Bacaan : Amsal 12:17-22
Beberapa tahun lalu saya membaca beberapa penjelasan yang aneh dan
menggelikan tentang berbagai kecelakaan mobil. Berikut ini komentar
beberapa orang yang mengajukan permohonan pada perusahaan asuransi:
"Sebuah mobil, entah dari mana, tiba-tiba menyelonong dan menabrak
mobil saya. Kemudian mobil itu kabur."
"Saya sudah berpengalaman menyetir mobil selama 40 tahun. Hanya saja
saat itu saya tertidur ketika mengemudikan mobil dan terjadilah
kecelakaan."
"Saya bergerak meninggalkan tepi jalan, menoleh sekilas kepada ibu
mertua saya, dan menabrak pembatas jalan."
"Pejalan kaki itu bingung hendak berjalan ke mana, sehingga akhirnya
saya menabraknya."
"Tiang telepon itu tiba-tiba sudah di hadapan saya. Saya telah
berusaha membanting setir, tetapi tiang itu masih juga kena bumper
depan mobil saya."
"Orang itu sudah berada di tengah jalan. Saya sudah membanting setir
beberapa kali, tetapi ia masih tertabrak juga."
"Penyebab tidak langsung kecelakaan ini adalah seorang pria kecil
bermulut besar yang mengendarai mobil kecil."
"Alasan-alasan" ini dapat membuat kita tersenyum, dan beberapa di
antaranya mungkin disengaja. Namun, berbagai alasan itu juga
mengingatkan bahwa kita cenderung menutupi kenyataan, terutama jika
hal itu menguntungkan kita. Kitab Amsal mengajarkan bahwa "orang
yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan" (ayat 12:22).
Jadi, marilah kita senantiasa berusaha mengutarakan kebenaran -- dan
tak ada yang lain selain kebenaran --Richard De Haan
DUSTA ADALAH UPAYA PENGECUT
UNTUK KELUAR DARI MASALAH
|