Bacaan : 2 Korintus 5:1-8
Pada akhirnya kelak, kematian akan menghampiri kita semua. Namun,
bagi orang Kristen, pintu kematian yang gelap sesungguhnya
hanyalah sebuah bayangan. Betapapun menakutkannya kematian itu,
kita harus ingat bahwa di balik itu terdapat pintu gerbang yang
terang dan bercahaya, yang menuntun kita kepada hidup kekal
bersama Yesus!
Penulis William H. Ridgeway mengenang masa kecilnya, yakni ketika
ia dan temannya suka memetik buah berry. Setelah keranjang mereka
penuh, mereka akan duduk-duduk di samping rel kereta api yang ada
di dekat situ. Saat matahari terbenam di barat, sebuah kereta
akan lewat dan “menggilas mereka.” Tentu saja monster besi dengan
suara menggelegar dan peluitnya yang melengking itu tidak
benar-benar menggilas mereka. Hanya bayangannya saja yang lewat
dan seolah menggilas mereka.
Dengan sabar mereka menanti di situ. Meski sudah tahu bahwa tidak
akan ada bahaya yang mengancam, namun mereka tetap gentar
sementara lokomotif dan gerbong-gerbongnya datang mendekat. Saat
kereta api itu lewat, selama beberapa detik mereka berada dalam
bayang-bayangnya. Kemudian bayangan itu pun hilang. Matahari yang
hendak terbenam menyinari mereka dengan cahayanya yang keemasan
saat mereka berjalan menuju rumah mereka yang penuh kehangatan.
Betapa indahnya ilustrasi tentang “berjalan dalam lembah
kekelaman” (Mazmur 23:4) yang dimiliki orang Kristen.
Kita tidak perlu takut terhadap bayangan kematian yang
mengerikan—karena Tuhan beserta kita (ayat 4), dan karena kita
telah mempunyai sebuah rumah dengan Tuhan yang telah menanti kita
di sana (2 Korintus 5:1-8) -HGB
BAGI ORANG KRISTEN, KEMATIAN ADALAH BAYANGAN TERAKHIR SEBELUM
FAJAR SURGAWI MENYINGSING
|