<>--------------------------------oo--------------------------------<>
< e-Penulis >
(Menulis untuk Melayani)
Edisi 018/April/2006
<>------------------------------------------------------------------<>
MENULIS ESAI
<>------------------------------------------------------------------<>
= DAFTAR ISI =
* Dari Redaksi : Selamat Paskah
* Artikel : Apakah Esai Itu?
* Tips : Menulis Esai Singkat
* Esai : Memaknai Paskah dan Sengsara Yesus di Dunia
yang Penuh Kekerasan
* Stop Press : Baru! Situs PELITAKU
<>------------------------------------------------------------------<>
= DARI REDAKSI =
Salam kasih,
Tentunya banyak orang yang sudah akrab dengan kata "esai". Di
berbagai surat kabar, kita dapat melihat kolom-kolom yang khusus
disediakan untuk tulisan esai yang mengupas berbagai hal. Bagi Anda
yang masih ada dibangku sekolah atau kuliah, menulis esai adalah
tugas yang sering diberikan oleh guru atau dosen.
Namun demikian, tidak jarang ada orang yang salah mengerti tentang
pengertian esai. Lalu, apakah sebenarnya esai itu? Apakah perbedaan
esai dengan artikel, renungan, atau kesaksian? Nah, silakan baca
artikel menarik yang kami sajikan dalam edisi kali ini. Setelah itu,
tentukan sendiri kenapa seorang yang sering menulis esai bisa
mendapat sebutan esais, sedangkan penulis artikel, renungan, atau
kesaksian tidak mendapat sebutan seperti itu. Simak juga tips
menulis esai singkat yang tentunya dapat membantu Anda yang sedang
mengalami kesulitan dalam menulis sebuah esai.
Masih dalam bulan Paskah, redaksi e-Penulis kali ini juga sengaja
menampilkan sebuah esai yang berkaitan dengan peringatan kematian
dan kebangkitan Yesus. Semoga tulisan yang ditampilkan juga dapat
memberkati kita semua.
Selamat Paskah 2006! Kiranya kebangkitan Yesus selalu membawa
semangat dalam hidup kita.
Redaksi e-Penulis,
(Ary)
<>------------------------------------------------------------------<>
= ARTIKEL =
APAKAH ESAI ITU?
================
Esai bukanlah sekadar rekaman fakta-fakta atau hasil imajinasi
murni. Tulisan yang Anda buat dalam pelajaran sejarah yang dipenuhi
dengan fakta-fakta yang dikumpulkan dari berbagai referensi mungkin
nampak seperti sebuah esai. Namun, seberapa pun cermatnya Anda dalam
menulis ulang semua fakta tersebut, meskipun dengan bahasa Anda
sendiri, tulisan itu bukanlah esai. Esai juga bukan kejadian atau
pengalaman yang Anda tuliskan dalam pelajaran bahasa, tak peduli
betapa nyata, cerdas, menyentuh, berurutan, jelas, rinci, dan
lengkapnya tulisan Anda itu.
Mungkin Anda telah membuat ratusan tulisan dalam bentuk seperti di
atas dan mengumpulkan semua berdasarkan `temanya`. Anda mungkin akan
menyebutnya sebagai sebuah esai, tapi itu juga bukan esai. Jadi,
apakah esai itu? Esai adalah ekspresi tertulis dari opini
penulisnya.
Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan
fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa
mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu
mengekspresikan opini. Esai memang bisa berbeda menurut kualitas,
jenis, panjang, gaya, dan subjek. Esai juga bisa berbentuk
sederhana sampai yang sangat kompleks, namun semuanya akan
menunjukkan sebuah opini pribadi sebagai analisa akhir. Inilah
perbedaan mendasar antara esai dengan tulisan ekspositoris atau
sebuah laporan. Sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta
atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis
di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut.
Tentu, Anda harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai. Hanya
saja, Anda juga harus memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan
opini itu, bagaimana menyampaikannya, dan bagaimana mengungkapkan
nilai yang dibawanya. Sebelum mendapatkan opini, Anda harus lebih
dulu menentukan subjek yang hendak ditanggapi karena opini harus
berhubungan dengan subjek tertentu.
