Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/90

e-Konsel edisi 90 (5-7-2005)

Stres pada Anak

><>                  Edisi (090) -- 01 Juli 2005                  <><

                               e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Daftar Isi:
    - Pengantar            : Anak Juga Bisa Mengalami Stres
    - Cakrawala            : Dapatkah Anak Anda Mengatasi Stres?
    - TELAGA               : Bagaimana Membantu Anak Menghadapi Stres?
    - Info                 : Christian Counseling Conference
    - Surat                : Apakah Saya Diizinkan untuk Mengirimkan
                             Tulisan?

*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*

                    -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

  Beberapa waktu yang lalu banyak media ramai membicarakan tentang
  terjadinya peristiwa bunuh diri dari seorang anak yang masih duduk
  di bangku Sekolah Dasar dan juga seorang bocah yang masih berusia
  kira-kira 5 tahun. Banyak pakar psikologi yang mencoba menganalisa
  penyebab dari peristiwa yang menghebohkan ini. Pengaruh media
  televisi, ingin menarik perhatian orangtua, perasaan malu, dan tidak
  mampu menangani stres yang dihadapi adalah beberapa penyebab anak
  bunuh diri yang mereka simpulkan.

  Selama ini, mungkin, Anda berpikir bahwa stres hanya mungkin dialami
  oleh orang dewasa yang memiliki tingkat kesulitan hidup yang lebih
  kompleks. Ternyata pendapat ini tidak 100% benar, sebab anak pun
  bisa mengalaminya. Sebenarnya, stres yang terjadi pada anak bukanlah
  hal yang berbahaya jika mereka bisa mengatasi dan menghadapinya.
  Nah, tugas kitalah sebagai orangtua dan pendidik untuk membantu agar
  mereka bisa menghadapinya. Harapan kami, sajian e-Konsel edisi ini
  bisa memberikan pengetahuan kepada Anda untuk membantu mengatasi
  stres yang dihadapi anak-anak. Selamat menyimak. (Dav)

  Redaksi


*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

             -*- DAPATKAH ANAK ANDA MENGATASI STRES? -*-

  Tekanan batin, stres. Setiap orang, termasuk anak-anak kita, yang
  hidup di dunia yang bergerak cepat, bersaing ketat, dan berubah-ubah
  ini pasti akan mengalami berbagai tekanan batin. Mungkin, kehidupan
  anak nampaknya tidak mempunyai beban apa-apa dibandingkan dengan
  kehidupan seorang pemimpin perusahaan, namun anak-anak pun menderita
  karena tekanan-tekanan batin sebagaimana yang dialami oleh orang-
  orang dewasa. Hanya saja gejala-gejalanya yang berbeda.

  Jika para eksekutif menderita penyakit lambung, maka bagi seorang
  anak penyakit yang diderita akibat stres dapat muncul dalam
  berbagai bentuk, dari sering pilek sampai sulit membaca. Gejala-
  gejala yang nampak dalam kelakuannya biasanya termasuk tidak mau
  bergaul dan suka menyendiri, makin tidak mau berbicara, atau berlaku
  luar biasa agresif. Reaksi-reaksi fisik dapat berupa sering diare,
  gatal-gatal, gangguan pada kulit, perubahan kebiasaan makan, atau
  mimpi-mimpi buruk.

  Di balik akibat-akibat langsung yang timbul karena tekanan pada
  anak-anak, kita juga harus ingat bahwa penelitian menunjukkan adanya
  hubungan yang erat antara tekanan-tekanan batin yang berkepanjangan
  dan masalah-masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi, penyakit
  jantung, dan kanker. Jadi, berdasarkan alasan-alasan ini, sangatlah
  penting bahwa anak-anak itu membina pola-pola yang baik untuk
  menangani masalah-masalah tekanan batin atau stres ini.

  Pada dasarnya, tekanan batin atau stres itu merupakan pengrusakan
  tubuh. Ada beberapa macam tekanan batin yang memang wajar dan juga
  diperlukan bagi suatu kehidupan yang sehat. Tekanan batin yang wajar
  itu dapat membuat pikiran menjadi tangkas dan sistem peredaran darah
  berfungsi dengan baik. Olehnya juga, kita dipacu untuk berhasil
  dalam ujian, untuk bersaing dengan lebih ketat dalam pertandingan-
  pertandingan atletik, untuk mengasihi dan menangis dan untuk
  berusaha agar dapat mencapai suatu kehidupan yang lebih memuaskan.

