><> Edisi (016) -- 15 Mei 2002 <><
e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Daftar Isi:
- Pengantar : Peranan Roh Kudus dalam Konseling
- Cakrawala : Tergantung pada Kuasa Roh Kudus
- Bimbingan Alkitabiah : Membimbing Secara Rohani
- Tips : Roh Kudus dan Konseling
- Surat : Bahan-bahan e-Konsel Sangat Berguna
*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*
-*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-
Sebelum naik ke surga, Tuhan Yesus menjanjikan bahwa Ia akan
mengirimkan seorang Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan menyertai
murid-murid-Nya selama-lamanya (Yohanes 14:16). Janji itu dipenuhi-
Nya pada hari Pentakosta dimana para murid menerima kepenuhan Roh
Kudus sehingga mereka menjadi berani memberitakan Injil dan diberi
kemampuan untuk berkata-kata dalam bahasa lain (Kisal Rasul 1:8).
Hal ini menjadi peringatan kepada kita bahwa semua pelayanan yang
kita lakukan, termasuk pelayanan konseling, sangat tergantung pada
kuasa Roh Kudus. Tanpa bimbingan dan kuasa-Nya maka pelayanan kita
hanyalah bersifat manusiawi. Kiranya sajian kami pada edisi ini
mendorong kita dan juga hamba-hamba Tuhan yang berkecimpung dalam
pelayanan konseling untuk selalu bersikap rendah hati dan menyadari
betapa kita tergantung pada kuasa Roh Kudus. Biarlah Roh Kudus
bekerja dengan bebas melalui kita sehingga banyak jiwa boleh
mengalami jamahan-Nya.
Dalam kasih-Nya
Staf e-Konsel
*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*
-*- TERGANTUNG PADA KUASA ROH KUDUS -*-
Pastoral konseling adalah pelayanan yang mutlak tergantung pada
kuasa Roh Kudus.
Keunikan pastoral konseling juga terletak pada sikap hamba Tuhan
yang percaya akan kehadiran, pengaruh dan campur tangan langsung
dari Allah dalam pelayanan konselingnya. Ia tidak pernah sendiri.
Ia tidak pernah menjadi seperti yang Erich Fromm katakan,
"Man is alone in the universe, indifferent to his fate."
("Man For Himself", Reinhart, N.Y., 1947, p. 445).
Oleh karena Roh Kudus selalu beserta dengan dia.
Realita ini seharusnya melahirkan keyakinan dalam diri hamba Tuhan,
bahwa:
-- Pola triangle dari interaksi selalu menjadi pola dalam setiap
bagian dalam pelayanan konselingnya. Tuhan Yesus berkata dalam
Matius 18:20 bahwa,
"... di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku,
di situ Aku ada di tengah-tengah mereka".
Tanpa pola triangle ini, pastoral konseling sebenarnya
kehilangan keunikannya karena sama seperti yang Martin Buber
katakan,
"memang hanya dalam interpersonal relationship yang utuh
antara konselor dan konsele kehadiran Allah betul-betul
menjadi kenyataan yang positif."
("I and Thou", Clark Edition, Edinburg, 1937, p. 75).
-- Sukses setiap pelayanan konseling tergantung mutlak pada
kehadiran Roh Kudus sendiri. Seperti yang Paulus katakan dalam
2 Korintus 3:5-6 bahwa,
"dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk
memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri;
tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.`Ialah yang
membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu
perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis,
tetapi dari hukum Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan,
tetapi Roh menghidupkan."
Sayang sekali, kehadiran Roh Kudus ini dalam banyak hal masih
meragu-ragukan bahkan belum betul-betul dimengerti apalagi
dialami oleh hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan konselingnya.
Sering kali kehadiran Roh Kudus bahkan dimengerti sebagai
pengalaman mistik yang tentu saja tidak riil. Webster menyebutnya
sebagai,
"It is neither apparent to the sense nor obvious to the
intellegence." ("Webster's Third New International Dictionary")
Di samping itu, banyak pula hamba Tuhan yang mengerti kehadiran Roh
Kudus hanya sebagai simbol, sehingga pada akhirnya makna kehadiran
itu sendiri semata-mata tergantung hanya dari interpretasi si
pemakai simbol itu. Karena itu perlu bagi hamba-hamba Tuhan
menyadari bahwa:
-- Kehadiran Roh Kudus itu adalah sesuatu yang riil, meskipun ia
sendiri mungkin tidak merasakannya (1 Korintus 6:19).
