Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed/120

e-Reformed edisi 120 (30-4-2010)

Kebangkitan Kaum Awam

______________________Milis Publikasi e-Reformed______________________

Dear e-Reformed Netters,

Saya membaca pengantar sebuah buku lama (1990) yang sangat menarik 
tentang KEBANGKITAN KAUM AWAM (pada masa itu) yang ditulis oleh John 
Stott. Ada beberapa alasan yang dikemukakan John Stott tentang 
meningkatnya partisipasi kaum awam di gereja kala itu, di antaranya 
adalah:

1. Alasan kebutuhan: jumlah pendeta terlalu sedikit sehingga mau tidak 
mau orang awam harus membantu.

2. Alasan kekhawatiran: kaum awam akan bosan di gereja kalau tidak 
diberi bagian untuk berpartisipasi.

3. Alasan semangat zaman: gereja dituntut/dipaksa untuk maju dengan 
memberi kebebasan/emansipasi kepada kaum awam untuk memberikan 
sumbangsih kepada gereja.

Tapi John Stott juga berkata, "Semua alasan itu logis, sepanjang yang 
dipaparkan, tetapi tidak memadai. Alasan yang benar bagi kita dalam 
mengharapkan agar kaum awam menjadi anggota gereja yang bertanggung 
jawab, aktif, dan bersifat membangun seharusnya alasan-alasan yang 
berdasarkan Alkitab, bukan alasan-alasan pragmatis; alasan-alasan yang 
didasarkan atas prinsip teologis, bukan hanya karena mereka 
dibutuhkan." Saya sangat setuju dengan pernyataan beliau, prinsip 
Alkitab harus menjadi alasan utama keharusan seorang awam untuk 
terlibat dalam pelayanan gereja. Saya pikir alasan inilah yang kurang 
dimengerti oleh gereja. Terbukti bahwa keterlibatan orang awam di 
gereja sering kali hanya untuk tambal-butuh saja.

Nah, salah satu bab yang ditulis oleh John Stott yang berbicara 
tentang "ekklesia" (gereja) akan sangat menolong kita mengerti 
pentingnya orang awam terlibat di gereja pada porsi yang benar dan 
bukan hanya untuk meringankan pekerjaan pendeta. Karena itu, di edisi 
terpisah (Mei) saya akan kirimkan artikel yang saya maksud tersebut. 
Semoga menjadi pelengkap dari edisi April yang terlambat saya kirimkan 
ini.

Selamat menyimak.

In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
< http://fb.sabda.org/reformed >

---------------------------------------------------------------------

                        KEBANGKITAN KAUM AWAM
                          (Oleh: John Stott)

Gereja terus-menerus berubah secara konstan. Sebelumnya tidak nampak 
perubahan yang lebih nyata daripada yang nampak di dalam sikap gereja-
gereja masa sekarang terhadap kaum awam. Pada setiap komisi atau 
bagian dari gereja Kristen, orang-orang awam mulai mendapatkan tempat 
mereka yang selayaknya.

Sebelumnya memang sudah tercatat adanya gerakan-gerakan kaum awam, 
misalnya, pada abad-abad pertengahan dan selama zaman Reformasi. 
Selain itu ada juga catatan tentang inisiatif kaum awam yang 
mengarahkan timbulnya gerakan yang luar biasa dari kaum muda dan 
misionari secara internasional pada abad ke-19, meskipun belum 
memancarkan kekuatannya. Tetapi semuanya ini terjadi secara spontan; 
gerakan kaum awam dimulai dari bawah dan sering kali dibiarkan oleh 
para pemimpin gereja -- karena mereka tidak memunyai pilihan lain. 
Tetapi sekarang sikap acuh tak acuh itu sudah diganti dengan dorongan, 
dan keengganan diganti dengan rasa antusias. Sekarang ini kaum awam 
dipertimbangkan secara serius [oleh gereja]. Hal ini disebabkan karena 
tumbuhnya kesadaran akan posisi mereka yang sebenarnya di dalam 
gereja.

