Bacaan : Yohanes 5:1-9
Cacat seumur hidup yang diderita David Gelernter bermula
saat ia membuka sebuah paket yang meledak, kiriman seorang
laki-laki yang tidak dikenal sebagai pembom. Namun David tidak
mau memandang dirinya sebagai korban yang tak berdaya atau
tenggelam dalam sikap mengasihani diri sendiri. Gelernter
menulis, "Bila Anda mendorong seseorang untuk melihat dirinya
sebagai korban dari sesuatu, seperti kejahatan, kemiskinan,
kefanatikan, atau ketidakberuntungan, maka sesungguhnya Anda
sedang membuatnya semakin menderita."
Kecenderungan untuk melihat diri sendiri sebagai korban dari
ketidakadilan hidup sedang meluas akhir-akhir ini. Mudah bagi
kita semua untuk merasa bahwa ketidakberuntungan telah
menghilangkan kesempatan atau kemauan untuk mencapai cita-cita
kita.
Saya sering merenungkan pertanyaan yang diajukan Yesus
kepada seorang pria yang berbaring di tepi kolam Betesda: "Maukah
engkau sembuh?" (Yohanes 5:6). Jawaban laki-laki tersebut di
sambut dengan perintah Kristus: "Bangunlah, angkatlah tilammu,
dan berjalanlah" (ayat 8).
Karena kita hidup di dunia yang telah rusak oleh dosa, maka
kita akan mengalami ketidakadilan. Mungkin ada banyak hal yang
tak dapat kita ubah. Berbagai rintangan tidak teratasi hanya oleh
tindakan iman kita. Jadi, apa yang Tuhan ingin kita lakukan
terhadap keadaan-keadaan yang mungkin dapat melumpuhkan kita?
Dengarkanlah pertanyaan yang dilontarkan-Nya kepada laki-laki di
kolam tadi, "Maukah engkau sembuh?" Lalu berharaplah pada
kekuatan-Nya dan lakukan sesuatu pada hal-hal yang dapat Anda
ubah --DCM
Say not, "The days are evil. Who\'s to blame?"
And fold the hand and acquiesce--oh, shame!
Stand up, speak out, and bravely, in God\'s name,
Be strong! --Babcock
KITA TIDAK PERLU MENJADI KORBAN
KARENA KRISTUS ADALAH PEMENANG
|