Paul Tillich pernah mengatakan,
"Spiritual experience is reality in everyone, as solid as the
experience of being loved or the experience of the air one
breathes. Therefore ... we should become fully aware of the
spiritual presence around us and in us, even if we realize how
limited maybe our experience of 'God present to our spirit'.
For this is what divine spirit means; God present to our
spirit. Spirit is not a mysterious substance, it is not a part
of God; it is God himself .... God is present in communities
and personalities, grasping them, inspiring them, transforming
them." ("Spiritual Presence", Pastoral Psychology, Oct. 1962,
p. 26)
Hanya jikalau hamba Tuhan percaya akan realita ini, akan mengerti
(dan menantikan) bahwa Roh Kuduslah sumber "new insight" (sumber
dari munculnya pemikiran dan pengertian-pengertian baru) atas
kedalaman misteri kehidupan manusia di balik persoalan-persoalan
konselenya; sumber dari munculnya "right words" (kata-kata yang
tepat, yang diucapkan pada saat yang tepat); sumber dari
keberanian untuk melakukan "self-sacrifice" (pengorbanan diri
demi untuk keselamatan konsele); sumber "new hope" (pengharapan
baru) dalam diri konsele di tengah suasana dan kondisi hidup yang
kelihatannya masih sama saja; sumber munculnya "sukacita,
semangat dan keberanian" dalam diri konsele untuk menghadapi
realita hidupnya.
-- Kehadiran Roh Kudus itu adalah kehadiran Allah sendiri yang
secara aktif campur tangan dalam sejarah manusia
(Yohanes 14:18,26; Matius 28:20).
David F. Roderick menyatakan bahwa,
"He is the actualizer of the whole work of God the Power which
transforms the potential into the actual." ("In Evaluation and
Christian Education", Nat. Couns of Churches Pub. pp. 11f)
Kesadaran inilah yang membuat hamba-hamba Tuhan sebagai konselor
selalu rendah hati, sadar akan keterbatasannya, sadar akan
peranannya yang hanya alat di tangan Allah dan memberi kebebasan
sepenuh-penuhnya pada Roh Kudus untuk bekerja dalam diri konsele.
Seperti yang De Forrest Wiksten katakan,
"Counseling is the process of potently waiting upon the Spirit
of God ("The Power of Pastoral Counseling as the Work of the
Holy Spirit", Pastoral Psychology, Oct. 1969, p. 31).
Di samping itu, kesadaran ini juga membuat konselor selalu
diingatkan akan posisinya (yang dihadapan Allah) sederajat dan
tidak lebih tinggi dari si konsele.
Wayne Oates dengan tepat sekali mengatakan bahwa,
"The counselee and the counselor are much more alike than they
are different; the both are incurably human. Suffering the
basic human anxieties of economic survival, the shortness of
life and the continual need for the decisive action of the
spirit called faith working through love. This realization is
their common ground of acceptance and communication."
("Anxieties in Christian Experience", Westminster Press, Phil.,
1955, p. 86-87)
Sikap yang positif menyebabkan ia sebagai konselor tidak berani
"play God", karena ia betul-betul sadar bahwa keberhasilan dari
konselingnya tidak tergantung pada keahlian dan kekuatannya
sendiri. Heije Faber mengatakan bahwa sukses seorang hamba Tuhan
adalah sukses dan keberhasilan yang sangat unik,
"The minister is just a clown in the circus, the victory is a
strange victory of the man who recognizes his weakness, his
powerlessness and failure, and accept it as part of the scheme
of things; he is the little man who continues to have faith in
something indestructible." ("Pastoral Care in the Modern
Hospital", Westminster Press, Phil., 1971, p. 82).
Hamba Tuhan harus dapat mempertahankan keunikan ini, karena
kehadiran Roh Kudus bukan hanya ide atau doktrin, tetapi seperti
yang John Bailie katakan, kehadiran Roh Kudus adalah
"... a direct relationship to God who is in presence"
("Our Knowledge of God", Charles Schribner's Sons, N.Y., 1939,
p. 216).
Ia adalah Allah yang bersedia hadir dalam diri konselor maupun
konsele (1 Korintus 6:19). Tugas konselor adalah membuka
kesempatan dan tidak menghalangi Ia bekerja secara lebih bebas
dalam diri konsele.
