Beranda | YLSA.org | Alkitab | Katalog | AI |
Utama > Publikasi > e-JEMMi > Edisi No. 50 Vol. 11/2008
  Tampilan cetak   edisi sebelum | 12/Edisi 2008 | edisi berikut

e-JEMMi edisi No. 50 Vol. 11/2008 (16-12-2008)

Menantikan Kedatangan Kristus

 


______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
RENUNGAN NATAL: Zakharia dan Elisabet: Menebar Simpati dan Empati
ARTIKEL NATAL: Penilik Natal
SUMBER MISI: India Christian Mission Center (ICMC)
DOA BAGI MISI DUNIA: India, Afganistan
DOA BAGI INDONESIA: Yayasan Kasih Imanuel

______________________________________________________________________

       LIGHTLY SPOKEN WORDS WILL BE WEIGHTY IN THE JUDGEMENT
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,

  Apakah Anda telah menyiapkan hati untuk menyambut perayaan Natal? 
  Kami mengajak Anda untuk menyiapkan hati dengan membaca Renungan 
  Natal dan Artikel Natal yang kami siapkan di bawah ini. Biarlah 
  perenungan ini dapat membawa hati kita untuk dipenuhi dengan simpati 
  dan empati kepada orang-orang yang ada di sekitar kita yang 
  membutuhkan kasih Kristus. Marilah kita menjadi orang-orang yang 
  dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat-Nya.

  Selamat menjadi saluran berkat, sehingga kasih Tuhan semakin 
  terpancar melalui kita pada Natal tahun ini.

  Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
  Novita Yuniarti

______________________________________________________________________
RENUNGAN NATAL

           ZAKHARIA DAN ELISABET: MENEBAR SIMPATI DAN EMPATI

  Setiap keturunan langsung dari Harun otomatis mengemban tugas 
  istimewa sebagai imam yang melayani Allah di Bait Suci. Karena 
  aturan tersebut, tidak heran kalau pada saat itu ada banyak sekali 
  imam. Salah satunya adalah Zakharia, keturunan Harun dari rombongan 
  Abia.

  Mereka dibagi ke dalam 24 sektor untuk bertugas bergantian, khusus 
  pada hari raya keagamaan -- seperti Hari Raya Pentakosta atau Hari 
  Raya Tabernakel. Semua imam itu bertugas bersama-sama. Setiap sektor 
  melayani dua kali dalam setahun. Masing-masing 1 minggu.

  Bagi para imam, melayani Allah di Bait Suci adalah saat yang 
  ditunggu-tunggu. Masa terpenting dalam hidup mereka. Bila tiba 
  gilirannya, mereka akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. 
  Begitu pula Zakharia, yang hari itu mendapat tugas untuk masuk ke 
  dalam Bait Suci dan membakar ukupan.

  Zakharia menikah dengan Elisabet, wanita yang juga keturunan Harun.
  Sebagai seorang imam, menikahi wanita yang sama-sama berasal dari
  keturunan Harun adalah sebuah kehormatan besar. Sebab itu berarti ia
  akan sanggup memertahankan kemurnian darah keturunannya.

  Keturunan? Iya, betul keturunan. Tapi sayang sekali, justru itulah
  yang tidak dimiliki Zakharia dan Elisabet. Dalam usia tua, mereka
  belum juga dikaruniai anak. Sungguh sebuah kenyataan yang pahit.

  Bagi masyarakat Yahudi, tidak memiliki keturunan adalah sebuah aib.
  Seseorang bisa dikucilkan karena tidak memunyai anak. Perceraian
  dimungkinkan terjadi di antara pasangan suami istri yang tidak
  memiliki keturunan. Ketiadaan keturunan juga bisa menjadi alasan
  bagi seorang suami untuk memeristri wanita lain. Bandingkan kisah
  Abraham dalam Kejadian 16.

  Oleh karena itu, kesempatan berada di dalam Bait Suci tidak 
  disia-siakan oleh Zakharia. Ia yang selama ini secara tekun berdoa 
  dalam pengharapan untuk mendapatkan anak, tentu akan menggunakan 
  kesempatan itu untuk membawa permohonannya kepada Allah yang 
  dilayani dan disembahnya.

  Namun, ketika doanya dijawab oleh Tuhan melalui berita Malaikat 
  Gabriel, Zakharia justru tidak percaya. Ia bertanya, "Bagaimanakah 
  aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan 
  isteriku sudah lanjut umurnya" (Lukas 1:18). Zakharia lalu meminta 
  tanda untuk dapat memercayai berita itu. Sebagai akibatnya, ia pun 
  harus menuai apa yang ditaburnya. Keraguannya menyebabkan ia menjadi 
  bisu. Tidak lama kemudian, apa yang disampaikan oleh Malaikat 
  Gabriel menjadi kenyataan. Elisabet mengandung. Zakharia tentu 
  sangat bersukacita.

  Selanjutnya, fokus beralih pada Elisabet. Ketika kandungan Elisabet 
  memasuki bulan ke-6, Maria, kerabatnya dari Nazareth, berkunjung ke 
  kotanya di Yudea. Yang menakjubkan bagi Elisabet, sesaat ketika ia 
  melihat Maria muncul di hadapannya dan memberi salam, ia merasakan 
  tiba-tiba anak dalam kandungannya melonjak kegirangan.

