Bacaan : Roma 12:1-5
Dalam sketsa biografis yang ditulis oleh G.K. Chesterton
tentang St. Francis dari Assisi, ia menggambarkan suatu masa
ketika St. Francis merasa sangat putus asa dan gagal. Untuk
bangkit dari pengalaman itu, ia melihat dunia "secara terbalik
seolah-olah ia keluar dari sebuah lubang yang gelap dengan
berjalan menggunakan tangan."
"Jika seseorang melihat dunia secara terbalik," lanjut
Chesterton, "sehingga semua pohon dan menara seperti tergantung
terbalik bagai bayangan dalam kolam, maka hal itu akan memberi
penekanan terhadap ide ketergantungan...karena kata
ketergantungan sendiri berarti bergantung pada sesuatu."
Berdiri tegak membuat kita melihat sebuah dunia yang
dibangun di atas fondasi kesanggupan kita sendiri. Dengan kepala
berada di bawah, kita akan melihat segala sesuatu bergelantungan,
sehingga benar-benar bergantung pada Allah, bukan pada dunia yang
mantap dan aman.
Saat kita berserah kepada Kristus dan berbalik dari kepuasan
diri untuk bergantung sepenuhnya kepada Dia, kita dapat
memperoleh cara pandang yang baru. Hasilnya, kita mengalami
kebebasan, sukacita, dan rasa syukur atas segala karunia Allah.
Roma 12:2 menyebutnya sebagai proses diubahkan "oleh pembaruan
budimu" menjadi orang yang baru dan berbeda dengan pembaruan
dalam setiap hal yang kita kerjakan dan pikirkan.
Berada pada posisi terbalik memang bukan pengalaman yang
menyenangkan, namun dapat memberi kita suatu cara pandang yang
baru akan kehidupan --DCM
Less of self and more of Jesus,
More and more each day like Thee;
Just to live in full surrender
For my Lord who ransomed me. --Wonder
ANDA AKAN MELIHAT KEHIDUPAN DENGAN LEBIH JELAS
BILA ANDA MENGARAHKAN DIRI KEPADA ALLAH
|