Sikap ini sangat kontras dengan apa yang dikemukakan di dalam surat 
Ensiklik Paus Pius X pada tahun 1906 yang berjudul "Vehementer Nos", 
"Sebab bagi jemaat biasa, mereka tidak memunyai hak selain membiarkan 
diri mereka sendiri untuk dipimpin, serta menuruti gembala-gembala 
(pemimpin-pemimpin gereja) mereka sebagai kawanan domba yang patuh."

Hanya dalam selang waktu beberapa tahun yang lalu Sir Kenneth Grubb 
memberikan penilaian mengenai kedudukan gereja Anglikan dengan 
mengatakan, "Gereja di Inggris tidak memberikan kesan yang mendalam 
bahkan mereka tidak tertarik pada kaum awamnya; nampaknya mereka hanya 
merendahkan dan menakut-nakuti kaum awam."[1]

Namun, sikap yang merendahkan seperti itu sekarang ini jarang 
diungkapkan. Sebaliknya, suatu pernyataan dari konferensi Lambeth pada 
tahun 1958 mengatakan, "Sekarang ini sedang tumbuh suatu kesadaran 
bahwa kita telah membuat suatu perbedaan yang sangat tajam antara 
pendeta dan jemaat awam,"[2] dan "kita perlu memikirkan suatu 
pandangan teologi yang lebih baik mengenai kaum awam."[3]

Hal-hal apakah yang meningkatkan peranan kaum awam di dalam gereja 
saat ini? Beberapa alasan yang mendorong mereka dikemukakan di bawah 
ini.

Pertama, faktor sosiologis. Di Inggris antara tahun 1851 dan 1966 
diperkirakan terjadi kemunduran yang hebat dalam perbandingan jumlah 
pendeta dan jemaat; dari 1 berbanding 1.000 menjadi 1 berbanding 
2.500. Keadaan jemaat yang semakin bertambah dan pendeta yang semakin 
berkurang merupakan suatu faktor yang memengaruhi timbulnya 
penyimpangan arus di gereja-gereja. Banyak pendeta yang terlalu sibuk 
bekerja, yang sebelumnya memegang semua tampuk kepemimpinan gereja (di 
tangan mereka sendiri), sekarang terpaksa harus mencari bantuan dari 
jemaat awam. Tom Allan menjuluki jemaat awam itu sebagai 
"tunakarya/penganggur di dalam gereja",[4] tetapi sekarang banyak di 
antara penganggur itu "sudah mendapatkan pekerjaan". Seperti yang juga 
diungkapkan oleh Hendrik Kraemer, jemaat awam yang sebelumnya hanya 
"hadir sebagai bantuan kredit beku"; sekarang mereka dicairkan dan 
disirkulasikan. Walaupun demikian, kita tidak dapat berhenti di sana, 
sebab, meminjam gambaran Kraemer lainnya, kaum awam "bukanlah suatu 
reservoir atau tempat penyimpanan tenaga manusia yang sumbatnya tidak 
dibuka cukup besar."[5]

Kedua, alasan pragmatis, meskipun ini bukanlah suatu alasan yang kuat. 
Jika kita tidak memberikan tugas atau tanggung jawab kepada jemaat 
awam sesuai dengan apa yang dapat mereka kerjakan, maka kita akan 
kehilangan mereka, setidak-tidaknya waktu senggang mereka. Mereka akan 
melibatkan diri ke dalam persekutuan atau kegiatan pelayanan-pelayanan 
sukarela lainnya yang bersifat sekuler, mungkin juga pelayanan di 
[gereja] tempat lain, yang lebih baik dalam memberikan kedudukan dan 
tanggung jawab kepada jemaat/anggotanya dibandingkan yang dapat 
dilakukan oleh gereja asalnya.[6] Hal ini tidak berarti bahwa orang 
Kristen tidak harus terlibat di dalam pelayanan masyarakat. Kita harus 
melibatkan diri dalam masyarakat. Jika keterlibatan seperti itu 
disadari sebagai bagian dari panggilan Kristen dan mendapatkan 
dukungan serta dorongan dari gereja setempat, maka hal itu baik sekali 
dan benar. Akan tetapi jika hal itu terjadi hanya sebagai "faute de 
mieux" [karena tidak adanya alternatif yang lebih baik, Red.], dari 
suatu perasaan frustrasi karena menganggap diri tidak berguna di dalam 
gereja, maka hal itu keliru dan sangat menyedihkan.

