Bacaan : Efesus 2:11-22
Seorang pria tua yang mengunjungi sebuah galeri seni sangat terkesan
melihat sebuah lukisan yang menggambarkan Kristus di atas salib.
Lukisan itu begitu nyata dalam menggambarkan penderitaan
Juruselamat, sehingga hatinya dipenuhi ucapan syukur atas harga
mahal yang telah dibayar Tuhan Yesus untuk menebusnya. Dengan air
mata berlinang di pipinya, ia berseru, “Pujilah Dia! Saya
mengasihi-Nya! Saya mengasihi-Nya!”
Para pengunjung lain yang berdiri di dekatnya merasa heran mendengar
perkataan pria itu. Seseorang dari mereka maju dan mengamati lukisan
itu. Ia pun segera merasakan perasaan yang mendalam terpancar dari
dalam hatinya. Sambil menoleh ke arah pria tua itu, ia menjabat erat
tangannya dan berkata, “Saya juga! Saya juga mengasihi-Nya!” Adegan
itu terulang ketika pria ketiga dan keempat melintas, menatap
lukisan itu, dan berseru, “Saya juga mengasihi-Nya!” Walaupun
pria-pria ini berasal dari gereja yang berbeda, mereka merasakan
ikatan yang sama karena iman mereka di dalam Kristus.
Sebagai orang percaya, kita memerlukan kesadaran akan kesatuan
rohani kita dengan orang kristiani lainnya. Kita perlu berpusat pada
dasar yang kita setujui, seperti kasih kita kepada Juruselamat yang
telah mati untuk kita, daripada bertengkar seputar pokok persoalan
yang kurang berguna.
Dengan mengabaikan perbedaan pendapat, kita sebagai orang percaya
yang telah dibayar dengan tebusan darah seharusnya mengakui bahwa
kita mempunyai satu ikatan keluarga yang kuat di dalam Kristus
—Richard De Haan
KETIKA KITA MENGHAMPIRI KRISTUS
KITA DIDEKATKAN SATU SAMA LAIN
|