Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/102

e-Konsel edisi 102 (15-12-2005)

Beristirahat Sejenak


><>              Edisi (102) -- 15 Desember 2005                  <><

                               e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Daftar Isi:
    - Pengantar    : Mengapa Perlu Istirahat?
    - Renungan     : Marilah Beristirahat
    - Cakrawala (1): Bagaimanakah Saya Harus Memandang akan Hal
                     Bersantai dan Beristirahat?
                (2): Rekreasi Kristiani
    - Tips         : Liburan Natal
    - Surat        : Kirim e-Konsel ke Teman

*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*

                    -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

  Walaupun manusia tahu bahwa ia membutuhkan istirahat, namun ada
  orang-orang yang tidak terlalu mempedulikan waktu istirahat. Mereka
  menganggap pekerjaan begitu pentingnya sehingga melupakan aspek-
  aspek lain dalam hidup, dan akibatnya hidupnya tersita hanya untuk
  bekerja. Tapi, dilain pihak ada juga kelompok orang yang berpendapat
  bahwa saat liburan adalah saat-saat untuk menikmati hasil kerja
  keras mereka semaksimal mungkin. Tujuan terpenting bekerja ialah
  untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin sehingga bisa dipakai untuk
  bersenang-senang dan menikmati hidup. Pekerjaan bagi mereka adalah
  harga yang harus dibayar untuk mendapatkan liburan yang
  menyenangkan.

  Kedua pandangan di atas memiliki kecenderungan untuk menganggap
  bahwa yang satu lebih penting daripada yang lain. Tapi, mana yang
  lebih benar? Inilah pertanyaan yang akan diulas dalam e-Konsel edisi
  ini. Di Kolom Renungan, kami ajak Anda untuk merenungkan pandangan
  dari beberapa tokoh-tokoh Alkitab mengenai waktu istirahat. Dua
  Artikel yang disajikan berikut ini juga kami harap dapat menuntun
  kita untuk melihat perspektif Allah tentang bekerja dan
  beristirahat. Dan tak lupa, untuk menyambut liburan Natal kali ini,
  kami akan menyelipkan tips, khususnya bagi orangtua agar dapat
  menjadikan liburan Natal kali ini menjadi liburan yang lebih
  menyenangkan bagi keluarga.

  Akhir kata, segenap staf Redaksi e-Konsel mengucapkan:

                "SELAMAT NATAL 2005 dan TAHUN BARU 2006"

                          TO GOD BE THE GLORY!

  In Christ,
  Staf Redaksi e-Konsel
  (Kris)

*RENUNGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*--*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* RENUNGAN*

                     -*- MARILAH BERISTIRAHAT -*-

  Bacaan : Lukas 9:1-10

  Menurut kisah yang diceritakan turun-temurun, ketika Rasul Yohanes
  menjadi mandor di Efesus, ia memiliki hobi menerbangkan merpati.
  Alkisah, seorang penatua melewati rumahnya ketika ia pulang dari
  berburu dan melihat Yohanes sedang bermain dengan salah satu burung
  merpatinya. Dengan lembut penatua ini menegurnya karena ia
  menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia.

  Kemudian Yohanes melihat busur pemburu itu dan mengatakan bahwa
  talinya kendur. "Ya," jawab penatua itu, "saya selalu mengendurkan
  tali busur saya ketika tidak digunakan. Jika tetap dibiarkan
  kencang, tali ini akan kehilangan daya pegasnya dan bisa
  menggagalkan perburuan saya."

  Yohanes menjawab, "Saya pun sekarang sedang mengendurkan busur
  pikiran saya supaya saya bisa lebih baik meluncurkan panah kebenaran
  Ilahi."

  Kita tidak bisa melakukan pekerjaan secara maksimal apabila syaraf
  kita tegang dan merasa lesu karena mengalami tekanan terus-menerus.
  Ketika murid-murid Yesus kembali dari misi pengajaran yang
  melelahkan, Tuhan tahu bahwa mereka butuh beristirahat. Maka Dia
  mengajak mereka bersama-Nya mencari tempat yang tenang di mana
  mereka bisa segar kembali (Markus 6:31).

