Mei 2008, Vol.11 No.20
______________________________ e-JEMMi _____________________________
(Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI
EDITORIAL
ARTIKEL MISI 1: Banyak Tantangan untuk Para Pekerja Lintas Budaya
ARTIKEL MISI 2: Absolutisme dan Relativisme
SUMBER MISI: Iranian Christian International (ICI)
DOA BAGI MISI DUNIA: Mauritania, Malaysia
DOA BAGI INDONESIA : Tenaga Kerja Wanita (TKW)
STOP PRESS: Lowongan Pekerjaan Programmer dan Web Programmer
______________________________________________________________________
WHEN YOU LOOK OUT,
IT MAY BE NIGHT BUT WHEN YOU LOOK UP IT`S ALWAYS LIGHT
______________________________________________________________________
EDITORIAL
Shalom,
Melayani kelompok masyarakat yang memiliki perbedaan budaya bukanlah
pekerjaan yang mudah. Banyak pengertian dan pemahaman yang perlu
diketahui dan dipelajari terlebih dahulu. Bagaimana pun, setiap
budaya memiliki keunikan yang mungkin tidak kita jumpai di tempat
biasa kita berada. Oleh karena itu, mereka yang ingin melayani misi
lintas budaya perlu mengetahui tantangan-tantangan yang ada.
Dalam e-JEMMi edisi minggu ini, kami menyajikan dua artikel yang
kami harap dapat menolong kita dan para pekerja misi lintas budaya
untuk memunyai pemahaman yang lebih jelas tentang apa yang kita
hadapi. Selamat menyimak sajian ini. Tak lupa, kami berdoa agar Roh
Kuduslah yang terus memberi pencerahan sehingga pelayanan misi
lintas budaya bisa semakin terbuka untuk dilakukan bagi umat
Kristen.
Tuhan memberkati pelayanan misi lintas budaya.
Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI 1
BANYAK TANTANGAN UNTUK PARA PEKERJA LINTAS BUDAYA
Di Indonesia, banyak suku-suku terabaikan membutuhkan para
pengerja Injil yang dapat memberkati mereka dengan Kabar Baik
tentang Tuhan Yesus, Juru Selamat dunia. Sayangnya, tidak banyak
orang yang bersedia mengabarkan Injil dan mendirikan jemaat lintas
budaya. Mereka yang bersedia pun menghadapi bermacam-macam
tantangan. Boleh dikatakan, mereka yang melayani suku-suku
terabaikan umumnya kurang disokong oleh gereja-gereja atau
organisasi Kristen yang mengutus mereka. Mereka membutuhkan dukungan
doa, dana, dan persekutuan yang menguatkan jiwa, perasaan, dan
kerohanian mereka.
Pelayanan lintas budaya adalah tantangan yang cukup rumit dan berat.
Pada umumnya, kita kurang mengerti bahwa setiap orang yang melayani
suku lain harus belajar banyak tentang sifat, bahasa, dan cara hidup
suku itu. Jika kita bergaul secara biasa dengan menggunakan bahasa
Indonesia saja, maka banyak orang tidak akan mengerti maksud dan
tujuan kita. Hal ini dapat diperlihatkan dalam lima pokok berikut.
1. Bahasa
Setiap bahasa yang terdapat di Indonesia mengandung ciri-ciri
yang khas. Jika kita bicara soal rohani kepada seseorang, kita
harus menguraikannya dengan bahasa yang paling cocok untuk orang
itu. Jika tidak demikian, ada kemungkinan besar ia tidak akan
menangkap maksud kita.
2. Pandangan Hidup
Pandangan hidup setiap suku terabaikan terdiri dari filsafat dan
teologi mereka. Jika mereka memunyai pandangan hidup yang berbeda
dari kita, maka mereka akan sukar untuk menerima Injil. Misalnya,
jika seseorang memiliki pengertian tentang Tuhan, manusia, dosa,
keselamatan, dunia gaib, dan sebagainya yang berbeda dari
pandangan dunia Alkitab, ia tidak akan langsung mengerti Injil.
