><> Edisi (078) -- 01 Januari 2005 <><
e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Daftar Isi:
- Pengantar : Usia Paro Baya
- Cakrawala : Usia Tengah Baya: Krisis atau Transisi?
- TELAGA : Pria Paro Baya di Tengah Keluarga
- Tips : Mencegah Masalah yang Timbul di Usia Paro Baya
- Surat : Alamat Baru
*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*
-*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-
Syallom pembaca setia e-Konsel ....
Selamat berjumpa kembali di tahun baru 2005. Bagaimana acara Natal
Anda bulan Desember 2004? Sekalipun sudah lewat, kami berharap,
kedamaian dan sukacita Natal akan tetap bersama pembaca sekalian
sepanjang tahun ini. Demikian juga e-Konsel, kami berharap akan bisa
hadir terus untuk menyajikan topik-topik menarik bagi Anda. Sebagai
edisi pertama mengawali tahun 2005, kami sengaja memilih topik "PARO
BAYA". Topik ini, kami pikir akan relevan karena dengan bergantinya
tahun, usia kita tentu semakin bertambah, bukan? Nah, bagi Anda yang
sedang menginjak usia paro baya, bahan sajian kami ini dapat menjadi
bekal untuk Anda melewati masa transisi ini dengan lebih mulus.
Bagi pembaca yang belum menginjak usia paro baya, bahan sajian ini
juga pasti berguna, karena dalam pergaulan hidup sehari-hari, baik
di lingkungan keluarga, gereja maupun pekerjaan, Anda pasti berjumpa
dengan orang-orang usia paro baya. Siapa tahu Anda bisa menolong
mereka mengerti masa-masa yang kadang-kadang tidak mudah dilalui
dengan baik ini. Dengan demikian, Anda dapat menjadi berkat bagi
mereka, ya kan?
Ok, selamat menyimak dan Tuhan memberkati!
Redaksi
*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*
-*- USIA TENGAH BAYA: -*-
KRISIS ATAU MASA TRANSISI?
Saya ingin merangkak ke bawah tempat tidur. Ya, sebenarnya saya
tidak mau menampakkan diri. Saya merasa begitu frustrasi dan suami
saya sedang berbaring di sebelah saya dan hendak tidur. Saya ingin
agar ia berbicara kepada saya, tetapi saya tidak tahu bagaimana saya
dapat mengajaknya tanpa membuat ia menjadi marah.
Tentu saja saya mencaci maki diri saya sendiri, saya seharusnya
mengerti bahwa ia sangat sibuk dan besok jadwalnya sangat padat. Ia
perlu tidur, jadi saya seharusnya tidak membangunkan dia hanya
karena masalah-masalah saya. Di samping itu, bila kami benar-benar
berbicara, rasanya saya tidak dapat membuatnya mengerti keadaan
saya. Saya menjadi semakin bingung dan frustrasi dan kami biasanya
mengakhiri keadaan seperti itu dengan rasa tidak enak satu sama
lain. Saya juga akan sibuk besok -- saya biasanya selalu begitu --
tetapi kehidupan sehari-hari saya, rasanya, merupakan bagian dari
suatu dunia yang lain.
Tentu, besok saya akan bangun seperti biasa. Saya akan menolong Jim,
dan putri-putri saya memulai kegiatan mereka. Saya sungguh akan
sibuk melakukan pekerjaan di sekitar rumah. Dalam minggu ini, saya
juga akan menelepon beberapa orang untuk pertemuan kepanitiaan
nanti, membeli beberapa pesanan, mengirim sepucuk surat untuk
seseorang yang berulang tahun, mengadakan beberapa janji, dan
mempersiapkan makan malam yang nikmat untuk keluarga. Setelah itu,
saya harus memastikan bahwa ketiga putri kami berangkat untuk satu
kegiatan sore hari itu, lalu membawa anjing kami masuk dan keluar
rumah beberapa kali dan merasa bersalah karena saya tidak memiliki
waktu untuk berbuat sesuatu bagi seorang teman yang sedang sakit.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada ketiga putri kami, saya
masih harus membereskan beberapa hal lagi sebelum Jim tiba di rumah
dari sebuah pertemuan dan kemudian kami akan segera tidur.
