______________________Milis Publikasi e-Reformed______________________
Dear e-Reformed Netters,
Saya membaca pengantar sebuah buku lama (1990) yang sangat menarik
tentang KEBANGKITAN KAUM AWAM (pada masa itu) yang ditulis oleh John
Stott. Ada beberapa alasan yang dikemukakan John Stott tentang
meningkatnya partisipasi kaum awam di gereja kala itu, di antaranya
adalah:
1. Alasan kebutuhan: jumlah pendeta terlalu sedikit sehingga mau tidak
mau orang awam harus membantu.
2. Alasan kekhawatiran: kaum awam akan bosan di gereja kalau tidak
diberi bagian untuk berpartisipasi.
3. Alasan semangat zaman: gereja dituntut/dipaksa untuk maju dengan
memberi kebebasan/emansipasi kepada kaum awam untuk memberikan
sumbangsih kepada gereja.
Tapi John Stott juga berkata, "Semua alasan itu logis, sepanjang yang
dipaparkan, tetapi tidak memadai. Alasan yang benar bagi kita dalam
mengharapkan agar kaum awam menjadi anggota gereja yang bertanggung
jawab, aktif, dan bersifat membangun seharusnya alasan-alasan yang
berdasarkan Alkitab, bukan alasan-alasan pragmatis; alasan-alasan yang
didasarkan atas prinsip teologis, bukan hanya karena mereka
dibutuhkan." Saya sangat setuju dengan pernyataan beliau, prinsip
Alkitab harus menjadi alasan utama keharusan seorang awam untuk
terlibat dalam pelayanan gereja. Saya pikir alasan inilah yang kurang
dimengerti oleh gereja. Terbukti bahwa keterlibatan orang awam di
gereja sering kali hanya untuk tambal-butuh saja.
Nah, salah satu bab yang ditulis oleh John Stott yang berbicara
tentang "ekklesia" (gereja) akan sangat menolong kita mengerti
pentingnya orang awam terlibat di gereja pada porsi yang benar dan
bukan hanya untuk meringankan pekerjaan pendeta. Karena itu, di edisi
terpisah (Mei) saya akan kirimkan artikel yang saya maksud tersebut.
Semoga menjadi pelengkap dari edisi April yang terlambat saya kirimkan
ini.
Selamat menyimak.
In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
< http://fb.sabda.org/reformed >
---------------------------------------------------------------------
KEBANGKITAN KAUM AWAM
(Oleh: John Stott)
Gereja terus-menerus berubah secara konstan. Sebelumnya tidak nampak
perubahan yang lebih nyata daripada yang nampak di dalam sikap gereja-
gereja masa sekarang terhadap kaum awam. Pada setiap komisi atau
bagian dari gereja Kristen, orang-orang awam mulai mendapatkan tempat
mereka yang selayaknya.
Sebelumnya memang sudah tercatat adanya gerakan-gerakan kaum awam,
misalnya, pada abad-abad pertengahan dan selama zaman Reformasi.
Selain itu ada juga catatan tentang inisiatif kaum awam yang
mengarahkan timbulnya gerakan yang luar biasa dari kaum muda dan
misionari secara internasional pada abad ke-19, meskipun belum
memancarkan kekuatannya. Tetapi semuanya ini terjadi secara spontan;
gerakan kaum awam dimulai dari bawah dan sering kali dibiarkan oleh
para pemimpin gereja -- karena mereka tidak memunyai pilihan lain.
Tetapi sekarang sikap acuh tak acuh itu sudah diganti dengan dorongan,
dan keengganan diganti dengan rasa antusias. Sekarang ini kaum awam
dipertimbangkan secara serius [oleh gereja]. Hal ini disebabkan karena
tumbuhnya kesadaran akan posisi mereka yang sebenarnya di dalam
gereja.