Edith Agnew mengingatkan bahwa,
"We as pastors and counselors have done our best, after
that ... a miracle must still take place." ("Holy spirit in
Counseling Process", Pastoral Psychology, quoted by Don
Falkeberg, Nov. 1964, p. 37).
Bagaimanapun sempurnanya pelayanan konseling kita, tetap kita
harus menantikan miracle yaitu sesuatu yang Ilahi yang terjadi,
yang akan menyempurnakan pelayanan ini. Disinilah letak keunikan
pastoral konseling.
-*- Sumber -*-:
Judul Buku: Pastoral Konseling, Jilid 1
Penulis : Yakub B. Susabda
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2000
Halaman : 57 - 59
*BIMBINGAN*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*
-*- MEMBIMBING SECARA ROHANI -*-
Mengikuti Firman
----------------
Penyelidikan Firman Allah yang dilakukan pembimbing alkitabiah
secara pribadi penting sekali. Semakin banyak Firman yang diketahui
dan diterapkan dalam kehidupan pribadinya, semakin siap ia untuk
membantu orang lain didalam jalan Tuhan. Dari bekal Firman Allah
yang hidup melalui kemampuan yang diberikan Roh Kudus, pembimbing
akan memiliki belas kasihan maupun kebenaran Allah untuk melayani
orang yang berkeperluan. Lagipula, ia akan mampu untuk memimpin yang
dibimbing agar mengikuti Firman Allah bagi dirinya.
Bimbingan alkitabiah dimulai dengan Firman Allah. Hal ini bukan
berarti suatu jawaban yang cepat dan mudah dari Alkitab, melainkan
penerapan Kitab Suci yang harus dicari dan dihayati. Pembimbing
alkitabiah harus terus-menerus mempelajari dan menghayati Firman
Allah dan mendorong yang dibimbing untuk melakukan hal yang sama.
Pendalaman dan penghayatan Firman Allah sangat penting dalam
melayani masalah-masalah kehidupan. Mereka yang ingin menolong orang
lain kami anjurkan agar berpegang pada sumber ini dengan penuh
kepercayaan. Tidak ada cara lain lagi yang mempunyai kuasa untuk
mendatangkan perubahan seperti itu.
Karena pentingnya Alkitab melalui semua sumber pertolongan lain,
kita tidak berusaha memberikan jawaban khusus untuk masalah khusus.
Suatu sistem yang khusus mungkin merupakan penerang dan memberikan
suatu arah yang tertentu. Namun rencana yang khusus mungkin juga
menghalangi kita untuk langsung menuju kepada Tuhan dan Firman-Nya.
Jika suatu metode pengarahan diuraikan secara rinci, pembimbing
mungkin mempergunakan metode itu daripada dengan rajin mengikuti
ajaran Firman Allah dan mencari kehendak Tuhan demi kepentingan
orang yang dibimbing dan kebutuhannya.
Buku-buku yang mempergunakan pendekatan alkitabiah untuk bimbingan
mungkin berguna selama buku-buku tersebut tidak menggantikan
penggunaan Alkitab secara langsung. Tetapi mereka seharusnya
meningkatkan penggunaan Alkitab dan mendorong pembimbing untuk
mempergunakan Firman Allah daripada sistem-sistem manusia. Buku-buku
yang memberikan contoh-contoh tentang bagaimana Alkitab dipergunakan
selama bimbingan menunjukkan efektivitas penggunaan Firman Allah.
Namun seorang pembimbing tidak boleh mencoba untuk meniru contoh-
contoh itu secara khusus karena setiap orang yang dibimbing dan
setiap hubungan bimbingan bersifat unik. Sebaliknya, harus ada
aliran yang terus-menerus dari rahmat, dan kebenaran Allah.
Pembimbing harus langsung menuju pada Firman Allah dan Tuhan yang
akan menerangkan Firman Allah dan memberikan penerapan.
Berdoa Minta Pimpinan Roh Kudus
-------------------------------
Tuhan telah memberikan Firman-Nya dan Roh Kudus-Nya untuk memampukan
pembimbing dan yang dibimbing untuk mengenal dan menaati-Nya. Di
seluruh Kitab Suci, Tuhan mendorong umat-Nya untuk mencari hikmat
dan kehendak-Nya melalui doa. Sesungguhnya, mengikuti Firman Allah
dan berdoa berjalan seiring sementara seseorang mencari kehendak
Allah.
"Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan
menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu
memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada
kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan
menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya
seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta
terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut
akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena Tuhanlah
yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan
kepandaian." (Amsal 2:1-6)
Tuhan melaksanakan banyak kehendak-Nya yang penuh kasih karunia bagi
anak-anak-Nya melalui doa. Melalui doa, pembimbing maupun yang
dibimbing dapat benar-benar masuk kehadirat Allah untuk "menerima
rahmat dan ... menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan
... pada waktunya" (Ibrani 4:16). Pembimbing akan mendorong yang
dibimbing untuk mencari Tuhan melalui doa baik selama bimbingan
maupun sepanjang minggu.
Pembimbing akan mulai berdoa bagi yang dibimbing beberapa waktu
sebelum bimbingan yang sebenarnya mulai, untuk menaikkan doa syafaat
bagi yang dibimbing dan menyerahkan dirinya dihadapan Allah untuk
penyucian sehingga ia akan menjadi saluran berkat, hikmat,
kebenaran, rahmat, dan kasih karunia Allah. Banyak hal yang terjadi
dalam bimbingan alkitabiah bergantung pada apa yang terjadi dalam
doa. Meminta, mencari, dan mengetuk secara terus-menerus dan telinga
yang siap adalah cara-cara yang diberikan Yesus untuk menemukan
pertolongan bagi orang lain dan juga bagi diri sendiri. Kesetiaan
dalam doa adalah ciri seorang pembimbing yang memandang kepada Allah
untuk perubahan dan pertumbuhan dan yang tetap peka terhadap
pekerjaan Roh dalam kehidupan orang yang dibimbing.
Dalam bimbingan alkitabiah, percakapan dengan orang yang dibimbing
harus didasarkan pada komunikasi dengan Allah. Beberapa masalah
tampaknya tetap ada walaupun sudah diberi pengajaran yang saksama.
Hanya Tuhanlah yang dapat mengungkapkan akar suatu masalah atau
jalan ke luar bagi seorang tertentu yang sedang dibimbing. Saat-saat
berdoa seperti itu merupakan pertemuan dengan Pembimbing Agung.
Pembimbing bukan hanya mengemukakan masalahnya dan memohon kepada
Allah untuk melakukan sesuatu; ia sedang berusaha mengetahui
bagaimana ia dapat bekerja sama dengan Allah untuk mendatangkan
kesembuhan, pemulihan, pendamaian, dan pembaruan.
Seorang pembimbing alkitabiah dapat mengikuti sebagian besar
kehidupan doa Paulus pada waktu ia berdoa bagi orang-orang Kristen
yang mula-mula. Doa-doa seperti itu telah dituliskan dan mempunyai
kekuatan yang besar sekali karena doa-doa itu diilhamkan oleh Allah.
Beberapa dari doa-doa itu dituliskan dalam Efesus 1:17-19 & 3:16-19;
Filipi 1:9-11; Kolose 1:9-12; dan 2 Tesalonika 1:11-12. Juga ada
banyak buku tentang doa, namun Alkitab tetap harus menjadi sumber
utama bagi segala yang dilakukan dan dikatakan pembimbing.
Bimbingan rohani merupakan peperangan rohani. Seorang pembimbing
alkitabiah tidak dapat menang dengan senjata-senjata jasmani atau
manusiawi karena ia sedang melayani ditengah-tengah peperangan
rohani antara Allah yang mulia dan kekuatan-kekuatan kejahatan.
"Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging,
tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa,
melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh
jahat di udara." (Efesus 6:12)
Pembimbing harus memelihara dan memakai baju zirah, berlatih
mempergunakan perisai, dan menjadi seorang ahli dalam mempergunakan
pedangnya, yang adalah Firman Allah. Aktivitasnya yang paling besar
dan paling penting terjadi dalam komunikasinya dengan Allah melalui
pembacaan Firman dan doa.
Tunjukkan Jalan Tuhan Sebagaimana Diungkapkan oleh Firman dan Roh
-----------------------------------------------------------------
Menunjukkan jalan Tuhan sebagaimana diungkapkan oleh Firman Allah
dan Roh Kudus meliputi cara penyajian maupun isi percakapan.
Percakapan dalam bimbingan alkitabiah menuntut adanya kombinasi dari
rahmat dan kebenaran serta keseimbangan dalam mendengar dan
berbicara.
Karena Allah ingin menarik orang-orang lebih dekat kepada diri-Nya
melalui kasih, maka bimbingan alkitabiah harus diberikan dalam
kasih. Namun karena kasih Allah juga mencakup kebenaran, bimbingan
alkitabiah harus mencerminkan ciri itu juga.
"Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau!
kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,
maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan
Allah serta manusia." (Amsal 3:3-4)
Alkitabiah tidak mengajarkan metodologi yang semata-mata
mencerminkan perasaan seseorang, bukan sentimentalitas yang dangkal,
dan bukan pula kekerasan yang autokratik. Alkitabiah mengajarkan,
melalui ilustrasi dan prinsip yang tidak terhitung jumlahnya, bahwa
harus ada kombinasi dari rahmat dan kebenaran. Bimbingan tanpa
kombinasi ini tidak memenuhi standar Alkitab.
Kitab Suci teguh dan prinsip-prinsipnya tidak pernah berubah. Namun
proses bimbingan tidak kaku. Yesus tidak melayani semua orang dengan
cara yang sama. Ia melayani setiap orang di tempat orang itu berada
tanpa menurunkan standar. Dengan berbuat demikian, Yesus menunjukkan
keseimbangan antara rahmat dan kebenaran. Dalam hikmat Yesus
menyatakan kebenaran dan keadilan dengan cara yang paling efektif
bagi masing-masing orang. Ketika seorang pemuda kaya datang kepada
Yesus, Ia menyampaikan kebenaran dalam rahmat ketika Ia berkata
bahwa untuk mengikuti Allah ia harus menjual semua miliknya. Namun
tanpa mengubah standar, Yesus mempunyai berita yang berbeda untuk
Nikodemus: keperluan untuk dilahirkan kembali. Jika berita-berita
ini dipertukarkan, tidak akan ada keseimbangan antara rahmat dan
kebenaran karena kepekaan rohani terhadap keperluan seseorang akan
hilang.
-*- Sumber -*-:
Judul Buku: Bimbingan Berdasarkan Firman Allah
Penulis : Martin dan Deidre Bobgan
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1996
Halaman : 136 - 141
*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*
-*- ROH KUDUS DAN KONSELING -*-
Pembimbingan adalah Pekerjaan Roh Kudus
---------------------------------------
Pembimbingan yang efektif tidak dapat dilakukan tanpa pimpinan-Nya.
Ia disebut "paraclete" (pendamping) yang menggantikan Kristus bagi
murid-murid-Nya. Pembimbing-pembimbing yang belum selamat tidak
mengenal Roh Kudus. Mereka abaikan kegiatan bimbingan-Nya sehingga
gagal memperoleh pimpinan dan kuasa yang mereka butuhkan.
Pembimbingan kalau bersifat Kristen, dilaksanakan secara serasi
dengan pekerjaan pembaharuan dan penyucian dari Roh Kudus. Tidak
kebetulan Roh Kudus disebut "Kudus". Roh Kudus adalah sumber dari
segala perubahan pribadi menuju kesucian. Semua sifat pribadi yang
baik; kasih, sukacita, damai, kesabaran, dan sebagainya dinyatakan
Allah sebagai "buah" Roh.
Bertindak hidup terpisah dari pada-Nya bukan saja sia-sia, tetapi
perbuatan demikian merupakan pemberontakan menentang Allah,
berdasarkan anggapan humanistis mengenai kedaulatan manusia.
Mengabaikan Roh Kudus merupakan penolakan yang sangat buruk dan
kepercayaan bahwa pada hakekatnya manusia adalah baik. Dengan
demikian diabaikan kebutuhan orang bimbingan akan anugerah dan
penebusan Kristus, dan orang tetap berpegang pada kebenaran dirinya
sendiri yang akhirnya membawa kepada keputusasaan.
Roh Kudus Bekerja dengan Berbagai Cara
--------------------------------------
Roh Kudus biasanya melakukan tugas pembaharuan budi-pekerti melalui
beberapa saluran anugerah. Ia memakai Firman Allah, sakramen-
sakramen dan doa. Juga melalui persekutuan orang-orang percaya Ia
membawa perubahan. Betapa mustahil bimbingan para "ahli" yang tidak
mengenal anugerah dapat mengerjakan perubahan-perubahan yang
bertahan lama. Perubahan hanya terjadi dalam anugerah.
Ketidaktentuan dan ketegangan masalah ini dirasakan oleh hampir
setiap pendeta. Tetapi ketakutan dan ketidakpastian (timbul karena
propaganda psikiatri), frustasi (karena tidak tahu bagaimana
mengatasi masalah yang kompleks) atau sikap mengalah saja, sering
melanda para rohaniawan. Sudah waktunya untuk memeriksa kembali
sikap kita sebagai orang Kristen, dan faktor yang terpenting dalam
pemeriksaan kembali itu adalah memberi tempat yang layak kepada Roh
Kudus.
