Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/115

e-Konsel edisi 115 (4-7-2006)

Makna Kehadiran Anak

 
                     Edisi (115) -- 04 Juli 2006

                               e-KONSEL
======================================================================
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
======================================================================

Daftar Isi:
  = Pengantar             : Menyikapi Keberadaan Anak
  = Cakrawala             : Menantikan Kelahiran Anak
  = Tips                  : Jika Tidak Mempunyai Anak
  = Tanya Jawab Konseling : Makna Kehadiran Anak
  = Surat Anda            : Permohonan Bantuan Pelayanan


                ========== PENGANTAR REDAKSI ==========

  Hampir setiap pasangan suami istri selalu mendambakan kehadiran anak
  dalam rumah tangga mereka. Namun, bagaimana jika setelah bertahun-
  tahun menanti, Tuhan belum juga mengaruniakan seorang anak pun
  kepada mereka? Bagaimana pula dengan pasangan suami istri yang
  "terpaksa" harus menerima kehadiran buah hati mereka di saat mereka
  belum siap?

  Keadaan di atas terlihat sangat kontras, namun keadaan seperti
  itulah yang terjadi. Ada yang sangat menginginkan dan mendambakan
  buah hati, namun tidak mendapatkannya. Di sisi lain ada yang
  memiliki buah hati, namun sesungguhnya tidak mengharapkan
  kehadirannya.

  Edisi yang kami suguhkan berikut ini sedikit banyak akan mengajak
  pembaca untuk melihat apakah makna kehadiran seorang anak dalam
  kehidupan rumah tangga. Silakan disimak dan kiranya menjadi berkat.

  Redaksi e-Konsel,
  Ratri

                   ========== CAKRAWALA ==========

                       MENANTIKAN KELAHIRAN ANAK

  "Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang
  membuat aku aman pada dada ibuku. Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku
  lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku." (Mazmur
  22:10-11)

  Rasanya baru kemarin ketiga anak kami lahir; segalanya masih tampak
  begitu jelas di benak saya. Kenyataannya, sudah lebih dari sebelas
  tahun yang lalu anak kami yang bungsu dilahirkan. Ada kalanya
  kehadiran anak menimbulkan kecemasan dan ketegangan pada hubungan
  pernikahan itu sendiri. Saya bisa memaklumi hal itu. Kita bersekolah
  untuk menjadi insinyur dan dokter, namun tidak ada sekolah yang
  mempersiapkan kita untuk menjadi ayah dan ibu. Melalui artikel ini
  saya ingin membagikan satu masukan yang berkaitan dengan pengaruh
  kelahiran anak pada hubungan pernikahan.

  Pada prinsipnya, pertanyaan yang terpenting mengenai kelahiran anak
  bukanlah "apakah direncanakan?" melainkan "apakah dinanti-nantikan?"
  Sudah tentu perencanaan adalah tindakan yang baik sebab perencanaan
  menandakan persiapan yang matang. Namun pada akhirnya, saya melihat
  bahwa perencanaan manusia acap kali meleset. Ada yang sudah
  merencanakan untuk mempunyai anak, namun tidak memperolehnya;
  sebaliknya, ada yang belum merencanakan, namun mendapatkannya. Waktu
  Tuhan bukanlah waktu manusia. Oleh sebab itu, apa pun kondisinya,
  yang lebih penting adalah sewaktu Tuhan memberikan anak kepada kita,
  apakah kita bersikap menyambut atau menolaknya?

  Anak yang dinanti-nantikan akan disambut dengan sukacita dan penuh
  pengucapan syukur; sebaliknya, anak yang tidak dinantikan, akan
  ditatap dengan dingin dan penuh penyesalan. Relasi suami-istri
  cenderung menguat dan bertambah intim tatkala mereka mempunyai sikap
  menanti-nantikan kelahiran anak dengan penuh pengucapan syukur.
  Sebaliknya, relasi suami-istri cenderung memburuk bila mereka
  memelihara sikap tidak menanti-nantikan anak. Tidak jarang
  penyesalan akan kelahiran anak akhirnya dapat berbuntut penyesalan
  terhadap pasangan sendiri.

  Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan orang tua menolak
  kehadiran anak. Misalnya, ketidaksiapan finansial atau emosional
  (alias belum siap jadi orang tua), sudah tidak ingin mempunyai anak
  lagi, hubungan suami-istri yang sedang tidak harmonis, atau kondisi
  tertentu pada anak yang membuat orang tua tidak menyukai anak itu,
  seperti penampilan fisik yang tidak sesuai harapan. Semua penyebab
  ini bermuara pada satu sikap, yakni tidak menyambut anak dengan
  pengucapan syukur. Kelahiran anak tidak lagi dipandang sebagai karya
  cipta Tuhan; sebaliknya, kelahiran anak dilihat sebagai suatu
  kesalahan yang malah menambahkan beban dalam hidup.

  Salah satu sifat dasar manusia yang telah kita bawa sejak Adam ialah
  kecenderungan menyalahkan orang lain. Kelahiran anak yang tidak
  dinantikan sering kali memunculkan sifat dasar ini. Kita belum bisa
  menyalahkan anak yang masih terlalu kecil, jadi sebagai gantinya
  kita melirik orang di sebelah kita, suami atau istri kita, dan
  menyalahkannya sebagai penyebab kemalangan ini. Mungkin kita berkata
  bahwa istri kitalah yang telah memanipulasi kita untuk mempunyai
  anak, atau sebaliknya istrilah yang menuduh suami telah berbuat
  curang. Kelahiran anak yang tidak dinantikan akhirnya melahirkan
  masalah tambahan pada suami-istri. Anak yang dilahirkan tidak akan
  mendapati dunia yang hangat dan orang tua yang penuh senyum;
  sebaliknya, ia akan menemui dunia yang dingin dan orang tua yang
  mengernyitkan dahi, bukannya tawa-canda melainkan caci-maki yang
  akan didengarnya.

  Apa yang harus kita lakukan apabila kita memang tidak siap untuk
  menyambut kelahiran anak? Firman Tuhan yang tertera di atas
  memberikan kita beberapa butir pelajaran yang dapat kita gunakan
  sebagai panduan. Pertama, ingatlah bahwa seperti menanam pohon,
  meski kita yang menabur, sesungguhnya Tuhanlah yang menumbuhkan.
  Tuhanlah yang menciptakan sebatang pohon dari sebuah benih, demikian
  juga Tuhanlah yang menciptakan seorang anak dari perpaduan suami dan
  istri. Tuhanlah yang "menenun aku dalam kandungan ibuku" (Mazmur
  139:13b) dan Tuhanlah yang "mengeluarkan aku dari kandungan". Dengan
  kata lain, aku ada karena Tuhan menghendaki keberadaanku. Inilah
  prinsip kelahiran manusia yang hakiki.

  Berikutnya, karena Tuhanlah yang menenun dan mengeluarkan anak dari
  kandungan, kita pun harus menyambutnya dengan ketenteraman. Firman
  Tuhan mengingatkan, "Engkau membuat aku aman pada dada ibuku." Dada
  yang aman hanya dapat lahir dari hati yang aman; sebaliknya, hati
  yang penuh penyesalan tidak akan sanggup menyediakan dada yang
  tenang. Tuhan memakai orang tua untuk mengalaskan anak dengan dada
  yang penuh dengan kedamaian.

