Bacaan : Mazmur 90:10-17
Banyak ungkapan dalam karya sastra yang digunakan untuk
menggambarkan singkatnya hidup. Hidup adalah sebuah mimpi, pelari
cepat, sesuatu yang sukar dimengerti, segumpal asap, sebuah
bayangan, lambaian di udara, goresan kalimat di atas pasir, seekor
burung yang terbang di jendela sebuah rumah, dan masih banyak lagi.
Satu ungkapan lain diusulkan oleh teman saya bahwa tanda sambung
berupa garis pendek antara tanggal kelahiran dan kematian di batu
nisan menunjukkan singkatnya hidup seseorang.
Ketika kita masih kecil, tampaknya waktu hanya berputar-putar. Namun
ketika kita hampir mendekati ajal, waktu berpacu semakin cepat,
seperti pusaran air yang turun ke pembuangan. Pada masa kanak-kanak,
kita mengukur usia dalam skala kenaikan yang kecil. Kita berkata,
"Saya berumur 6 1/2 tahun." Sepertinya butuh waktu yang lama untuk
bertambah umur. Kini kita tidak mengukur waktu seperti kanak-kanak
lagi. Siapakah yang mengatakan usianya 60 1/2 tahun?
Baik kiranya bila kita sesekali merenungkan singkatnya kehidupan.
Hidup ini sangat singkat untuk dijalani dengan ceroboh. Dalam Mazmur
90, setelah menjelaskan singkatnya kehidupan, Musa berdoa, "Ajarlah
kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati
yang bijaksana" (ayat 12).
Untuk memanfaatkan sebaik-baiknya keberadaan kita di dunia ini, kita
harus menyerahkan diri pada kehendak Allah (1Petrus 4:2). Ini dapat
kita lakukan bahkan ketika waktu hampir habis. Tidak ada kata
terlambat untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah --David
Roper
JANGAN HANYA MENGHITUNG HARI-HARI ANDA
TETAPI BUATLAH HARI-HARI ANDA BERHARGA
|