Bacaan : Markus 7:1-13
Waktu itu tahun 1727. Di sebuah toko buku kecil di Lichfield,
Inggris, seorang pria yang terbatuk-batuk sedang mengepak buku-buku
untuk dijual di kios bukunya di pasar, tepatnya di Uttoxeter. Di
tengah batuknya, ia menyuruh putranya yang berusia 18 tahun untuk
mengantarkan buku-buku itu. Namun si anak muda yang sedang asyik
membaca novel klasik Latin itu tidak mengindahkan perintah sang ayah
meski ia mendengarnya. Kereta angkutan yang hendak ke pasar telah
tiba, dan pria itu berjalan keluar di tengah guyuran hujan sambil
membawa sendiri buku-bukunya, dan melakukan perjalanan sejauh 32 km
ke pasar.
Lima puluh tahun kemudian seorang pria tua berdiri berjam-jam di
tengah guyuran air hujan di sebuah kios buku di Uttotexer. Tatkala
badai reda, perlahan ia kembali ke kereta yang menunggunya dan
pulang. Di situlah ia menundukkan kepala dan menangis tersedu-sedu.
Ia adalah sastrawan yang terkenal dan jenius, Samuel Johnson.
Rupanya ia terkenang akan apa yang telah diperbuatnya terhadap sang
ayah bertahun-tahun yang lalu.
Menghormati orangtua bukanlah sekadar kewajiban, tetapi merupakan
hak istimewa. Sebagai anak, kita menghormati mereka dalam bentuk
ketaatan; sebagai orang dewasa, kita menghormati mereka dengan cara
menelepon, mengunjungi, serta mempedulikan mereka-yang jelas
membutuhkan pengorbanan diri kita. Apabila kita kehilangan
kesempatan untuk menunjukkan kasih dan penghormatan kepada mereka,
maka kelak kita akan sangat menyesalinya.
Perintah yang harus kita ikuti sederhana: "Hormatilah ayahmu dan
ibumu." Allah selalu memberikan ganjaran atas ketaatan -HVL
ANAK-ANAK YANG MENGECEWAKAN ORANGTUA BERARTI
LUPA KEPADA YANG TELAH MEMBESARKAN MEREKA
|