"Siapakah yang mempesona kamu .... Kamu telah mulai dengan Roh,
apakah kamu sekarang mau mengakhiri didalam daging?"
(Galatia 3:1,3).
Roh Kudus Bekerja Melalui Firman-Nya
------------------------------------
Roh Kudus mengharapkan para pembimbing menggunakan Firman-Nya, yaitu
Alkitab. Alkitab diberikan untuk tujuan tersebut dan sangat berkuasa
bila dipergunakan (2 Timotius 3:16,17). Dalam pasal ini tidak perlu
diperiksa kembali semua bagian Alkitab yang menyatakan hubungan
antara Roh dengan Firman, yang perlu kita pelajari dari Alkitab
hanyalah yang dilakukan oleh Roh dalam bimbingan.
Dipimpin oleh Roh (Galatia 5:18), misalnya, haruslah dimengerti
bukan sebagai dipimpin terpisah dari Firman itu. Istilah "dipimpin"
tidak menunjuk kepada perasaan batin atau desakan, ataupun
pengilhaman secara istimewa. Pokok yang harus diperhatikan ialah
bahwa karena Roh Kudus menggunakan Firman-Nya dalam menumbuhkan
kesucian, maka pembimbingan tidak akan berhasil lepas dari
penggunaan Alkitab. Pembimbingan tanpa Firman Allah adalah
pembimbingan yang tidak dipimpin oleh Roh Kudus.
Roh Kudus dan Keahlian
----------------------
Karena metode-metode pembimbingan akan banyak dipakai ketika kita
melayani konseling, ada kemungkinan seseorang mendapat kesan bahwa
pertolongan Roh Kudus sudah digantikan oleh teknik-teknik manusiawi.
Sesungguhnya kesan ini salah. Metodologi dan teknik, keahlian dan
menggunakan bakat tidak diharamkan oleh Roh Kudus. Yang menyebabkan
adanya perbedaan adalah sikap dan motivasi seseorang. Apakah ia
bersandar pada usahanya sendiri, berdasarkan suatu metode dan
teknik, ataukah ia mengakui ketidak-mampuannya dan meminta
pertolongan Roh Kudus. Semua keahlian itu dapat juga digunakan dalam
penyerahan total kepada Roh, demi kemuliaan Allah dan untuk kebaikan
anak-anak-Nya. Misalnya, Roh Kudus menggerakkan hati orang-orang
percaya di Yerusalem untuk mengumpulkan harta milik mereka untuk
membantu orang-orang yang miskin; Roh Kudus yang sama mendorong
Paulus untuk mengumpulkan dana di sekitar Laut Tengah dengan tujuan
yang sama.
-*- Sumber -*-:
Judul Buku: Anda pun Boleh Membimbing
Penulis : Dr. Jay E. Adams
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986
Halaman : 23 - 25
*SURAT *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- DARI ANDA -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* SURAT*
Dari: "Joice Juniarta Siagian" <joicesiagian(at)>
>Dear e-Konsel,
>Saya tidak tahu dari mana anda mendapatkan e-mail saya tapi saya
>bersyukur karena kiriman e-konsel sangat berguna baik bagi diri
>saya pribadi dan juga sekeliling saya. Terutama saya sangat senang
>karena bahan-bahan e-konsel juga berguna untuk kepentingan pendeta
>saya di GMAHK Sidang Cengkareng. Beliau sangat senang karena
>dengan bahan-bahan e-konsel, stok khotbahnya juga bertambah dan
>juga sebagai bahan referensi kalau dia harus bertindak sebagai
>konselor. Tetap berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
>GBU, Joice Siagian
Redaksi:
Senang sekali kami mendengar kesaksian tersebut. Dukung terus dalam
doa supaya bahan-bahan e-Konsel bisa semakin tersebar dan banyak
orang bisa menggunakannya dalam pelayanan konseling.
e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL
STAF REDAKSI e-Konsel
Yulia O., Lani M., Ka Fung
PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2002 oleh YLSA
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel(at)sabda.org>
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat: <owner-i-kan-konsel(at)xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
Berhenti: Kirim e-mail kosong: unsubscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
Sistem Lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
ARSIP publikasi e-Konsel: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
|