  Tetapi, jika tekanan yang wajar itu berubah menjadi penderitaan dan
  putus asa, maka timbullah masalah dalam kesehatan dan tingkah laku.
  Hal-hal yang mungkin menimbulkan tekanan yang tidak sehat di dalam
  diri anak-anak itu sangat banyak, termasuk juga kejadian-kejadian
  seperti perpindahan ke kota lain, suatu penyakit yang kronis,
  kelahiran seorang adik, atau meninggalnya seseorang yang dikasihi.
  Tekanan batin juga dapat bersumber dari dalam diri anak itu sendiri,
  sebagai akibat dari hubungan-hubungan yang salah atau kelakuan-
  kelakuan yang merusak. Atau, hal itu dapat juga berakar pada sesuatu
  yang di luar dirinya, situasi atau lingkungan yang tidak dapat
  dikendalikannya.

  Bagaimana caranya agar kita dapat mengurangi sumber-sumber tekanan
  itu dan mengatasi tekanan-tekanan yang tidak terelakkan? Hal ini
  sebagian besar bergantung pada apakah kita dapat menentukan apa yang
  merupakan sumbernya. Jika sudah diketahui sumber dari stres itu,
  maka kita akan dapat langsung menangani masalahnya. Tetapi, jika
  sumber tekanan itu masih tersembunyi dan kabur, mungkin yang terbaik
  yang dapat kita lakukan ialah menolong anak itu menyusun siasat
  untuk mengatasi hal itu.

  Bagaimana cara Anda sebagai orangtua menanggulangi stres atau
  tekanan, itulah yang akan menjadi contoh bagi anak Anda. Berikut ini
  terdapat beberapa cara yang dapat Anda dan anak Anda pertimbangkan:

   Bicarakan hal ini. Salah satu respon yang paling buruk terhadap
    masalah stres ialah menyembunyikannya atau memendamnya di dalam
    hati Anda sendiri -- merasa seolah-olah bahwa hanya Anda seorang
    diri saja yang menghadapi masalah itu. Ciptakan kesempatan bagi
    anak Anda yang masih kecil untuk mengungkapkan perasaannya.
    Memainkan boneka tangan, seperti boneka si Unyil, dan menggambar
    merupakan kegiatan yang baik untuk mengungkapkan perasaannya.

   Ketika seorang anak menjadi semakin besar, ia akan dapat dengan
    lebih baik merumuskan dan menganalisa kejengkelan atau keadaannya
    yang frustrasi itu. Hendaklah Anda peka terhadap komentar-komentar
    anak itu karena hal itu mungkin dapat memberi petunjuk tentang
    adanya kegelisahan. Jika ia menyinggung tentang seorang jagoan di
    sekolah yang selalu mengganggu atau perceraian orangtua seorang
    kawan maka mungkin hal itu dapat menjadi titik tolak untuk, dengan
    lembut, mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat mengungkapkan
    ketakutan yang tersembunyi agar hal itu dapat segera diatasi.

   Bersama anak Anda gambarkan dengan jelas cara penyelesaian yang
    mungkin dilakukan. Tolonglah anak itu untuk mengenali tindakan-
    tindakan tertentu yang dapat dilakukannya untuk mengakhiri suatu
    keadaan yang menekan. Jika misalnya, masalahnya adalah pelajaran
    sekolah yang tertinggal, bicarakanlah bagaimana caranya agar anak
    itu dapat mengatur jadwal waktunya dengan lebih baik lagi,
    memperbaiki kebiasaan belajarnya, mencari bantuan baik dari Anda
    maupun dari para guru. Sedikit gagasan yang kreatif dapat
    menimbulkan cara penyelesaian yang baik. Dan seringkali, karena
    begitu kuatir, cara penyelesaian yang sebenarnya sederhana itu
    tidak terlihat.

