Bacaan : Matius 7:1-5
Seorang pria dari North Carolina menuduh istrinya yang tinggal jauh
darinya telah menikah dengan pria lain. Ketika wanita tersebut
ditangkap, ia tidak menyangkal telah menikahi dua orang pria. Ia
tidak saja mengakui kesalahannya, tetapi juga memberi tahu para
pihak yang berwenang bahwa ia mungkin kurang waras karena menikah
dua kali tanpa bercerai atau menjanda.
Namun, itu baru sebagian dari kisah yang sebenarnya. Wanita itu
mengatakan bahwa ia terkejut suaminya telah melaporkannya, karena
sebenarnya suaminya juga melakukan pelanggaran yang sama. Ketika
tuduhan balasan ini ditelusuri, sang suami akhirnya mengaku bahwa ia
juga telah menikah dengan dua orang wanita secara tidak resmi.
Suami ini adalah contoh dari apa yang digambarkan Yesus dalam Matius
7:1-5. Sekalipun ada "balok" di matanya sendiri, pria ini menunjuk
dengan penuh penghakiman pada "selumbar" di mata istrinya. Mereka
berdua telah melanggar hukum karena menikah dengan dua orang pada
waktu yang sama. Namun, dosa sang suami sebenarnya lebih besar
karena dengan angkuh ia berpikir bahwa ia dapat meloloskan diri dari
hukuman dengan menghakimi orang lain yang melakukan dosa yang juga
diperbuatnya.
Pesan dalam kisah ini sangat jelas. Kristus menunjukkan belas kasih-Nya
ketika kita mengaku dosa. Namun, Dia mencela kemunafikan dan
keangkuhan kita ketika kita menolak untuk merendahkan diri di
hadapan-Nya.
Marilah kita membereskan dosa kita sendiri, dan jangan menjadi orang
yang pandai menghakimi dosa orang lain --Mart De Haan
KEBANYAKAN KITA TIDAK CEPAT MENYADARI DOSA
KITA MELIHAT DOSA ORANG LAIN TETAPI TIDAK MELIHAT DOSA SENDIRI
|