  Hobi, liburan, dan rekreasi yang sehat adalah hal yang sangat vital
  untuk hidup kudus yang seimbang. Kita akan kehilangan efektivitas
  apabila terus-menerus mengusahakan disiplin ketat sehingga kita
  selalu tegang. Jika kita tampaknya tidak bisa santai, Yesus mungkin
  mengundang kita untuk beristirahat ke "tempat yang sunyi... dan
  beristirahat" - DJD

         JIKA ORANG KRISTIANI TIDAK BERHENTI DAN BERISTIRAHAT
                MUNGKIN MEREKA SEBENARNYA TELAH HANCUR!

 -*- Sumber: -*-
  Arsip Publikasi e-RH (Renungan Harian), Edisi 30 Oktober 2005
  ==>  http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2005/10/30/

*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

  (Artikel 1)

            -*- BAGAIMANAKAH SAYA HARUS MEMANDANG AKAN -*-
                   HAL BERSANTAI DAN BERISTIRAHAT?

  Kesibukan yang kronis dan kebosanan yang menghancurkan, kedua-duanya
  adalah tanda-tanda bahwa kita tidak mengenali perspektif Allah
  tentang bekerja dan beristirahat.

  Allah Memberi Kita Tujuan
  -------------------------
  Jika identitas Anda berakar pada hubungan Anda dengan Allah, maka
  Anda tidak akan mencoba membuat supaya pekerjaan mengisi kebutuhan
  Anda akan makna hidup. Kebosanan menguasai Anda apabila Anda merasa
  bahwa apa yang selama ini Anda kerjakan adalah sia-sia. Anda akan
  tenggelam di dalam kesibukan apabila Anda berusaha untuk membuat
  kehidupan Anda berarti karena Anda berpikir bahwa diri Anda baru
  berarti hanya ketika produktif.

  Allah Memberi Kita Istirahat
  ----------------------------
  Karena pekerjaan kita adalah pekerjaan Allah, dan karena Ia adalah
  yang pada akhirnya bertanggung jawab atas hasil-hasilnya, maka Ia
  juga memberi kita kebebasan untuk sesekali membiarkannya, untuk
  mempercayakannya kepada-Nya, supaya kita pun dapat menikmati
  istirahat dalam hidup ini. Orang yang merasa bersalah apabila ia
  bersantai, di dalam lubuk hatinya menyangka bahwa:
       (1) Allah tidak dapat atau tidak mau menyediakan kebutuhan-
           kebutuhannya; dan dengan demikian
       (2) Ia sendirilah yang harus menyediakan kebutuhan-kebutuhannya
           sendiri, terutama melalui pekerjaannya.
  Jalan keluar satu-satunya bagi orang semacam itu adalah bahwa dia
  berbalik dari pola pikir bekerja untuk diri sendiri (dalam kecemasan
  dan ketakutan) lalu mulai bekerja untuk Allah (dalam kepercayaan
  penuh dan sejahtera). Pada saat itulah, istirahat atau masa bebas
  dari bekerja - itu mulai berlangsung, apabila kita berhenti
  mengandalkan diri kepada pekerjaan dan mulai mempercayakan diri
  kepada Tuhan Yesus sebagai yang mencukupi berbagai kebutuhan kita
  (Matius 11:28-30).

  Di pihak lain, orang yang selalu berusaha dapat secepatnya melewati
  hari-hari kerjanya selama seminggu dan selalu mendambakan akhir
  minggu adalah orang yang merasa bahwa pekerjaannya itu tidak
  berharga, bahwa tujuan hidup yang terpenting dalam hidupnya ialah
  untuk menikmati senangnya bersantai. Orang ini perlu mengetahui
  bahwa pekerjaannya betul-betul mempunyai nilai ilahi. Ia juga perlu
  melihat bahwa Allah memberi kita istirahat dengan maksud menyegarkan
  kita supaya kita dapat menyelesaikan tujuan Allah dalam bekerja; Ia
  bukannya memberi kita pekerjaan dengan maksud agar kita dapat
  membiayai waktu santai kita (Keluaran 20:9-10). Rekreasi adalah
  untuk memulihkan kita kembali menjadi manusia seutuhnya secara
  fisik, mental, dan spiritual agar kita dapat melayani Allah dengan
  lebih baik.

