Bacaan : Filipi 4:10-19
Casey Seymour, pemain dan pelatih sepak bola yang sukses,
memerhatikan bahwa setiap anggota timnya tidak menyukai latihan fisik
10-kali-100 di akhir latihan. Sebelum para pemain boleh meninggalkan
lapangan, mereka harus berlari sejauh 100 yard [kira-kira 90 meter]
sebanyak 10 kali dengan kecepatan penuh dan istirahat sesedikit
mungkin. Jika gagal mengalahkan waktu yang telah ditetapkan, mereka
harus mengulanginya lagi.
Para pemain membenci latihan itu -- sampai tiba saatnya bertanding.
Saat itu, mereka menyadari bahwa mereka dapat bermain dengan kekuatan
penuh sepanjang pertandingan. Usaha mereka telah terbayar dengan
menduduki posisi juara!
Rasul Paulus menggunakan perumpamaan tentang latihan dan pertandingan
dalam surat-suratnya. Saat ia menjadi misionaris bagi orang-orang
bukan Yahudi, ia tunduk kepada perintah dan latihan dari Allah di
tengah penderitaan serta kesukaran yang besar. Dalam Filipi 4, ia
berkata, "Aku telah belajar" (ayat 11). Baginya dan bagi kita
masing-masing, mengikuti Yesus merupakan proses belajar seumur hidup.
Kita belum dewasa secara rohani saat diselamatkan, sama seperti
seorang atlet di sekolah yang belum siap bermain sepak bola secara
profesional. Kita bertumbuh dalam iman saat mengizinkan Allah,
melalui firman-Nya dan Roh Kudus, memberi kita kuasa untuk
melayani-Nya.
Melalui kesulitan hidup, Paulus belajar untuk melayani Allah dengan
baik. Demikian pula halnya dengan kita. Kesulitan memang tidak
menyenangkan, tetapi itu semua patut dihargai! Semakin mudah kita
diajar, maka semakin dewasalah kita. Sebagai anggota tim Kristus,
mari kita menyiapkan diri untuk dilatih --DCE
KARYA ALLAH DALAM DIRI KITA BELUM BERAKHIR
MELAINKAN BARU SAJA DIMULAI SAAT KITA
MENERIMA KRISTUS
|