Bacaan : Matius 13:1-9,18-23
Seorang terpelajar yang berwawasan luas bernama A.J. Heschel
menceritakan kisah hidupnya saat menjadi siswa di Berlin. Sekalipun
ia orang yang saleh, ia pernah menjadi begitu asyik dengan
karya-karya seni pada masa-masa itu, sampai suatu hari ia lupa berdoa
saat matahari terbenam, sebagaimana yang biasa ia lakukan. Ia
mengakui, "Matahari telah terbenam, malam telah tiba .... Dan saya
telah melupakan Allah."
Kelalaian yang dilakukan Heschel mungkin merupakan hal yang kecil
bagi kita. Akan tetapi, semangatnya yang menggebu-gebu menunjukkan
bahwa ia memahami pentingnya membina kehidupan rohani.
Yesus pernah menceritakan suatu kisah mengenai penabur, benih, dan
empat macam tanah (Matius 13:1-9). Tanah yang berada di antara semak
duri mewakili orang-orang yang membiarkan kekhawatiran dunia dan tipu
daya kekayaan menghimpit firman Allah di dalam hati mereka (ayat
7,22).
Hal itu merupakan kemungkinan yang berbahaya bagi setiap orang yang
menanggapi firman Allah dengan sembrono. Dunia memang dapat membuat
kita lupa terhadap kenyataan dan tanggung jawab rohani.
Apakah kita telah membiarkan daya tarik dunia ini mencegah kita untuk
membaca dan merenungkan firman Allah? Dengan segenap doa, marilah
kita berusaha keras untuk menjadi orang yang "mendengar firman itu
dan mengerti, dan karena itu ia berbuah" (ayat 23).
Saat matahari terbenam malam ini, jangan sampai kita mendapati diri
kita telah melupakan Allah --VCG
DOA DAN KETAATAN KEPADA ALLAH
AKAN MENGOLAH "TANAH" DARI HATI YANG KERAS
|