  Ketenteraman tidak selalu muncul dari situasi yang sempurna atau
  yang mendukung. Saya menyadari banyaknya pasangan yang sedang
  digelayuti oleh sejumlah masalah yang tidak habis-habisnya dan bagi
  mereka, kelahiran anak benar-benar tidak pas waktunya. Mereka
  mungkin bertanya, bagaimanakah kami sanggup menyediakan dada yang
  aman kepada anak kami sementara hati kami sendiri sedang carut-
  marut. Jawaban saya ialah, fokuskan mata kita hanya pada dua obyek:
  Tuhan dan anak itu. Pisahkan anak itu dari problem kita dan
  curahkanlah kedamaian ke dalam sanubarinya. Berkati anak itu dengan
  kasih dan bersyukurlah senantiasa bahwa Tuhan telah memercayakan
  anak itu kepada kita. Anak itu lahir dalam rencana Tuhan bukan di
  luar rencana Tuhan dan kita adalah bagian terkait dari rencana Tuhan
  itu. Jika Ia yang memberikan, Ia pun akan mengaruniakan kekuatan
  kepada kita untuk membesarkannya.

  Masa depan bukan berada dalam genggaman tangan pasangan kita atau
  tangan kita sendiri maupun kondisi ekonomi kita; masa depan anak itu
  ada di dalam tangan Tuhan yang penuh kuasa dan kasih. Mujizat kadang
  terjadi sewaktu dua pasang mata dari suami-istri memandang ke arah
  Tuhan dan anak itu. Perlahan-lahan kebencian dan panasnya amarah
  mulai meleleh digantikan dengan butiran air mata pengucapan syukur
  dan kedekatan. Tidak jarang Tuhan justru memakai kehadiran si bayi
  mungil itu untuk merajut cabikan besar yang terjadi pada hubungan
  antara suami dan istri.

  Terakhir, apa pun kondisi yang mendahului kelahiran anak sejak awal
  kehamilan, serahkan anak itu kepada Tuhan dan berdoalah baginya agar
  Tuhan Yesus menjadi Tuhan Allahnya pula. "Kepada-Mu aku diserahkan
  sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku."
  Saya percaya, orang tua yang berdoa bagi anaknya sejak dalam
  kandungan akan memetik buah doanya suatu hari kelak. Tuhan
  mendengarkan doa yang kita panjatkan untuk anak kita. Lebih lanjut,
  kedua hati orang tua yang berdoa bersama untuk anak yang dalam
  kandungan akan bertaut pada hadirat Tuhan sendiri. Pada akhirnya,
  kita pun akan menerima berkat kebersamaan dan keintiman dalam doa-
  doa bersama itu. Sekeras apa pun hati kita, tatkala berdoa bersama
  niscaya akan mulai melunak. Kita pun akan mendapatkan kedamaian  dan
  iman sewaktu berdoa bersama.

  Kelahiran anak berpotensi membawa persatuan dan perpecahan pada
  pernikahan kita. Apa pun kondisi kita, masih ada sesuatu yang dapat
  kita lakukan: memilih sikap yang tepat. Ternyata sikap yang tepat
  adalah sikap yang menanti-nantikan si anak sebagai berkat dari Tuhan
  untuk kita.

  Sumber diambil dan diedit dari:
  Buletin Eunike yang ditampilkan di Situs TELAGA
  http://www.telaga.org/artikel.php?menantikan_kelahiran_anak.htm
  Penulis: Pdt. Dr. Paul Gunadi Ph.D


                      ========== TIPS ==========

                      JIKA TIDAK MEMPUNYAI ANAK

  Salah satu alasan yang paling sering disebut oleh banyak orang
  mengenai mengapa seseorang harus (atau sebaiknya) menikah adalah
  untuk meneruskan keturunan mereka. Merupakan satu kebanggaan
  tersendiri bagi seorang suami bila ia dapat memiliki seorang anak.
  Demikian pula dengan seorang isteri jika dia dapat memberikan
  seorang anak kepada suaminya. Tetapi, jika hal itu masih belum juga
  terwujud di dalam pernikahan, bagaimana sikap para suami isteri
  dalam menghadapi realita itu?

