Bacaan : Mazmur 42
Setelah melihat pantai sebelah barat Sri Lanka, saya tidak bisa
membayangkan bahwa bencana tsunami pernah melanda daerah itu hanya
beberapa bulan sebelumnya. Laut itu kelihatan tenang dan indah,
banyak pasangan kekasih berjalan-jalan di bawah sinar matahari yang
cerah, dan orang-orang sibuk melakukan aktivitas mereka
masing-masing. Semuanya itu memberi sebuah perasaan yang aneh kepada
saya. Dampak dari bencana itu masih tetap ada, tetapi telah menyusup
jauh ke dalam lubuk hati dan pikiran orang-orang yang selamat. Trauma
itu sendiri tidak akan mudah mereka lupakan.
Malapetaka yang besar mendorong sang pemazmur untuk berseru dalam
keluh kesahnya, "Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena
sepanjang hari orang berkata kepadaku: ‘Di mana Allahmu?’" (Mazmur
42:4). Pergumulan hati sang pemazmur pun telah menyusup ke dalam.
Pada saat orang-orang lainnya melanjutkan aktivitas mereka seperti
biasa, ia membawa kebutuhan akan kesembuhan yang dalam dan sempurna
di dalam hatinya.
Hanya dengan menyerahkan kehancuran kita kepada Gembala hati kita
yang baik dan besar, kita dapat menemukan kedamaian yang memampukan
kita untuk menanggapi hidup: "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku,
dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan
bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (ayat 6).
Marilah kita berharap hanya kepada Allah. Karena, itu merupakan
satu-satunya jawaban bagi trauma hati kita yang mendalam --WEC
ORANG-ORANG YANG BERHARAP KEPADA ALLAH
TIDAK AKAN PERNAH PUTUS ASA
|