Sikap ini sangat kontras dengan apa yang dikemukakan di dalam surat
Ensiklik Paus Pius X pada tahun 1906 yang berjudul "Vehementer Nos",
"Sebab bagi jemaat biasa, mereka tidak memunyai hak selain membiarkan
diri mereka sendiri untuk dipimpin, serta menuruti gembala-gembala
(pemimpin-pemimpin gereja) mereka sebagai kawanan domba yang patuh."
Hanya dalam selang waktu beberapa tahun yang lalu Sir Kenneth Grubb
memberikan penilaian mengenai kedudukan gereja Anglikan dengan
mengatakan, "Gereja di Inggris tidak memberikan kesan yang mendalam
bahkan mereka tidak tertarik pada kaum awamnya; nampaknya mereka hanya
merendahkan dan menakut-nakuti kaum awam."[1]
Namun, sikap yang merendahkan seperti itu sekarang ini jarang
diungkapkan. Sebaliknya, suatu pernyataan dari konferensi Lambeth pada
tahun 1958 mengatakan, "Sekarang ini sedang tumbuh suatu kesadaran
bahwa kita telah membuat suatu perbedaan yang sangat tajam antara
pendeta dan jemaat awam,"[2] dan "kita perlu memikirkan suatu
pandangan teologi yang lebih baik mengenai kaum awam."[3]
Hal-hal apakah yang meningkatkan peranan kaum awam di dalam gereja
saat ini? Beberapa alasan yang mendorong mereka dikemukakan di bawah
ini.
Pertama, faktor sosiologis. Di Inggris antara tahun 1851 dan 1966
diperkirakan terjadi kemunduran yang hebat dalam perbandingan jumlah
pendeta dan jemaat; dari 1 berbanding 1.000 menjadi 1 berbanding
2.500. Keadaan jemaat yang semakin bertambah dan pendeta yang semakin
berkurang merupakan suatu faktor yang memengaruhi timbulnya
penyimpangan arus di gereja-gereja. Banyak pendeta yang terlalu sibuk
bekerja, yang sebelumnya memegang semua tampuk kepemimpinan gereja (di
tangan mereka sendiri), sekarang terpaksa harus mencari bantuan dari
jemaat awam. Tom Allan menjuluki jemaat awam itu sebagai
"tunakarya/penganggur di dalam gereja",[4] tetapi sekarang banyak di
antara penganggur itu "sudah mendapatkan pekerjaan". Seperti yang juga
diungkapkan oleh Hendrik Kraemer, jemaat awam yang sebelumnya hanya
"hadir sebagai bantuan kredit beku"; sekarang mereka dicairkan dan
disirkulasikan. Walaupun demikian, kita tidak dapat berhenti di sana,
sebab, meminjam gambaran Kraemer lainnya, kaum awam "bukanlah suatu
reservoir atau tempat penyimpanan tenaga manusia yang sumbatnya tidak
dibuka cukup besar."[5]
Kedua, alasan pragmatis, meskipun ini bukanlah suatu alasan yang kuat.
Jika kita tidak memberikan tugas atau tanggung jawab kepada jemaat
awam sesuai dengan apa yang dapat mereka kerjakan, maka kita akan
kehilangan mereka, setidak-tidaknya waktu senggang mereka. Mereka akan
melibatkan diri ke dalam persekutuan atau kegiatan pelayanan-pelayanan
sukarela lainnya yang bersifat sekuler, mungkin juga pelayanan di
[gereja] tempat lain, yang lebih baik dalam memberikan kedudukan dan
tanggung jawab kepada jemaat/anggotanya dibandingkan yang dapat
dilakukan oleh gereja asalnya.[6] Hal ini tidak berarti bahwa orang
Kristen tidak harus terlibat di dalam pelayanan masyarakat. Kita harus
melibatkan diri dalam masyarakat. Jika keterlibatan seperti itu
disadari sebagai bagian dari panggilan Kristen dan mendapatkan
dukungan serta dorongan dari gereja setempat, maka hal itu baik sekali
dan benar. Akan tetapi jika hal itu terjadi hanya sebagai "faute de
mieux" [karena tidak adanya alternatif yang lebih baik, Red.], dari
suatu perasaan frustrasi karena menganggap diri tidak berguna di dalam
gereja, maka hal itu keliru dan sangat menyedihkan.
