Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-penulis/31

e-Penulis edisi 31 (9-5-2007)

Membuat Media Penulisan Gereja

______________________________________________________________________

                              e-Penulis
                       (Menulis untuk Melayani)
                         Edisi 031/Mei/2007


                    MEMBUAT MEDIA PENULISAN GEREJA
                    ------------------------------

  = DAFTAR ISI =
    * Dari Redaksi
    * Artikel 1         : Mengupayakan Majalah Gereja, Kenapa Tidak?
    * Artikel 2         : Memanfaatkan Warta Jemaat Sebagai
                          Media Komunikasi dan Pembinaan
    * Tips              : Format Media
    * Stop Press        : Ayo! Menulis Kesaksian di Publikasi Kisah


                             DARI REDAKSI
                             ------------
  Salam Sejahtera,

  Apakah saat ini sahabat penulis mempunyai banyak sekali ide brilian
  yang ingin ditumpahkan? Ingin mengeluarkan segala opini Anda, tetapi
  Anda tidak membuatnya menjadi sebuah media tulisan yang dapat
  dinikmati banyak orang dan hanya berhenti di secarik kertas saja
  tanpa mencoba mengirimkannya? Ayo mulailah merealisasikan ide Anda.

  Bagi sahabat penulis yang memiliki ide untuk membuat sebuah media
  penulisan di gereja, kiranya edisi kali ini bisa membantu Anda.
  Jangan lewatkan dua buah artikel yang mengupas tentang mengupayakan
  majalah gereja dan pentingnya mengelola warta jemaat sebagai
  pembinaan dan media komunikasi, serta sebuah tips tentang acuan
  sebuah format media. Selamat menyimak edisi kali ini, kiranya
  bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

  Penanggung Jawab e-Penulis,
  Kristina Dwi Lestari


                              ARTIKEL 1
                              ---------
              MENGUPAYAKAN MAJALAH GEREJA, KENAPA TIDAK?
                      Oleh: Kristina Dwi Lestari

  Sebagai salah satu bentuk media massa, majalah ternyata mampu
  bertahan di tengah bermunculannya media massa lain dalam bentuk dan
  karakteristiknya masing-masing. Bisa kita bayangkan bagaimana media
  cetak dan elektronik seperti televisi, radio, internet dengan cepat
  menghadirkan berita yang aktual setiap harinya. Bagaimana dengan
  majalah yang notabene terbit secara berkala, baik dua mingguan atau
  bulanan dapat tetap eksis sampai sekarang?

  Majalah sebagai salah satu media penulisan, ternyata mempunyai
  kekuatan tersendiri dalam menjaga eksistensinya. Tidak seperti surat
  kabar, televisi, internet atau beberapa media lainnya yang
  memberikan informasi aktual secara cepat setiap harinya, majalah
  dengan keterbatasannya mampu mengusung segala tema tentang sisi
  kehidupan manusia walaupun hanya terbit secara berkala.

  Dewasa ini, banyak majalah yang lebih berfokus pada pembacanya,
  mulai dari majalah keluarga, wanita, majalah khusus para pecinta
  buku, majalah yang mengangkat tentang lingkungan hidup, sampai
  majalah rohani. Sisi inilah yang ditawarkan oleh majalah.

  Fenomena munculnya majalah gereja di antara majalah-majalah yang
  terus bermunculan menunjukkan adanya sinyalemen positif. Keberadaan
  majalah gereja sedikit banyak memberikan pengaruh besar kepada
  perkembangan sebuah gereja. Apalagi salah satu tujuannya adalah
  untuk meningkatkan keimanan jemaat

  KARAKTER MAJALAH

  Umumnya, majalah diadakan untuk kepentingan bisnis, promosi,
  pelayanan, atau sosial, tergantung dari sasaran dan tujuan yang
  digeluti seseorang, lembaga swadaya masyarakat, organisasi dan
  yayasan dengan bertujuan untuk menyampaikan berita dan pesan secara
  tepat waktu (Misten Ginting: 2005).

  Beberapa majalah mempunyai penggolongan yang didasarkan pada pangsa
  pasar, seperti jenis kelamin, usia, hobi atau minat. Ada pula yang
  didasarkan pada sifat dan misinya, ada majalah umum, majalah teknis,
  majalah ilmiah, majalah ilmiah populer, majalah berita, majalah
  hiburan, majalah bahasa daerah, dan majalah agama. Majalah mempunyai
  karakter dan batasan yang berbeda dibandingkan dengan surat kabar,
  tabloid, atau buku. Sesuai dengan pandangan Harianto,
  karakteristik majalah secara umum adalah sebagai berikut.