Lalu, barulah perasaan tidak enak yang menyiksa dari waktu ke waktu
sepanjang hari itu akan semakin kuat. Saya ingin membagikannya
dengan Jim dan minta tolong kepadanya agar ia menghilangkan perasaan
itu. Ia menasihati setiap orang dan menerima pujian mereka karena
Jim bijaksana dan suka menolong, tetapi mengapa ia tidak mau
menolong saya? Memang, kadang-kadang ia menolong saya, tetapi ia
lebih sering terikat oleh pekerjaannya. Saya merasa disisihkan dan
tidak dibutuhkan, seperti sebuah dus karton bekas.
Suatu gelombang rasa mengasihani diri sendiri menguasai diri saya.
Tak lama setelah itu, rasa cemburu menghantam diri saya. Dan sebelum
saya dapat memulihkan diri saya dari perasaan itu, gelombang ketiga,
yaitu rasa tertolak dan disakiti menerpa saya. Sebuah dus karton
bekas -- ya, memang saya merasa seperti kotak dus karton yang sudah
lembek.
Tetapi saya tidak ingin tenggelam! Ya, memang saya sering ingin
menghilang dari kehidupan, tetapi apa yang sebenarnya saya kehendaki
ialah agar semua kebingungan yang dirasakan itu dapat diluruskan
sehingga saya dapat kembali merasakan hidup bahagia seperti yang
seharusnya saya alami. Sebagian dari diri saya merasa bahagia,
tetapi yang sebagian besar lagi merasa sedih dan saya tidak tahu
penyebabnya.
Pengalaman-pengalaman seperti ini biasa saya alami, timbul dan
tenggelam selama paro kedua usia tiga puluhan saya. Rasa frustrasi
dan kebingungan saya, terutama mulai menjadi kritis antara usia 36
sampai 39 tahun. Jim dan saya mengira masalah ini hanya dialami oleh
saya sendiri -- beberapa kebiasaan khusus dalam perilaku saya yang
perlu saya benahi. Sekarang kami melihat masalah itu sebagai masa
peralihan menuju usia tengah baya.
Apa yang Dimaksud dengan Usia Tengah Baya?
------------------------------------------
Pada umumnya, usia tengah baya mulai terjadi pada usia tiga puluh
tiga sampai tujuh puluh tahun.
Baru pada abad ini banyak orang menyadari bahwa mereka mengalami apa
yang sekarang disebut sebagai usia tengah baya. Sampai tahun 1900,
usia yang dapat diharapkan dari seorang laki-laki, kira-kira 48 dan
51 tahun untuk seorang perempuan. Dalam tahun 1900 hanya 10 persen
dari penduduk berusia tengah baya. Sekarang, rata-rata usia orang
dewasa di dalam usia kerja lebih daripada 45. Jumlah seluruh
penduduk telah meningkat hampir 100 persen dalam abad yang lalu,
tetapi orang yang berusia tengah baya telah bertambah 200%.
Tengah baya merupakan suatu waktu dalam hidup dimana terjadi banyak
peristiwa besar yang memaksa kita untuk mengadakan penataan kembali.
Penilaian kembali ini diadakan bukan hanya karena seseorang memasuki
usia 36 atau 39 tahun, bukan juga karena kehidupan pernikahan
menjadi tawar atau karena mengalami suatu kehilangan yang
menimbulkan trauma dalam kehidupan. Penataan kembali ini tampaknya
terjadi karena adanya satu gabungan faktor-faktor berikut yang
bertemu dalam usia tengah baya.
Stres apakah yang dimaksud di sini?
1. Pandangan kebudayaan kita saat ini mengenai pemuda dan usia.
2. Situasi pernikahan yang tidak bahagia atau hampir tidak hadirnya
suatu kehidupan pernikahan.