SUBJEK ESAI
Apa yang harus ditulis? Pertanyaan ini memiliki jawaban yang tidak
terbatas. Anda dapat menuliskan segala jenis topik; dari
persahabatan, politik, sepatu, menjual lilin, sampai esai tentang
esai itu sendiri. Satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi
adalah bahwa penulis harus cukup memahami topik tersebut sehingga ia
dapat membentuk sebuah opini. Lalu, apa batasan dari `cukup
memahami` itu? Jawabannya juga tidak sulit. Sebagai manusia, seperti
yang lain, kita pasti `cukup memahami` dan akrab dengan banyak hal
di sekitar kita; persahabatan, hubungan keluarga, pertumbuhan,
makan, tidur, dan banyak lainnya. Tentunya semua itu dapat dipakai
sebagai bahan menulis esai.
Bagaimanapun juga, `pemahaman yang cukup` untuk menuliskan tema-tema
spesifik memerlukan pengetahuan atau pemahaman akan disiplin ilmu
tertentu. Kita mungkin bisa menulis sebuah esai mengenai topik
seperti persahabatan tanpa perlu memberikan banyak fakta. Namun,
untuk topik-topik seperti Puritanisme atau sejenisnya, tentunya kita
memerlukan informasi yang dapat diuji secara `ilmiah`. Referensi
sendiri bisa didapatkan dari banyak sumber, mulai dari buku sampai
media internet. Menulis tentang bidang yang sesuai dengan minat kita
juga akan sangat mempermudah dan mempercepat proses penulisan itu
sendiri. Karenanya, seorang yang mempunyai hobi dalam satu bidang
tertentu juga dapat disebut sebagai seorang yang memiliki `pemahaman
yang cukup`. Bahkan, sekalipun kita tidak menaruh minat yang begitu
besar dalam satu bidang pembahasan, kita tetap dapat menulis sebuah
esai yang baik asalkan dapat mengumpulkan banyak fakta. Dengan
membaca berbagai informasi yang bisa dipertanyakan, dibandingkan,
atau yang dapat Anda nilai sendiri, pengetahuan tentang satu bidang
baru juga akan Anda dapatkan dengan cepat.
Menulis sebuah esai yang didasari oleh pengetahuan khusus memang
cenderung lebih mudah daripada menulis esai tentang hal-hal atau
pengalaman yang sudah sering ditemui di sekitar kita. Berbeda dengan
kebiasaan yang sering terjadi dalam sebuah opini, seorang penulis
esai hendaknya tidak boleh hanya berpegang pada `perasaan bahwa ia
benar`, namun lebih beranggapan bahwa `pikiran saya benar`. Jadi,
opini yang terdapat dalam sebuah esai juga harus didasarkan pada apa
yang Anda pikirkan dan bukan hanya pada apa yang Anda rasakan. Yang
jelas, setiap esai harus memiliki opini, dan opini yang terbaik
adalah didasari oleh pikiran dan perasaan.
APAKAH OPINI ITU? BAGAIMANA ANDA MEMUNCULKANNYA?
Banyak orang yang mendefinisikan opini dengan sangat bebas. Segala
prasangka, sentimen, tuduhan, dan segala jenis omongan yang
tanpa dasar seringkali disebut sebagai sebuah opini. Namun, opini
yang ingin disampaikan dalam sebuah esai harus memenuhi definisi
sebagai berikut.
Opini: sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan
yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang
nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran
seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian.
Ujilah opini Anda dengan definisi di atas untuk menilai apakah Anda
telah memiliki topik esai yang baik. Apakah opini tersebut didasari
atas keyakinan mutlak? Atau pengetahuan yang sahih? Apakah Anda
dapat membuktikan kebenarannya di atas semua keraguan yang
beralasan? Jika ya, berarti itu bukan opini, tetapi fakta -- atau
sebuah hasil observasi yang telah diterima secara luas sehingga
menjadi sebuah fakta. Fakta harus terlebih dulu diubah menjadi
sebuah opini sebelum dimunculkan dalam sebuah esai. Misalnya, fakta
menunjukkan bahwa jumlah penduduk negara kita tahun ini adalah
sekian ratus juta. Untuk mengubah fakta tersebut menjadi sebuah
opini tugas Anda sekarang adalah menilainya. Anda bisa menilai bahwa
budaya negara kita berubah karena pertambahan penduduk yang demikian
cepat; atau perlunya perubahan kebijakan ekonomi yang dapat menjamin
setiap warga bisa mencukupi kebutuhannya, dll. Dengan membuat sebuah
penilaian/tanggapan, maka Anda telah mengubah fakta menjadi sebuah
opini. Dengan demikian, Anda telah memiliki topik esai yang baik.