  1. Media cetak yang terbit secara berkala, waktu, frekuensi terbit
     tertentu, tapi bukan yang terbit setiap hari.
  2. Media cetak itu bersampul, setidak-tidaknya punya wajah, dan
     dirancang secara khusus.
  3. Media cetak yang dijilid atau sekurang-kurangnya memiliki
     sejumlah halaman. Umumnya adalah 20 -- 120 halaman.
  4. Majalah itu harus beredar secara luas, sekurang-kurangnya dijual
     untuk umum dan sekurang-kurangnya menggunakan Surat Tanda
     Terdaftar (STT) atau Surat Izin Penerbitan Pers (SIUPP). Walaupun
     dalam perkembangannya, akhir-akhir ini SIUPP telah dibekukan.
     Dampaknya dapat kita lihat dengan membanjirnya media-media cetak
     yang tidak berizin.
  5. Dalam satu kali terbitan memuat sejumlah karangan yang ditulis
     oleh beberapa orang dengan topik yang berbeda dengan gaya bahasa
     yang berlainan.
  6. Menyampaikan berita, peristiwa, penemuan, dan ide baru atau
     sesuatu yang dianggap menarik perhatian masyarakat pada umumnya.
  7. Dikelola oleh sekelompok orang, yang kemudian membuat
     perkumpulan, organisasi, maupun susunan redaksi.
  8. Memiliki sistem kontrol internasional. Cirinya dapat kita temukan
     pada pencantuman nomor ISSN (Internasional Standart Serial
     Number) pada setiap judul majalah.

  APA ITU MAJALAH GEREJA?

  Jika dilihat dari karakter majalah di atas, jelas majalah gereja
  hanya diterbitkan di lingkungan gereja saja. Dengan demikian, ruang
  lingkupnya terbatas. Walaupun demikian, banyak majalah gereja dari
  beberapa gereja besar yang berkembang tidak hanya di lingkup dalam
  gereja akan tetapi juga di luar gereja. Sebagai contoh majalah Warta
  Sejati, milik Gereja Kristus Sejati Indonesia. Atau Berita GKMI,
  majalah Gereja Kristen Marturia Indonesia.

  Menilik kemasan dan formatnya, majalah gereja tidaklah berbeda
  dengan majalah umum lainnya. Gaya penulisannya juga berupa berita,
  artikel, atau "feature" (berita kisah). Perbedaannya tentu terletak
  pada visi dan misinya. Harianto menyebutkan bahwa visi dan misi
  majalah gereja adalah berlandaskan Yesus Kristus. Jadi, visi dan
  misi ini lebih menekankan pada doktrin agama, informasi agama,
  kajian-kajian ilmiah secara biblika, yang kesemuanya itu
  berdasarkan Alkitabiah.

  Bentuk publikasi selain majalah yang cukup sering kita jumpai di
  gereja-gereja adalah buletin atau "newsletter". Semua itu dapat
  digunakan sebagai media komunikasi antarjemaat yang efektif. Dengan
  demikian, setiap jemaat dapat saling mengenal, saling menguatkan
  iman, saling menghibur, bahkan saling menasihati. Kita dapat
  membayangkan kehidupan gereja itu semakin hidup dengan hadirnya
  media tersebut.

  PERANAN MAJALAH GEREJA

  Secara internal, majalah gereja dapat digunakan untuk saling
  mengenal dan memperkenalkan antara jemaat yang satu dan yang
  lainnya. Majalah gereja juga dapat digunakan sebagai sarana
  pengembangan diri jemaat dalam hal menulis, menginformasikan segala
  hal yang terjadi di gereja, wadah kesaksian, salah satu sumber bahan
  untuk meningkatkan keimanan kita, sampai ke tujuan yang paling
  utama, yaitu mengenalkan Tuhan Yesus Kristus dengan lebih akrab.
  Tidak hanya berperan ke dalam, sebuah majalah gereja juga dapat
  berperan ke luar. Dengan adanya majalah gereja, keberadaan gereja
  dapat terlihat secara detail dan jelas, dapat menarik minat orang
  untuk hadir di gereja tersebut, dan dapat menunjukkan apakah gereja
  tersebut sehat atau tidak, tegas Harianto.

