______________________________________________________________________
e-Penulis
(Menulis untuk Melayani)
Edisi 031/Mei/2007
MEMBUAT MEDIA PENULISAN GEREJA
------------------------------
= DAFTAR ISI =
* Dari Redaksi
* Artikel 1 : Mengupayakan Majalah Gereja, Kenapa Tidak?
* Artikel 2 : Memanfaatkan Warta Jemaat Sebagai
Media Komunikasi dan Pembinaan
* Tips : Format Media
* Stop Press : Ayo! Menulis Kesaksian di Publikasi Kisah
DARI REDAKSI
------------
Salam Sejahtera,
Apakah saat ini sahabat penulis mempunyai banyak sekali ide brilian
yang ingin ditumpahkan? Ingin mengeluarkan segala opini Anda, tetapi
Anda tidak membuatnya menjadi sebuah media tulisan yang dapat
dinikmati banyak orang dan hanya berhenti di secarik kertas saja
tanpa mencoba mengirimkannya? Ayo mulailah merealisasikan ide Anda.
Bagi sahabat penulis yang memiliki ide untuk membuat sebuah media
penulisan di gereja, kiranya edisi kali ini bisa membantu Anda.
Jangan lewatkan dua buah artikel yang mengupas tentang mengupayakan
majalah gereja dan pentingnya mengelola warta jemaat sebagai
pembinaan dan media komunikasi, serta sebuah tips tentang acuan
sebuah format media. Selamat menyimak edisi kali ini, kiranya
bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.
Penanggung Jawab e-Penulis,
Kristina Dwi Lestari
ARTIKEL 1
---------
MENGUPAYAKAN MAJALAH GEREJA, KENAPA TIDAK?
Oleh: Kristina Dwi Lestari
Sebagai salah satu bentuk media massa, majalah ternyata mampu
bertahan di tengah bermunculannya media massa lain dalam bentuk dan
karakteristiknya masing-masing. Bisa kita bayangkan bagaimana media
cetak dan elektronik seperti televisi, radio, internet dengan cepat
menghadirkan berita yang aktual setiap harinya. Bagaimana dengan
majalah yang notabene terbit secara berkala, baik dua mingguan atau
bulanan dapat tetap eksis sampai sekarang?
Majalah sebagai salah satu media penulisan, ternyata mempunyai
kekuatan tersendiri dalam menjaga eksistensinya. Tidak seperti surat
kabar, televisi, internet atau beberapa media lainnya yang
memberikan informasi aktual secara cepat setiap harinya, majalah
dengan keterbatasannya mampu mengusung segala tema tentang sisi
kehidupan manusia walaupun hanya terbit secara berkala.
Dewasa ini, banyak majalah yang lebih berfokus pada pembacanya,
mulai dari majalah keluarga, wanita, majalah khusus para pecinta
buku, majalah yang mengangkat tentang lingkungan hidup, sampai
majalah rohani. Sisi inilah yang ditawarkan oleh majalah.
Fenomena munculnya majalah gereja di antara majalah-majalah yang
terus bermunculan menunjukkan adanya sinyalemen positif. Keberadaan
majalah gereja sedikit banyak memberikan pengaruh besar kepada
perkembangan sebuah gereja. Apalagi salah satu tujuannya adalah
untuk meningkatkan keimanan jemaat
KARAKTER MAJALAH
Umumnya, majalah diadakan untuk kepentingan bisnis, promosi,
pelayanan, atau sosial, tergantung dari sasaran dan tujuan yang
digeluti seseorang, lembaga swadaya masyarakat, organisasi dan
yayasan dengan bertujuan untuk menyampaikan berita dan pesan secara
tepat waktu (Misten Ginting: 2005).
Beberapa majalah mempunyai penggolongan yang didasarkan pada pangsa
pasar, seperti jenis kelamin, usia, hobi atau minat. Ada pula yang
didasarkan pada sifat dan misinya, ada majalah umum, majalah teknis,
majalah ilmiah, majalah ilmiah populer, majalah berita, majalah
hiburan, majalah bahasa daerah, dan majalah agama. Majalah mempunyai
karakter dan batasan yang berbeda dibandingkan dengan surat kabar,
tabloid, atau buku. Sesuai dengan pandangan Harianto,
karakteristik majalah secara umum adalah sebagai berikut.