Injil memunyai pandangan hidup tersendiri yang harus dijelaskan
dengan contoh-contoh yang dapat ditangkap oleh orang itu.
3. Nilai-nilai
Kita harus mempelajari nilai-nilai yang dihargai oleh suku
terabaikan itu. Pengertian kita akan nilai-nilai mereka membuka
banyak peluang untuk Injil. Kita menghormati nilai-nilai mereka
yang baik dan menguatkan nilai-nilai itu yang sesuai dengan
pandangan hidup Alkitab.
4. Kepemimpinan
Cara kepemimpinan setiap suku juga memunyai ciri khas yang perlu
diperhatikan oleh kita. Jika kita tidak berusaha memimpin jemaat
baru dengan cara yang dapat dimengerti dan dihormati oleh mereka,
maka mereka tidak akan merasa betah. Para penginjil perlu
mempelajari cara kepemimpinan orang-orang yang mereka layani.
5. Organisasi sosial
Sistem organisasi sosial sebuah suku juga penting untuk kita
pelajari. Misalnya, hampir setiap suku di Indonesia memegang
sistem bapak/anak buah, tapi cara melaksanakannya cukup
bervarisasi. Kita harus memerhatikan sistem-sistem sosial,
seperti sistem kekeluargaan, sistem pendidikan, dan sistem-sistem
masyarakat yang lain. Jika tidak, kita seolah-olah masih berada
di luar ruang lingkup kehidupan mereka. Penyesuaian ini tidak
begitu mudah dilaksanakan oleh seorang penginjil atau gembala
yang berasal dari suku lain.
Kesimpulannya
Tidak heran jika sebagian besar para penginjil dan pendeta yang
melayani suku-suku terabaikan tidak bertahan lama dalam pelayanan.
Mereka merasa pusing karena tantangan-tantangan yang besar, kurang
dibimbing untuk pelayanan yang berat itu, dan kurang didukung oleh
gereja dan saudara-saudara seiman. Marilah kita memerhatikan para
pekerja lintas budaya, mendoakan, dan menyokong mereka secara khusus
agar mereka dikuatkan oleh Tuhan dalam mengemban tugas yang berat
itu. Jika kita berusaha mengenal dan membantu para penginjil lintas
budaya, kita juga telah mengambil bagian dalam pengabaran Injil
kepada orang-orang yang belum pernah mengerti berita tentang Yesus
Anak Allah.
Kiriman dari: Roger Dixon
______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI 2
ABSOLUTISME DAN RELATIVISME
Relativisme budaya berbeda dengan relativisme etis, dan keduanya itu
harus dibedakan dengan saksama. Relativisme etis berbicara tentang
pengabaian prinsip dan tidak adanya rasa tangggung jawab dalam
pengalaman hidup seseorang. Sebaliknya, relativisme budaya
berbicara mengenai pegangan yang teguh pada prinsip, pengembangan
prinsip tersebut, dan tanggung jawab penuh dalam kehidupan dan
pengalaman seseorang.
Relativisme budaya mengizinkan anggota masyarakat untuk mengalami
hal-hal yang mutlak dan mengetahui makna hidup mereka sesungguhnya.
Masalah pencurian di Amerika Tengah yang multibudaya, misalnya,
setiap orang di sana mengerti suatu hal yang mutlak, "Tidak boleh
mencuri." Setiap orang di sana mengerti, mengiyakan, dan
mempraktikkan hal-hal yang mutlak dalam aturan dan norma masyarakat,
memenuhi tanggung jawabnya sebagai individu maupun anggota
masyarakat. Tak seorang pun melanggar apa yang sudah mutlak dalam
menyesuaikan diri dan hidup berdampingan dengan orang lain. Dengan
sendirinya, konflik norma terselesaikan dengan mudah melalui saling
pengertian. Penyelesaian konflik pun dijaga melalui pengadaptasian
yang arif oleh masyarakat. Kekacauan justru timbul dalam masyarakat
berbudaya tunggal karena adanya keterhubungan antara relativisme
budaya dan relativisme etis.