Namun, tidak semua opini dapat menjadi topik sebuah esai. Jika ada
pernyataan `menjalin persahabatan penting bagi hubungan
antarmanusia`, pernyataan ini bisa disebut opini karena tidak dapat
dibuktikan secara ilmiah atau statistik. Walau demikian, pernyataan
itu merupakan opini yang lemah untuk dikemukakan dalam sebuah esai
karena tidak merangsang timbulnya argumen lain. Dari segi praktis,
itu adalah fakta. Untuk membuatnya menarik, Anda bisa mengubahnya
menjadi opini yang lebih tajam seperti `persahabatan adalah hal
terpenting bagi manusia`, misalnya. Tapi cara yang lebih efektif
dalam menarik minat pembaca adalah dengan mengawalinya dengan
berbagai pertanyaan menantang seperti, `apakah persahabatan
antarpria lebih awet daripada wanita?` `bisakah persahabatan yang
murni terjalin antara pria dan wanita, ataukah antara orang tua dan
anak?`, dst.
Jika kita melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut, pembaca mungkin
bisa menjawab ya atau tidak saja. Tapi bagaimana jika Anda mengubah
kata tanya tersebut dengan kata tanya yang lebih memerlukan
penjelasan seperti `mengapa`, `apakah`, atau `bagaimana`?
- Bagaimana orang tua dapat bersahabat dengan anak?
- Mengapa persahabatan antarpria lebih awet daripada antarwanita?
(atau sebaliknya)
- Apakah persahabatan itu?
Makin banyak pertanyaan yang Anda ajukan pada diri Anda akan semakin
baik. Setelah itu, Anda akan dapat mengenali pertanyaan yang penting
dan yang tidak, yang terlalu luas dan yang terlalu sempit, dsb.
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tak jarang Anda juga
akan menemukan opini-opini yang belum pernah Anda sampaikan
sebelumnya (artinya: Anda tidak pernah benar-benar tahu apa yang
sebenarnya Anda pikirkan). Teruslah melontarkan pertanyaan. Ketika
Anda menemukan satu opini pribadi yang sangat menarik berarti Anda
telah memasuki wilayah seorang penulis esai.
APA YANG MEMBUAT SEBUAH OPINI MENARIK?
Jika diminta untuk memilih sebuah opini yang paling menarik, mungkin
kita akan memilih berdasarkan minat kita karena kita akan selalu
dapat menulis dengan baik topik yang kita kuasai/sukai atau yang
dengan gampang kita tuliskan. Namun, topik yang menarik sesungguhnya
adalah yang `bertentangan`! Jika jumlah orang yang tidak setuju
dengan tulisan Anda cukup signifikan, maka bisa dipastikan pandangan
Anda akan menarik perhatian. Pembaca tidak akan tertarik dengan
sesuatu yang artinya memang sudah jelas dan tepat. Anda tentu boleh
menuliskan hal seperti itu, namun siapa yang akan mengindahkannya?
Sebuah esai akan gagal jika tidak mempunyai argumen. Setiap analisa
akhir dari esai adalah argumen. Analisa akhir itulah yang menjadi
opini penulis esai tentang satu topik yang berlawanan dengan opini
orang lain. Kalimat `A lebih baik (atau jelek) dari B` adalah
kalimat yang jelas akan menimbulkan argumentasi. Namun, Anda juga
tak perlu harus menyatakan sejelas itu. Saat menyatakan bahwa `balap
mobil mempromosikan keamanan berkendara`, berarti Anda telah
berargumentasi dengan pendapat banyak orang yang menganggap balap
mobil hanya akan mengakibatkan kecelakaan.
