Bacaan : 2 Tawarikh 10
Seorang pria yang bertemperamen lembut membaca buku tentang
bagaimana menjadi orang yang tegas. Lalu ia memutuskan untuk mulai
mempraktikkannya di rumah. Maka ia pun menerjang masuk ke rumah,
menunjuk wajah istrinya, dan berkata, "Mulai sekarang saya adalah
bos di sini, maka kamu harus menuruti kata-kata saya. Saya ingin
kamu menyiapkan makanan enak dan air mandi buat saya. Kemudian,
setelah saya selesai makan dan mandi, coba tebak siapa yang akan
mendandani dan menyisir rambut saya." "Petugas penguburan," jawab
istrinya.
Raja Rehabeam mencoba ketegasan yang serupa. Namun, hal itu justru
membuat bangsa Israel berbalik melawannya.
Ketika ia naik takhta, rakyat memohon pengurangan beban pajak. Para
penasihat yang lebih tua mendesaknya untuk memenuhi permintaan
rakyat, namun teman-temannya yang masih muda menasihatinya agar
bersikap lebih tegas daripada ayahnya. Karena ia menuruti nasihat
teman-temannya, akibatnya sepuluh dari dua belas suku Israel
memisahkan diri dan membentuk sebuah kerajaan baru (2Tawarikh
10:16,17).
Pemimpin yang baik tidak mengandalkan ketegasan yang mendominasi
-- baik di rumah, di gereja, atau dalam pekerjaan. Sebaliknya, mereka
menyeimbangkan ketegasan itu (yang sesungguhnya bukan sesuatu yang
salah) dengan prinsip saling merendahkan diri (Efesus 5:21). Mereka
mendengarkan dengan rasa hormat, mengakui kesalahan mereka,
menunjukkan kesediaan untuk berubah, dan menggabungkan kelembutan
dengan ketegasan. Itulah kepemimpinan yang rendah hati, dan itu
manjur untuk dilakukan! --Herb Vander Lugt
PEMIMPIN YANG LAYAK MEMIMPIN
ADALAH MEREKA YANG TELAH BELAJAR MELAYANI
|