Kekacauan juga timbul akibat penggabungan absolutisme alkitabiah
dan absolutisme budaya. Banyak orang yang memiliki niat baik dalam
ranah budaya tunggal yang menganggap bahwa cara mereka bertindak
bukan hanya cara yang Tuhan kehendaki untuk mereka lakukan, tapi
juga untuk orang-orang dari budaya lain lakukan. Mereka merasa
tindakan mereka menyenangkan hati Tuhan. Jika tindakan mereka
ternyata tidak menyenangkan-Nya, mereka akan mengubahnya sehingga
apa yang mereka lakukan menyenangkan Tuhan. Jika pada faktanya ada
hal-hal alkitabiah yang mutlak, hal-hal itu harus diwujudkan dalam
pikiran, perkataan, dan tindakan orang Kristen. Oleh karena itu,
dalam pikiran mereka, absolutisme membentang dari kemutlakan Tuhan
sampai ekspresi manusia atas kemutlakan tersebut dalam ranah
budaya. Variasi lain dari pola pemikiran tersebut dalam nuansa
sosial budaya akan berujung pada pengabaian hal-hal yang mutlak.
Jadi absolutisme alkitabiah bercampur selamanya dengan absolutisme
budaya. Orang yang tidak mendukung absolutisme seperti itu pasti
dianggap sebagai relativis dan tidak percaya terhadap hal-hal yang
mutlak dalam hal apa pun.
Ada empat kombinasi dari kedua istilah itu. Alkitabiah/budaya dan
absolutisme/relativisme menghasilkan keempat kombinasi berikut:
1. Absolutisme alkitabiah dan absolutisme budaya.
2. Absolutisme alkitabiah dan relativisme budaya.
3. Relativisme alkitabiah dan absolutisme budaya.
4. Relativisme alkitabiah dan relativisme budaya.
Dilihat dari sejarah, kombinasi nomor tiga bukanlah kombinasi yang
diperhatikan oleh gereja. Jika seseorang tidak mengiyakan kombinasi
nomor satu, maka secara otomatis dapat diasumsikan bahwa ia
meninggalkan semua kemutlakan dan mendukung relativisme alkitabiah
dan relativisme budaya. Para profesional berpegang pada kombinasi
nomor empat, namun kesalahan itu bukan dikarenakan profesi mereka,
melainkan dikarenakan keprofesionalitasan mereka. Seorang
profesional yang tidak nyaman dengan relativisme alkitabiah dan
budaya tidak perlu berpegang pada kombinasi yang merupakan gabungan
dari relativisme. Dia bisa memilih kombinasi nomor dua dan membantu
anggota masyarakat suatu budaya mengenal Allah seutuhnya sebagai
anggota budaya tersebut tanpa harus menjadi misionaris.
Absolutisme Alkitabiah dan Relativisme Budaya
Pendekatan absolutisme alkitabiah dan relativisme budaya menegaskan
adanya gangguan supernatural yang melibatkan tindakan dan ajaran.
Bahkan seperti Kristus, melalui inkarnasi, menjadi daging dan
tinggal di antara kita, demikian juga ajaran atau kebenaran menjadi
terwujud dalam budaya. Bagaimana pun, seperti halnya firman membuat
daging tidak kehilangan keilahian-Nya, demikian juga ajaran tidak
kehilangan kebenarannya melalui perwujudannya dalam bentuk sosial
budaya manusia. Ajaran itu selalu menyeluruh dan utuh sebagai
kebenaran. Selama ekspresi sosial budaya didekati secara lintas
budaya, maka hal itu dapat dikatakan sebagai kebenaran juga. Saat
kebenaran dikawinkan dengan satu perwujudan budaya, potensi adanya
"kepalsuan" sangat besar. Yang lebih serius lagi, potensi adanya
kepalsuan dalam budaya yang memakukan kebenaran pada satu perwujudan
budaya, lebih besar, jika budaya tersebut sedang mengalami proses
perubahan.