Canon Max Warren menjelaskan hal ini dengan baik.[7] Dia membandingkan 
gerakan kebangunan di Afrika Timur yang telah terjadi di dalam gereja, 
dengan kelompok-kelompok yang memisahkan diri (separatis) di Afrika 
Selatan, yang pada saat itu telah memunyai anggota lebih dari 1.300. 
Semuanya ini telah dipaparkan oleh Dr. B.G.M. Sundkler (kemudian 
menjadi Penatua), di dalam bukunya yang berjudul "Bantu Prophets in 
South Africa" ("Nabi-Nabi Bantu di Afrika Selatan"), dan dari 
penyelidikan ini Canon Warren menarik beberapa kesimpulan penting. 
Pertama-tama, "Mustahil kita mempersalahkan orang Afrika karena 
bersifat mengucilkan atau memisahkan diri, kalau [pada kenyataannya] 
mereka sendiri diperlakukan sebagai orang yang dikucilkan." Dia 
melanjutkan, "Fakta lain bahwa mereka dikucilkan di dalam gereja ialah 
kenyataan bahwa mereka ditempatkan pada posisi yang lebih rendah, dan 
dengan demikian tidak dapat mengungkapkan inisiatif atau kekuasaan, 
sehingga mendorong mereka untuk memisahkan diri secara resmi." Maka, 
"masalah bagaimana menyediakan ruang lingkup yang memadai bagi 
inisiatif dan kepemimpinan bagi `kaum awam`, masih tetap menjadi salah 
satu dari tugas gereja di Afrika yang belum terselesaikan." Hal yang 
sama terjadi juga di seluruh dunia.

Alasan yang ketiga adalah semangat zaman. Gereja belum luput dari 
akibat-akibat yang dihasilkan oleh revolusi sosial dan politik yang 
melanda dunia di abad ini [abad ke-20], dan yang telah membawa 
kematangan serta rasa tanggung jawab bagi sejumlah besar rakyat biasa. 
Kebijakan wajib belajar dan tersedianya kesempatan mendapatkan 
pendidikan yang lebih tinggi, tersebarnya kebebasan atau demokrasi 
yang disertai hak menentukan pilihan bagi kaum muda secara universal, 
emansipasi "pekerja-pekerja" baik di negara-negara komunis maupun 
kapitalis, gerakan perserikatan dagang, pemberontakan di seluruh dunia 
melawan hak-hak monopoli, otoritarianisme dan setiap bentuk 
penguasaan, serta desakan akan persamaan hak, semuanya menunjukkan 
adanya perkembangan-perkembangan di masa yang akan datang. Terhadap 
pandangan-pandangan modern ini gereja sering kali hanya nampak sebagai 
suatu benteng yang kokoh dengan aturan-aturannya yang kuno, melawan, 
dan menentang perubahan, sementara strukturnya yang sangat bersifat 
hierarkis itu bagi banyak orang nampak seperti suatu peninggalan antik 
feodalisme yang sebenarnya sudah dibuang pada abad pertengahan. Tetapi 
sekarang ada tuntutan akan kebebasan untuk ikut berpartisipasi, baik 
dalam bidang industri maupun pemerintahan daerah dan nasional, dan 
gereja yang ingin mencontoh kemajuan ini mau tidak mau harus 
mengikutinya.

