Bacaan : Amsal 30:5-9
Seorang warga Illinois meminta agar sang atasan memotong 2/3 dari
gajinya supaya ia berpenghasilan di bawah garis kemiskinan.
Alasannya adalah dengan menjadi miskin ia tidak perlu membayar pajak
pendapatan, dan juga tidak akan diwajibkan menyokong pelaksanaan
beberapa kebijakan militer yang tidak disetujuinya. Hal ini
membuatnya lebih konsisten dalam mempraktekkan keyakinannya. Seorang
teman dekat berkomentar, "Ia memiliki komitmen yang kuat atas
keadilan dan perdamaian. Saya pikir itulah cara ia mewujudkan
komitmennya."
Saya tidak menyarankan agar Anda mengikuti langkahnya, saya hanya
ingin menunjukkan bahwa orang itu tidak mau idealismenya dibelokkan
oleh uang. Ia mengingatkan saya pada Agur, penulis Amsal 30 yang
bijaksana. Agur mengungkapkan bahwa terlalu banyak atau terlalu
sedikit kekayaan bisa mempengaruhi komitmen seseorang kepada Tuhan.
Kita diminta untuk merenung tentang uang. Warga Illinois itu
menyerahkan sebagian uangnya. Agur tidak meminta terlalu banyak
ataupun terlalu sedikit uang (Amsal 30:7-9). Yesus menggunakan uang
untuk apa yang perlu (Yohanes 13:29). Paulus tidak meminta atau
menolaknya (Filipi 4:11-12). Seorang pengusaha muda yang kaya
terikat pada uang (Lukas 18:23). Ananias dan Safira mati karena
mereka membohongi Allah dalam hal uang (Kisah Para Rasul 5).
Bagaimana sikap kita terhadap uang? Apakah kita menggunakannya
dengan bijak, atau sebaliknya uang itu justru menguasai kita?
Mampukah kita mengendalikan uang, atau sebaliknya uang itu justru
memperbudak kita? Kita tidak dapat mengabdi kepada Tuhan sekaligus
kepada uang [Mamon] (Lukas 16:13) -MRD II
UANG ADALAH HAMBA YANG BAIK, TETAPI BUKAN MAJIKAN YANG BAIK
|