Sekali lagi, tentang masalah pencurian dalam ranah lintas budaya,
perintah "tidak boleh mencuri" sebagai suatu moral yang mutlak dan
kebenaran yang dikomunikasikan dalam budaya, diwujudkan di Amerika
Utara. Perwujudan itu ada dalam budaya Suku Pocomchi Maya yang
diberlakukan sama-sama menyeluruh dan utuh dalam hal properti
pribadi dan umum.
Empat pertanyaan untuk memastikan keabsahan dari masyarakat yang
berbeda-beda.
Pertanyaan yang biasanya muncul adalah norma atau cara hidup mana
yang benar. Masalah itu diselesaikan dengan lebih dulu mengajukan
pertanyaan-pertanyaan lintas budaya seperti berikut ini.
1. Apakah norma itu?
2. Apakah norma tersebut dipatuhi?
3. Apakah norma itu memerlukan perubahan?
4. Siapakah yang bertanggung jawab untuk mengubah norma itu?
Rata-rata orang yang menjalani hidupnya berdasarkan normanya
sendiri, mendekati orang lain dari sudut pandang norma yang
dianutnya. Biasanya ia akan mengawali empat pertanyaan tersebut
dengan pertanyaan nomor tiga. Karena norma-norma yang dianut orang
lain dilihat dari sudut pandangnya sendiri, maka norma orang lain
perlu untuk berubah. Bila norma yang dianut orang lain tampaknya
perlu diubah, maka orang yang memutuskan perlunya ada perubahan itu
adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengubahnya. Hal ini
mungkin terjadi dalam relasi orang tua dengan anaknya, seseorang
dengan pasangannya, seorang misionaris dengan negara tertentu, dan
seorang pendeta dengan jemaat. Proses perubahan norma orang lain
tersebut tergantung sepenuhnya kepada orang yang memutuskan bahwa
norma itu perlu berubah. Keterlibatan orang lain dalam keputusan
akhir, tidak diperlukan. Jadi orang tua mengambil keputusan untuk
anaknya, seorang pasangan mengambil keputusan untuk pasangannya,
dewan misionaris yang mengambil keputusan untuk negara, fakultas
yang mengambil keputusan untuk mahasiswa, pendeta yang mengambil
keputusan untuk jemaatnya. Dalam konteks Kristen, bila seseorang
yang membuat keputusan memerlukan dukungan, dia hanya boleh mencari
dukungan dari figur yang dengannya ia telah mengonsultasikan masalah
yang ada -- Roh Kudus. Dengan demikian, tak seorang pun dapat
mempertanyakan keputusan akhirnya.