  Siang itu, saya sedang berbincang dengan seorang hamba Tuhan. Ketika
  beliau tahu bahwa belum ada seorang anak pun pada usia pernikahan
  kami yang telah memasuki tahun kelima, beliau bertanya kepada saya,
  "Apakah tidak ada masalah yang terjadi?" (Maksudnya, apakah dengan
  tidak mempunyai anak, maka hubungan pernikahan kami baik-baik saja).
  Mendengar pertanyaan itu, saya menjawab, "Oh, tidak! Sebab, kami
  telah membicarakan hal itu sebelum kami menikah. Tetapi bukan
  berarti kami tidak merindukan seorang anak. Kami belajar memahami,
  jika sampai hari ini kami masih belum diberikan seorang anak, pasti
  ada maksud Allah di balik semua ini. Termasuk apabila Allah memang
  menghendaki kami untuk tidak memiliki seorang anak." Mendengar
  jawaban saya, beliau tampak lega sekali. Katanya, "Puji Tuhan, kalau
  kamu memiliki pemikiran seperti itu. Sebab tidak semua pasangan
  suami isteri dapat menerima kenyataan bahwa mereka tidak dapat
  mempunyai anak."

  Sebenarnya, saya telah berulang kali mendengar pertanyaan-pertanyaan
  yang senada (lengkap dengan nasihatnya) dari beberapa orang. Saya
  juga dengar pernyataan-pernyataan bernada sindiran (yang kadang-
  kadang terasa menyakitkan), mengapa saya dan isteri saya masih belum
  juga mempunyai seorang anak sampai saat ini. Tetapi, kami - saya dan
  isteri saya - sungguh bersyukur. Jauh sebelumnya kami telah
  mempersiapkan diri terhadap realita ini dan juga terhadap pertanyaan
  dan sindiran dari orang-orang di sekitar kami. Sebab itu, hati kami
  tidak pernah sampai terganggu oleh semuanya itu. Saya tahu semua
  itu terjadi karena pekerjaan Roh Allah yang menopang hidup kami
  berdua selama ini.

  Apakah ini berarti bahwa kami tidak lagi menginginkan anak di dalam
  pernikahan kami? Atau kami telah pasrah dengan keadaan ini dan tidak
  lagi melakukan satu usaha pun untuk memperoleh seorang anak? Atau,
  kami tidak lagi memiliki pengharapan kepada Tuhan agar Ia memberikan
  seorang anak kepada kami? Tentu saja tidak! Kami masih tetap
  merindukan seorang anak dan kami akan tetap terus berharap dan
  berusaha. Tetapi, kami tidak mau terobsesi oleh keinginan ini agar
  hal ini jangan mengganggu hubungan kami serta bertindak menurut
  pengertian kami sendiri dan tidak lagi bersandar kepada Tuhan.
  Sebaliknya, kami belajar menyerahkan keinginan kami kepada Tuhan
  sebagai Penguasa atas kehidupan kami, serta memahami bahwa Ia
  mengetahui akan rancangan-rancangan yang ada pada-Nya mengenai
  pernikahan kami.

  Ada beberapa aspek pemahaman yang ingin kami bagikan kepada para
  pasangan suami isteri perihal mengapa kami tidak kebingungan sama
  sekali ketika Tuhan masih belum juga menganugerahi kami seorang anak
  pun sampai dengan hari ini.

  Pertama, Tuhan mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Nya
  mengenai pernikahan kita, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan
  rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11). Kesadaran bahwa Allah turut
  bekerja dalam segala sesuatu, termasuk di dalam pernikahan kita akan
  memberikan satu pemahaman penting. Apabila sampai hari ini kita
  masih belum (atau tidak) mempunyai anak, hal itu sepenuhnya berada
  di dalam pengaturan kedaulatan Allah (Roma 8:28). Kita boleh merasa
  aman sebab kita tahu rancangan Allah atas penikahan kita adalah
  rancangan damai sejahtera, yaitu untuk mendatangkan kebaikan bagi
  kita dan bukan rancangan kecelakaan. Sebab itu, jangan memiliki
  pemikiran yang suram, ketika kita menghadapi kenyataan ini. Realita
  ini tidak membuat dunia pernikahan kita kiamat karena di balik semua
  itu ada maksud Allah, untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

