Bacaan : Ibrani 11:8-10
Kini ketika saya semakin mendekati akhir perjalanan hidup, saya
semakin merasa sebagai pendatang di dunia ini. Saya pikir ini adalah
hal yang wajar. Pada awalnya Abraham menggambarkan dirinya sebagai
"orang asing dan pendatang" ketika ia membeli sebidang tanah untuk
menguburkan Sara (Kejadian 23:4). Waktu dan kematian dapat membuat
Anda berpikir seperti itu.
Kebanyakan orang percaya yang sudah berusia senja mengatakan hal
semacam ini: tak ada rumah bagi kita di dunia ini sebelum sampai ke
surga. Seperti peziarah dalam The Pilgrim's Progress karya John
Bunyan, sekali kita memandang Kota Surgawi, kita takkan pernah puas
dengan hal lain yang tidak semulia itu. Seperti Abraham, kita
mencari sebuah kota yang dibangun oleh Allah (Ibrani 11:10).
Dalam Lord Of The Rings karya Tolkien, Frodo dan kawan hobbitnya
yang lain berangkat menyongsong petualangan besar sambil
menyanyikan, "Rumah kita tinggalkan, dunia tujuan kita." Namun bagi
orang kristiani, kita menyanyikan kebalikannya: dunia kita
tinggalkan, rumah tujuan kita.
Di sana ada lembah air mata karena "Ia akan menghapus segala air
mata dari mata [kita], dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada
lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala
sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4). Janji ini membuat
perjalanan kita sekarang lebih mudah dijalani.
Dengan kata lain, pengharapan untuk pulang ke rumah, itulah yang
membuat saya tetap berjalan. Saya tak sabar lagi untuk tiba di sana!
--David Roper
SEMAKIN ANDA MENGARAHKAN PANDANGAN KE SURGA
SEMAKIN KECIL HASRAT DUNIAWI ANDA
|