  PERUMUSAN BATASAN MAJALAH GEREJA

  Majalah gereja jelas berbeda dengan majalah yang bersifat sekuler.
  Jelas ini adalah batasan yang harus diperhatikan para pengelola
  majalah gereja. Sebagai referensi tambahan untuk memulai majalah
  gereja, mari simak batasan yang dipaparkan Harianto berikut ini.

  1. Mengutamakan pemuatan informasi yang berguna untuk meningkatkan
     kualitas proses belajar-mengajar di gereja.
  2. Mengutamakan pemuatan informasi yang berguna untuk mempererat
     hubungan antara Allah dan jemaat, juga hubungan antara jemaat
     dan jemaat.
  3. Mengutamakan pemuatan informasi yang berguna bagi perkembangan
     wawasan jemaat.
  4. Mengutamakan pemuatan informasi yang berguna bagi perkembangan
     kepribadian jemaat.
  5. Mengutamakan terbentuknya sikap kerja profesional dalam melayani
     Allah.
  6. Mengutamakan ajaran secara Alkitabiah.
  7. Menjunjung tinggi nilai-nilai Kristiani.
  8. Menjunjung tinggi kesaksian hidup sesama iman.
  9. Mengutamakan kerja sama tim berlandaskan kejujuran.
  10. Mengutamakan kualitas hasil kerja.

  Bagaimanapun juga, diperlukan kerja keras dari berbagai pihak untuk
  mengembangkan majalah gereja Anda. Jangan hanya menjadi majalah
  gereja yang musiman, sebentar tampak, setelah itu tidak terdengar
  lagi gaungnya. Purnawan Kristanto menyebutkan, penerapan sebuah
  media baru hendaknya didahului oleh riset sederhana. Tujuannya
  adalah mengetahui keinginan dan kebutuhan pembaca. Riset itu juga
  dibutuhkan untuk memetakan karakteristik (calon) pembaca, yang
  dirumuskan berupa data demografis (umur, jenis kelamin, pendidikan,
  status ekonomi, pekerjaan, dsb.), dan psikografi (gaya hidup,
  selera, orientasi kerohanian, dll.).

  Dengan gempuran media di seliling kita yang beraneka ragam, bisa
  jadi majalah gereja tidak digemari. Dengan perencanaan yang matang
  baik dari pengurus gereja, pendeta, majelis, atau aktivis gereja
  lainnya, bukan tidak mungkin majalah gereja dapat digemari dan
  menjadi berkat tersendiri. Selanjutnya, tentukan siapa saja yang
  akan mengelola majalah tersebut mulai dari pengamat masalah,
  pengorganisir, pengelola keuangan, penulis, sampai ke pemasar,
  himbau Purnawan Kristanto. Yang terpenting, media di dalam gereja
  harus mengedepankan isi yang berpedoman pada nilai-nilai kristiani
  dan sebagai penyampai kabar kesukaan kepada jiwa-jiwa yang haus akan
  firman Tuhan. Selamat mengembangkan majalah di gereja Anda dan
  berikan kemuliaan bagi Kristus lewat media inspirasi Anda.

  Sumber bacaan pendukung:

  G.P, Harianto. 1997. "Mengelola Majalah: Sebuah Pengantar".
    Bandung: Agiamedia.
  Ginting, Misten, S.Th. 2005. "Majalah sebagai Media Penginjilan dan
    Pendidikan" dalam Majalah Sahabat Gembala. Hlm. 35.
  Kristanto, Purnawan. "Apakah Media Intra Gereja Masih Dibutuhkan?"
     dalam http://glorianet.org/kolom/kolomedia.html


                              ARTIKEL 2
                              ---------
   MEMANFAATKAN WARTA JEMAAT SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DAN PEMBINAAN
                       Oleh: Raka Sukma Kurnia

  Informasi susunan penatalayan setiap pekan, jadwal ibadah rumah
  tangga, jadwal pengucapan syukur, ucapan ulang tahun dengan daftar
  warga yang berulang tahun sepanjang pekan, dan laporan keuangan.
  Itulah informasi yang paling sering ditemukan dalam warta jemaat di
  kebanyakan gereja. Setiap pekan selama setahun, isi yang disampaikan
  tidak pernah mengalami perubahan. Padahal, sebagai media yang setiap
  pekan dibagikan kepada warga jemaat, warta jemaat masih dapat
  dimaksimalkan.

