Bacaan : Mazmur 119:145-152
Bila kita mengasihi orang lain, kita pasti mau mendengarkan mereka.
Tentu saja, unutk memberi perhatian dan mendengarkan apa yang mereka
katakan dibutuhkan waktu dan usaha. Namun tatkala kita melakukannya,
berarti kita tengah menunjukkan perhatian dan rasa hormat yang
tulus.
Penulis Wayne Alderson bercerita tentang seorang pendeta muda yang
menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendengarkan
maslah-masalah yang dialami jemaatnya. Suatu hari ia pulang dan
menyapa istrinya, "Bagaimana kabarmu?" Selama setengah jam istrinya
bercerita tentang masalah dengan mobilnya, sakit telinga yang
diderita anaknya, dan kesulitan yang dihadapi ketika memperbaiki
alat-alat rumah-tangga. Lalu sang pendeta mulai memberi pemecahan
masalah, dan menyebutkan sederet hal yang perlu dilakukan.
Namun istrinya hanya menatapnya, lalu menghela napas panjang, "Aku
sudah melakukan semua itu," sehutnya. "Aku tidak meminta pemecahan
masalah. Aku cuma butuh perhatianmu terhadap apa yang kualami."
Ketika Daud memohon, "Dengarkan suaraku sesuai dengan kasih
setia-Mu" (Mazmur 119:149), ia mengungkapkan kebenaran bahwa Allah
yang mengasihi kita selalu mau mendengarkan kita. Kesediaan untuk
mendengarkan adalah bagian dari mengasihi.
Mendengarkan (istri, suami, rekan kerja, atau saudara seiman)
mungkin merupakan bentuk perhatian yang dibutuhkan seseorang agar
memperoleh semangat kembali atau agar dapat melihat suatu masalah
dengan lebih jernih. Mulailah mendengarkan. Allah sendiri
menunjukkan bahwa kasih itu mau mendengarkan -DCE
MENDENGARKAN MUNGKIN MERUPAKAN
TINDAKAN PALING PENUH KASIH YANG DAPAT ANDA LAKUKAN HARI INI
|