Bacaan : Kisah Para Rasul 20:17-27
Saya terkejut saat mengetahui bahwa dalam seni religius,
burung pelikan telah lama menjadi simbol pengorbanan diri. Ketika
untuk pertama kalinya mengamati burung-burung yang unik itu
sambil memancing di sepanjang pantai barat Florida, saya merasa
burung-burung itu lebih mirip para pemalas daripada orang kudus
yang menyangkal diri. Dengan pandangan mata memelas yang menutupi
isi hati mereka yang penuh iri hati, mereka menunggu dengan penuh
harap setiap kali saya menangkap seekor ikan. Terkadang mereka
bahkan mencoba merampas ikan itu sebelum saya dapat menangkapnya.
Tetapi bukan perilaku semacam itu yang membuat mereka
menjadi simbol pengorbanan. Burung pelikan menjadi simbol
pengorbanan karena ujung paruh mereka yang berwarna merah.
Menurut legenda, bila ibu pelikan tidak dapat mencari makanan
untuk anaknya, ia akan menusukkan paruhnya ke dalam dadanya dan
memberikan darahnya sendiri untuk anaknya. Gereja mula-mula
memandang kisah itu sebagai sebuah gambaran yang indah tentang
apa yang telah diperbuat Kristus bagi kita dan tentang apa yang
harus kita perbuat bagi sesama. Rasul Paulus mencerminkan sikap
memberi diri semacam ini dalam ucapan perpisahannya dengan jemaat
Efesus (Kisah Para Rasul 20:24).
Hakikat kita sebagai orang berdosa membuat kita lebih
cenderung memiliki sifat tamak daripada sikap rela berkorban.
Tetapi itu dapat diubah. Melalui iman kepada Yesus, kita diampuni
dan hati kita diubahkan. Tatkala kita bersandar pada Roh Allah
yang tinggal dalam diri kita, kita akan dapat mempraktekkan kasih
yang rela berkorban --MRDII
Were the whole realm of nature mine,
That were a present far too small;
Love so amazing, so divine,
Demands my soul, my life, my all. --Watts
TIADA HAL LAIN YANG LEBIH MENYENANGKAN HATI ALLAH
SELAIN SIKAP RELA BERKURBAN
|