  Kedua, Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, tetapi
  manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan-Nya dari awal
  sampai akhir (Pengkhotbah 3:11). Kesadaran ini memberikan satu
  pemahaman penting bahwa belum (atau tidak) punya anak bukan berarti
  pertanda buruk bagi pernikahan kita. Memang secara manusia, kita
  tidak dapat memahami pekerjaan yang akan dilakukan Allah dari awal
  sampai akhir. Tetapi satu hal yang kita tahu pasti. Allah akan
  membuat realita yang tampaknya buruk ini menjadi indah pada
  waktunya.

  Ketiga, Tuhan membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing
  (Amsal 16:4). Apabila sampai dengan hari ini masih belum (atau
  tidak) mempunyai anak, hal itu bukan terjadi tanpa satu tujuan
  tertentu dan yang tidak penting. Karena itu, kita boleh merasa yakin
  sekarang bahwa realita `masih belum (tidak) mempunyai anak` yang
  (mungkin) sedang kita alami saat ini tidak terjadi dengan sia-sia,
  tetapi ada satu tujuan Allah yang tertentu bagi kepentingan Allah
  dan pernikahan kita sendiri.

  Keempat, bahwa menjadikan pernikahan hanya sebagai sarana penerus
  keturunan merupakan satu pemikiran yang sempit. Tujuan utama Allah
  dengan mempersatukan kita - para suami isteri - di dalam pernikahan
  (Kejadian 2:18) dan menganugerahkan anak-anak kepada kita (Kejadian
  1:28) adalah supaya kita menggenapi rencana-Nya secara maksimal di
  dalam hidup kita. Jadi sebenarnya, punya anak atau tidak bukan
  persoalan yang hakiki dari sebuah pernikahan. Perkara yang utama di
  hadapan Allah adalah bagaimana pernikahan kita boleh memuliakan-Nya.
  Sebab itu, pemikiran bahwa pernikahan hanya sebagai sarana penerus
  keturunan merupakan pemikiran yang sempit dan merendahkan makna
  sesungguhnya dari tujuan pernikahan itu sendiri.

  Kelima, jangan pernah berhenti berharap kepada Tuhan supaya Ia boleh
  menganugerahi anak dalam pernikahan kita. Bila sampai hari ini kita
  belum (atau tidak) mempunyai anak, bukan berarti kita berhenti
  berharap kepada Allah dan berusaha sesuai dengan prinsip firman
  Allah. Tetapi sebaliknya, kita harus tetap memiliki pengharapan
  kepada Allah dan melakukan apa yang harus kita lakukan.

  Akhirnya, jangan bersungut-sungut apabila sampai hari ini kita
  masih belum (atau tidak) mempunyai anak. Tetapi naikkanlah syukur
  kepada Tuhan! Pada satu sisi, kita perlu belajar untuk menyerah di
  dalam kedaulatan kehendak-Nya, tetapi pada sisi yang lain kita
  harus tetap berharap kepada-Nya sampai Ia memberikan apa yang
  menjadi keinginan kita. Tuhan memberkati!

  Sumber diambil dan diedit dari:
  Milis Ayah Bunda yang ditampilkan di Situs C3I
  Sumber: Rosaline F.
  http://www.sabda.org/c3i/artikel/isi/?id=22&mulai=165


              ========== TANYA JAWAB KONSELING ==========

                          MAKNA KEHADIRAN ANAK

  Dialog: Hermanto dan Solaiman
------
  T : Sebenarnya apa makna kehadiran anak dalam perkawinan?