3. Krisis usia tengah baya dari teman hidup kita sendiri.
4. Tuntutan dari anak-anak dan keinginan mereka yang semakin
bertambah.
5. Prioritas karier.
6. Penumpukan kehilangan traumatis seperti: kematian, sakit, atau
menjadi tua.
7. Desakan dari dalam diri kita agar mewujudkan impian hidup kita.
8. Keharusan untuk menilai kembali masa lampau dan merencanakan masa
yang akan datang.
Bagaimana Perbedaan Laki-laki dan Perempuan dalam Usia Tengah Baya?
-------------------------------------------------------------------
Dalam usia tengah baya, laki-laki dan perempuan sangat mirip dalam
beberapa bidang: Keduanya dipengaruhi tekanan kebudayaan mengenai
masa muda dan keduanya menyadari akan tubuh mereka yang semakin tua.
Akan tetapi mereka jelas berbeda dalam beberapa bidang.
1. Karier
---------
Seorang pria yang memasuki usia tengah baya bertanya, "Mengapa saya
harus bekerja? Apa yang telah saya capai dalam hidup saya? Bagaimana
saya dapat memperlambat atau mengarahkan kembali tenaga saya untuk
mengalami karier yang lebih berarti?" Tetapi wanita tengah baya akan
bertanya, "Kapan saya dapat mulai bekerja? Bagaimana saya dapat
mengembangkan karier saya?" Ia memikirkan kemungkinan bersekolah
kembali guna meraih gelarnya. Ia memikirkan untuk dapat mengikuti
seminar-seminar. Singkatnya, ia sungguh-sungguh mulai berkembang
dengan cita-cita kariernya.
2. Keintiman
------------
Seorang pria bersikap intim pada awal pernikahannya untuk
mengokohkan pernikahannya, tetapi kemudian konsentrasinya beralih
pada kariernya, yang telah menjadi pusat hidupnya sepanjang tahun
ketika anak-anak masih berada di rumah. Tetapi pada waktu ia
memasuki saat krisis usia tengah baya, ia mulai memikirkan hubungan
antarpribadi yang telah hilang, terutama hubungannya dengan anak-
anaknya. Ia juga menghendaki agar istrinya menjadi pacar dan
kekasihnya, bukan hanya sekadar seorang ibu dan pengelola rumah
tangga saja.
Wanita tengah baya sering menukar keintiman dengan sikap yang tegas.
Ia melihat dengan jelas ke mana ia menuju dan mulai mencapai
sasarannya. Kadang-kadang, wanita tengah baya yang berorientasi pada
sasaran mengorbankan beberapa kualitas keintiman yang sebelumnya
dilakukan untuk mencapai sasaran hidupnya. Mungkin ia kembali
mengikuti kuliah secara penuh sebagai seorang mahasiswa. Ini
merupakan waktu yang sempit dan jika ia terlalu letih pada akhir
hari itu dan tidak dapat berbicara lagi -- maka pembicaraan harus
ditunda sampai keesokan harinya lagi.
3. Sikap tegas
--------------
Pria usia tengah baya yang selama ini menjadi pemegang kemudi dan
pendorong, dalam sebagian besar dari kehidupan pernikahannya, kini
mulai mundur ke belakang, mulai bersenang-senang, dan mulai
menikmati beberapa hal yang telah dicapainya. Ia menghendaki masa
liburan yang lebih banyak, "Marilah kita keluar kota untuk berakhir
pekan lebih lama sedikit", "Marilah kita sedikit bersantai."
Wanita tengah baya melakukan yang sebaliknya. Ia berkata, "Saya
ingin kembali kuliah. Saya ingin maju terus. Segala sesuatu akhirnya
tiba ke tempat di mana saya mampu bergerak maju. Marilah kita
bergerak maju.
Pandangan terhadap keluarga. Pada awal usia tengah baya pria
melalaikan keluarganya sementara ia memusatkan pada kariernya.