1. Media cetak yang terbit secara berkala, waktu, frekuensi terbit
tertentu, tapi bukan yang terbit setiap hari.
2. Media cetak itu bersampul, setidak-tidaknya punya wajah, dan
dirancang secara khusus.
3. Media cetak yang dijilid atau sekurang-kurangnya memiliki
sejumlah halaman. Umumnya adalah 20 -- 120 halaman.
4. Majalah itu harus beredar secara luas, sekurang-kurangnya dijual
untuk umum dan sekurang-kurangnya menggunakan Surat Tanda
Terdaftar (STT) atau Surat Izin Penerbitan Pers (SIUPP). Walaupun
dalam perkembangannya, akhir-akhir ini SIUPP telah dibekukan.
Dampaknya dapat kita lihat dengan membanjirnya media-media cetak
yang tidak berizin.
5. Dalam satu kali terbitan memuat sejumlah karangan yang ditulis
oleh beberapa orang dengan topik yang berbeda dengan gaya bahasa
yang berlainan.
6. Menyampaikan berita, peristiwa, penemuan, dan ide baru atau
sesuatu yang dianggap menarik perhatian masyarakat pada umumnya.
7. Dikelola oleh sekelompok orang, yang kemudian membuat
perkumpulan, organisasi, maupun susunan redaksi.
8. Memiliki sistem kontrol internasional. Cirinya dapat kita temukan
pada pencantuman nomor ISSN (Internasional Standart Serial
Number) pada setiap judul majalah.
APA ITU MAJALAH GEREJA?
Jika dilihat dari karakter majalah di atas, jelas majalah gereja
hanya diterbitkan di lingkungan gereja saja. Dengan demikian, ruang
lingkupnya terbatas. Walaupun demikian, banyak majalah gereja dari
beberapa gereja besar yang berkembang tidak hanya di lingkup dalam
gereja akan tetapi juga di luar gereja. Sebagai contoh majalah Warta
Sejati, milik Gereja Kristus Sejati Indonesia. Atau Berita GKMI,
majalah Gereja Kristen Marturia Indonesia.
Menilik kemasan dan formatnya, majalah gereja tidaklah berbeda
dengan majalah umum lainnya. Gaya penulisannya juga berupa berita,
artikel, atau "feature" (berita kisah). Perbedaannya tentu terletak
pada visi dan misinya. Harianto menyebutkan bahwa visi dan misi
majalah gereja adalah berlandaskan Yesus Kristus. Jadi, visi dan
misi ini lebih menekankan pada doktrin agama, informasi agama,
kajian-kajian ilmiah secara biblika, yang kesemuanya itu
berdasarkan Alkitabiah.
Bentuk publikasi selain majalah yang cukup sering kita jumpai di
gereja-gereja adalah buletin atau "newsletter". Semua itu dapat
digunakan sebagai media komunikasi antarjemaat yang efektif. Dengan
demikian, setiap jemaat dapat saling mengenal, saling menguatkan
iman, saling menghibur, bahkan saling menasihati. Kita dapat
membayangkan kehidupan gereja itu semakin hidup dengan hadirnya
media tersebut.
PERANAN MAJALAH GEREJA
Secara internal, majalah gereja dapat digunakan untuk saling
mengenal dan memperkenalkan antara jemaat yang satu dan yang
lainnya. Majalah gereja juga dapat digunakan sebagai sarana
pengembangan diri jemaat dalam hal menulis, menginformasikan segala
hal yang terjadi di gereja, wadah kesaksian, salah satu sumber bahan
untuk meningkatkan keimanan kita, sampai ke tujuan yang paling
utama, yaitu mengenalkan Tuhan Yesus Kristus dengan lebih akrab.
Tidak hanya berperan ke dalam, sebuah majalah gereja juga dapat
berperan ke luar. Dengan adanya majalah gereja, keberadaan gereja
dapat terlihat secara detail dan jelas, dapat menarik minat orang
untuk hadir di gereja tersebut, dan dapat menunjukkan apakah gereja
tersebut sehat atau tidak, tegas Harianto.
PERUMUSAN BATASAN MAJALAH GEREJA
Majalah gereja jelas berbeda dengan majalah yang bersifat sekuler.