  J : Dalam sebuah rumah tangga, sejak awal sejarah manusia sampai
      sekarang, kehadiran anak adalah berkat istimewa. Kehadiran anak-
      anak dalam keluarga merupakan sarana pelengkap kepribadian ayah
      dan ibu (suami-istri) dalam unit keluarga mereka. Jadi, tidak
      perlu heran kalau rumah tangga yang tidak (belum) mempunyai anak
      terasa agak sepi.
------
  T : Kalau zaman Adam dan Hawa dulu memang relevan karena manusia
      lain saat itu belum ada, yang ada di sekeliling mereka adalah
      berbagai jenis hewan. Akan tetapi zaman kita ini rasanya suami
      istri yang tidak mempunyai anak pun tidak dapat dikatakan
      kesepian. Bagaimana sebenarnya?

  J : Dalam unit keluarga tetap saja merasa kesepian sebab jumlah
      penduduk di bumi ini tidak dapat menggantikan kehadiran anak
      dalam keluarga. Kembali pada sejarah manusia di Taman Eden,
      Kitab Suci memberitahu kita bahwa Allah telah memberikan Hawa
      kepada Adam sebagai teman yang sejodoh (sepadan). Mereka hidup
      bersama dalam wadah pernikahan yang suci sehingga dapat
      berkembang biak. Jadi, kalau dikatakan bahwa anak merupakan
      berkat istimewa, itu memang sesuai dengan apa yang dikatakan
      Alkitab di Kejadian 1:28, "Allah memberkati mereka, lalu Allah
      berfirman kepada mereka: Beranak cuculah dan bertambah banyak;
      penuhilah bumi dan taklukkan itu, berkuasalah atas ikan-ikan di
      laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang
      merayap di bumi." Jelaslah bahwa Allah memberkati perkawinan
      sepasang manusia pertama di Taman Eden, dan kemudian
      memerintahkan mereka agar berkembang biak untuk memenuhi bumi.
      Keturunan itu bagian dari berkat Allah.
------
  T : Tugas dan kewajiban mulia bagi orang tua dalam keluarga ialah
      mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sifat atau sikap apa yang
      diperlukan untuk menjalankan kewajiban tersebut?

  J : Dibutuhkan sifat seperti kasih sayang, kesabaran, ketabahan
      menanggung sesuatu, belas kasihan, dan pengertian yang mendalam.
      Hal ini memerlukan proses serta latihan yang mungkin sampai
      beberapa tahun, sampai dapat menghaluskan dan meninggikan
      martabat hidup ibu dan ayah, sekaligus mengikis sifat-sifat yang
      tidak baik yang sudah ada sebelum mereka menikah atau sebelum
      keduanya punya anak.
------
  T : Melalui proses waktu yang lama semacam itu, apakah ada contoh
      dari Alkitab?

  J : Dalam Alkitab ada banyak. Satu contoh, Henokh yang tercantum
      dalam kitab Kejadian pasal 5. Ketika anak pertama lahir, ia
      memperoleh pengalaman yang lebih agung. Ia mengalami hubungan
      yang manis dan agung dengan anaknya. Bahkan ia menyadari
      bagaimana menjalankan tanggung jawab selaku anak-anak Allah.
      Ketika Henokh menyaksikan cinta dan kasih anak-anaknya kepada
      dia sebagai ayah, Henokh memperoleh suatu pelajaran yang sangat
      indah tentang kasih dan cinta Allah kepada manusia. Ia hidup
      bergaul dengan Allah dan akhirnya diangkat ke surga tanpa pernah
      mengalami kematian secara jasmani.
------
  T : Bukan hanya di kalangan Kristen saja, kita sering mendengar
      bahwa anak-anak itu adalah "titipan Tuhan", apa maksud ungkapan
      itu?