Sekarang ia sedang menghadapi rasa penyesalan yang dalam dan merasa
bersalah, karena ia berharap untuk dapat mengalami kembali sebagian
dari saat-saat itu. Tomy berkata, "Saya benar-benar berhasil sebagai
seorang usahawan, tetapi pada waktu saya menuju proses keberhasilan
itu, saya kehilangan anak-anak saya."
Wanita usia tengah baya telah memakai sebagian besar waktunya dengan
keluarganya. Sekarang ia telah siap menghadapi suatu tantangan baru
dalam hidupnya. Ini tidak berarti bahwa ia tidak mempedulikan
keluarganya, tetapi keluarga sekarang tidak menduduki tempat yang
terlalu penting dalam hidupnya.
4. Seksualitas
--------------
Selama masa usia tengah baya, kapasitas seksual seorang pria menjadi
perhatiannya yang terutama. Nafsu seksualnya sekarang lebih lambat
ketimbang dahulu ketika mencapai puncaknya pada masa remajanya; ia
memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai ereksi dan
berejakulasi. Tetapi seorang pria pada usia empat puluhan adalah
seorang kekasih yang jauh lebih efektif. Ia memahami kebutuhan
istrinya dengan lebih utuh dan nafsu seks yang lebih lambat
menyebabkan hubungan seksualnya lebih memuaskan.
Sebaliknya, kebanyakan wanita usia tengah baya, sedang mengalami
suatu kebangkitan seksual yang baru. Dorongan seksualnya yang
bertambah menyebabkan mereka lebih tegas, mengalami frekuensi
orgasme yang lebih banyak dan mengalami orgasme ganda dalam tempo
yang lebih pendek. Dengan perkataan lain, wanita usia tengah baya
sungguh-sungguh sedang memasuki masa puncak kehidupan seksualnya.
5. Pandangan terhadap kematian
------------------------------
Pada usia empat puluhan terjadi kenaikan yang tajam dari jumlah pria
yang meninggal secara mendadak, misalnya karena sakit jantung. Pria
mulai memikirkan kehidupan dan kematian -- memikirkan sampai usia
berapa ia akan hidup -- berapa lama lagi ia masih memiliki waktu
untuk menyelesaikan kewajibannya -- apa yang benar-benar penting
dalam hidupnya. Ia sedang menghadapi kematiannya sendiri.
Akan tetapi seorang wanita usia tengah baya tidak terlalu memikirkan
tentang kematian. Wanita cenderung untuk hidup lebih lama dan
kematian mendadak karena penyakit jantung dan penyakit-penyakit yang
lain tidak akan dialami oleh seorang wanita sampai ia melampaui masa
menopause. Jadi, di satu pihak, pria sedang memikirkan kematian dan
bertanya-tanya kapan hidupnya akan berakhir, sementara istrinya
berkata, "Bagi saya, hidup baru saja dimulai."
Apakah Perlu Terjadi Suatu Krisis?
----------------------------------
Ada orang yang bertanya apakah bedanya antara masa peralihan usia
tengah baya dengan krisis usia tengah baya. Masa peralihan berarti
seseorang beralih dari satu tahapan kehidupan ke tahapan lain.
Peralihan terjadi beberapa kali dalam kehidupan kita, seperti
beralih dari masa kanak-kanak menjadi remaja atau dari pertengahan
dewasa menjadi orang dewasa yang matang. Masing-masing perubahan ini
jika dimengerti secara tepat dan direncanakan, dapat terjadi tanpa
mengalami rasa tertekan secara berlebih-lebihan.
Akan tetapi, apabila timbul beberapa faktor stres pada waktu yang
sama dengan terjadinya peralihan tersebut, maka dapat terjadi suatu
krisis.
Setiap pria dan wanita akan melewati peralihan dari masa dewasa muda
menjadi masa dewasa tengah baya. Tidak semua akan mengalami suatu
krisis. Tetapi, penelitian kami menunjukkan bahwa lebih dari dua
pertiga wanita dan kira-kira 75 sampai 80 persen dari pria di
Amerika Serikat mengalaminya. Ini berarti bahwa selama jangka waktu
tertentu mereka tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Akhirnya,
mereka mengadakan penilaian secara luas terhadap arah kehidupan
mereka yang menyebabkan perubahan dalam nilai-nilai dan apa yang
ingin dicapai.