Orang yang mendekati tindakan, pikiran, atau keyakinan orang lain
dari sudut pandang lintas budaya atau dwibudaya, akan memulainya
dengan pertanyaan nomor satu. Dia akan benar-benar berusaha memahami
sistem di mana tindakan, keyakinan, atau pikiran itu didasarkan dan
kemudian bertanya apakah masyarakat yang ada memenuhi norma yang
telah ditetapkan secara bertanggung jawab; artinya, dia akan
menanyakan pertanyaan nomor dua setelah memahami benar sistem norma
yang ada. Dia akan menyelidiki arti dari menjalani hidup berdasar
motivasi. Dia akan memerhatikan apakah yang menjadi hal paling
penting bagi seseorang -- tindakan yang bertanggung jawab atau
tindakan yang tak bertanggung jawab. Kemudian dia akan menuju pada
pertanyaan nomor tiga. Saat agen perubahan (orang yang mengubah)
menanyakan pertanyaan ini, dia akan melakukannya, bukan dalam bentuk
normanya sendiri, namun dalam bentuk norma orang lain. Hal ini
dengan serta merta akan melibatkan orang lain dalam proses
perubahan. Namun yang lebih penting, pendekatan yang seperti ini
akan membuka kemungkinan untuk norma sang agen perubahan juga turut
berubah. Saat norma dari kedua belah pihak berpeluang untuk berubah,
besar kemungkinan Roh Allah akan masuk dan menuntun salah satu atau
kedua pihak dalam proses perubahan. Dalam cara yang dinamis, tiga
oknum ini bertanggung jawab atas perubahan norma; Roh Allah, orang
yang normanya perlu berubah karena digerakkan oleh Roh, dan orang
yang mendukung. Jadi, hubungan timbal balik yang sejati berkembang,
membuka salah satu atau kedua-duanya kepada perubahan norma yang
efektif.
Saat agen perubahan yang telah terbuka untuk normanya sendiri atau
norma orang lain untuk berubah, terus melangkah, dia menemui adanya
kebutuhan baru untuk dipenuhi. Dia sekarang memerlukan sesuatu yang
lain dari hanya sekadar perubahan perilaku. Dia merasakan perlu
adanya beberapa tujuan, standar eksternal.
Injil-injil, dalam bentuk Alkitab, memberikan standar ini. Orang
pertama, juga dengan orang lain, yakni orang yang normanya
memerlukan perubahan dan yang mendukung perubahan itu, bekerja
bersama Injil dalam bahasa yang mereka berdua bisa pahami dan
meresponinya sebagai "firman Allah". Bagi orang-orang tertentu di
Amerika Utara, mereka hanya dan akan selalu meresponi Alkitab versi
King James. Bagi masyarakat Amerika Utara lainnya, mereka hanya dan
akan selalu meresponi Alkitab dalam versi beberapa bahasa
kontemporer, tergantung pada dialek bahasa Inggris mereka. Bagi
mereka yang beretnik dan berlatar belakang yang berbeda, Alkitab
yang mereka pakai adalah produk dari program terjemahan yang
dipimpin oleh perorangan, suatu masyarakat Alkitab, atau oleh
beberapa organisasi lain, seperti program penerjemahan Wycliffe
Bible Translators dan Tyndale Living Bible.
Dalam proses yang dinamis ini, tuntutan perubahan dari tantangan
lintas budaya dan dalam suatu masyarakat dalam suatu masa, dapat
teratasi dengan efektif.
Namun suatu masalah baru mungkin harus dihadapi oleh agen perubahan
saat proses itu dimulai dan saat proses perubahan yang kooperatif
dan timbal balik itu berlangsung. Bagaimana jika norma kedua belah
pihak tidak perlu berubah? Bagaimana jika sebuah norma berubah
perlahan dalam jangka waktu yang lama? Bagaimana jika norma dari
orang pertama berubah, namun norma pihak yang lain yang perlu
berubah, malah tetap? Mungkin ini adalah tantangan terbesar yang
dihadapi oleh para misionaris atau agen perubahan. Dia datang ke
suatu komunitas dengan asumsi bahwa norma akan berubah dengan
masuknya Injil. Namun demikian, bukankah mereka kafir? Hal-hal
tertentu akan berubah hanya tuntutan kontak lintas budaya, namun
mungkin ada daerah-daerah yang sulit untuk berubah.
Banyak faktor yang memengaruhi hal itu. Ada kemungkinan misionaris
tidak memerhatikan pimpinan Roh Kudus. Terjemahan Alkitab yang
digunakan untuk menjangkau mereka mungkin tidak mencukupi. Ada
kemungkinan misionaris telah salah mengartikan latar belakang sosial
budaya atau Alkitab. Ada kemungkinan pula norma yang dianut
misionaris harus berubah sebelum tercipta fondasi yang akan
memunculkan perubahan pada orang lain. Ada kemungkinan juga bahwa
perubahan sedang terjadi, tetapi dalam tempo yang lambat, jauh lebih
lambat dari yang diharapkan agen perubahan, atau jauh lebih lambat
dari apa yang sebenarnya bermanfaat bagi orang-orang yang terlibat.