  Allah memberikan Israel satu hari istirahat dari setiap tujuh hari.
  Ada orang-orang Kristen yang mengabaikan prinsip ini, dengan mengisi
  hari Sabtu dan Minggu dengan segala hal yang tidak sempat mereka
  lakukan selama hari-hari kerja yang berlalu. Yang lainnya menjadikan
  Sabat sebagai persyaratan legalistik, dengan mengisi hari Minggu
  dengan kegiatan-kegiatan gereja, karena mereka berpikir bahwa Allah
  menuntut satu dari tujuh hari itu yang berarti keterlibatan dengan
  gereja. Akan tetapi, dilihat dari sikap Perjanjian Baru terhadap
  hari Sabat, tampaknya satu hari dari tujuh hari itu diperuntukkan
  untuk kita beristirahat dari kegiatan membanting tulang dan untuk
  mengakui bahwa Tuhanlah yang telah memberikan kita pekerjaan, Ia
  adalah Penyedia yang paling pokok dari kebutuhan-kebutuhan kita.
  Masuk akallah kiranya kalau kita harus memakai waktu pada hari itu
  untuk merayakan dan menyembah Allah, sekaligus juga menikmati
  istirahat yang diberikan-Nya.

  Tumbuhkanlah Perhatian dan Komitmen di Luar Pekerjaan
  -----------------------------------------------------
  Tumbuhkanlah perhatian yang mengungkapkan aspek-aspek dari diri Anda
  yang tidak dapat keluar di dalam pekerjaan Anda. Semboyan "Pekerjaan
  saya adalah hobi saya" mencerminkan kehidupan yang sempit dari
  seseorang yang berusaha memperoleh makna dalam hidup dengan bekerja.
  Allah mempunyai tujuan bagi Anda, juga di dalam hubungan pribadi
  Anda dengan Dia, dalam hubungan keluarga, dalam tanggung jawab Anda
  terhadap masyarakat, dan dalam hubungan Anda dengan orang-orang yang
  bukan Kristen. Pakailah sebagian waktu itu untuk sungguh-sungguh
  berdoa dan memikirkan bagaimana memuliakan Allah di dalam kehidupan
  pribadi, dalam keluarga, gereja, masyarakat, dan pekerjaan yang Anda
  lakukan di dalam kehidupan ini. Tetapi jangan menjadi terlampau
  serius -- ambillah waktu untuk beristirahat dan bersukaria di dalam
  segala bidang tersebut.

  -*- Sumber: -*-
  Judul Buku   : Kompas Kehidupan Kristen
  Judul Artikel: Bagaimanakah Saya Harus Memandang akan Hal Bersantai
                 dan Beristirahat
  Pengarang    : K.C. Hinckley
  Penerbit     : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1989
  Halaman      : 235 - 237

*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

  (Artikel 2)

                      -*- REKREASI KRISTIANI  -*-

  Sebagaimana tersimpul dari asal katanya, rekreasi adalah rekreasi,
  yaitu sesuatu yang telah menjadi rusak dan perlu dipulihkan kepada
  keadaan semula -- menjadi sebuah tubuh yang sehat yang memiliki
  susunan yang seimbang, suatu kehidupan emosional yang stabil dan
  ekspresif. Rekreasi adalah satu cara, walaupun bukan satu-satunya
  cara, untuk memulihkan tubuh, pikiran, dan jiwa, sehingga
  mendatangkan kelegaan. Rekreasi juga merupakan satu dimensi dari
  kesenangan.

  Rekreasi sebagai Kesenangan yang Bermanfaat
  -------------------------------------------
  Kamus New Lexicon edisi tahun 1988 mendefinisikan rekreasi sebagai
  "aktivitas dan saat yang menyenangkan untuk penyegaran dan
  penghiburan". Sebagai kesenangan yang bermanfaat, rekreasi dapat
  muncul dalam banyak bentuk, biasanya dipilih untuk alasan-alasan
  pribadi atau tekanan sosial. Rekreasi dengan kewajiban seperti itu
  mengikutsertakan disiplin untuk perbaikan pribadi seperti membaca
  atau mengayuh sepeda, olahraga yang kompetitif seperti golf dan
  hoki, dan uji ketrampilan masa lalu seperti berlayar atau mendayung.
  Semuanya ini mungkin dilakukan dengan berbagai alasan: meningkatkan
  kinerja, kerinduan untuk mengungkapkan energi kompetitif di arena
  yang aman, kebutuhan untuk membuktikan kemampuan seseorang atau
  untuk mewakili sesuatu.