   Jika di dalam kehidupan anak Anda sudah terjadi hubungan
    antarpribadi, tolonglah dia untuk menilai siapa sebenarnya yang
    harus bertanggung jawab. Anak itu mungkin secara keliru merasa
    bertanggung jawab atas tindakan-tindakan orang lain yang sama
    sekali berada di luar kekuasaannya.

   Periksalah dalam firman Allah apa jawaban atau tanggapan
    terhadap suatu masalah. Salah satu hak istimewa orang Kristen
    ialah bahwa kita dapat menyerahkan kekuatiran kita kepada Tuhan,
    dan sebagai gantinya dapat menerima damai dan ketenangan yang
    sejati (Roma 8:26-28). Doa yang disertai dengan hati yang jujur
    dapat menghilangkan beban tekanan batin. Berdoalah bersama-sama
    dengan anak Anda. Ketaatan yang sesederhana mungkin dapat menjadi
    penyelesaian yang tepat jika ia telah melanggar salah satu prinsip
    Allah untuk kehidupan ini.

   Hiduplah sehari demi sehari. Kebanyakan dari hal-hal yang
    dikuatirkan baik oleh anak-anak maupun oleh orangtua tidak akan
    pernah terjadi. Sehat sekali jika kita memusatkan perhatian hanya
    pada masalah yang ada sekarang dan yang ada di tempat ini. Kadang-
    kadang, memang kita perlu menikmati saat sekarang ini dan menunda
    dulu untuk menangani apa yang menjadi sumber stres atau tekanan
    itu hingga saat yang lebih tepat. Sarankan kepada anak Anda agar
    ia tidak kuatir tentang sesuatu masalah sampai setelah masalah itu
    dibicarakan bersama-sama dengan Anda dalam suasana yang lebih
    santai.

   Berilah anak Anda cukup waktu untuk bermain. Bermain itu merupakan
    salah satu cara yang penting bagi anak itu untuk mengatasi stres
    atau tekanan. Belilah mainan yang paling memungkinkan anak itu
    untuk mengembangkan kreativitas dan daya khayalnya, seperti tanah
    liat, balok-balok susun, atau perkakas untuk mengukir kayu.

   Usahakan agar setiap anggota keluarga Anda cukup tidur dan
    olahraga.

   Batasi jumlah waktu menonton televisi untuk anak Anda. Terlalu
    banyak menonton televisi dapat mengakibatkan anak mengalami stres
    karena menanggung beban informasi dan emosi yang berlebihan.

   Jangan memperlakukan anak Anda sebagai ahli terapi. Seorang ibu
    atau ayah yang hidup sendirian cenderung tergoda untuk mencurahkan
    beban masalahnya kepada anak-anak karena tidak ada orang dewasa
    lain di rumahnya. Sebaiknya, carilah seorang keluarga, teman
    dekat, atau pendeta yang dapat mendengarkan.

   Janganlah memaksa anak Anda untuk ikut atletik, perguruan tinggi,
    atau pertandingan kesenian, dan juga jangan menentukan suatu
    sasaran yang tidak realistik.

   Jika mungkin, aturlah agar anak Anda mempunyai tempat yang menjadi
    milik pribadinya walaupun tempat itu hanya merupakan salah satu
    pojok ruangan pokoknya suatu tempat untuk dapat menyendiri.

   Usahakanlah menyediakan waktu untuk saat teduh yang teratur di
    rumah Anda dan pada waktu itu radio dan televisi harus dimatikan,
    dan juga telepon tidak mengganggu.

   Sediakanlah dan nikmatilah saat-saat santai bersama-sama dengan
    anak Anda. Berhentilah sejenak untuk memandang matahari yang
    terbenam, memperhatikan keindahan bunga, mengagumi bunyi burung.

   Akhirnya, banyaklah tertawa bersama-sama! Sudah sejak lama diakui
    bahwa tertawa mempunyai kekuatan yang dapat menyembuhkan stres,
    tertawa merupakan penawar stres yang sangat efektif.

  Tidak ada satu orang pun, termasuk anak-anak, yang dapat sepenuhnya
  melarikan diri dari keadaan yang sarat dengan tekanan batin atau
  stres itu. Namun demikian, kita dapat mengurangi sumber-sumber stres
  yang ganas dan yang menggerogoti keadaan mental para anggota
  keluarga kita sampai pada tingkat yang masih dapat diatasi atau
  dikuasai, dan menolong mereka untuk mengendalikan akibat-akibat
  tekanan-tekanan itu. Dan upahnya ialah kehidupan yang lebih sehat
  dan bahagia.