Jelas ini adalah batasan yang harus diperhatikan para pengelola
majalah gereja. Sebagai referensi tambahan untuk memulai majalah
gereja, mari simak batasan yang dipaparkan Harianto berikut ini.
1. Mengutamakan pemuatan informasi yang berguna untuk meningkatkan
kualitas proses belajar-mengajar di gereja.
2. Mengutamakan pemuatan informasi yang berguna untuk mempererat
hubungan antara Allah dan jemaat, juga hubungan antara jemaat
dan jemaat.
3. Mengutamakan pemuatan informasi yang berguna bagi perkembangan
wawasan jemaat.
4. Mengutamakan pemuatan informasi yang berguna bagi perkembangan
kepribadian jemaat.
5. Mengutamakan terbentuknya sikap kerja profesional dalam melayani
Allah.
6. Mengutamakan ajaran secara Alkitabiah.
7. Menjunjung tinggi nilai-nilai Kristiani.
8. Menjunjung tinggi kesaksian hidup sesama iman.
9. Mengutamakan kerja sama tim berlandaskan kejujuran.
10. Mengutamakan kualitas hasil kerja.
Bagaimanapun juga, diperlukan kerja keras dari berbagai pihak untuk
mengembangkan majalah gereja Anda. Jangan hanya menjadi majalah
gereja yang musiman, sebentar tampak, setelah itu tidak terdengar
lagi gaungnya. Purnawan Kristanto menyebutkan, penerapan sebuah
media baru hendaknya didahului oleh riset sederhana. Tujuannya
adalah mengetahui keinginan dan kebutuhan pembaca. Riset itu juga
dibutuhkan untuk memetakan karakteristik (calon) pembaca, yang
dirumuskan berupa data demografis (umur, jenis kelamin, pendidikan,
status ekonomi, pekerjaan, dsb.), dan psikografi (gaya hidup,
selera, orientasi kerohanian, dll.).
Dengan gempuran media di seliling kita yang beraneka ragam, bisa
jadi majalah gereja tidak digemari. Dengan perencanaan yang matang
baik dari pengurus gereja, pendeta, majelis, atau aktivis gereja
lainnya, bukan tidak mungkin majalah gereja dapat digemari dan
menjadi berkat tersendiri. Selanjutnya, tentukan siapa saja yang
akan mengelola majalah tersebut mulai dari pengamat masalah,
pengorganisir, pengelola keuangan, penulis, sampai ke pemasar,
himbau Purnawan Kristanto. Yang terpenting, media di dalam gereja
harus mengedepankan isi yang berpedoman pada nilai-nilai kristiani
dan sebagai penyampai kabar kesukaan kepada jiwa-jiwa yang haus akan
firman Tuhan. Selamat mengembangkan majalah di gereja Anda dan
berikan kemuliaan bagi Kristus lewat media inspirasi Anda.
Sumber bacaan pendukung:
G.P, Harianto. 1997. "Mengelola Majalah: Sebuah Pengantar".
Bandung: Agiamedia.
Ginting, Misten, S.Th. 2005. "Majalah sebagai Media Penginjilan dan
Pendidikan" dalam Majalah Sahabat Gembala. Hlm. 35.
Kristanto, Purnawan. "Apakah Media Intra Gereja Masih Dibutuhkan?"
dalam http://glorianet.org/kolom/kolomedia.html
ARTIKEL 2
---------
MEMANFAATKAN WARTA JEMAAT SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DAN PEMBINAAN
Oleh: Raka Sukma Kurnia
Informasi susunan penatalayan setiap pekan, jadwal ibadah rumah
tangga, jadwal pengucapan syukur, ucapan ulang tahun dengan daftar
warga yang berulang tahun sepanjang pekan, dan laporan keuangan.
Itulah informasi yang paling sering ditemukan dalam warta jemaat di
kebanyakan gereja. Setiap pekan selama setahun, isi yang disampaikan
tidak pernah mengalami perubahan. Padahal, sebagai media yang setiap
pekan dibagikan kepada warga jemaat, warta jemaat masih dapat
dimaksimalkan.
DUA FUNGSI UTAMA WARTA JEMAAT
Pada dasarnya, warta jemaat dapat digunakan untuk menjalankan dua
fungsi utama, yaitu sebagai media komunikasi dan media pembinaan.
a. Media komunikasi
Warta jemaat memang telah mengemban fungsi komunikasi. Hanya saja,
penyajiannya lebih bersifat pengumuman sehingga terkesan kaku.