Atau bahkan mungkin juga Injil bisa masuk dalam suatu kehidupan
tanpa diperlukan adanya perubahan -- terlepas dari perubahan rohani.
Beberapa usaha untuk mengubah suatu norma supaya menjadi sama dengan
norma lain akan menyebabkan orang yang normanya menjadi pusat
perhatian, terlempar dalam konflik -- suatu keadaan yang tidak
kondusif bagi pertumbuhan rohani. Seseorang harus berhati-hati untuk
tidak menimbulkan konflik sosial yang tidak ada gunanya supaya ia
tidak bingung pada konflik rohani yang biasanya terjadi dengan
masuknya berita kebenaran alkitabiah, yakni Injil. Perhatian ekstra
harus diberikan sehingga setiap kemajuan dalam perubahan, tetap
sejalan dengan sistem sosial budaya yang berlaku untuk memastikan
keunikan budaya yang diperlukan dalam pertumbuhan rohani. Akhirnya,
pendukung yang bekerja sama dengan orang lain bisa maju melalui
suatu gaya pelayanan yang efektif untuk mendorong kreativitas dalam
pengalaman hidup masyarakat Kristen. (t/Dian dan Ratri)
Diterjemahkan dari:
Judul buku: Christianity Confronts Culture
Judul asli artikel: Absolutism and Relativism
Penulis: Marvin K. Mayers
Penerbit: Zondervan Publishing House, Michigan 1974
Halaman: 231 -- 237
______________________________________________________________________
SUMBER MISI
IRANIAN CHRISTIAN INTERNATIONAL (ICI)
===> http://farsinet.com/ici/
Didirikan pada 1981, Iranian Christian International (ICI) telah
melayani kira-kira delapan juta warga Iran dan Afganistan yang
tinggal di luar wilayah negara mereka. Melalui situsnya ini,
pengunjung diajak untuk melihat pelayanan mereka, di antaranya, ICI
telah membawa banyak orang Iran dan Afganistan kepada Kristus serta
menyuburkan pertumbuhan gereja di komunitas Iran dan Afganistan di
luar negeri. Bekerja sama dengan banyak organisasi misi, gereja, dan
pelayan Tuhan, ICI melayani orang-orang tersebut, antara lain dengan
menerbitkan "Mojdeh" (Kabar Baik) -- majalah dua bahasa
(Persia/Inggris) dan menerbitkan, mencetak ulang, dan
menditribusikan buku-buku Kristen berbahasa Persia, bahasa Dari, dan
Inggris untuk keperluan penginjilan, pemuridan, dan pelatihan.
Selain itu, mereka juga menyediakan konseling dan memantau hak
orang-orang Kristen yang ada di negara-negara Islam serta
menyediakan dukungan hukum bagi mereka. Tertarik untuk berlangganan
majalah mereka? Atau rindu untuk membantu pelayanan mereka? Segera
saja kunjungi situsnya karena Anda bisa mendapatkan
informasi-informasi tersebut melalui situs ini.
______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA
M A U R I T A N I A
Open Doors meminta agar orang-orang Kristen berdoa untuk
saudara-saudari seiman mereka yang tinggal di Mauritania,
Afrika Utara. Mauritania menempati posisi ke-24 dalam World Watch
List 2008, yang merupakan daftar nama-nama negara yang melakukan
penganiayaan terhadap orang Kristen. Sebelumnya, pada 2007,
Mauritania berada di urutan ke-32. Kekristenan di sana sangat
ditentang, baik secara sosial maupun budaya. Mayoritas populasi di
sana beragama Islam Sunni. Open Doors meminta agar kita berdoa demi
kesatuan pemercaya baru dan gereja di Mauritania. Doakan agar orang
Kristen tetap kuat di dalam iman, walaupun ada pertentangan.