-*- Sumber diambil dari: -*-
  Judul Buku: 40 Cara Mengarahkan Anak
  Penulis   : Paul Lewis
  Penerbit  : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1997
  Halaman   : 62 - 66


*TELAGA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TELAGA*

  Ternyata tidak hanya orang dewasa saja yang bisa mengalami stres,
  anak-anak pun bisa mengalami gangguan ini. Dan, tentu saja jika ini
  terjadi, orangtua tidak bisa tinggal diam. Beberapa cara yang kami
  ambil dari perbincangan dengan Bapak Heman Elia, M.Psi. berikut ini,
  kami harapkan bisa membantu Anda, para orangtua yang sedang
  mengalami masalah seperti ini.

          -*- BAGAIMANA MEMBANTU ANAK MENGHADAPI STRES? -*-

  T : Bagaimana kita bisa meningkatkan daya tahan kita sebagai
      orangtua agar tidak stres menghadapi anak yang stres?

  J : Ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk memperbesar daya tahan
      kita sendiri terhadap stres.

      PERTAMA, kita perlu memandang lingkungan dan realita di sekitar
      kita secara lebih utuh dan realistis. Misalnya, tidak membesar-
      besarkan ancaman, tidak menghantui atau menakut-nakuti diri
      sendiri.

      KEDUA, kita perlu berpikir secara rasional dan lebih sehat di
      dalam menghadapi kegagalan, peristiwa kurang menyenangkan yang
      kita alami dan sebagainya. Cara berpikir yang rasional berarti
      kita tidak mengalahkan diri kita dengan menambahkan pikiran-
      pikiran negatif ke dalam diri kita.

      KETIGA, kita perlu mempunyai kehidupan rohani yang baik. Dalam
      hal ini kita perlu sering membaca dan merenungkan firman Tuhan
      karena firman Tuhan banyak memberi kita pandangan yang sehat dan
      cara-cara yang baik dalam menghadapi situasi di sekitar kita
      yang tidak selalu baik. Seringkali apa yang kita alami adalah
      sesuatu yang kurang menyenangkan, tetapi Alkitab memberi dasar
      bagi kita untuk menghadapinya, terutama di dalam kehidupan iman.
------
  T : Sebenarnya di usia berapa anak-anak mulai bisa mengalami stres
      dalam kehidupannya?

  J : Biasanya kalau ibu yang mengandung itu mengalami tekanan berat,
      lalu menghadapi, misalnya suasana keluarga yang kurang
      menyenangkan dan tidak harmonis, maka akan berdampak kepada
      janin. Menurut penelitian, janin-janin yang dikandung oleh ibu
      yang mengalami stres cukup berat, pada masa kelahirannya anak
      akan cenderung lebih banyak mengalami kegelisahan yang akan
      terbawa sampai remaja.
------
  T : Meskipun pada waktu di dalam kandungan ibunya tidak mengalami
      stres, tetapi anak tetap mempunyai potensi untuk stres. Biasanya
      apa penyebabnya?

  J : Menurut tingkatannya, secara umum penyebab anak stres pada
      TINGKAT SEDANG, misalnya kalau anak harus ikut pindah rumah,
      pindah sekolah, orangtua yang bertengkar terus-menerus,
      menghadapi kelahiran adiknya, orangtua yang menikah lagi, anak
      harus bekerja pada usia yang masih muda, dan orangtua yang
      jarang di rumah.

      Stres pada TINGKAT BERAT, misalnya anak harus diopname dan
      dioperasi di rumah sakit, orangtua bercerai, dan jika anak
      mengalami perkosaan atau pelecehan seksual.

      Stres pada TINGKAT TERBERAT adalah kematian beberapa anggota
      keluarga sekaligus atau bencana alam, peperangan, kerusuhan
      sehingga mereka harus hidup di pengungsian.

