Bacaan : Ayub 2:1-10
Ketika seorang pendeta berusia 50 tahun di Connecticut,
Charles P. Luckey, mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit
mematikan bernama Creutzfeldt-Jacob, ia mendiktekan surat berikut: "Apa yang akan dilakukan orang Kristen...saat dokter memberitahu bahwa suatu penyakit akan merusak otaknya dan kepribadiannya akan menjadi kacau?... Setelah 48 jam dalam perenungan, saya
menyimpulkan bahwa pada akhirnya orang Kristen harus selalu
memandang kehidupan ini sebagai pemberian Allah...dan kita tidak
berhak mencabut kehidupan itu."
Luckey memutuskan bahwa bunuh diri bukanlah jalan keluar
yang baik karena imannya yang teguh pada "Sang Pencipta yang
mengenal dan mengasihi saya sebelum saya diciptakan dalam rahim
ibu saya." Namun demikian, ia tetap memohon agar Allah segera
memanggilnya. Tuhan mengabulkan permohonan Luckey dan pendeta itu
pun berpulang pada Juruselamatnya tak lama kemudian.
Ayub pun mengalami hal serupa. Walau ia didera penyakit yang
menyiksa dan tak sedap dipandang mata dan juga kehilangan segala
miliknya, Ayub tetap percaya kepada Allah sehingga ia dapat
menolak saran istrinya yang menganjurkan "kutukilah Allahmu dan
matilah" (Ayub 2:9).
Jika suatu saat banyak orang penting menyarankan kematian
sebagai jalan keluar bagi dilema tersulit yang kita hadapi, kita
dapat belajar dari Ayub dan Charles Luckey. Mereka menyadari
bahwa hidup ini berasal dari sang Pencipta, dan bukan kita yang
berhak mencabutnya [HVL]
Trials make the promise sweet;
Trials give new life to prayer,
Bring me to my Savior\'s feet,
Lay me low and keep me there. --Cowper
TANPA KRISTUS KITA TIDAK SIAP UNTUK MATI
DENGAN KRISTUS KITA MEMILIKI ALASAN UNTUK HIDUP
|