
mereka, ini terjadi dengan ketujuh saudara lelaki orang tersebut.
Para pencemooh Yesus bertanya, “Saat mereka bangkit, siapakah yang
menjadi suami perempuan itu?” Dia mengatakan mereka tidak memahami
Kitab Suci maupun kuasa Allah dalam membangkitkan orang mati serta
menjadikannya makhluk yang mulia tanpa pernikahan.
Saya percaya di surga kita akan saling memiliki perasaan istimewa
terhadap orang lain. Kita akan mengasihi dengan sempurna dan
menikmati pemulihan total dari segala sakit hati selama menjalin
hubungan di dunia. Itu jauh lebih bermakna daripada pernikahan mana
pun —Herb Vander Lugt
KENIKMATAN DI BUMI
TAKKAN MAMPU MENANDINGI SUKACITA DI SURGA
|