  Di dunia Barat hampir semua bentuk rekreasi dikemas secara
  profesional dan industri hiburan raksasa mempromosikan mode kostum
  yang tepat, perlengkapan yang memadai, dan latihan secara
  profesional. Seperti halnya kostum bermain ski yang ketat dan
  aerodinamis serta perlengkapan yang artistik sekarang telah menjadi
  satu kebutuhan tersendiri, karena selain unsur kesenangan dan segi
  olahraganya, unsur penampilan dalam kegiatan itu juga tak kalah
  pentingnya.

  Pilihan rekreasi tidak hanya dipengaruhi oleh situasi sosial dan
  kepribadian kita (saya cenderung untuk menghindari olahraga yang
  kompetitif dan saya lebih suka mendayung dan berjalan kaki), mereka
  juga dipengaruhi oleh situasi kehidupan. Kegiatan bertukang menjadi
  rekreasi bagi saya ketika saya melayani sebagai seorang pendeta.
  Ketika saya menjadi perintis gereja baru, saya hidup sebagai seorang
  tukang kayu, saya memperoleh kesegaran dengan membuat perabotan dari
  bahan dasar kayu. Ketika istri dan saya tinggal di daerah pinggiran
  di Afrika, kami sering berjalan-jalan di sore hari sebelum matahari
  terbenam. Tetangga kami selalu bertanya, "Mau pergi ke mana?" Ketika
  kami menjawab, "Hanya jalan-jalan", mereka memandang dengan rasa
  tidak percaya karena berjalan bagi mereka sama dengan pergi ke pasar
  dan bukan sebagai bagian dari rekreasi.

  Dari kejadian ini, adalah mudah untuk menyimpulkan bahwa orang yang
  hidup di daerah pinggiran atau di negara yang belum berkembang tidak
  membutuhkan rekreasi. Tetapi sebenarnya mereka membutuhkannya, dan
  mereka memilih apa yang cocok dengan kultur mereka: menghabiskan
  setengah harinya di desa pada hari pasar, minum-minum teh dengan
  teman-teman sambil ngobrol, dan anak-anak biasanya menemukan
  olahraga dan permainan mereka sendiri.

  Robert Bolles dalam The Three Boxes of Life menjelaskan adanya kurun
  waktu dalam kehidupan kita yang tidak seimbang: pendidikan untuk dua
  puluh tahun pertama dalam kehidupan, bekerja selama empat puluh
  tahun sampai pensiun, diikuti dengan menikmati kesenangan hidup
  sampai kita mati. Ia berargumentasi, apa yang dibutuhkan ialah suatu
  keseimbangan yang lebih baik antara ketiga tahapan itu sepanjang
  hidup, termasuk bekerja pada masa pensiun yang penuh makna, walaupun
  mungkin tanpa dibayar. Bahkan rekreasi dapat menjadi membosankan
  jika tidak ada lagi yang bisa dilakukan dalam hidup. Walaupun begitu
  rekreasi masih tetap menjadi bagian kehidupan bagi orang Kristen dan
  orang lain.

  Apa yang Membuat Rekreasi Menjadi Kristiani
  -------------------------------------------
  Mungkin ada yang berpikir bahwa menjadi anggota tim sepakbola sebuah
  gereja membuat olahraga itu menjadi lebih "rohani". Siapa pun yang
  pernah bermain dalam tim seperti itu tahu bahwa konflik antara
  kedagingan dan Roh sama dahsyatnya dalam sebuah tim Kristen, meski
  sumpah serapahnya memang lebih sedikit. Rekreasi yang lain adalah
  mengikuti tur dengan sebuah kapal pesiar Kristen atau dengan bermain
  shuffle board (sejenis permainan yang menggunakan cakram dan tongkat
  penyodok yang panjang) di sebuah taman Kristen.