  J : Intinya ialah anak (berapa pun jumlahnya) adalah karunia Tuhan
      kepada pasutri yang bersatu dalam wadah perkawinan. Tuhan
      menitipkan anak kepada kita selaku orang tua, namun anak itu
      sendiri adalah milik Tuhan. Sebab Dialah yang menciptakan kita
      manusia, termasuk anak-anak kita. Jika kita menyadari bahwa anak
      adalah milik Allah dan berasal dari Dia yang dititipkan dalam
      rumah tangga kita (bagi yang punya anak), tanggung jawab kita
      juga berat. Pasangan yang tidak mempunyai anak, dilihat dari
      sisi tanggung jawab, sebenarnya tidak seberat pasangan yang
      memiliki anak.
------
  T : Kalau begitu dapat diartikan bahwa tanggung jawab kita selaku
      ibu dan ayah untuk mendidik anak-anak kita adalah amanat
      langsung dari Allah yang menitipkan anak-anak kepada kita?

  J : Ya, memang betul. Merawat dan mendidik anak harus dianggap
      sebagai suatu kewajiban serta tanggung jawab yang mulia dan
      agung. Sebagai orang tua, hendaknya kita menerima kedudukan
      kita sebagai suatu panggilan suci. Allah sangat mengasihi
      manusia, termasuk anak-anak. Oleh sebab itu, Ia mengimbau kepada
      para orang tua (yang mempunyai anak khususnya), untuk bekerja
      sama dengan Dia membentuk karakter dalam pribadi anak-anak kita.
------
  T : Mengapa tanggung jawab orang tua mengasuh, membesarkan, dan
      mendidik anak-anak itu harus diterima sebagai suatu panggilan?

  J : Perlu kita sadari bahwa anak-anak sekarang adalah orang dewasa
      di masa depan. Mereka adalah harapan bangsa pada masa mendatang.
      Selaku orang tua kita harus mengasuh mereka dengan benar.
      Berikan kepada mereka peraturan dan disiplin yang dipadukan
      dengan cinta dan kasih sayang yang mendalam, penuh pengertian,
      dan dilakukan dengan sabar. Dengan demikian, anak-anak kita
      sejak kecil sampai dewasa nanti hidup dalam jalan Tuhan dan
      berguna bagi sesama manusia. Seorang raja Yahudi yang bijaksana
      berkata bahwa anak-anak itu harus diajar sejak dini. Agar jelas,
      silakan baca Amsal 22:6, "Didiklah orang muda menurut jalan yang
      patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan
      menyimpang daripada jalan itu." Dari semua pelajaran yang
      dipelajari anak-anak, ketaatan merupakan faktor yang paling
      utama. Ketika seorang ibu mendidik anaknya, hendaknya jangan
      lupa melatih cara hidup yang bersifat menyembah dan memuja
      Allah. Anak harus dilatih untuk beribadah kepada Allah sejak
      dini. Pekerjaan utama ibu ialah mengasuh anak. Mengasuh berarti
      bahwa seorang ibu harus mengendalikan kemauan dan tingkah laku
      anak, dengan tujuan utama agar anak menjadi manusia yang taat.
      Pengasuhan itu harus dilakukan dengan sikap tenang dan sabar.
      Jika kita selaku orang tua memerintah dengan kasar, anak-anak
      mungkin saja kelihatan taat, namun ketaatan seperti itu karena
      ketakutan atau keterpaksaan, bukan taat karena sukarela. Cara
      seperti itu bukanlah arahan yang benar. Sebagai orang tua, kita
      harus tetap menjaga nada dan irama suara agar terdengar lembut
      pada saat menyuruh anak mengerjakan sesuatu. Dengan demikian
      kita sebenarnya mencegah anak dari sikap yang kasar, setelah
      dewasa pun anak tidak bersikap melawan dan memberontak.
------
  T : Bagaimana dengan pasangan yang tidak dikaruniai anak, apa yang
      sebaiknya dilakukan pasangan itu?