Susunan lagu yang akan dikumandangkan pekan depan, bacaan Alkitab
pekan depan, pokok doa yang sama dari pekan ke pekan tanpa
penjabaran yang spesifik, dan laporan keuangan mungkin menjadi
isi rutin warta di kebanyakan gereja. Akibatnya, fungsi komunikasi
itu tidaklah maksimal.
Untuk menonjolkan kesan sebagai media komunikasi, penyajian yang
lebih komunikatif tentu dibutuhkan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan
penyajian informasi menyerupai berita dalam satu atau dua paragraf,
tergantung kebutuhan. Bisa berupa hal-hal yang terjadi dalam
kehidupan berjemaat, misalnya kelahiran, informasi pemilihan
majelis, dan sebagainya.
b. Media pembinaan
Bila fungsi sebelumnya lebih bertujuan sosial, terhadap sesama warga
jemaat, fungsi kedua ini lebih ditujukan pada peningkatan relasi
dengan Tuhan. Artinya, bila warta jemaat bisa menjalankan fungsi
pembinaan seperti ini, warga jemaat dimungkinkan untuk mendapatkan
pemahaman Alkitab selain dari khotbah, maupun dari kegiatan
penelaahan Alkitab.
Hal ini jelas memberi keuntungan sebab sebuah naskah tercetak
memungkinkan kita untuk membacanya berkali-kali tanpa takut
melewatkan satu kata pun. Bandingkan dengan khotbah atau diskusi
dalam penelaahan Alkitab.
PARA PELAKSANA DAN PENYEDIA BAHAN
Dua fungsi utama yang diemban warta jemaat itu memang akan
menumbuhkembangkan kehidupan berjemaat. Namun, siapakah yang akan
mengerjakannya? Padahal para pegawai kantor sudah disibukkan dengan
berbagai urusan administrasi gereja.
Pemanfaatan warta jemaat untuk dua tujuan di atas memang membutuhkan
sejumlah tenaga untuk mengelolanya. Apalagi mengingat warta tersebut
akan diedarkan setiap pekan. Akan tetapi, kondisi ini justru membuka
peluang bagi pemberdayaan warga gereja.
Para pemuda gereja, sebagai warga gereja yang berjiwa dinamis, dapat
menjadi kekuatan penggerak untuk mengelola warta jemaat ini.
Bersama-sama dengan elemen pelayanan lain, baik dari pelayanan anak,
remaja, kaum ibu dan bapak, dan tentu saja dari para pemuda sendiri,
kehadiran warta jemaat yang dapat menjalankan kedua fungsi di atas
menjadi sangat memungkinkan. Tentu saja para pegawai administrasi
gereja harus terlibat karena biasanya merekalah yang bertanggung
jawab dalam menyusun laporan keuangan.
Lalu, siapakah yang akan menyediakan tulisan sebagai bahan warta?
Ada banyak pihak dalam lingkungan gereja yang sebenarnya bisa
berperan sebagai penulis. Ketua majelis jemaat, pendeta, vikaris,
para majelis, guru-guru sekolah minggu, dan para pemuda pada
prinsipnya berpotensi sebagai penulis. Pengalaman dan pengetahuan
yang dimiliki selama melayani tentunya menjadi bekal tersendiri
untuk ditulis dan dibagikan. Selain itu, warga jemaat pun dapat
diajak berpartisipasi untuk menulis.
Kemudian, untuk membekali diri dengan kemampuan tulis-menulis, ada
baiknya diadakan pelatihan menulis. Selain memperkenalkan dunia
penulisan kepada warga gereja, pelatihan seperti ini bukan tidak
mungkin akan menghadirkan generasi penulis Kristen. (Hal ini
sebenarnya menunjukkan betapa pelatihan menulis di lingkungan gereja
sangat potensial untuk dilakukan.)
MENGATASI KENDALA KLASIK
Harus diakui bahwa biaya selalu menjadi masalah klasik. Bagi gereja
yang mapan dalam hal finansial, kendala satu ini tentu tidak terlalu
berarti. Namun, bagaimana dengan gereja yang kecil?