(t\Novita)
Diterjemahkan dari: Mission News, Maret 2008
Selengkapnya: http://www.MNNonline.org/article/10993
Pokok doa:
* Doakan agar Tuhan membuka jalan bagi masuknya Injil di negara
Mauritania.
* Biarlah Tuhan memberikan kesatuan dan hikmat kepada pemercaya baru
dan gereja Tuhan di Mauritania sehingga mereka dapat saling
menopang, menguatkan, serta bekerja sama dalam menyebarkan Kabar
Baik bagi orang yang belum percaya.
* Berdoa agar Tuhan melembutkan hati aparat pemerintahan Mauritania
untuk memberikan kebebasan beragama bagi penduduknya.
M A L A Y S I A
Meskipun "Allah" adalah kata untuk menyebut "Tuhan" dalam bahasa
Melayu, akhir-akhir ini pemerintah menyatakan bahwa kata tersebut
mengacu pada Tuhannya orang Kedar dan hanya bisa digunakan oleh
orang Kedar.
Malaysia, sebuah negara dengan jumlah penduduk sekitar 25 juta
jiwa, kurang lebih 60% penduduknya beragama Islam, 19% Budha, 9%
Kristen, dan 6% Hindu. Walaupun konstitusi resmi negara tersebut
memberikan kebebasan beribadah, namun dalam praktiknya hak kaum
minoritas sering dilanggar. Surat kabar Gereja Katolik di Malaysia,
The Herald, menggugat pemerintah pada awal Desember 2007 menyusul
peringatan bahwa izin terbit surat kabar akan dicabut jika surat
kabar itu tidak berhenti menggunakan kata "Allah" di kolom bahasa
Melayu dalam surat kabarnya. Gereja Evangelikal Sabah di Kalimantan
juga mengajukan gugatan hukum setelah gereja tersebut dilarang
mengimpor buku-buku Kristen dengan kata "Allah" di dalamnya.
(t/Setyo)
Diterjemahkan dari:
Judul buletin: Body Life, Edisi Januari 2008, Volume 26, No. 1
Judul asli artikel: Christian Challenge Ban on "Allah"
Halaman: 3 -- 4
Pokok doa:
* Doakan agar umat Kristen di Malaysia dapat tetap tenang dan dengan
kepala dingin meresponi masalah ini tanpa harus saling melukai
perasaan masing-masing.
* Penyelesaian istilah "Allah" bagi umat Kristen di Malaysia sedang
dibicarakan dalam Mahkamah Konstitusi Malaysia dan hasilnya akan
dikeluarkan pada awal Juni mendatang. Doakan agar pemerintah
Malaysia dapat mengambil tindakan yang bijaksana guna
menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi.
______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA
TENAGA KERJA WANITA (TKW)
Tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia yang bekerja di luar negeri
sering mengalami banyak masalah, baik masalah di antara sesama TKW,
antara TKW dengan majikannya, sampai masalah antara TKW dengan
negara tempat mereka bekerja karena tidak adanya dokumen resmi untuk
bekerja. Sebagian besar TKW tersebut berprofesi sebagai pembantu
rumah tangga. Namun permasalahan tidak berhenti sampai di situ,
sering kali mereka mendapat perlakuan kasar dari para majikan, gaji
yang tidak dibayarkan, bahkan tidak jarang para majikan melakukan
pelecehan seksual hingga pemerkosaan. Hal-hal semacam ini sungguh
sangat memprihatinkan. Namun di antara cerita sedih tersebut, ada
yang memiliki nasib yang lebih baik, tapi hal tersebut hanya
sebagian kecil dari sekian banyak TKW kita yang bekerja di negeri
orang.