MENGUJI PERTENTANGAN
Ketika sedang membuat sebuah opini esai, usahakan agar Anda juga
dapat menjawab setiap pertanyaan yang mungkin muncul dari opini yang
bertentangan. Yang dimaksud dengan opini yang bertentangan tentu
tidak selalu berarti berkebalikan. Jika Anda mengatakan "Animal
Farm" adalah novel terbaik sepanjang masa, tentu tak akan ada orang
yang cukup sembrono menyatakan "Animal Farm" sebagai novel terjelek
sepanjang masa. Mungkin yang ada ialah kritik atas pernyataan Anda
tersebut, yang mungkin akan mengatakan novel itu terlalu pendek,
penokohannya kurang tajam, dsb. Jadi, opini yang menentang tidak
selalu kebalikan dari opini Anda. Yang jelas akan ada perbedaannya.
Dengan mempertimbangkan secara seksama kemungkinan pertanyaan ini,
mungkin pikiran dan opini Anda akan berubah. Bagus! Anda masih
memiliki opini, walau mungkin telah berubah. Opini baru itu tentu
akan lebih kuat dari sebelumnya. Atau meski opini awal Anda tetap
yang paling kuat, dengan menguji berbagai kemungkinan pertentangan
ini, Anda akan mendapat lebih banyak ide untuk mempertahankan
pendapat Anda.
Meski demikian, opini hanyalah sebuah pendapat pribadi tentang
kebenaran. Anda tidak bisa mengharapkan opini esai Anda menjadi
bukti ilmiah. Tujuan Anda adalah untuk meyakinkan, bukan
membuktikan. Kekuatan esai Anda diukur dari keberhasilannya
meyakinkan pembaca. Setiap opini esai Anda pada akhirnya dapat diuji
kekuatannya dengan dua pertanyaan berikut.
1. Bisakah sebuah argumen yang valid dibuat untuk menentangnya?
2. Bisakah saya mempertahankan pendapat melawan argumen tersebut?
Jika keduanya Anda jawab "ya" berarti Anda sudah boleh lega dan
yakin bahwa Anda telah berhasil membuat esai yang menarik.
PERCAYA PADA APA YANG ANDA KATAKAN
Topik sebuah esai memang harus berupa argumen. Namun, argumen
tersebut harus jujur dan cerdas. Anda memang boleh mengemukakan
opini yang berlawanan dengan pendapat banyak orang. Namun,
menyatakan sebuah opini berani hanya untuk menarik perhatian adalah
tindakan yang konyol. Lebih buruk lagi, tindakan itu menunjukkan
suatu ketidakjujuran. Anda mungkin bisa berhenti melakukan tindakan
konyol, namun ketidakjujuran tidak bisa diobati. Kejujuran adalah
hal terpenting karena ketidakjujuran dalam esai akan segera tercium
oleh pembaca. Jadi, selalulah percaya pada apa yang Anda katakan,
walau sekali lagi ini bukan berarti Anda harus reaktif menolak semua
pendapat yang menentangnya. (t/ary)
Bahan diterjemahkan dan diedit (dengan beberapa penyesuaian konteks
perkembangan zaman) dari:
Buku : The Lively Art of Writing
Penulis : Lucile Vaughan Payne
Judul Artikel : What is An Essay?
Penerbit : Follett Publishing Company, 1965
Halaman : 13 - 22
<>------------------------------------------------------------------<>
= TIPS =
MENULIS ESAI SINGKAT
====================
Praktik menulis berikut ini bertujuan menanamkan secara lebih
mendalam cita rasa tata susunan (a sense of structure) dalam menulis
karangan. Cita rasa ini membangun kepercayaan diri dalam menghadapi
tugas atau pekerjaan menulis karangan apa pun. Dengan cita rasa ini,
kita percaya akan dapat memberikan tatanan kepada gagasan-gagasan
kita. Pada umumnya, orang suka dan ingin dapat mengarang untuk
mengungkapkan dan menyampaikan gagasannya kepada orang lain supaya
dipahami.