  Tetapi apa yang membuat rekreasi itu "bernilai Kristiani" bukanlah
  dinilai dari karakter atau konteks religiusnya karena kedua unsur
  ini tidaklah penting. Hati harus berhubungan erat dengan karakter
  yang membuatnya melakukan sesuatu yang memang adalah keinginan orang
  itu.

  Pada butir pertama, kita dibawa kembali kepada mandat tiga berganda
  dari Allah kepada manusia pada pasal-pasal awal kitab Kejadian:
  (1) hidup berkomunikasi dengan Allah.
  (2) membangun komunitas kebersatuan manusia, keluarga, gereja, dan
      bangsa (Kej. 1:26) dan
  (3) mengekspresikan kreativitas bersama dalam membuat dunia ciptaan
      Allah berfungsi dan mengembangkan potensi yang ada di dalamnya
      (Kej. 2:15).

  Rekreasi yang mengikis persekutuan kita dengan Allah, seperti
  permainan yang memakai kuasa kegelapan atau yang mendorong
  terjadinya kompetisi kekuatan fisik (seperti tinju dan gulat) atau
  yang merusak lingkungan (seperti off road), tidaklah sinkron dengan
  panggilan tiga berganda Allah kepada kita.

  Sebaliknya, rekreasi yang mendorong terjadinya kejenakaan di hadapan
  hadirat Allah (seperti golf), membangun kerjasama dan memperdalam
  hubungan (seperti bermain bola) atau mendorong penatalayanan atas
  bumi (seperti berlayar atau cross country) harus lebih diutamakan.
  Menjadi orang Kristen tidak berarti membuat kita menjadi seperti
  malaikat, karena kita harus tetap menjadi manusia seutuhnya.

  Rekreasi seharusnya mengekspresikan kemuliaan kemanusiaan kita,
  tanpa menghilangkan kemanusiaan pemainnya dan bumi tempat kita
  bermain. Suatu rekreasi menjadi Kristiani bukan karena label
  religiusnya atau karena kita melakukannya dengan sesama orang
  Kristen, tetapi karena hal itu sesuai dengan rencana Allah bagi
  manusia, suatu tujuan di mana Allah memperbaiki kita. Tetapi bukan
  hanya itu.

  Pada butir yang kedua, rekreasi menjadi Kristiani karena dilahirkan
  dari realitas Injil. Artinya sangat sederhana, bermain dengan kasih
  karunia dan bukannya dengan bekerja. Gagal memanfaatkan waktu untuk
  rekreasi dengan alasan "banyak kerjaan" atau "terlalu sibuk"
  biasanya merupakan sebuah indikasi bahwa doktrin pembenaran oleh
  kasih karunia melalui iman belum menembus kehidupan di waktu luang
  kita.

  Paradoksnya, sebagaimana diketengahkan oleh Leland Ryken, "banyak
  orang yang merasa bersalah karena mengambil waktu untuk bersenang-
  senang, mereka juga merasa bersalah karena mereka bekerja terlalu
  keras." Martin Luther sangat piawai dalam masalah ini. Dalam
  karyanya, "Treatise on Good Works", Luther menggunakan analogi yang
  kuat:
     Ketika seorang suami dan seorang istri saling mengasihi,
     menikmati waktu luang bersama-sama, dan benar-benar percaya pada
     kasih mereka yang mengajar mereka mengenai bagaimana mereka
     berperilaku satu sama lain, apa yang harus dilakukan dan tidak
     boleh dilakukan, apa yang boleh dikatakan atau tak boleh
     dikatakan, apa yang mereka pikirkan? Modal mereka hanyalah
     keyakinan. Bagi orang seperti itu tidak ada perbedaan dalam
     bekerja. Ia melakukan hal yang besar dan penting sama baiknya
     dengan mengerjakan hal yang remeh dan tidak penting.