Ada dua cara yang saya rasa ideal untuk ditempuh guna mengatasi
kendala ini. Pertama, perlu disadari bahwa warta jemaat tidak perlu
dicetak secara eksklusif. Dengan jasa foto kopi pun kita masih bisa
mewujudkan fungsi sebagai media komunikasi dan pembinaan tersebut.
Tentu saja, isi harus lebih ditekankan lagi.
Cara kedua, kita bisa menawarkan promosi usaha kepada para pengusaha
di kota di mana gereja berada. Pertama-tama dengan menawarkannya
pada pengusaha yang mungkin ada di lingkungan gereja sendiri, lalu
menjajaki para pengusaha lainnya. Meski tidak mutlak, tentu lebih
disarankan untuk mengajukan tawaran pada para pengusaha Kristen.
Dengan cara ini, kita berharap para pengusaha tersebut turut
mendukung pembiayaan pencetakan warta. Hanya saja, saya lebih
menyarankan agar tidak terlalu mematok tarif.
Nah, bagaimana di gereja Anda? Sudahkah warta jemaat diberdayakan
secara maksimal? Kalau belum, mengapa tidak memulainya?
TIPS
----
FORMAT MEDIA
Media dapat diterbitkan dalam beberapa format, seperti "newsletter",
majalah, tabloid, atau surat kabar. Setiap format memiliki kelebihan
dan kekurangan dalam hal efektivitas penyampaian informasi. Hal
pertama yang dipertimbangkan dalam memilih format media sudah tentu
jawaban atas pertanyaan format apa yang paling cocok bagi pembaca,
sesuai karakter pembaca itu sendiri. Pertimbangan kedua yang perlu
diperhatikan dalam memilih format media adalah karakter fisik setiap
format, karakter isi, periodisitas, kemudahan proses produksi,
biaya, dan citra yang dikehendaki. Untuk membantu pemahaman yang
lebih baik, uraian berikut akan menjelaskan lebih rinci karakter
setiap format.
"Newsletter"
1. "Newsletter" umumnya menggunakan kertas HVS (atau kertas
berkualitas lebih baik). Ukuran kertas yang digunakan biasanya A4
atau sedikit lebih kecil. Jumlah halaman berkisar antara 4 dan 12
halaman atau lebih. "Newsletter" bisa dijilid, bisa pula tidak
dijilid. "Newsletter" lebih mudah dan lebih cepat diproduksi.
Biasanya produksi juga lebih rendah.
2. Tulisan yang dimuat pada "newsletter" biasanya lebih pendek.
Kalimat yang digunakan lebih ringkas dan langsung ke pokok
masalah.
3. Sampul depan "newsletter", selain menampilkan nama media, tanggal
terbit dan nomor edisi, juga memuat daftar isi dan sebuah tulisan
lengkap. Kebanyakan "newsletter" tidak memuat foto. Halaman
"newsletter" biasanya dibagi atas 2 -- 3 kolom.
4. Ditilik dari segi kemudahan proses produksi, format "newsletter"
yang biasanya tak banyak memuat foto dan hanya menggunakan dua
warna, lebih mudah dikerjakan ketimbang format majalah, tabloid,
atau surat kabar.
Majalah
1. Selain menggunakan kertas koran untuk halaman dalam, majalah juga
menggunakan kertas HVS atau kertas jenis lain yang lebih baik
kualitasnya. Kertas yang digunakan berukuran A4 atau sedikit
lebih besar. Namun, ada pula majalah yang menggunakan ukuran
lebih kecil, seperti "Intisari" atau "Reader`s Digest".
2. Sampul majalah banyak menggunakan kertas yang lebih tebal dan
berkualitas lebih baik ketimbang halaman dalamnya. Dengan
demikian, kualitas cetak sampul bisa diupayakan lebih baik, agar
tampak lebih menarik.
3. Tampilan majalah tampak lebih serius dan dijilid dengan baik
sehingga cocok untuk didokumentasi. Untuk media
korporasi/organisasi, jumlah halaman sekitar 16 -- 24 halaman,
atau lebih. Majalah bisa memuat tulisan yang lebih banyak dan
lebih panjang. Halaman majalah biasanya dibagi atas 2 -- 4 kolom.