-*- Sumber: -*-
Judul Buku: Krisis Tengah Baya
Penulis : Jim dan Sally Conway
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup Bandung 1997
Halaman : 5 - 11
*TELAGA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TELAGA*
Ringkasan perbincangan dengan narasumber Pdt. Paul Gunadi Ph.D.
berikut ini masih seputar masa paro baya, khususnya bagi Anda, para
pria, yang saat ini mulai memasuki masa paro baya. Pengaruh masa
paro baya ini tidak hanya melanda diri mereka sendiri, namun juga
keluarganya, dimana ia tinggal dan hidup bersama. Seperti apa dan
bagaimana pengaruhnya? Simak saja ringkasannya berikut ini!
-*- PRIA PARO BAYA DI TENGAH KELUARGA -*-
-----
T: Masalah-masalah yang dihadapi oleh pria paro baya bukan hanya
berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana pengaruh dari masalah-masalah yang dihadapi oleh pria
paro baya ini?
J: Pdt. Jim Conway dalam bukunya yang berjudul "Krisis Pria Setengah
Baya" menuliskan pengalaman pribadinya ketika memasuki usia paro-
baya, dimana beliau mengalami pergolakan hidup yang cukup berat.
Salah satunya adalah beliau ingin meninggalkan tugas
kependetaannya, itu adalah salah satu reaksi yang sangat ekstrim.
Jadi, adakalanya pergumulan pria paro baya merupakan suatu
pergumulan internal yang berat, yang tidak mudah untuk diatasi.
Sudah tentu pergumulan pribadi seseorang berdampak pada relasinya
dengan keluarganya. Contoh yang paling gampang, para pria paro
baya mempunyai kecenderungan untuk memilih jalur karier yang
berbeda dengan yang telah digelutinya selama ini. Itu terjadi
karena dalam dirinya ada keinginan tersembunyi untuk melakukan
sesuatu yang sejak muda diimpikannya tetapi tak pernah terwujud,
akhirnya dia ingin melakukan pada usia paro baya. Mungkin saat
itu, dia menilai bahwa keuangannya sekarang sudah lumayan cukup,
sehingga bisa pindah karier, misalnya memulai usaha sendiri,
tidak mau bekerja pada orang lain. Sudah tentu aspek ini bisa
menimbulkan gejolak dalam keluarganya, menimbulkan reaksi dari
istrinya yang mendengar pernyataan atau isi hati suami yang mau
keluar dari pekerjaannya. Sedangkan mungkin saja, suami itu telah
meniti kariernya selama 25 tahun dan kepindahannya ke karier yang
baru sama sekali tidak menjanjikan apa-apa, sudah tentu ini bisa
menimbulkan gejolak dalam hubungan rumah tangganya.
-----
T: Apakah anak-anak juga akan merasakan perubahan dalam diri
ayahnya?
J: Bisa, secara fisik pria paro baya tidak merasa sekuat usia-usia
sebelumnya dan secara mental biasanya pikiran mereka lebih
terkuras, sebab kalau karier mereka menanjak dengan normal dan
baik, pada usia paro bayalah mereka menjadi pimpinan. Dan
pimpinan berarti mempunyai tanggung jawab yang makin besar di
pundak mereka. Sebagai akibatnya, kalau tidak hati-hati, mereka
ini akan memberikan sedikit sekali waktu untuk keluarga mereka,
sebab tanggung jawabnya menyerap banyak energi, mental dari diri
mereka. Pada usia paro baya ini, pria berada di persimpangan
jalan dalam hubungannya dengan anak-anak atau istrinya. Ini
berarti hubungan mereka bisa bertambah dekat tapi bisa bertambah
renggang karena anak-anak sudah mulai mandiri dan makin bertambah
sibuk di luar. Energi mental mereka makin tersedot juga akhirnya
hubungan mereka mudah sekali retak.
