Bacaan : Matius 26:17-29
Seorang wanita Rusia yang masih muda diberangkatkan ke
sebuah rumah sakit di Jepang untuk menjalani serangkaian prosedur
perawatan yang langka untuk menyelamatkan hidupnya. Setibanya di
rumah sakit ia terus-menerus menangis. Para dokter dan perawat,
yang tidak dapat berbahasa Rusia, tak dapat menghiburnya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil seorang utusan Injil
Amerika yang ada di kota mereka, kalau-kalau ia dapat menolong
wanita itu.
Utusan Injil tersebut tiba di rumah sakit dan berusaha
menghiburnya, tetapi ternyata ia juga sama sekali tidak mengerti
bahasa Rusia. Namun ketika melihat Alkitab, roti serta anggur
perjamuan yang dibawanya, wanita tersebut tersenyum dan
mengangguk tanda bahwa ia pun mengakui tubuh dan darah Kristus
itu. Lalu, tanpa berkomunikasi lewat kata-kata sama sekali, pria
Amerika dan wanita Rusia ini merasakan adanya suatu ikatan dalam
Kristus. Sang utusan Injil melihat bahwa wanita Rusia ini
didukung dan dikuatkan ketika mereka bersama-sama mengingat
kematian Tuhan.
Saya tidak terkejut akan hal itu. Pengalaman ini
menggambarkan tentang kesatuan dalam Kristus yang kita miliki
sebagai orang-orang percaya. Kita merayakan kesatuan itu ketika
kita bersama-sama mengingat kematian-Nya, pengampunan-Nya, dan
hidup baru yang dikaruniakan-Nya kepada kita.
Kadangkala, seperti dalam kasus pria Amerika dan wanita
Rusia tadi, perbedaan bahasa tak mampu merintangi kesatuan umat
Kristen. Para pengikut Kristus dapat selalu mengalami adanya
ikatan di dalam Dia --DCE
When Christians join in blessed fellowship
Commemorating Jesus\' sacrifice,
They sense a common bond of unity
Because for every race He paid the price. --Hess
KESATUAN UMAT KRISTEN BERAWAL DI KAYU SALIB
|