     Demikianlah seorang Kristen yang hidup dengan keyakinan bahwa
     Allah mengetahui segala sesuatu dan dapat melakukan segala
     sesuatu, maka ia juga akan melakukan segala sesuatu yang perlu
     dilakukan dan melakukan segala sesuatu dengan senang hati dan
     sukarela, bukan karena mereka akan memperoleh keunggulan dan
     pekerjaan baik, melainkan karena adalah suatu kenikmatan jika
     dapat menjadi orang yang selalu berkenan di hadapan Allah ketika
     melakukan apa saja. Mereka hanya melayani Allah tanpa berpikir
     akan memperoleh upah, puas bahwa pelayanan mereka berkenan kepada
     Allah. Di pihak lain, orang yang kehidupannya tidak selaras
     dengan Allah atau hatinya mendua, khawatir dan mulai mencari
     cara-cara untuk cepat merasa puas dan mencoba mempengaruhi Allah
     dengan banyak perbuatan baik." (hal. 26-27).

  Paradoksnya, rekreasi adalah salah satu dari pekerjaan-pekerjaan
  "kecil" yang kita lakukan yang tidak kita upayakan untuk membuktikan
  sesuatu kepada Allah atau bahkan kepada diri sendiri. Kristus telah
  membuktikan dan menyetujuinya. Oleh karena itu kita memiliki
  kebebasan untuk bermain dengan sepenuh hati. Kita dapat sungguh-
  sungguh melakukannya karena Injil membebaskan kita untuk
  beristirahat sepenuhnya.

  Rekreasi adalah kreasi sejajar dengan rencana Allah untuk tatanan
  yang dikreasikan. Dengan rekreasi kita diundang untuk bersantai
  dalam kasih karunia Allah dan bukan lewat prestasi kerja kita.
  Tetapi akhirnya rekreasi juga memiliki makna eskatologis, menunjuk
  kepada rekreasi Allah terhadap alam semesta. Oleh karena itu dengan
  berekreasi kita sebenarnya sudah mulai mencicipi kehidupan dalam
  Kerajaan Allah.

  Luther juga mengatakan bahwa "Kehidupanlah yang menjadikan seorang
  menjadi seorang teolog dan bukan kematian dan keadaan terkutuk,
  bukan pemahaman, membaca dan berspekulasi" (A.E. McGrath, Luther`s
  Theology of the Cross: Martin Luther`s Theological Breakthrough,
  hal. 152). Bukankah dengan bermain -- salah satu dimensi dari
  kehidupan -- kita menjadi praktisi teolog yang merefleksikan
  keyakinan yang nyata tentang kebaikan, kasih karunia, dan rencana
  akhir Allah. (Ridu)

  [Sumber: R. Paul Stevens, "Recreation" dalam Robert Banks et.al.,
  The Complete Book of Everyday Christianity, InterVarsity Press.]

-*- Bahan diedit dari: -*-
  Judul Majalah     : Kalam Hidup, Juli 2005
  Judul Artikel     : Rekreasi Kristiani
  Penulis           : Ridu
  Penerbit          : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
  Halaman           : 4 - 8

*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*

                         -*- LIBURAN NATAL -*-

  Liburan pasti menambah sekaligus mengganggu kehidupan keluarga.
  Dimana liburan diadakan sebagian besar tergantung pada orang dewasa-
  -namun, sayangnya, banyak aspek liburan berada diluar kendali
  seseorang. Ada pepatah lama yang mengatakan "sederhana saja bila ada
  sesuatu yang berada diluar kendali Anda. Jika Anda tidak bisa
  melawannya maupun melarikan diri, terjun dan mengalir saja bersama
  dengan pergulatannya!"

  Kita akan membahas secara singkat mengenai peristiwa liburan-liburan
  yang besar dan menawarkan saran-saran yang difokuskan pada anak dan
  orangtua. Kami juga akan memfokuskan pada masalah dan memberikan
  solusi-solusi praktis.

  Setiap orang tahu bahwa Natal selalu dikomersialkan dan begitu ramai
  namun demikian peristiwa Natal tetap saja indah. Pada saat Natal
  seakan seluruh dunia dihiasi. Ada rasa kesetiakawanan yang kental di
  setiap akhir Desember yang tidak pernah begitu terasa di bulan-bulan
  lain sepanjang tahun. Anda bisa merasakannya di seluruh dunia -- di
  Meksiko dan Paris dan London dan Toronto. Natal bisa mendekatkan
  orang-orang yang Tuhan tahu kita butuhkan.