-----
T: Bagaimana peranan istri sebagai penolong dalam menghadapi suami
yang paro baya ini?
J: Mazmur 85 mengatakan satu hal yang sangat indah sekali yakni di
ayat 11, "Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai
sejahtera akan bercium-ciuman." Di sini, kasih dan kesetiaan
digandeng bersama sebab keduanya itu tidak bisa dipisahkan, jadi
orang yang mengasihi mewujudkan kasihnya itu melalui kesetiaan.
Sudah pasti para pria ini haruslah mengasihi istri dan
menunjukkan kasihnya itu melalui kesetiaannya. Tetapi, seorang
istri juga bisa berbuat sesuatu untuk menolong suami agar suami
terus mengasihinya dan juga setia kepadanya. Salah satu hal yang
bisa dilakukan oleh istri adalah terus mempercantik diri atau
dengan kata lain menjaga kecantikan dirinya. Memang tidak semua
wanita dikaruniai wajah yang cantik, sama seperti tidak semua
pria dikaruniai wajah yang tampan. Kita tidak bisa memperbaiki
wajah, karena wajah adalah pemberian Tuhan. Tetapi kita bisa
menjaga kelangsingan atau kesehatan tubuh kita, sehingga kita
tampil prima, tampil segar. Para istri yang sudah mulai menginjak
usia paro baya dianjurkan untuk tetap menjaga penampilan fisik
mereka, jangan beranggapan bahwa pada usia ini suami tidak lagi
begitu mempedulikan penampilan fisik yang menarik atau yang baik.
Jadi yang bisa dilakukan istri untuk membuat suaminya tetap
mengasihi dan setia kepadanya adalah dengan cara menjaga tubuhnya
dengan lebih baik.
-----
T: Mengingat bahwa usia paro baya itu bisa menimbulkan suatu krisis
yang cukup serius dalam keluarga, tentu kita harus
mengantisipasinya, mempersiapkan diri menghadapi realita itu.
Sebaiknya, sejak kapan dan hal-hal apa yang bisa kita lakukan?
J : Firman Tuhan Mazmur 85:11b, "Keadilan dan damai sejahtera akan
bercium-ciuman." "Keadilan" dapat diterjemahkan hidup benar,
bahasa Inggrisnya "righteousness" dan "damai sejahtera akan
bercium-ciuman" artinya kedua hal itu tak bisa dipisahkan. Dalam
hidup ini, kita akan banyak mengalami perbedaan dan
ketidaksesuaian dengan pasangan kita karena bentukan pengaruh
lingkungan dan sebagainya. Tetapi, Tuhan meminta untuk tetap
hidup benar di hadapan-Nya, orang yang hidup benar di hadapan
Tuhan dan mau taat kepada Tuhan akan menikmati damai sejahtera.
Meskipun secara psikologis, sosial, dan sebagainya mereka itu
bercabang, tapi mereka tetap akan hidup dalam damai sejahtera
jika mereka hidup benar di hadapan Tuhan. Hidup benar di hadapan
Tuhan, misalnya tetap rendah hati meskipun kariernya menanjak,
tidak tergoda oleh wanita lain karena takut akan Tuhan. Demikian
juga dengan istri, tetap ingat tanggung jawabnya untuk melayani
suaminya. Kalau orang tetap peka terhadap pimpinan Tuhan dia akan
hidup benar, kalau dia mau mencoba hidup benar dia akan memetik
buahnya yaitu damai, itulah yang Tuhan janjikan.