Kalau mengarang sering dirasakan sebagai momok, mungkin dikarenakan
belum tertanam dalam diri kita sense of structure itu. Kita berlatih
membangun cita rasa ini dengan mengandaikan kita telah mengadakan
penelitian, telah mengumpulkan data dengan metode pengamatan,
wawancara, partisipasi, studi pustaka atau metode yang lain, telah
melihat bermacam-macam hubungan antara data itu (hubungan sebab
akibat, hubungan syarat, hubungan cara, hubungan tujuan, hubungan
keanggotaan, hubungan jenis, hubungan contoh, hubungan detail, dan
hubungan unsur), dan telah mengonsepsikan kerja atau kegiatan
mengarang menurut dasar-dasar mengarang. Ada delapan langkah dalam
praktik menulis esai singkat, yaitu sebagai berikut.
Pertama, tuliskanlah (rumuskanlah) sebuah pernyataan gagasan pokok,
berupa satu kalimat lengkap. Gagasan pokok merupakan pandangan atau
pendirian Anda tentang topik yang Anda pilih. Bila Anda mengarang
sebuah esai, pembicaraan Anda hendaknya terarah kepada gagasan pokok
itu. Tujuan mengarang ialah membeberkan gagasan pokok Anda tentang
suatu hal.
Kedua, untuk mengarang esai yang Anda rencanakan itu, pikirkan dan
rumuskanlah pikiran-pikiran utama yang mendukung dan membeberkan
gagasan pokok Anda itu.
Ketiga, untuk mengembangkan dan menjelaskan tiap pikiran utama itu,
temukanlah dan tuliskanlah evidensi-evidensi atau fakta-fakta
penguatnya.
Keempat, sekarang cobalah membangun sebuah paragraf dengan pikiran
utama dan pikiran-pikiran pengembangnya. Sebelumnya, hendaknya
ditentukan modelnya: model P-D-K (Pendirian-Dukungan-Kesimpulan),
model P-S-P (Pendapat-Sanggahan-Pendirian), atau model Inversi
(model yang menempatkan gagasan pokok karangan di bagian akhir).
Selain itu, hendaknya diterapkan dan diurutkan unsur-unsur atau
komponen-komponen yang telah ditentukan takarannya. Unsur-unsur
pembangun paragraf adalah pembuka, pikiran utama, pikiran pendukung,
pikiran penjelas, peralihan, dan kesimpulan. (Pikiran pengembang di
sini dibedakan menjadi pikiran pendukung dan pikiran penjelas.)
Sementara yang dimaksud dengan "takaran" ialah berapa jumlah pikiran
pendukung dalam paragraf.
Kelima, bila tiap-tiap pikiran utama Anda sudah lengkap dengan
pikiran-pikiran pengembangnya, bangunlah paragraf-paragraf
berikutnya dengan berpola P-D-K atau pola yang lain. Namun, ingatlah
selalu gagasan pokok yang hendak Anda tuju lewat esai ini.
Keenam, setelah paragraf-paragraf tubuh esai itu selesai dibangun,
susunlah paragraf kesimpulannya.
Ketujuh, setelah Anda membangun paragraf-paragraf tubuh esai dan
menyusun paragraf kesimpulannya, sekarang pikirkanlah sebuah
paragraf pengantar untuk memperkenalkan topik atau masalah dan untuk
menarik minat pembaca. Mungkin cerita kecil atau lukisan singkat
atau kutipan akan berguna untuk tujuan itu. Dalam paragraf pengantar
esai dengan model P-D-K atau P-S-P, dinyatakan juga gagasan pokok
esai. Dalam paragraf pengantar esai dengan model Inversi, paragraf
pengantar hanya membeberkan (menceritakan atau melukiskan) sedikit
pembukanya saja.
Kedelapan, setelah memiliki paragraf-paragraf tubuh esai, paragraf
kesimpulan, dan paragraf pengantar, sekarang revisilah draf-draf
itu dengan menambah atau mengurangi isinya, dengan cara mengubah
atau membetulkan pemakaian/pemilihan kata, frase, dan kalimat.
Kemudian, tulislah kembali esai Anda, dengan urutan paragraf
pengantar, paragraf-paragraf tubuh esai, dan paragraf kesimpulan.