  DUA FUNGSI UTAMA WARTA JEMAAT
  Pada dasarnya, warta jemaat dapat digunakan untuk menjalankan dua
  fungsi utama, yaitu sebagai media komunikasi dan media pembinaan.

  a. Media komunikasi
  Warta jemaat memang telah mengemban fungsi komunikasi. Hanya saja,
  penyajiannya lebih bersifat pengumuman sehingga terkesan kaku.
  Susunan lagu yang akan dikumandangkan pekan depan, bacaan Alkitab
  pekan depan, pokok doa yang sama dari pekan ke pekan tanpa
  penjabaran yang spesifik, dan laporan keuangan mungkin menjadi
  isi rutin warta di kebanyakan gereja. Akibatnya, fungsi komunikasi
  itu tidaklah maksimal.

  Untuk menonjolkan kesan sebagai media komunikasi, penyajian yang
  lebih komunikatif tentu dibutuhkan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan
  penyajian informasi menyerupai berita dalam satu atau dua paragraf,
  tergantung kebutuhan. Bisa berupa hal-hal yang terjadi dalam
  kehidupan berjemaat, misalnya kelahiran, informasi pemilihan
  majelis, dan sebagainya.

  b. Media pembinaan
  Bila fungsi sebelumnya lebih bertujuan sosial, terhadap sesama warga
  jemaat, fungsi kedua ini lebih ditujukan pada peningkatan relasi
  dengan Tuhan. Artinya, bila warta jemaat bisa menjalankan fungsi
  pembinaan seperti ini, warga jemaat dimungkinkan untuk mendapatkan
  pemahaman Alkitab selain dari khotbah, maupun dari kegiatan
  penelaahan Alkitab.

  Hal ini jelas memberi keuntungan sebab sebuah naskah tercetak
  memungkinkan kita untuk membacanya berkali-kali tanpa takut
  melewatkan satu kata pun. Bandingkan dengan khotbah atau diskusi
  dalam penelaahan Alkitab.

  PARA PELAKSANA DAN PENYEDIA BAHAN
  Dua fungsi utama yang diemban warta jemaat itu memang akan
  menumbuhkembangkan kehidupan berjemaat. Namun, siapakah yang akan
  mengerjakannya? Padahal para pegawai kantor sudah disibukkan dengan
  berbagai urusan administrasi gereja.

  Pemanfaatan warta jemaat untuk dua tujuan di atas memang membutuhkan
  sejumlah tenaga untuk mengelolanya. Apalagi mengingat warta tersebut
  akan diedarkan setiap pekan. Akan tetapi, kondisi ini justru membuka
  peluang bagi pemberdayaan warga gereja.

  Para pemuda gereja, sebagai warga gereja yang berjiwa dinamis, dapat
  menjadi kekuatan penggerak untuk mengelola warta jemaat ini.
  Bersama-sama dengan elemen pelayanan lain, baik dari pelayanan anak,
  remaja, kaum ibu dan bapak, dan tentu saja dari para pemuda sendiri,
  kehadiran warta jemaat yang dapat menjalankan kedua fungsi di atas
  menjadi sangat memungkinkan. Tentu saja para pegawai administrasi
  gereja harus terlibat karena biasanya merekalah yang bertanggung
  jawab dalam menyusun laporan keuangan.

  Lalu, siapakah yang akan menyediakan tulisan sebagai bahan warta?
  Ada banyak pihak dalam lingkungan gereja yang sebenarnya bisa
  berperan sebagai penulis. Ketua majelis jemaat, pendeta, vikaris,
  para majelis, guru-guru sekolah minggu, dan para pemuda pada
  prinsipnya berpotensi sebagai penulis. Pengalaman dan pengetahuan
  yang dimiliki selama melayani tentunya menjadi bekal tersendiri
  untuk ditulis dan dibagikan. Selain itu, warga jemaat pun dapat
  diajak berpartisipasi untuk menulis.

  Kemudian, untuk membekali diri dengan kemampuan tulis-menulis, ada
  baiknya diadakan pelatihan menulis. Selain memperkenalkan dunia
  penulisan kepada warga gereja, pelatihan seperti ini bukan tidak
  mungkin akan menghadirkan generasi penulis Kristen. (Hal ini
  sebenarnya menunjukkan betapa pelatihan menulis di lingkungan gereja
  sangat potensial untuk dilakukan.)

  MENGATASI KENDALA KLASIK
  Harus diakui bahwa biaya selalu menjadi masalah klasik. Bagi gereja
  yang mapan dalam hal finansial, kendala satu ini tentu tidak terlalu
  berarti. Namun, bagaimana dengan gereja yang kecil?