  Namun, mungkin saja kita malah merasa jemu dengan gembar-gembor
  media dan kita pun menyesalkan fakta bahwa kostum Halloween masih
  tergeletak di lantai ruang tamu ketika toko-toko mulai dipenuhi
  dengan kertas-kertas kado Natal dan Santa Claus muncul di mana-mana.
  Juga beberapa orang non-Kristen yang jadi merasa terabaikan ketika
  Natal tiba.

  Saran kami bagi orangtua agar dapat menjadikan liburan Natal ini
  menyenangkan bagi semua orang antara lain:

  1. Buatlah sederhana. Sukacita tidaklah harus rumit. Anak-anak
     lebih senang menikmati kesenangan yang sederhana dan pesta kecil
     daripada hal-hal mewah. Sebenarnya terlalu banyak mainan baru dan
     peristiwa-peristiwa besar dalam satu waktu justru berlebihan.

  2. Dahulukan acara-acara ritual keluarga. Dengan demikian anak-anak
     mendapatkan kesenangan yang luar biasa saat mengetahui setiap
     anggota keluarga punya kaos kaki yang digantung pada malam Natal
     atau ketika semua orang akan pergi ke rumah nenek untuk makan
     malam pada malam itu.

  3. Berikan hadiah-hadiah yang terbaik bagi anak-anak Anda. Ajarkan
     kepada anak Anda sukacita dalam memberi. Bantulah anak Anda dalam
     membuat daftar, rencana, membuat dan membungkus hadiah-hadiah
     kecil. Ajarkan kepada anak bahwa memberi suatu hadiah selalu
     memerlukan beberapa pertimbangan yaitu keinginan, kebutuhan dan
     selera dari penerima. Pertimbangan ini adalah bagian dari
     komunikasi dan anak-anak Anda akan membutuhkan kemampuan
     berkomunikasi ini sepanjang hidup mereka.

  4. Libatkanlah anak Anda dalam melakukan persiapan-persiapan khusus
     seperti membungkus hadiah, memasak makanan istimewa, dll.

  5. Selesaikan masalah keluarga tentang siapa pergi kemana. Pendapat
     sedih namun umum yang seringkali didengar adalah: "Anakku dan
     cucu-cucuku selalu menghabiskan Natal mereka dengan saudara-
     saudaranya." Cobalah untuk menghindari jebakan itu. Belajarlah
     bersukacita dari pilihan lain atau ajaklah seluruh keluarga besar
     merayakannya bersama (setiap keluarga membawa meja kecil, kursi,
     dan peralatan makan sendiri). Jika Anda tinggal jauh dari
     keluarga besar Anda, undanglah keluarga lain atau teman-teman
     yang tinggal sendiri.

  6. Jangan terlalu berharap kepada anak-anak sampai mereka dewasa.
     Anak-anak akan bertingkah sesuai dengan usia mereka--atau justru
     sedikit lebih kekanakan -- di saat liburan. Liburan itu sangat
     menarik, yang membuat anak-anak menjadi kelelahan. Berharaplah
     mereka mengeluh dan bertingkah kekanak-kanakan. Usahakanlah
     menghibur mereka sebelum mereka menangis. Jika Anda tidak bisa,
     bawalah tissue sebanyak-banyaknya.

  7. Jangan berharap terlalu banyak pada diri Anda sendiri! Stres
     tingkat tinggi selalu muncul pada saat liburan, mungkin karena
     setiap orang melakukan terlalu banyak hal. Kebanyakan orang
     menambahkan tugas-tugas liburan pada tugas-tugas rutin mereka.
     Kapan saja jika memungkinkan, hapuslah tugas rutin. (Bagi
     Marilyn, penulis buku ini, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk
     menyadarkannya bahwa saat membersihkan rumah adalah setelah pesta
     usai, dan bukan sebelumnya.)

  8. Biarkan para kerabat memanjakan anak-anak Anda pada saat Natal.
     Satu hari dari 365 hari tidak akan berdampak apa-apa.

  9. Jangan lupa menyediakan waktu bagi Anda dan kekasih/suami Anda.
     Jangan lakukan apa-apa untuk anak-anak, sehingga satu-satunya
     kesenangan hanya diberikan kepada Anda. Liburan bukan hanya untuk
     anak-anak; liburan juga untuk orangtua.