Bahan dirangkum dan diedit dari:
Buku : Dasar-dasar Menulis Karya Ilmiah
Judul Artikel : Menulis Esai Singkat
Penulis : Aloisius Widyamartaya dan Veronica Sudiati
Penerbit : Grasindo, Jakarta, 1997
Halaman : 56 - 70
<>------------------------------------------------------------------<>
= ESAI =
MEMAKNAI PASKAH DAN SENGSARA YESUS DI DUNIA YANG PENUH KEKERASAN
================================================================
Secara jujur, bisa dikatakan saya tidak termasuk orang yang ikut
terperangah ketika akhirnya saya benar-benar memperoleh kesempatan
melihat rangkaian adegan-adegan penyiksaan Kristus dalam film
"Passion of Christ" sekitar 2 tahun lalu. Mungkin ini karena gaung
kontroversinya yang oleh beberapa kalangan dianggap mempromosikan
kekerasan sekaligus propaganda yang menyudutkan golongan tertentu
itu sudah lebih dulu saya dengar. Artinya, bayangan tentang darah
dan penyiksaan yang akan dimunculkan sudah terlebih dulu ada di
benak saya. Di lain waktu, tiba-tiba perasaan saya demikian
bergejolak ketika melihat sebuah tayangan berita televisi yang
memperlihatkan tindakan aparat ketertiban kota yang meringkus paksa
seorang nenek yang hanya ingin mengamankan surat-surat penting
miliknya yang masih ada di rumah yang akan segera dihancurkan oleh
pria-pria berseragam itu. Berbeda dengan "Passion of Christ" yang
pro-kontranya demikian hingar-bingar itu, beberapa menit tayangan
peringkusan paksa nenek tua di Bandung tersebut hanya merupakan
berita lalu dan bisa jadi hanya akan ditayangkan sekali itu saja
untuk kemudian segera dilupakan.
Nenek itu tentu tidak sendirian. Jutaan bahkan miliaran orang di
dunia ini, baik secara langsung atau tak langsung, fisik atau
nonfisik serta dalam berbagai bentuk dan kuantitas juga mengalami
kekerasan dalam hidupnya. Mulai dari peristiwa-peristiwa besar
seperti serangan teroris terhadap gedung WTC, bom Bali, atau London,
dan korban-korban kekejian lainnya di berbagai belahan dunia. Semua
itu adalah bukti tak terbantahkan. Jangan lupakan pula negeri kita
sendiri, Indonesia, yang sejak berabad-abad telah menjadikan
pembantaian dan kekerasan sebagai makanan sehari-hari. Beberapa dari
kitapun mungkin pernah mengalaminya sendiri tanpa perlu berada di
daerah-daerah seperti Aceh, Ambon, Poso, Papua, Sampit, Buru atau
melihat penjarahan dan pemerkosaan di bulan Mei 1998, menjadi
sasaran penculikan militer maupun menjadi korban pembantaian bersama
jutaan orang lainnya demi melancarkan jalan kelahiran sebuah rezim
militeristik yang korup. Tindakan main hakim sendiri untuk penjahat
(atau yang disangka sebagai penjahat) yang tertangkap, tawuran anak
sekolah, kekerasan terhadap anak atau wanita, kekerasan majikan
terhadap pekerja, sampai yang `sekadar` spanduk ancaman di
perempatan jalan atau tayangan `pendidikan` tentang kehidupan hewan
liar yang saling memangsa, maupun film-film kartun atau kisah para
superhero yang saling membalas dendam dan ditonton anak-anak kita,
semuanya adalah kekerasan, namun semua seakan sudah menjadi hal
biasa. Kekerasan sepertinya telah menjadi satu hal tak terpisahkan
dari budaya dan peradaban manusia yang mengklaim diri telah maju
ini.