Pokok Doa:
1. Doakan agar pemerintah Indonesia dapat belajar dari pengalaman
sehingga semakin berhati-hati dalam mengirim TKW ke luar negeri.
Mereka juga harus membenahi sistem yang ada dan lebih selektif
lagi untuk menghindari masalah-masalah seperti yang telah
diuraikan di atas.
2. Kiranya KBRI di negara-negara tempat TKW bekerja, memberikan
perhatian dan perlindungan yang pantas bagi para TKW yang sedang
bekerja di negara-negara itu.
3. Berdoa juga untuk TKW yang mendapatkan majikan yang kurang baik,
bahkan kejam. Doakan agar keadaan ini dapat menjadi cara agar
mereka mencari Tuhan Yesus Kristus, Pelindung dan Penyelamat yang
sejati.
4. Doakan agar kesempatan bekerja di luar negeri ini dapat
memungkinkan para TKW bertemu dengan Tuhan, khususnya bagi TKW
yang mendapatkan majikan yang cinta Tuhan Yesus.
______________________________________________________________________
STOP PRESS
LOWONGAN PEKERJAAN PROGRAMMER DAN WEB PROGRAMMER
Dunia teknologi terus berinovasi ....
- Pernahkah Anda berpikir, apa peran teknologi bagi Kerajaan Allah?
- Maukah Anda mengambil bagian dalam misi Allah di era teknologi
ini?
Bergabunglah bersama kami!
Yayasan Lembaga SABDA dibangun atas kerinduan untuk mengambil bagian
dalam visi misi Allah dengan memakai teknologi komputer dan internet
untuk menjadi alat bagi pembangunan Kerajaan-Nya di dunia.
==> http://www.ylsa.org/
Yayasan Lembaga SABDA mengajak Anda yang memiliki kualifikasi
berikut ini untuk bergabung:
1. Lowongan Programmer/Database Designer:
a. Tingkat pendidikan tidak dibatasi (Spesialisasi Teknik
Komputer/Informatika/Matematika).
b. Menguasai minimal satu bahasa pemprograman modern (C+, C#,
Scripting, Java, PHP, Python, Perl, Ruby, dll.).
c. Memiliki kemampuan logika dan matematika.
d. Menguasai Bahasa Inggris.
e. Memiliki pengalaman di bidangnya.
2. Lowongan Web Programmer/Web Designer:
a. Tingkat pendidikan tidak dibatasi (Spesialisasi Teknik
Komputer/Informatika/Matematika).
b. Menguasai HTML, PHP, dan MYSQL (terutama untuk Web
Programmer).
c. Memiliki kemampuan desain dan menguasai minimal satu tool
untuk grafis (khusus untuk web designer).
d. Diutamakan bagi yang sudah pernah membuat website.
Kualifikasi umum:
1. Sudah lahir baru, hidup baru dalam Kristus, dan sudah dibaptis.
2. Pria atau wanita; diutamakan yang belum menikah.
3. Mampu bekerja dalam tim dan memiliki kemampuan adaptasi yang
tinggi.
4. Dapat bekerja dengan tenggat waktu yang ketat dan memiliki
ketelitian yang tinggi.
5. Memunyai semangat tinggi untuk terus belajar dan melayani di
bidang teknologi informasi.
6. Bersedia ditempatkan di Solo, Jawa Tengah, minimal untuk dua
tahun.
Bagi yang berminat bergabung, kirimkan surat lamaran resmi dan CV
lewat e-mail ke: ==> rekrutmen-ylsa(at)sabda.org
Atau kirim secepatnya lewat pos ke:
YLSA/SABDA
KOTAK POS 25
SLONS 57135
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi: ylsa(at)sabda.org
______________________________________________________________________
Anda diizinkan mengcopy/memerbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersil dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati dan Dian Pradana
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2008 oleh e-JEMMi/e-MISI --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA: http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog:http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________
|