 10. Terakhir, jangan abaikan atau lupakan aturan-aturan untuk
     keselamatan. Liburan juga merupakan saat yang "berbahaya".
 (T/Rat)

-*- Sumber diterjemahkan dari: -*-
  Judul Buku   : Child Care Parent Care
  Judul Artikel: Holidays -- Christmas
  Penulis      : Marilyn Heins, M.D. dan Anne M. Seiden, M.D.
  Penerbit     : Doubleday & Company, Inc., New York, 1987
  Halaman      : 95 - 96

*INFO *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* INFO*

                    -*- PROGRAM INTENSIF STTRII -*-

  Sekolah Tinggi Teologia Reformed Injili Indonesia akan mengadakan
  program kuliah intensif bagi Anda para hamba Tuhan, konselor, atau
  yang pernah mengikuti kuliah psikologi/konseling. Ada dua program
  konseling yang bisa Anda pilih yaitu:

  I. Konseling Pranikah
  ---------------------
  Kuliah diselenggarakan pada:
  Tanggal  : 6 - 7, 9 - 14 Januari 2006
  Pukul    : 08.30 - 12.00 WIB
  Pengajar : Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
             Esther Susabda, Ph.D.

  Kuliah ini secara khusus ditujukan untuk memperlengkapi mahasiswa
  dengan wawasan pikir yang integratif dan utuh tentang konseling
  pranikah. Melalui pembekalan pengetahuan dan ketrampilan ini,
  diharapkan mahasiswa dapat melakukan pelayanan konseling pranikah
  sesuai dengan kebutuhan zaman ini.

  II. Psikologi Abnormal
  ----------------------
  Kuliah diselenggarakan pada:
  Tanggal  : 23 - 26 Januari 2006
  Pukul    : 08.30 - 12.00 WIB dilanjutkan pukul 14.30 - 18.00 WIB
  Pengajar : Esther Susabda, Ph.D.
             Asriningrum, M.K.
             Lany Pranata, M.K.

  Mata kuliah ini secara khusus disediakan untuk memperlengkapi
  mahasiswa dengan konsep-konsep dasar dan penyebab gangguan kejiwaan.
  Melalui kuliah ini pemakaian DSM IV akan mendapat perhatian khusus.

  Biaya kuliah : Rp. 300.000,- (bagi mahasiswa Rp. 200.000,-)
  Belum termasuk biaya akomodasi dan konsumsi.

  Keterangan lebih lanjut silakan menghubungi:
  Iyun/Christy pada hari kerja (Senin-Sabtu) di:
  Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit, Jakarta Selatan 12760
  Telp.: (021) 7982819, 7990357, Fax.: (021) 7987437
  Email: < reformed(at)idola.net.id >
  Website: www.sttrii.ac.id

*SURAT*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-DARI Anda-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*SURAT*

  Dari: bruri tumiwa <bere_t(at)>
  >Kepada: Team e-konsel
  >Syalom !
  >Saya mohon kiranya anda dapat mengirim renungan-renungan juga untuk
  >Ir. Fredy R., M.Sc. Beliau sangat memerlukan renungan-renungan
  >anda untuk menguatkan beliau sekaligus menjadi berkat bagi orang
  >lain. Alamat e-mailnya adalah : ==cut==
  >GBU, Bruri

  Redaksi:
  Permintaan Anda sudah kami penuhi. Kami telah memasukkan alamat
  email yang Anda berikan dalam list pelanggan e-Konsel. Harapan kami,
  bahan-bahan yang disajikan dalam e-Konsel menjadi berkat bagi Anda
  dan teman Anda. Selamat membagikan berkat.

e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL

                         STAF REDAKSI e-Konsel
                          Ratri, Silvi, Evie
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2005 oleh YLSA
                      http://www.sabda.org/ylsa/
                       http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Anda ingin konsultasi masalah?        < masalah-konsel(at)sabda.org >
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat:          < owner-i-kan-konsel(at)xc.org >
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Berlangganan  : < subscribe-i-kan-konsel(at)xc.org >
Berhenti      : < unsubscribe-i-kan-konsel(at)xc.org >
Sistem lyris  : http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
ARSIP e-Konsel: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I     : http://www.sabda.org/c3i/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org