Di tengah semua ini, kita merayakan momen Paskah dengan persembahan
teatrikal berisi penderitaan Yesus dalam menebus dosa kita di kayu
salib. Sementara banyak khotbah atau renungan yang dibawakan pada
masa-masa tersebut yang seringkali diusahakan untuk bisa
menggambarkan sedetail mungkin tentang bagaimana cambuk, paku, atau
mahkota duri itu melukai, merusak, dan menyakiti-Nya. Semua
dilakukan guna membangkitkan emosi jemaat yang tak jarang sampai
menangis tersedu-sedu. Dan memang itulah kenyataannya, Yesus tidak
mati lewat hukuman pancung, hukuman gantung, atau diumpankan ke
binatang buas. Dia juga tidak mati `mudah` di tangan regu tembak,
kursi listrik, atau suntikan mati. Pendek kata, penderitaan dan
proses bayar harga yang dijalani Kristus tentu harus tetap kita
refleksikan senantiasa, namun di satu sisi dengan momen Paskah yang
tentu akan segera berlalu, apakah perasaan terhadap derita dan
sengsara Kristus bisa selalu kita hayati di dunia yang penuh
kekerasan ini?
Jawaban atas pertanyaan itu sebenarnya ada di peristiwa Paskah itu
sendiri. Paskah bukanlah sebuah peringatan kematian seseorang yang
dianggap sebagai Tuhan. Sebaliknya, Paskah adalah peristiwa puncak
di mana Yesus menyatakan keilahian-Nya ketika Ia mengalahkan maut,
yang secara otomatis juga menggenapi janji dan penebusan-Nya. Di
sini tentu akan lebih tepat jika kita mulai meletakkan penghayatan
akan derita Kristus sebagai sebuah teladan untuk hidup dengan berani
berkorban dan ditempa dalam proses yang tidak selalu nyaman. Saya
rasa inilah yang lebih penting ketimbang hanya `menjual` gambaran
penderitaan Tuhan kita atau sekadar untuk membangkitkan perasaan dan
emosi.
Paskah adalah simbol pengharapan yang sangat jelas dan menjadi ciri
khas kekristenan. Jika sekarang kita menyadari betapa besar ancaman
hancurnya kehidupan dan jalinan hubungan antarmanusia di sekitar
kita akibat berbagai kekerasan di atas, betapa tepat jika optimisme
Paskah ini dapat selalu kita bawa dan bagikan pada orang lain untuk
bergandeng tangan dalam kasih-Nya mengubah kondisi yang ada.
Selamat Paskah!
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku" (Matius 25:40).
Tulisan diambil dari CWC (Christian Writers` Club):
Penulis : Marco
Alamat URL : http://www.ylsa.org/cwc/modules.php?op=modload
&name=News&file=article&sid=225&mode=thread&
order=0&thold=0
<>------------------------------------------------------------------<>
= STOP PRESS =
BARU! SITUS PELITAKU
====================
Dalam rangka mendukung pelayanannya dalam pengembangan dunia tulis
menulis Kristen. Setelah terlebih dulu meluncurkan situs komunitas
CWC (Christian Writers` Club) dan publikasi e-Penulis, Puji Tuhan!
kali ini dengan gembira kami mengumumkan bahwa Yayasan Lembaga SABDA
kembali meluncurkan sebuah situs baru yang diberi nama Situs
PELITAKU (singkatan dari: Penulis Literatur Kristen dan Umum). Situs
PELITAKU khusus dirancang untuk para penulis Kristen, baik mereka
yang masih menjadi pemula ataupun yang sudah berpengalaman. Di
dalamnya Anda akan menemukan berbagai bahan artikel, panduan, dan
kisah-kisah yang berkaitan dengan dunia penulisan. Tujuan
dibangunnya situs ini adalah untuk mendukung pelayanan bagi penulis-
penulis Kristen agar mereka dibekali dengan bahan-bahan yang cukup
sehingga dapat berkarya bagi kemuliaan Tuhan. Nah, bagi Anda yang
memiliki minat untuk mengembangkan karir dalam dunia penulisan
Kristen ataupun yang masih sekadar ingin belajar menulis, segeralah
berkunjung ke Situs PELITAKU di:
==> http://www.sabda.org/pelitaku/
<>------------------------------------------------------------------<>
Staf Redaksi : Ary, Puji, dan Endah
Berlangganan : Kirim email ke <subscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Berhenti : Kirim email ke <unsubscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Kirim bahan : Kirim email ke <staf-penulis(at)sabda.org>
Arsip e-Penulis: http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs CWC : http://www.ylsa.org/cwc/
<>------------------------------------------------------------------<>
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Penulis 2006
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
<><-------------------------------oo-------------------------------><>
|