-*- Sumber -*-:
[[Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #017B
yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
-- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat
e-Mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)xc.org >
atau: < TELAGA(at)sabda.org > ]]
*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*
-*- MENCEGAH MASALAH-MASALAH YANG TIMBUL -*-
DI USIA PARO BAYA
Beberapa tahun yang lalu, Carl Jung mencatat bahwa kita memiliki
sekolah-sekolah yang digunakan untuk mempersiapkan anak-anak muda,
tetapi kita tidak memiliki sekolah-sekolah bagi orang-orang yang
berusia 40 tahun yang memberikan pendidikan tentang seluk beluk
kehidupan orang dewasa. Jika kita memiliki sekolah-sekolah seperti
ini, pasti akan banyak orang yang berusia empat puluhan yang
bersekolah di sekolah ini. Lembaga-lembaga dalam masyarakat,
khususnya gereja, bisa memberikan persiapan dan bantuan yang
diperlukan untuk mencegah masalah paro baya yang serius. Ada tiga
cara yang bisa digunakan untuk mencegah masalah-masalah itu, yaitu:
1. Mengantisipasi
-----------------
Ketika suatu daerah dilanda badai, kerusakan yang ditimbulkan akan
bisa diminimalkan jika Badan Metereologi dan Geofisika setempat
memberikan peringatan pada saat yang tepat kepada para penduduk
untuk selalu siaga. Demikian pula dengan mereka yang berusia tiga
puluhan. Mereka akan sangat terbantu jika mereka selalu diingatkan
bahwa transisi ke usia paro baya akan terjadi. Peringatan-peringatan
semacam ini tidak perlu ditakuti, bahkan mereka perlu diingatkan
secara berkala dan ditindaklanjuti dengan sikap positif terhadap
mereka.
Usia parobaya bisa menjadi saat yang penuh dengan masalah, khususnya
selama masa-masa awal empat puluhan. Namun, usia paro baya juga
merupakan masa-masa yang dipenuhi dengan penghargaan dan tantangan.
Ada rasa ditenangkan, mendapatkan tempat dalam kehidupan seseorang,
dan bebas dari tuntutan serta tanggung jawab untuk membesarkan anak-
anak yang masih kecil. Jika dibandingkan dengan anak-anak muda,
orang-orang yang berusia paro baya lebih aman dalam hal keuangan,
tingkat kehormatan dan kepemimpinan yang lebih tinggi dalam
kehidupan bermasyarakat, memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk
melakukan perjalanan dan meningkatkan kebijaksanaan mereka. Pada
usia dua puluhan dan tiga puluhan tahun, sebagian dari usaha dan
perjuangan dalam hal keuangan telah dilewati, dan bahkan mereka yang
berusia paro baya ini memiliki kesempatan yang terbesar untuk
melakukan pelayanan Kristen yang penting. Dengan demikian, anggapan
atau pernyataan yang menyatakan bahwa tidak ada hidup setelah
berusia tiga puluh sembilan -- atau setelah seseorang berusia lima
puluh tahun tidak perlu ditanggapi. Aspek negatif dan positif dari
periode kehidupan ini bisa diantisipasi.
2. Pendidikan
-------------
Pertemuan-pertemuan keluarga, retreat bagi pasangan suami istri,
kelompok diskusi, Sekolah Minggu, dan kebaktian-kebaktian tertentu
bisa dan seharusnya menyinggung masalah usia paro baya ini. Di
beberapa gereja, bangku-bangku yang disediakan biasanya ditempati
oleh mereka yang berusia paro baya beserta keluarganya yang tidak
berhasil memahami kekacauan yang sedang terjadi di dalam dan yang
tidak mengetahui keseluruhan perjuangan para paro baya ini. Pada
saat masalah-masalah ini diketahui dan diakui keberadaannya, mereka
yang berusia paro baya ini dapat menghadapi dan mendiskusikannya
bersama-sama dengan teman-temannya dengan suasana menunjukkan bahwa
mereka diterima.
Gereja-gereja banyak dipenuhi oleh mereka yang berusia paro baya
yang merasa gagal dalam moral, spiritual, emosional, dan pribadi.
Khotbah yang disampaikan seputar pengampunan, kasih, dan penerimaan,
tetapi sering pula orang-orang itu memancarkan keberhasilan atau
kestabilan, dan ada sedikit bukti dari perawatan yang sensitif atau
percakapan yang mendalam tentang hal-hal yang penting. Beberapa
orang yang berusia paro baya ini meninggalkan kekecewaan dan
kesalahpahaman dengan gereja.
