Bacaan : Mazmur 121
Saat itu berlangsung pertandingan basket anak-anak SMP kelas 1. Tim
anak saya berada dalam posisi terjepit. Ketika memandangi putra saya
yang berlari ke sana kemari di lapangan, berusaha keras mendapatkan
nilai bagi sekolahnya, saya merasa bangga--berapa pun skor yang
didapat timnya.
Para orangtua menyempatkan diri duduk di bangku-bangku yang keras
pada bulan Januari yang dingin itu, untuk memberikan dukungan kepada
anak-anak mereka yang tengah bertanding. Saya pun sama seperti
mereka. Saya berada di sana hanya dengan satu alasan--cinta. Steve
saya perhatikan karena saya menyayanginya, mencintainya, dan ingin
memberinya semangat. Menang atau kalah ia tetap anak saya, dan apa
pun yang dicapainya di lapangan itu berarti buat saya. Mata saya pun
selalu tertuju padanya.
Tatkala saya merenungkan perhatian saya terhadap Steve, saya pun
memahami makna kasih Allah kepada kita. Allah mengasihi
anak-anak-Nya berkali-kali lipat besarnya dibandingkan kasih kita
kepada anak-anak kita. Sama seperti seorang ayah yang menyempatkan
diri mendampingi anaknya saat bertanding, Allah pun menjaga kita
sepanjang waktu. Dia mengawasi, mengasihi, dan menguatkan kita dalam
menghadapi segala pergumulan hidup. Dia selalu ada dan peduli atas
apa pun yang terjadi. Walaupun ada jutaan anak yang harus diawasi,
tetapi mata-Nya tidak pernah lengah (1 Petrus 3:12).
Jika hidup terasa menakutkan, jika lawan terasa semakin kuat, jika
Anda mulai merasa kalah, yakinlah bahwa Allah mengawasi Anda. Dalam
kasih-Nya, Dia akan selalu menolong Anda. Bagi Dia, Anda adalah anak
kesayangan yang harus diperhatikan -JDB
BILA ANDA MENUJUKAN PANDANGAN KEPADA TUHAN
DIA TAK AKAN PERNAH MELEPASKAN PANDANGAN-NYA DARI ANDA
|