  Elisabet dipenuhi Roh Kudus dan ia pun berkata kepada Maria, 
  "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah 
  rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 
  Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak 
  yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia yang 
  telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan 
  terlaksana" (Lukas 1:42-45). Episode ini kemudian ditutup dengan 
  nyanyian Maria.

  Salah satu kekhasan Injil Lukas adalah gaya penceritaannya yang 
  sederhana. Pun bila itu berkenaan dengan peristiwa besar atau tidak 
  biasa. Misalnya, ketika Maria menerima kabar dari malaikat tentang 
  kehamilannya (Lukas 1:26-38), atau ketika Maria melahirkan di 
  kandang ternak (Lukas 2:1-7). Kedua peristiwa itu diceritakan dengan 
  sangat "mulus", seolah tanpa riak pergumulan. Begitu juga pertemuan 
  antara Maria dengan Elisabet dan Zakharia.

  Wajar saja, sebab Lukas tidak hendak berkhotbah. Ia hendak 
  bercerita, bahwa Sang Juru Selamat dunia yang dinanti-nantikan itu 
  telah lahir. Dan betapa Allah sendiri yang turun tangan memuluskan 
  kelahiran-Nya. Karena itu, bagi Lukas, kedalaman makna tidaklah 
  begitu dipentingkan. Sebab yang lebih utama adalah fakta.

  Dalam praktik, perihal pertemuan Maria dengan Elisabet dan Zakharia 
  -- seperti juga perihal pergumulan batin Maria ketika mendengar 
  berita kehamilannya dan perihal kelahiran Yesus di kandang ternak --
  tentunya tidak "semulus" dan "sesederhana" yang ditampakkan dalam 
  teks. Ada luapan emosi dan pergumulan batin yang dalam. Sebab 
  bagaimanapun juga, peristiwa yang mereka hadapi itu bukan peristiwa 
  biasa.

  Secara manusiawi, Zakharia dan Elisabet punya alasan untuk 
  memberondong Maria dengan seribu satu pertanyaan dan nasihat bernada 
  curiga -- bagaimana mungkin seorang gadis baik-baik seperti Maria 
  hamil sebelum menikah? Sungguh memalukan. Ini akan mencoreng nama 
  baik keluarga besar mereka. Dan sebagainya.

  Namun, sikap negatif itu tidak mereka tunjukkan. Sebaliknya, 
  Elisabet dan Zakharia mendengarkan cerita Maria dengan empati dan 
  simpati. Jauh dari sikap menghakimi atau pun mencemooh. Mungkin saja 
  mereka tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang terjadi pada Maria, 
  tapi toh mereka percaya dan berusaha memahami. Sikap demikian itu 
  sudah lebih dari cukup bagi Maria -- membuatnya merasa tidak 
  "sendirian" lagi. Dukungan dari orang yang dekat dalam pergumulan 
  yang berat itu bagaikan oase di padang gersang.

  Sebagai kerabat, Maria dan Elisabet tampaknya memiliki relasi sangat 
  dekat. Itulah sebabnya ketika Maria harus mengalami kejadian 
  "monumental", yang diingatnya adalah Elisabet. Betul bahwa Maria 
  sudah rela untuk taat kepada kehendak Tuhan -- mengandung Sang Bayi 
  itu -- tapi bagaimanapun, secara manusiawi wajar kalau ia tetap 
  merasa gentar. Ia membutuhkan orang terdekat untuk berbagi cerita. 
  Mencurahkan segala beban berat yang menindih dalam hati.

  Selain memberitahu Maria bahwa ia akan mengandung, malaikat juga 
  menyebut nama Elisabet. Elisabet adalah bukti, tidak ada yang 
  mustahil bagi Allah. Jika Allah menghendaki, akan terjadilah 
  demikian. Tidak ada yang dapat menghalangi Allah untuk menyatakan 
  kehendak-Nya.

  Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita 
  membutuhkan orang lain. Memiliki keluarga, saudara, dan kerabat 
  selalu menyenangkan. Apalagi kalau mereka bertindak sebagai kawan 
  seiring dan sejalan dalam pergumulan, sahabat yang bisa mengerti dan 
  memahami kondisi yang kita hadapi.

  Memiliki orang seperti itu tentu akan memudahkan hidup kita, 
  meringankan langkah kita, menjadikan kita lebih percaya diri dalam 
  menghadapi berbagai tantangan. Zakharia dan Elisabet menjadi orang 
  yang demikian bagi Maria.

  Berita Natal adalah berita tentang simpati dan empati. Berita 
  tentang persahabatan dan kasih sayang. Ketika hati kita tergerak 
  akan penderitaan orang lain, mau menjadi sahabat bagi mereka, 
  membalut luka mereka, merasakan segala kegetiran dan kesedihan 
  mereka, dan menerima mereka apa adanya tanpa menghakimi.

  Di sekeliling kita, ada banyak orang yang membutuhkan empati dan 
  simpati. Mereka memerlukan orang yang mau menolong dan menopang. 
  Entah mereka yang hidup dalam kesepian di masa tua, mereka yang 
  kehilangan kasih sayang orang tua di panti-panti asuhan, atau mereka 
  yang "sendirian" hidup dalam belenggu masa lalu yang kelam dan 
  suram.

  Mereka mungkin tidak membutuhkan belas kasihan kita. Tapi mereka 
  membutuhkan pelukan persah