Tabloid
1. Tabloid kebanyakan menggunakan kertas koran. Ukuran kertas yang
digunakan sekitar setengah kali ukuran kertas koran. Sampul
tabloid umumnya juga menggunakan jenis kertas yang sama dengan
jenis kertas yang digunakan pada halaman dalam.
2. Tampilan tabloid tampak lebih populer. Bisa dicetak dua warna
atau lebih. Penataan perwajahan tabloid merupakan paduan antara
desain yang ditetapkan pada majalah dan surat kabar. Halaman
tabloid biasanya dibagi atas 3 -- 5 kolom.
3. Tabloid umumnya tidak dijilid. Jadi, suatu edisi bisa dibaca
bersama-sama oleh beberapa orang, masing-masing satu lembar
terpisah. Untuk media korporasi/organisasi, jumlah halaman
tabloid yang biasa digunakan sekitar 8 -- 16 halaman.
Surat kabar
1. Mempersiapkan format surat kabar sedikit lebih sukar ketimbang
format lainnya. Satu halaman surat kabar biasanya memuat sejumlah
item tulisan. Oleh sebab itu, perlu ditata secara baik agar
tampak menarik dan mudah dibaca.
2. Surat kabar tidak dijilid. Jadi, dapat dibaca bersama-sama oleh
sejumlah orang, masing-masing membaca lembar yang berbeda, asal
tulisan yang bersambung tidak terdapat pada lembar yang berbeda.
Di Indonesia, ukuran kertas yang digunakan adalah sekitar
42 cm x 58 cm. Jenis kertas yang digunakan adalah kertas koran.
3. Halaman surat kabar biasanya dibagi atas sejumlah kolom, biasanya
7 -- 9 kolom. Pola desain halaman surat kabar belakangan ini
banyak menggunakan pola modular (pola yang memungkinkan halaman
dibagi atas sejumlah bidang persegi empat, bisa membujur dari
atas ke bawah, bisa melintang dari kiri ke kanan).
4. Karena menggunakan kertas koran, kualitas cetak surat kabar tidak
sebaik kualitas cetak majalah yang menggunakan kertas HVS atau
sejenis. Karena itu, belasan tahun lalu warna jarang digunakan
untuk surat kabar. Meskipun demikian, berkat perkembangan
teknologi, penggunaan warna pada tampilan surat kabar sudah
semakin populer akhir-akhir ini.
Bahan diringkas dan diedit dari sumber:
Judul buku: Bagaimana Mengelola Media Korporasi-Organisasi
Penulis : Ashadi Siregar dan Rondang Pasaribu
Penerbit : Penerbit Kanisius, Yogyakarta 2000
Hal : 112 -- 118
STOP PRESS
----------
AYO MENULIS KESAKSIAN DI PUBLIKASI KISAH!
Ingin mewartakan kasih karunia Allah dan penyertaan-Nya yang luar
biasa atas hidup Anda? Saatnya Anda bagikan keajaiban akan campur
tangan Allah dalam setiap masalah hidup yang Anda hadapi kepada
saudara yang lain, sembari mengasah kemampuan Anda dalam bidang
tulis menulis kesaksian. Lewat publikasi Kisah, publikasi baru YLSA
yang hadir awal tahun 2007 ini, Anda bisa berbagi berkat lewat
tulisan kesaksian Anda. Ayo, segeralah Anda bergabung di publikasi
Kisah dan mengambil bagian dalam publikasi tersebut dengan
mengirimkan kesaksian Anda. Jadikan publikasi Kisah sebagai wadah
penyampai berkat Anda dalam menyaksikan kasih karunia Allah kepada
sesama.
==> < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org > [berlangganan]
==> < staf-kisah(at)sabda.org > [kontak redaksi]
==> http://www.sabda.org/publikasi/Kisah [arsip KISAH]
______________________________________________________________________
Penanggung jawab: Kristina Dwi Lestari
Kontributor : Raka Sukma Kurnia
Berlangganan : Kirim e-mail ke
subscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Berhenti : Kirim e-mail ke
unsubscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Kirim bahan : Kirim e-mail ke
staf-penulis(at)sabda.org
Arsip e-Penulis : http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs CWC : http://www.ylsa.org/cwc/
Situs Pelitaku : http://pelitaku.sabda.org/
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Penulis 2007
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
|