Bacaan : 1Raja-raja 19:1-18
Semakin besar tantangan hidup yang kita hadapi, maka kita pun
semakin rindu akan kehidupan rohani yang realistis, yang dapat
membantu kita menghadapi tantangan tersebut. Terlalu sering ktia
menajdi jemaat yang "berpikir sangat surgawi sehingga mengalami
kesulitan untuk berpikir secara duniawi." Ya, kebanyakan dari antara
kita jarang bisa menyeimbangkan antara hal-hal yang bersifat rohani
dan hal-hal yang realistis.
Penulis Os Guinness mengungkapkan bahwa biasanya kita "berpikir
terlalu realistis sehingga mengorbankan hal-hal yang rohani atau
sebaliknya berpikir terlalu rohani sehingga mengorbankan hal-hal
yang bersifat realistis." Secara paradoks, hanya Allah yang dapat
melakukan keduanya dnegan seimbang. Allah menjadi realistis dalam
diri Yesus Kristus yang datang ke dunia. Yesus, sang Putra Allah,
benar-benar menjelma menjadi manusia. Itu sebabnya Guinness berkata
bahwa sosok yang paling rohani itu (Allah) telah bersikap paling
realistis!
Cara Allah menghadapi Elia merupakan sebuah contoh sikap Allah yang
realistis. Guinness menunjukkan bahwa "Allah menolong depresi Elia
bukan dengan mengkhotbahinya, melainkan dengan memintanya makan dan
tidur." Setelah itu, barulah Dia memberitahukan kesalahan Elia
dengan lembut.
Jika Anda patah semangat karena terlalu lelah atau bekerja terlalu
keras, mungkin pertolongan pertama yang Allah sarankan bagi Anda
adalah tidur lebih banyak atau berlibur satu hari. Pertolongan yang
paling realistis biasanya justru menjadi pertolongan yang paling
rohani -JEY
TANPA ADA AKTU UNTUK BERISTIRAHAT
KITA TAKKAN BERTAHAN -Havner
|