Bacaan : Kejadian 43:1-10
Yehuda bersedia memikul tanggung jawab untuk membawa pulang
kembali saudaranya, Benyamin, dari negeri Mesir (Kejadian 43:9).
Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Benyamin, Yehuda bersedia
disalahkan. Ini merupakan sifat manusia yang langka, karena kita
biasanya lebih suka menimpakan kesalahan kepada orang lain.
Pada suatu malam terjadi tabrakan di depan rumah saya. Saya pergi
keluar dan menyaksikan kedua pihak yang bertabrakan sedang
berdebat sengit mengenai siapa yang bersalah. Pengemudi yang satu
berseru, “Anda berada di jalur yang salah dan mengemudi terlalu
cepat!” Pengemudi yang kedua menjawab, “Tidak, Andalah yang harus
disalahkan. Anda tidak memberi isyarat untuk membelok, dan lampu
jauh Anda menyala!” Setelah 30 menit, polisi datang dan
perdebatan itu pun terulang kembali.
Salah satu hal yang paling sulit dipelajari adalah belajar untuk
mengakui kesalahan dan berkata, ”Saya salah.” Mengapa demikian?
Ini terjadi bukan hanya karena seseorang sengaja tidak mau jujur.
Namun alasan yang sebenarnya adalah bahwa kita hanya memandang
masalah itu dari sudut pandang kita sendiri. Jika kita juga dapat
memandang masalah itu dari sudut pandang orang lain, keadaannya
mungkin akan sangat berbeda.
Dalam segala hal selalu ada dua sisi. Anda baru akan dapat
melihat keduanya bila Anda berhenti menuduh dan mulai mau
mendengarkan orang lain dengan rendah hati. Untuk menyelesaikan
suatu konflik, Anda harus bersedia mengaku bila Anda memang salah
– MRD
AGAR SESUATU BERJALAN BENAR
BERSEDIALAH UNTUK MENGAKU BILA ANDA SALAH
|