Inilah tiga alasan praktis yang menumbuhkan partisipasi yang lebih 
besar dari kaum awam di dalam kehidupan dan pelayanan gereja: 
kebutuhan, kekhawatiran, dan semangat zaman. Semua alasan itu logis, 
sepanjang yang dipaparkan, tetapi tidak memadai. Alasan yang benar 
bagi kita dalam mengharapkan agar kaum awam menjadi anggota gereja 
yang bertanggung jawab, aktif, dan bersifat membangun seharusnya 
alasan-alasan yang berdasarkan Alkitab, bukan alasan-alasan pragmatis; 
alasan-alasan yang didasarkan atas prinsip teologis, bukan hanya 
karena mereka dibutuhkan. [Alasan yang benar] juga bukan karena 
gembala/pendeta membutuhkan pertolongan orang awam, atau karena orang 
awam itu sendiri ingin dirinya berguna, ataupun karena dunia zaman ini 
memikirkan cara ini, melainkan karena Allah sendiri telah menyatakan 
panggilan itu sebagai kehendak-Nya. Lagipula, satu-satunya cara bagi 
orang awam untuk dapat mengerti dan menerima hak-hak mereka (yang 
tidak dapat dicabut lagi) serta pelayanan di dalam gereja ialah kalau 
mereka memahaminya di dalam terang firman Tuhan sebagai kehendak Allah 
bagi umat-Nya.

Maka alasan yang keempat, yang paling penting, ialah alasan 
berdasarkan Alkitab. Kita telah melihat bahwa mustahil kita berbicara 
mengenai kaum awam tanpa membicarakan pendeta. Sekarang kita pun harus 
menyadari, bahwa mustahil berbicara mengenai keduanya tanpa 
membicarakan gereja yang menaungi mereka. Yves menulis, "Pada 
dasarnya, hanya ada satu teologia yang sah mengenai kaum awam, yakni 
Ekklesiologi lengkap."[8] Boleh dikatakan, ketimpangan yang terjadi 
pada pemimpin gereja ataupun kaum awam berarti juga ketimpangan di 
dalam gereja.

Lebih jelas lagi dikatakan, terlalu rendahnya pandangan mengenai 
kedudukan kaum awam sejajar dengan terlalu tingginya pandangan 
mengenai kedudukan pendeta/pemimpin gereja; dan terlalu tingginva 
pandangan mengenai kedudukan pendeta sejajar dengan terlalu rendahnya 
pandangan mengenai gereja.

[Catatan Redaksi: Artikel ini akan dilanjutkan dengan pembahasan 
tentang "ekklesia", yang akan dikirimkan secara terpisah sebagai edisi 
e-Reformed Mei]

Catatan kaki:
-------------
[1] Sir Kenneth Grubb, A Layman Looks at the Church, hal. 161.
[2] The Lambeth Conference, 1958, hal. 126
[3] ibid., hal. 299
[4] Tom Allan, The Face of My Parish, hal. 54
[5] Hendrik Kraemer, A Theology of the Laity, hal. 34,37.
[6] Leslie Paul memberikan komentar, "Kenyataan yang ada ialah bahwa 
    kaum awam sudah jarang dilibatkan di waktu yang lampau, dan jarang 
    dilibatkan oleh gereja sekarang ini, dalam acara-acara gereja 
    menurut tingkat kesanggupan mereka di dunia sekuler" 
    (Layman`s Church, hal. 43)
[7] M.A.C. Warren, Revival -- An Enquiry, hal. 28.
[8] Yves M.J. Congar, Lay People in the Church (Terjemahan Bahasa 
    Inggris, 1957, hal.13).
---------------------------------------------------------------------
Diambil dari:
Judul buku: Satu Umat
Judul buku asli: One People
Penulis: John Stott
Penerjemah: Lena Suryana Himtoro
Penerbit: SAAT, Malang 1992
Halaman: 1 -- 7
______________________________e-Reformed______________________________
Pemimpin Redaksi: Yulia Oenijati

Kontak Redaksi: < reformed(at)sabda.org >
Untuk mendaftar: < subscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Arsip e-Reformed: http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed
Situs SOTeRI: http://soteri.sabda.org
Situs YLSA: http://www.ylsa.org

Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-Reformed 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________


______________________________e-Reformed______________________________ 
Kontak Redaksi: < reformed(a t)sabda.org >
Untuk mendaftar: < subscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Arsip e-Reformed: < http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed >
SOTeRI: < http://soteri.sabda.org/ >
Situs YLSA: < http://www.ylsa.org/ >
Situs SABDA Katalog: < http://katalog.sabda.org/ >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org