  Ada dua cara yang saya rasa ideal untuk ditempuh guna mengatasi
  kendala ini. Pertama, perlu disadari bahwa warta jemaat tidak perlu
  dicetak secara eksklusif. Dengan jasa foto kopi pun kita masih bisa
  mewujudkan fungsi sebagai media komunikasi dan pembinaan tersebut.
  Tentu saja, isi harus lebih ditekankan lagi.

  Cara kedua, kita bisa menawarkan promosi usaha kepada para pengusaha
  di kota di mana gereja berada. Pertama-tama dengan menawarkannya
  pada pengusaha yang mungkin ada di lingkungan gereja sendiri, lalu
  menjajaki para pengusaha lainnya. Meski tidak mutlak, tentu lebih
  disarankan untuk mengajukan tawaran pada para pengusaha Kristen.
  Dengan cara ini, kita berharap para pengusaha tersebut turut
  mendukung pembiayaan pencetakan warta. Hanya saja, saya lebih
  menyarankan agar tidak terlalu mematok tarif.

  Nah, bagaimana di gereja Anda? Sudahkah warta jemaat diberdayakan
  secara maksimal? Kalau belum, mengapa tidak memulainya?


                                 TIPS
                                 ----
                             FORMAT MEDIA

  Media dapat diterbitkan dalam beberapa format, seperti "newsletter",
  majalah, tabloid, atau surat kabar. Setiap format memiliki kelebihan
  dan kekurangan dalam hal efektivitas penyampaian informasi. Hal
  pertama yang dipertimbangkan dalam memilih format media sudah tentu
  jawaban atas pertanyaan format apa yang paling cocok bagi pembaca,
  sesuai karakter pembaca itu sendiri. Pertimbangan kedua yang perlu
  diperhatikan dalam memilih format media adalah karakter fisik setiap
  format, karakter isi, periodisitas, kemudahan proses produksi,
  biaya, dan citra yang dikehendaki. Untuk membantu pemahaman yang
  lebih baik, uraian berikut akan menjelaskan lebih rinci karakter
  setiap format.

  "Newsletter", 1. "Newsletter" umumnya menggunakan kertas HVS (atau kertas
     berkualitas lebih baik). Ukuran kertas yang digunakan biasanya A4
     atau sedikit lebih kecil. Jumlah halaman berkisar antara 4 dan 12
     halaman atau lebih. "Newsletter" bisa dijilid, bisa pula tidak
     dijilid. "Newsletter" lebih mudah dan lebih cepat diproduksi.
     Biasanya produksi juga lebih rendah.

  2. Tulisan yang dimuat pada "newsletter" biasanya lebih pendek.
     Kalimat yang digunakan lebih ringkas dan langsung ke pokok
     masalah.

  3. Sampul depan "newsletter", selain menampilkan nama media, tanggal
     terbit dan nomor edisi, juga memuat daftar isi dan sebuah tulisan
     lengkap. Kebanyakan "newsletter" tidak memuat foto. Halaman
     "newsletter" biasanya dibagi atas 2 -- 3 kolom.

  4. Ditilik dari segi kemudahan proses produksi, format "newsletter"
     yang biasanya tak banyak memuat foto dan hanya menggunakan dua
     warna, lebih mudah dikerjakan ketimbang format majalah, tabloid,
     atau surat kabar.

  Majalah

  1. Selain menggunakan kertas koran untuk halaman dalam, majalah juga
     menggunakan kertas HVS atau kertas jenis lain yang lebih baik
     kualitasnya. Kertas yang digunakan berukuran A4 atau sedikit
     lebih besar. Namun, ada pula majalah yang menggunakan ukuran
     lebih kecil, seperti "Intisari" atau "Reader`s Digest".

  2. Sampul majalah banyak menggunakan kertas yang lebih tebal dan
     berkualitas lebih baik ketimbang halaman dalamnya. Dengan
     demikian, kualitas cetak sampul bisa diupayakan lebih baik, agar
     tampak lebih menarik.

  3. Tampilan majalah tampak lebih serius dan dijilid dengan baik
     sehingga cocok untuk didokumentasi. Untuk media
     korporasi/organisasi, jumlah halaman sekitar 16 -- 24 halaman,
     atau lebih. Majalah bisa memuat tulisan yang lebih banyak dan
     lebih panjang. Halaman majalah biasanya dibagi atas 2 -- 4 kolom.

