Bacaan : Matius 27:3-10
Jika Yudas sang pengkhianat sungguh-sungguh bertobat, maukah
Yesus menerimanya? Saya yakin Dia mau. Tak seorang pun dapat
berbuat dosa sedemikian besar sehingga anugerah Allah tidak cukup
untuk mengampuninya. Tuhan mungkin lebih sedih saat melihat Yudas
bunuh diri daripada saat Yudas mengkhianati-Nya. Saya rasa
tindakan keputusasaannya itu menunjukkan bahwa ia tidak percaya
Tuhan akan mengampuninya.
Dalam novel The Flight Of The Shadow (Terbangnya Bayang-bayang),
penulis George MacDonald bercerita tentang seorang gadis kecil,
Belorba Whichcote, yang tinggal bersama pamannya. Suatu pagi ia
melihat pamannya mengambil sebuah perhiasan dari laci lemari,
memegangnya sebentar di bawah cahaya, kemudian dengan segera
memasukkannya kembali.
Ketika pamannya pergi meninggalkan rumah seharian, Belorba
membuka laci tersebut tanpa seizin pamannya. Seketika rasa
bersalah melingkupi hatinya yang peka. Ia pun duduk dengan
gelisah menunggu pamannya pulang. Ketika pamannya datang sesudah
larut malam, Belorba tersungkur di kaki pamannya, mengakui apa
yang telah dilakukannya dan betapa tidak enak perasaannya. Lalu
ia menangis tersedu-sedu, “Apakah Paman akan membunuhku?”
“Ya, ya,” pamannya menjawab. “Aku akan membunuhmu, sayangku!
Begini caranya Kemarilah!” Lalu, sembari merentangkan tangannya,
ia menarik Berloba mendekat, dan menciuminya.
Ini merupakan gambaran yang sangat indah tentang kasih Tuhan bagi
orang berdosa yang dengan rendah hati datang di hadapan-Nya! Dia
rindu untuk “membunuh kita” dengan ciuman!—DHR
DOSA MENDATANGKAN KETAKUTAN
PENGAKUAN MENDATANGKAN KEBEBASAN
|