Bacaan : Pengkhotbah 2:1-11
Seorang kawan menceritakan kepada saya bahwa ia merasa sangat dekat
dengan Allah pada saat-saat tersibuknya. Ia menjelaskan bahwa ketika
tuntutan begitu berat, saat itulah ia bersandar penuh pada kekuatan
Tuhan. Ia menegaskan bahwa jika ia tidak meluangkan waktu untuk
berdoa setiap hari, maka pekerjaannya hanya akan menjadi suatu
pelarian belaka.
Banyak orang terlibat dalam aktivitas semata-mata demi aktivitas itu
sendiri dan menggunakan kesibukan sebagai alat untuk menghindar dari
kenyataan. Sebagaimana alkohol dapat mematikan kesadaran pada
hubungan pribadi, kewajiban keluarga, dan tanggung jawab dalam
masyarakat, pekerjaan juga dapat menjadi candu yang akan mematikan
kepekaan kita terhadap masalah hidup yang lebih rumit.
Kira-kira 3.000 tahun yang lalu, penulis kitab Pengkhotbah menyadari
hal ini. Ia mencari kepuasan dengan menyibukkan diri membangun
rumah-rumah serta menanam kebun anggur. Namun ketika merenungkan
pekerjaan yang telah dilakukannya, ia menyadari bahwa semuanya itu
sia-sia belaka (ayat 2:10,11).
Kita dapat melakukan kesalahan yang sama, bahkan dalam nama Tuhan.
Mungkinkah itu juga merupakan suatu alasan mengapa sebagian dari
kita menjalankan aktivitas gereja dengan usaha sendiri, dan lupa
bahwa kepenuhan hanya berasal dari hati yang dipenuhi oleh Allah?
Apakah kita bekerja tanpa meluangkan waktu yang amat penting untuk
beribadah dan merenung? Jika demikian, inilah saatnya kita menyembah
Allah sebelum terperangkap dalam pekerjaan yang semata-mata demi
pekerjaan itu sendiri --Mart De Haan
JANGAN PERNAH BEKERJA LEBIH KERAS
JIKA ANDA TIDAK BANYAK BERDOA
|