Bacaan : Kisah 5:1-11
Membiarkan berkembangnya sesuatu yang berpengaruh buruk adalah
kesalahan serius. Ibarat penyakit menular, jika dibiarkan akan
semakin banyak korbannya. Ibarat sel kanker, jika sudah berkembang
hingga ke stadium lanjut akan semakin sukar dilumpuhkan. Ibarat
kebiasaan buruk, jika dibiarkan sejak anak-anak akan menjadi watak
yang buruk. Daya rusaknya sudah terlampau kuat untuk dihambat.
Satu-satunya cara mengatasi hanyalah mencegah atau memberantasnya
selagi masih dini.
Gereja pada zaman para rasul berusia masih amat "muda". Tugasnya
adalah menjadi saksi kebenaran Injil Yesus Kristus. Ibarat dalam
pengadilan di masa itu, kebenaran sebuah kesaksian memerlukan
pengukuhan 2 orang saksi. Banyak murid diutus berpasangan-seperti
Petrus dan Yohanes atau Paulus dan Barnabas-untuk meneguhkan
kebenaran Injil. Dusta adalah dosa yang bertolak-belakang dengan
tugas menjadi saksi. Menjadi saksi harus berkata benar. Oleh sebab
itu, ketika ada 2 orang murid bersepakat dalam dusta, mereka dihukum
dengan amat serius untuk menjadi peringatan bagi semua. Sebab seorang
saksi tak mungkin berkompromi dengan dusta. Oleh sebab itu, kita bisa
memahami kerasnya hukuman yang Ananias dan Safira terima karena
kesepakatan dusta mereka. Itulah sebabnya kita tertegun membaca
tentang hukuman berat bagi pasangan Ananias dan Safira.
Ada hal-hal di dalam kehidupan ini yang tidak bisa dikompromikan,
sebab memang sejak dari akarnya sudah bertolak-belakang. Termasuk
dusta melawan kebenaran. Jika kebiasaan buruk berdusta dibiarkan,
akan menjadi bencana di kemudian hari. Kita harus bersikap tegas
terhadapnya -PAD
TIADA CARA LAIN UNTUK MEMERANGI DUSTA
SELAIN MEMANGKASNYA SEDINI MUNGKIN DAN SESERIUS MUNGKIN
|