Canon Max Warren menjelaskan hal ini dengan baik.[7] Dia membandingkan
gerakan kebangunan di Afrika Timur yang telah terjadi di dalam gereja,
dengan kelompok-kelompok yang memisahkan diri (separatis) di Afrika
Selatan, yang pada saat itu telah memunyai anggota lebih dari 1.300.
Semuanya ini telah dipaparkan oleh Dr. B.G.M. Sundkler (kemudian
menjadi Penatua), di dalam bukunya yang berjudul "Bantu Prophets in
South Africa" ("Nabi-Nabi Bantu di Afrika Selatan"), dan dari
penyelidikan ini Canon Warren menarik beberapa kesimpulan penting.
Pertama-tama, "Mustahil kita mempersalahkan orang Afrika karena
bersifat mengucilkan atau memisahkan diri, kalau [pada kenyataannya]
mereka sendiri diperlakukan sebagai orang yang dikucilkan." Dia
melanjutkan, "Fakta lain bahwa mereka dikucilkan di dalam gereja ialah
kenyataan bahwa mereka ditempatkan pada posisi yang lebih rendah, dan
dengan demikian tidak dapat mengungkapkan inisiatif atau kekuasaan,
sehingga mendorong mereka untuk memisahkan diri secara resmi." Maka,
"masalah bagaimana menyediakan ruang lingkup yang memadai bagi
inisiatif dan kepemimpinan bagi `kaum awam`, masih tetap menjadi salah
satu dari tugas gereja di Afrika yang belum terselesaikan." Hal yang
sama terjadi juga di seluruh dunia.
Alasan yang ketiga adalah semangat zaman. Gereja belum luput dari
akibat-akibat yang dihasilkan oleh revolusi sosial dan politik yang
melanda dunia di abad ini [abad ke-20], dan yang telah membawa
kematangan serta rasa tanggung jawab bagi sejumlah besar rakyat biasa.
Kebijakan wajib belajar dan tersedianya kesempatan mendapatkan
pendidikan yang lebih tinggi, tersebarnya kebebasan atau demokrasi
yang disertai hak menentukan pilihan bagi kaum muda secara universal,
emansipasi "pekerja-pekerja" baik di negara-negara komunis maupun
kapitalis, gerakan perserikatan dagang, pemberontakan di seluruh dunia
melawan hak-hak monopoli, otoritarianisme dan setiap bentuk
penguasaan, serta desakan akan persamaan hak, semuanya menunjukkan
adanya perkembangan-perkembangan di masa yang akan datang. Terhadap
pandangan-pandangan modern ini gereja sering kali hanya nampak sebagai
suatu benteng yang kokoh dengan aturan-aturannya yang kuno, melawan,
dan menentang perubahan, sementara strukturnya yang sangat bersifat
hierarkis itu bagi banyak orang nampak seperti suatu peninggalan antik
feodalisme yang sebenarnya sudah dibuang pada abad pertengahan. Tetapi
sekarang ada tuntutan akan kebebasan untuk ikut berpartisipasi, baik
dalam bidang industri maupun pemerintahan daerah dan nasional, dan
gereja yang ingin mencontoh kemajuan ini mau tidak mau harus
mengikutinya.
