Bacaan : Yesaya 30:8-18
Seorang polantas menghadapi masalah ketika menyelidiki
sebuah kasus kecelakaan lalu lintas. Ia telah menanyai para
saksi, menangkap salah seorang pengemudi, dan membuat laporan
tentang kecelakaan itu. Tiba-tiba ia menyadari bahwa pengendara
sepeda motor yang dituduh bersalah itu sedang mengunyah sesuatu
yang bukan permen karet. Ia mengunyah laporan itu! Walaupun
polisi itu berusaha mencegahnya, namun laporan itu telah rusak.
Karenanya pemeriksaan tersebut harus ditunda, meski hanya
sementara. Sang petugas kembali mewawancarai para saksi dan
mengulang pengumpulan bukti-bukti.
Tindak perlawanan dan usaha menyembunyikan kesalahan yang
dihadapi oleh polantas di Indiana ini serupa dengan pengalaman
Nabi Yesaya ketika menghadapi bangsa Israel berabad-abad yang
lalu. Nabi itu sangat berduka ketika melihat bangsanya mencoba
bermasa bodoh dan menutupi dosa-dosa mereka. Bahkan mereka
menutup telinga tatkala Allah bersabda (Yesaya 30:9), dan
mendorong para nabi untuk mengatakan hal-hal yang ingin mereka
dengar saja (ayat 10). Mereka lebih suka bersembunyi daripada
mencari belas kasihan Allah. Akibatnya, Tuhan menghukum mereka
(ayat 12-17).
Kita dapat belajar dari kesalahan-kesalahan bangsa Israel
bahwa usaha menyembunyikan dosa tidak ada gunanya. Hal itu
hanya akan berlangsung sementara waktu. Kita harus mengakui dosa
kita kepada Allah dan meninggalkan dosa itu. Dengan demikian kita
akan mengalami sukacita yang berasal dari pengampunan Allah
--MRDII
The sins that would entangle us
Must never be ignored;
For if we try to cover them
They\'ll pierce us like a sword. --Sper
DOSA YANG BERUSAHA KITA SEMBUNYIKAN
PADA AKHIRNYA HANYA AKAN MENGHANCURKAN KITA
|