Bacaan : Yesaya 9:1-7
Dalam sebuah tulisan editorial di Reaper, David G. Stewart menulis,
"Di India, kita akan geli bila mengikuti acara pujah bayi, atau
penyembahan bayi. Semua wanita akan berkumpul dan bergandengan tangan
mengelilingi bayi itu, kemudian dengan sengaja berkotek seperti ayam
yang mau bertelur, berusaha menirukan ibu atau ayahnya, dan memegang
jari-jarinya, menyentuh pipinya, mencium kakinya. Istilah favorit
untuk mendeskripsikan bayi laki-laki itu adalah \'Rajah Kecil, Raja
Kecil\'. Meskipun mereka tidak benar-benar membungkukkan badan dan
menyembah bayi baru, orang-orang India memberikan perhatian yang
besar kepada bayi yang baru lahir, sehingga tidak heran kalau mereka
menyebut acara itu \'penyembahan bayi\'."
Ketika Yesus masih bayi, Dia juga menerima pemujaan dan penghormatan.
Dia dipuja oleh para gembala yang meninggalkan kawanan domba mereka
di padang untuk menyembah seorang bayi dalam palungan. Mengapa mereka
melakukannya? Karena Dialah Raja segala raja.
Saya bertanya-tanya, ketika kita memasuki bulan Natal ini, apakah
Anda dapat memusatkan perhatian, sebentar saja, kepada Pribadi yang
kelahiran-Nya sedang kita rayakan? Atau lebih lagi, apakah Anda mau
bersedia membungkukkan badan dengan penuh kerendahan hati dan
memberikan pemujaan yang layak Dia terima? Dahulu kala, Nabi Yesaya
bernubuat bahwa nama-Nya akan disebut Penasihat Ajaib, Allah yang
Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (9:5). Yesus bukanlah bayi
biasa. Dia benar-benar Raja di atas segala raja! --DCE
APABILA KITA MENGENALI YESUS SEBAGAI RAJA
MAKA KITA AKAN MENYEMBAH-NYA
|