  J : Selaku pasangan yang tidak punya anak, kita pun perlu
      mensyukurinya sebab di balik itu pasti ada maksud terbaik Tuhan
      bagi rumah tangga kita. Walaupun tidak punya anak, namun
      keduanya terpanggil untuk mengasuh, membesarkan, dan mendidik
      anak, kerinduan itu tidak terlalu sulit untuk diwujudkan, yaitu
      dengan cara mengadopsi anak. Mungkin hal ini merupakan bagian
      dari rencana Tuhan untuk mengangkat anak yang orang tuanya
      kurang mampu secara ekonomi misalnya, sehingga tanggung jawab
      dan biaya pendidikan formal dapat diambil alih oleh pasangan
      yang menjadi orang tua angkat itu. Cara itu pun termasuk
      panggilan pelayanan. Perlu diingat, sebelum mengambil keputusan
      untuk menjadi orang tua yang mengadopsi anak, suami dan istri
      harus kompak dan memiliki misi yang sama, yaitu siap berkorban
      dalam mengemban tanggung jawab sebagai orang tua angkat yang
      terpanggil.

  Sumber diedit dari:
  Judul majalah: Kalam Hidup, Edisi Nopember 2003
  Penerbit     : Kalam Hidup, Bandung
  Halaman      : 12 - 19


                   ========== SURAT ANDA ==========

  Dari: Steffen <steffen(at)>

  >Salam Sejahtera dalam Kasih Tuhan Yesus.
  >Bagaimana kabarnya Crew Sabda semua, semoga baik dan sejahtera.
  >Saya tetap mendukung dalam doa.
  ------- cut -------
  >Saya senang dengan artikel-artikel yang dimuat oleh situs Sabda
  >dan C3I. Lewat artikel yang ada, maka telah dicantumkan bahwa
  >jikalau ada yang menginginkan kaset Perjodohan atau transkip
  >lengkapnya, maka silahkan menghubungi lewat email TELAGA, Sabda.
  >Untuk itu, saya memhon agar Bapak, Ibu, Saudara-Saudari sudi
  >berkenan memberikan kepada saya kaset-kaset tentang Remaja dan
  >Pemuda. Semuanya ini bertujuan untuk pelayanan kita bersama bagi
  >kaum muda agar mereka semakin banyak bertumbuh dalam Tuhan dan
  >dapat percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru selamat. Atas bantuan
  >dan perhatiannya, saya mengucapkan terima kasih. Tuhan berkati
  >Teriring Kasih Dan Doa

  Redaksi:
  Puji Tuhan atas surat dan dukungan doa Anda. Tuhan masih memberi
  kami kekuatan untuk terus melayani Dia melalui situs-situs dan
  artikel-artikel yang dimuat. Mengucap syukur juga karena situs kami
  dan artikel-artikel yang kami muat di dalamnya dapat menjadi berkat
  bagi Anda, terlebih lagi dapat membantu pelayanan Anda. Untuk
  mendapatkan kaset-kaset TELAGA, silakan memesannya terlebih dulu
  melalui Situs TELAGA di:

  http://www.telaga.org

  Silakan Anda klik menu Pesan Kaset/CD dan masukkan daftar diri Anda
  di kolom yang sudah disediakan. Setelah itu klik OK dan daftar diri
  Anda sudah masuk ke daftar pemesan kaset TELAGA.

  Anda juga bisa memesannya secara langsung ke:

  Jl. Cimanuk 58 Malang 65122
  Telp. (0341) 493645

  atau bisa juga melalui email dengan alamat:

  <pesan(at)telaga.org>

  Untuk saat ini kami hanya bisa mengirimkan transkripnya saja. Jika
  Anda menghendaki akan kami kirimkan secara terpisah. Sekian jawaban
  dari kami. Selamat melayani, Tuhan memberkati.


============================== e-KONSEL ==============================

                         STAF REDAKSI e-Konsel
                           Ratri, Evie, Raka
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2006 oleh YLSA
                      http://www.sabda.org/ylsa/
                       http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

======================================================================
Anda punya masalah/perlu konseling?        masalah-konsel(at)sabda.org
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat:               owner-i-kan-konsel(at)xc.org
  Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
  Berhenti    : unsubscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP       : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
  Situs C3I   : http://www.sabda.org/c3i/
======================================================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org