  Tabloid

  1. Tabloid kebanyakan menggunakan kertas koran. Ukuran kertas yang
     digunakan sekitar setengah kali ukuran kertas koran. Sampul
     tabloid umumnya juga menggunakan jenis kertas yang sama dengan
     jenis kertas yang digunakan pada halaman dalam.

  2. Tampilan tabloid tampak lebih populer. Bisa dicetak dua warna
     atau lebih. Penataan perwajahan tabloid merupakan paduan antara
     desain yang ditetapkan pada majalah dan surat kabar. Halaman
     tabloid biasanya dibagi atas 3 -- 5 kolom.

  3. Tabloid umumnya tidak dijilid. Jadi, suatu edisi bisa dibaca
     bersama-sama oleh beberapa orang, masing-masing satu lembar
     terpisah. Untuk media korporasi/organisasi, jumlah halaman
     tabloid yang biasa digunakan sekitar 8 -- 16 halaman.

  Surat kabar

  1. Mempersiapkan format surat kabar sedikit lebih sukar ketimbang
     format lainnya. Satu halaman surat kabar biasanya memuat sejumlah
     item tulisan. Oleh sebab itu, perlu ditata secara baik agar
     tampak menarik dan mudah dibaca.

  2. Surat kabar tidak dijilid. Jadi, dapat dibaca bersama-sama oleh
     sejumlah orang, masing-masing membaca lembar yang berbeda, asal
     tulisan yang bersambung tidak terdapat pada lembar yang berbeda.
     Di Indonesia, ukuran kertas yang digunakan adalah sekitar
     42 cm x 58 cm. Jenis kertas yang digunakan adalah kertas koran.

  3. Halaman surat kabar biasanya dibagi atas sejumlah kolom, biasanya
     7 -- 9 kolom. Pola desain halaman surat kabar belakangan ini
     banyak menggunakan pola modular (pola yang memungkinkan halaman
     dibagi atas sejumlah bidang persegi empat, bisa membujur dari
     atas ke bawah, bisa melintang dari kiri ke kanan).

  4. Karena menggunakan kertas koran, kualitas cetak surat kabar tidak
     sebaik kualitas cetak majalah yang menggunakan kertas HVS atau
     sejenis. Karena itu, belasan tahun lalu warna jarang digunakan
     untuk surat kabar. Meskipun demikian, berkat perkembangan
     teknologi, penggunaan warna pada tampilan surat kabar sudah
     semakin populer akhir-akhir ini.

  Bahan diringkas dan diedit dari sumber:
  Judul buku: Bagaimana Mengelola Media Korporasi-Organisasi
  Penulis   : Ashadi Siregar dan Rondang Pasaribu
  Penerbit  : Penerbit Kanisius, Yogyakarta 2000
  Hal       : 112 -- 118


                              STOP PRESS
                              ----------
              AYO MENULIS KESAKSIAN DI PUBLIKASI KISAH!

  Ingin mewartakan kasih karunia Allah dan penyertaan-Nya yang luar
  biasa atas hidup Anda? Saatnya Anda bagikan keajaiban akan campur
  tangan Allah dalam setiap masalah hidup yang Anda hadapi kepada
  saudara yang lain, sembari mengasah kemampuan Anda dalam bidang
  tulis menulis kesaksian. Lewat publikasi Kisah, publikasi baru YLSA
  yang hadir awal tahun 2007 ini, Anda bisa berbagi berkat lewat
  tulisan kesaksian Anda. Ayo, segeralah Anda bergabung di publikasi
  Kisah dan mengambil bagian dalam publikasi tersebut dengan
  mengirimkan kesaksian Anda. Jadikan publikasi Kisah sebagai wadah
  penyampai berkat Anda dalam menyaksikan kasih karunia Allah kepada
  sesama.

   ==> < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >          [berlangganan]
   ==> < staf-kisah(at)sabda.org >                    [kontak redaksi]
   ==> http://www.sabda.org/publikasi/Kisah              [arsip KISAH]

______________________________________________________________________

Penanggung jawab: Kristina Dwi Lestari
Kontributor     : Raka Sukma Kurnia
Berlangganan    : Kirim e-mail ke
                  subscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Berhenti        : Kirim e-mail ke
                  unsubscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Kirim bahan     : Kirim e-mail ke
                  staf-penulis(at)sabda.org
Arsip e-Penulis : http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs CWC       : http://www.ylsa.org/cwc/
Situs Pelitaku  : http://pelitaku.sabda.org/
______________________________________________________________________
      Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
                     Copyright(c) e-Penulis 2007
                  YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
                       http://katalog.sabda.org/
                    Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org