Inilah tiga alasan praktis yang menumbuhkan partisipasi yang lebih
besar dari kaum awam di dalam kehidupan dan pelayanan gereja:
kebutuhan, kekhawatiran, dan semangat zaman. Semua alasan itu logis,
sepanjang yang dipaparkan, tetapi tidak memadai. Alasan yang benar
bagi kita dalam mengharapkan agar kaum awam menjadi anggota gereja
yang bertanggung jawab, aktif, dan bersifat membangun seharusnya
alasan-alasan yang berdasarkan Alkitab, bukan alasan-alasan pragmatis;
alasan-alasan yang didasarkan atas prinsip teologis, bukan hanya
karena mereka dibutuhkan. [Alasan yang benar] juga bukan karena
gembala/pendeta membutuhkan pertolongan orang awam, atau karena orang
awam itu sendiri ingin dirinya berguna, ataupun karena dunia zaman ini
memikirkan cara ini, melainkan karena Allah sendiri telah menyatakan
panggilan itu sebagai kehendak-Nya. Lagipula, satu-satunya cara bagi
orang awam untuk dapat mengerti dan menerima hak-hak mereka (yang
tidak dapat dicabut lagi) serta pelayanan di dalam gereja ialah kalau
mereka memahaminya di dalam terang firman Tuhan sebagai kehendak Allah
bagi umat-Nya.
Maka alasan yang keempat, yang paling penting, ialah alasan
berdasarkan Alkitab. Kita telah melihat bahwa mustahil kita berbicara
mengenai kaum awam tanpa membicarakan pendeta. Sekarang kita pun harus
menyadari, bahwa mustahil berbicara mengenai keduanya tanpa
membicarakan gereja yang menaungi mereka. Yves menulis, "Pada
dasarnya, hanya ada satu teologia yang sah mengenai kaum awam, yakni
Ekklesiologi lengkap."[8] Boleh dikatakan, ketimpangan yang terjadi
pada pemimpin gereja ataupun kaum awam berarti juga ketimpangan di
dalam gereja.
Lebih jelas lagi dikatakan, terlalu rendahnya pandangan mengenai
kedudukan kaum awam sejajar dengan terlalu tingginya pandangan
mengenai kedudukan pendeta/pemimpin gereja; dan terlalu tingginva
pandangan mengenai kedudukan pendeta sejajar dengan terlalu rendahnya
pandangan mengenai gereja.
[Catatan Redaksi: Artikel ini akan dilanjutkan dengan pembahasan
tentang "ekklesia", yang akan dikirimkan secara terpisah sebagai edisi
e-Reformed Mei]
Catatan kaki:
-------------
[1] Sir Kenneth Grubb, A Layman Looks at the Church, hal. 161.
[2] The Lambeth Conference, 1958, hal. 126
[3] ibid., hal. 299
[4] Tom Allan, The Face of My Parish, hal. 54
[5] Hendrik Kraemer, A Theology of the Laity, hal. 34,37.
[6] Leslie Paul memberikan komentar, "Kenyataan yang ada ialah bahwa
kaum awam sudah jarang dilibatkan di waktu yang lampau, dan jarang
dilibatkan oleh gereja sekarang ini, dalam acara-acara gereja
menurut tingkat kesanggupan mereka di dunia sekuler"
(Layman`s Church, hal. 43)
[7] M.A.C. Warren, Revival -- An Enquiry, hal. 28.
[8] Yves M.J. Congar, Lay People in the Church (Terjemahan Bahasa
Inggris, 1957, hal.13).
---------------------------------------------------------------------
Diambil dari:
Judul buku: Satu Umat
Judul buku asli: One People
Penulis: John Stott
Penerjemah: Lena Suryana Himtoro
Penerbit: SAAT, Malang 1992
Halaman: 1 -- 7
______________________________e-Reformed______________________________
Pemimpin Redaksi: Yulia Oenijati
Kontak Redaksi: < reformed(at)sabda.org >
Untuk mendaftar: < subscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Arsip e-Reformed: http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed
Situs SOTeRI: http://soteri.sabda.org
Situs YLSA: http://www.ylsa.org
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-Reformed 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
______________________________e-Reformed______________________________
Kontak Redaksi: < reformed(a t)sabda.org >
Untuk mendaftar: < subscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Arsip e-Reformed: < http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed >
SOTeRI: < http://soteri.sabda.org/ >
Situs YLSA: < http://www.ylsa.org/ >
Situs SABDA Katalog: < http://katalog.sabda.org/ >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
|