      Dari tingkatan-tingkatan ini kita bisa kurang lebih
      memperkirakan gangguan tingkah laku yang akan dihadapi. Semakin
      berat tentunya semakin besar potensi gangguan tingkah laku yang
      akan muncul.
------
  T : Apakah ada hal-hal lain yang membuat kita bisa menduga bahwa
      anak kita sedang mengalami stres?

  J : Mulai dari perubahan tingkah laku, misalnya adanya perubahan
      tingkah laku menjadi lebih tegang, lebih rewel, lebih gelisah,
      lebih cemas, lebih cengeng, mundur ke tingkat perkembangan
      sebelumnya, misalnya tadinya sudah tidak ngompol sekarang
      ngompol lagi dan sebagainya. Selain itu masih ada gejala-gejala
      yang berakibat pada fisik, misalnya pada anak-anak usia 3 tahun
      mereka bisa sakit lambung, muntah-muntah kemudian demam. Pada
      usia-usia selanjutnya bisa saja terjadi gangguan tidur, mimpi
      buruk dan sebagainya.
-----
  T : Suasana bagaimana yang sebenarnya bisa mendukung seorang anak
      supaya dia lebih tahan menghadapi stres?

  J : Rumah yang harmonis yang bisa memberikan rasa aman bagi seluruh
      anggotanya. Itu yang akan memberikan bekal bagi anak untuk
      menghadapi lingkungan lebih baik. Selain itu, anak akan
      mengalami stres yang lebih besar kalau di keluarga itu terdapat
      lebih dari 2 anak yang berusia di bawah 3 tahun. Artinya, setiap
      tahun lahir seorang anak, jadi jarak kelahiran antaranak perlu
      diperenggang untuk mengurangi kemungkinan stres pada anak.
      Kemudian, kalau bisa sewaktu menikah, ada kepribadian yang lebih
      baik dari masing-masing pasangan karena seorang ibu, dalam hal
      ini pengasuh utama bagi anak, mempunyai peran penting. Kalau
      sang ibu mudah mengalami gangguan tingkah laku atau rentan
      terhadap stres, maka akan berpengaruh juga terhadap anak.

      Di samping itu seorang ibu juga perlu responsif terhadap anak,
      karena akan memperbesar daya tahan anak. Ibu juga perlu
      mengetahui hal-hal yang umum mengenai perawatan anak dan
      kemudian orangtua tidak banyak cekcok, kondisi rumah sebaiknya
      bersih dan teratur. Banyak rumah yang kondisi rumahnya tidak
      teratur sehingga kadang menimbulkan stres yang lebih berat.

      Satu hal lagi yang juga penting adalah orangtua perlu hadir
      secara teratur di dalam kehidupan anak. Bagaimanapun anak perlu
      ada orang dewasa yang bisa menampung keluhan-keluhannya, rasa
      takutnya dan sebagainya. Beberapa hal ini akan membantu anak
      untuk menghadapi stres yang dialaminya.
------
  T : Kalau seandainya ada anak di dalam rumah tangga kita yang
      mengalami tekanan, mengalami stres, sebagai orangtua apa yang
      bisa kita lakukan terhadap anak ini?

  J : Prinsip yang utama adalah kita perlu memberikan suasana yang
      menerima, bisa memahami anak dan bisa melihat masalah dari sudut
      pandang anak itu. Kalau anak itu mengaku ketakutan dan
      sebagainya, janganlah anak itu ditolak atau direndahkan atau
      diejek karena akan memperbesar stres yang dirasakannya.

      Kemudian orangtua juga harus memberikan satu lingkungan dimana
      anak itu merasa terlindungi dan aman. Seringkali orangtua kurang
      bisa memberikan suasana seperti itu. Misalnya ketika anak
      mempunyai masalah di sekolah, adakalanya kita sebagai orangtua
      cenderung tidak sabar, cenderung cepat marah sehingga akibatnya
      stres yang terjadi pada anak ini tidak terselesaikan.