Masalah-masalah seperti ini bisa dicegah bila diantisipasi, diterima
dan dihadapi dengan cara yang berpendidikan -- khususnya dalam
batasan gereja lokal.
3. Bergaul
----------
Segera sesudah ulang tahunnya yang ke-50, Ray Ortlund memberikan
beberapa nasihat kepada jemaat di gerejanya yang sudah berusia
setengah abad. "Jangan hanya bergaul dengan orang-orang yang seusia
dengan Anda," sarannya. Jika kita hanya bergaul dengan mereka saja,
"ketika Anda meninggal, semua yang Anda ketahui juga akan mati --
karena mereka akan mati bersama-sama dengan Anda! Bagikan
pengetahuan Anda kepada orang-orang yang berusia 20 atau 30 tahun
lebih muda dari Anda. Maka ketika Anda meninggal, semua yang Anda
ajarkan kepada mereka akan terus ada di dunia ini karena orang lain
mengajarkannya kepada orang yang lain lagi. Kembangkan hidup Anda!"
Dalam cara yang lebih formal lagi, Erik Erikson juga mengatakan hal
yang sama. Untuk menghindari kejenuhan pada usia parobaya dan agar
bisa berjalan maju secara perlahan-lahan di tahun-tahun yang akan
datang, kita harus terlibat penuh dalam bekerja untuk menjadikan dan
menguatkan generasi berikutnya. Seperti yang sudah kita lihat,
Erikson menyebut ini sebagai "penurunan". Guru memiliki kemampuan
yang unik untuk bergaul, demikian pula dengan para pemimpin muda,
konselor, orangtua, dan siapa saja yang bekerja di dalam maupun
melalui gereja. Pada saat mereka yang berusia paro baya ini mau
berbagi dengan orang lain khususnya dengan yang lebih muda, maka
keduanya, baik yang memberi maupun yang menerima akan sama-sama
mendapatkan keuntungan. Pada saat mereka yang berusia paro baya ini
bergaul dengan orang yang lebih muda atau orang yang membutuhkan,
mereka mengalami kepuasan dalam memahami bahwa hidup masih bisa
memberikan manfaat dan berguna bagi orang lain.
Pengusaha, penulis buku, editor majalah, pemimpin organisasi,
konselor, guru, dan lain-lain bisa membagikan pencegahan terhadap
masalah-masalah paro baya, tetapi gereja bisa menjadi alat yang
paling berguna untuk mencegah semua ini. Sebagai anggota gereja kita
mengetahui bahwa kasih memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dan
dapat menunjukkan beban yang ditanggung yang harus menjadi ciri dari
orang Kristen. Perhatian yang seperti ini menjadi pendukung dan
penuntun yang penting bagi orang-orang yang berusia paro baya.
-*- Sumber diterjemahkan dari: -*-
Judul Buku: Christian Counseling, a Comprehensive Guide
Penulis : Gary R. Collins, Ph.D.
Penerbit : Word Publishing, U.S.A., 1998
Halaman : 208 - 210
*SURAT*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-DARI Anda-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*SURAT*
Dari: "sinai" <sinai(at)>
>Yang terkasih editor e-Konsel,
>thanks atas kiriman rutinnya. tapi alamat saya sudah pindah ke yang
>baru, yaitu: <sinai(at)> mohon diteruskan pengirimannya.
>God bless you.
Redaksi:
Terima kasih atas pemberitahuannya. Kami telah mengganti alamat
email Anda dengan yang baru. Silakan menanti kiriman kami setiap
tanggal 1 dan 15 di mailbox Anda. Selamat melayani.
e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL
STAF REDAKSI e-Konsel
Ratri, Tesa, Evie, Puji, Yulia
PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2005 oleh YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel(at)sabda.org>
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat: <owner-i-kan-konsel(at)xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
Berhenti: Kirim e-mail kosong: unsubscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
ARSIP publikasi e-Konsel: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
|