      Satu hal yang juga sangat penting adalah kita harus menciptakan
      suasana ibadah di rumah. Jadi, jika anak pada saat tidak di
      dalam pengawasan orangtua dan sedang menghadapi suatu masalah,
      maka dia sudah terbiasa untuk berdoa, minta perlindungan Tuhan
      dan selalu bersandar kepada Tuhan.
------
  T : Anak-anak yang orangtuanya menerapkan disiplin dengan keras
      sekali, dampaknya anak bisa jadi stres. Dalam hal ini
      bagaimanakah jalan tengahnya supaya apa yang orangtua anggap
      baik juga tertangkap baik oleh anaknya dan anak yang diharapkan
      baik juga dipahami oleh orangtuanya?

  J : PERTAMA, orangtua perlu memandang atau belajar memandang apa
      yang dipandang oleh anak. Seringkali orang dewasa beranggapan
      anak adalah orang dewasa dalam bentuk mini, akibatnya anak-anak
      tidak berkembang menurut perkembangannya yang wajar. Misalnya,
      dalam hal disiplin, anak usia 3 tahun tidak bisa disuruh duduk
      lebih dari 15 menit, untuk 10 menit duduk diam saja itu sudah
      bagus sekali. Anak usia 3-5 tahun membutuhkan banyak sekali
      gerakan, harus lari ke sana ke sini, kalau dia harus belajar
      kemudian masih dimarahin lagi otomatis dia tidak suka untuk
      belajar.

      KEDUA, orangtua perlu belajar untuk memahami perkembangan atau
      psikologi perkembangan anak dengan mengetahui pada tahap-tahap
      atau usia berapa saja anak mengalami hal-hal tertentu, sehingga
      orangtua akan lebih banyak menghargai anak. Dalam hal disiplin,
      orangtua harus bisa membedakan antara ketidakmampuan anak untuk
      bertanggung jawab dan tidak bisa bertanggung jawab. Anak tidak
      mengikuti perintah kita karena dia belum bisa, belum matang,
      belum cukup matang ataukah karena anak itu memang sengaja tidak
      mau dan menentang, itu harus dibedakan. Jadi, kalau kita tahu
      bahwa dia memang belum bisa bertanggung jawab, maka kita tidak
      boleh menerapkan disiplin dengan ketat. Kita harus melatih dia,
      setahap demi setahap.
------
  T : Apakah sebaiknya setiap kali anak mengalami permasalahan,
      orangtua perlu turun tangan supaya anak tidak sampai stres?

  J : Orangtua, sebaiknya melakukan tindakan preventif dengan
      memberikan suasana berkomunikasi secara terbuka tanpa rasa
      takut. Jika ini sudah terjalin dengan baik, maka jika anak
      menghadapi stres yang tidak bisa diatasinya, dengan sendirinya
      dia akan meminta kita untuk membantunya. Jadi, adakalanya dengan
      diskusi atau komunikasi, kita bisa memperbaiki cara anak
      memandang dan memperkuat daya juangnya sehingga dia mau berlatih
      mengatasi masalahnya sendiri.

-*- Sumber: -*-
  [[Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #088B
    yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
    ==>  http://www.telaga.org/transkrip.php?membantu_anak_stres.htm
      -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat
       e-Mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel@xc.org
                             atau: < TELAGA@sabda.org >             ]]


*INFO *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* INFO*

               -*- CHRISTIAN COUNSELING CONFERENCE -*-

  Kami informasikan kembali bagi Anda para guru, pemimpin rohani, dan
  hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan konseling, jangan lewatkan
  konferensi dengan tema:

      "TANTANGAN DAN PELUANG KONSELING KRISTEN DI INDONESIA II"

  Konferensi akan diselenggarakan pada:
  Hari, tanggal    : Kamis-Jumat, 21-22 Juli 2005
  Tempat           : Bidakara, Hotel Bumikarsa
                     Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 71-73, Jakarta
  Pembicara        : Pdt. Yakub Susabda, Ph.D.
                     Pdt. DR. Mesach Krisetya
                     Pdt. DR. Dwijo Saputro
                     Pdt. Siang Yang Tan, Ph.D.
                     Esther Susabda, Ph.D.
  Biaya Pendaftaran:
  - Rp. 350.000,00; per orang
    (termasuk makan siang + snack, tanpa akomodasi)
  - Rp. 550.000,00; per orang
    (termasuk makan siang + snack, menginap 1 malam di Hotel
    Bumikarsa)
  - Bebas biaya seminar untuk 50 mahasiswa/i teologia atau psikologi
    yang ingin mengikuti seminar tetapi kesulitan biaya (menulis surat
    permohonan kepada panitia).

  Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:
  - Ria dan Christy
    STTRII Kemang Utara IX/10, Jakarta 12760
    Telp.: (021) 7990357, 7982819 / Fax.: (021) 7987437
    Email: reformed@idola.net.id

  - Ibu Feri
    Pastorium SAAT, Taman Dieng III/16 Malang
    Telp.: (0341) 561498 / Fax.: (0341) 561498

  - Pusat Pelayanan Gereja-gereja Injili Indonesia (PPGII)
    Jl. Sentani No. M-27 Kompleks Wisma Angkasa Pura
    Jakarta Pusat 10720
    Telp.: (021) 6410445 / Fax.: (021) 6410446

  Seminar ini diselenggarakan atas kerjasama:
  - Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia (STTRII)
  - Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT)
  - Pusat Pelayanan Gereja-gereja Injili Indonesia (PPGII)
  dan diprakarsai oleh: Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
                        Pdt. DR. Dwijo Saputro
                        Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.


*SURAT*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-DARI Anda-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*SURAT*

  Dari: Sari <shtarigan@>
  >Syalom,
  >Saya baru saja mendaftar untuk bergabung dengan milis konsel. Puji
  >Tuhan, saya diberikan talenta menulis khususnya hal-hal yang
  >berbau psikologis dan setiap kali Roh Kudus beri saya inspirasi
  >terkadang waktu saya saat teduh, lagi merenung/intropeksi atau
  >di keseharian saya. Apakah saya diijinkan untuk mengirimkan
  >tulisan-tulisan tersebut? Salah satu kelemahan saya adalah sulit
  >untuk berbicara "bukan bisu lho... ", tepatnya saya suka gugup
  >kalau harus bicara secara formal tapi kalau berupa tulisan...
  >inspirasi saya bisa melambung tinggi. Dan selama ini, talenta yang
  >Tuhan Yesus berikan hanya sebatas teman2 kantor dan sahabat yang
  >saya kenal saja. Dan kalau diperbolehkan, apakah saya kirim ke
  >email staf-konsel atau langsung ke milis?

  Redaksi:
  Selamat bergabung di Milis Publikasi e-Konsel. Talenta yang Tuhan
  berikan pada Anda tentu akan sangat berguna untuk menolong orang
  lain dan juga bagi perkembangan pelayanan Tuhan.

  Redaksi berterima kasih sekali jika Anda bersedia ikut aktif dalam
  Publikasi e-Konsel ini dengan mengirimkan tulisan-tulisan, baik
  dalam bentuk artikel, renungan, maupun tips. Silakan kirim ke:
  ==>   <staf-konsel@sabda.org>

  Ada kemungkinan bisa ditampilkan di Situs C3I (Christian Counseling
  Centre Indonesia) jika memang sesuai dengan visi dan misi C3I.
  ==>   http://www.sabda.org/c3i/

  Selain itu, saat ini YLSA (Yayasan Lembaga SABDA) juga memiliki
  komunitas penulis online "Christian Writers` Club" (CWC). Silakan
  mengirimkan tulisan-tulisan Anda kepada moderator komunitas CWC agar
  bisa ditampilkan dalam Situs CWC. Untuk lebih jelasnya, silakan
  menghubunginya di alamat:
  ==>   <hardhono@in-christ.net>

  Kiranya informasi dari kami bisa membantu Anda untuk menyalurkan
  talenta menulis yang Anda miliki. Jangan segan mengirimkan email
  lagi jika masih ada hal yang ingin ditanyakan. Kami tunggu tulisan
  Anda! Untuk pembaca lainnya, jangan mau ketinggalan, kami tunggu
  juga partisipasinya! GBU.


e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL

                         STAF REDAKSI e-Konsel
                          Ratri, Silvie, Evie
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2005 oleh YLSA
                      http://www.sabda.org/ylsa/
                    http://www.sabda.org/katalog/
                    Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel@sabda.org>
  Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
  dapat dikirimkan ke alamat:             <owner-i-kan-konsel@xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Berhenti:     Kirim e-mail kosong:  unsubscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP publikasi e-Konsel:  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org