copyright
19 Jan 2020 | Home | Bible | Biblical | Tools | Download | | SiteMap |
Bible Versions 
Alkitab Terjemahan Baru
Alkitab Kabar Baik (BIS)
Firman Allah Yang Hidup
Perjanjian Baru WBTC [draft]
Alkitab Terjemahan Lama
Kitab Suci Injil
Alkitab Shellabear [draft]
Alkitab Melayu Baba
Alkitab Klinkert 1863
Alkitab Klinkert 1870
Alkitab Leydekker [draft]
Alkitab Ende
TB Interlinear [draft]
TL Interlinear [draft]
AV with Strong Numbers
Bible in Basic English
The Message Bible
New King James Version
Philips NT in Modern English
Revised Webster Version
God's Word Translation
NET Bible [draft]
NET Bible [draft] Lab
BHS with Strongs
Analytic Septuagint
Interlinear Greek/Strong
Westcott-Hort Greek Text
Textus Receptus

Introductions 
Pengantar Full Life
Pengantar BIS
Pengantar FAYH
Pengantar Ende
Pengantar Jerusalem
Pengantar Bible Pathway
Intisari Alkitab
Ajaran Utama Alkitab
Garis Besar Full Life
Garis Besar Ende
Garis Besar Pemulihan
Judul Perikop Full Life
Judul Perikop BIS
Judul Perikop TB
Judul Perikop FAYH
Judul Perikop Ende
Judul Perikop KSI
Judul Perikop WBTC

Verse Notes 
Catatan Ayat Full Life
Catatan Ayat BIS
Catatan Ayat Ende
Catatan Terjemahan Ende
Catatan Ayat Jerusalem
Referensi Silang TSK
Referensi Silang TB
Referensi Silang BIS
Santapan Harian

Dictionaries 
Kamus Kompilasi
Kamus Easton
Kamus Pedoman
Kamus Gering
Maps

Lexicons 
Greek Lexicon
Hebrew Lexicon
Ibadat
Previous wordNext word
Kamus Kompilasi Kamus Easton Kamus Pedoman Kamus Gering Maps
Kamus Kompilasi
Previous wordNext word../../images/steelblue/top.gif
==K.Haag== Ibadat
 Ibadat.
 (I) BAHASA PERCAKAPAN.
 PL tidak mempunyai kata tersendiri untuk ~I, namun
 sekurang-kurangnya mereka gunakan kata "syarat" (pelayanan) dan
 terutama kata "abodah" (karya, buah karya). Semula itu dipakai dalam
 bidang profan, kemudian diberi arti khas dalam tata-terminologi
 religius sebagai: setiap macam ibadat. Pada LXX menggunakan kata
 argon, latreia, leitourgia (: kata tehnik bagi pelayanan imam di
 dalam kemah perjanjian maupun di dalam kenisah). Di dalam PB kata
 latreia dipakai untuk ~I pada umumnya. Hanya surat Ibr. sajalah
 yang menghubungkannya dengan kebaktian kurban oleh imam. Kata
 leitourgia digunakan oleh para LXX dalam artian imamat-kultis. Pada
 Paulus leitourgia mempunyai arti profan biasa "hasil pelayanan".
 Hanya di dalam /TB Kis 13:2 ditemukan sebuah ungkapan untuk pengartian
 di kemudian hari, yang menyebutkan ibadat kristen bersama-sama
 sebagai "liturgi".

 (II) DI DALAM PL.
      (1) ~I dalam artian yang sempit dilakukan oleh para abdi I (-->
 Imam). ~I terikat pada waktu-waktu yang telah ditentukan (-->
 Pesta). ~I dipandang sebagai perintah Allah dan oleh karenanya
 menjadi "pelayan suci" dari pihak jemaat untuk merayakan pemujaan
 Tuhan, melemahkan kemarahannya atau mendapatkan keselamatan maupun
 bantuanNya. Keseluruhan pelayanan kurban, persiapan alat-alat ~I.
 Semua itu telah diatur secara tepat.
      (2) Perkembangan. Masalah --> kurban pada zaman prasejarah
 tidak bisa dijangkau lewat ilmu sejarah. Tetapi sejak zaman para
 nenek moyang Isr. telah diberitakan perihal peri-laku I itu.
 Bagaimana dan seberapa jauh pada zaman yang tertua itu nampaknya
 masih ada jejak perkembangan bentuk-bentuk ~I yang primitif (: magi,
 ~I binatang, perayaan bulan, upacara kesuburan) dan jejak
 benda-benda ~I primitif (: ular tembaga, roti persembahan, tabut),
 yang sampai kini tidak dapat dibuktikan. Kalau begitu, maka semuanya
 paling tidak hanya dimasukkan ke dalam ~I Yahwe. Demikian pula
 mengenai begitu banyaknya ketentuan mengenai masalah --> tahir atau
 najis, yang timbul dari pandangan tabu kuno. Musa niscaya telah
 meletakkan dasar ~I yang diorganisir. Atas dasar perwahyuan pribadi
 ia lalu membuat berlakunya Yahwe melulu sebagai Allah dan dengan
 demikian Yahwe dijadikan sasaran ~I satu-satunya. Berita kuno dari
 zaman para hakim dan dari zaman para raja yang pertama
 memperlihatkan kebiasaan ~I, yang tidak dapat dipersatukan dengan
 hukum pentateukh (: kurban manusia, persembahan kurban oleh imam
 yang bukan dari suku Lewi dan lain-lain). Setelah penguasaan tanah
 Kanaan, maka secara jelas sekali korban dan pesta bangsa Isr.
 dipengaruhi oleh bangsa Kanaan. Tetapi pada prinsipnya ~I Yahwe
 melawan kebiasaan-kebiasaan kafir. Sikap para nabi atas ~I pada
 dasarnya adalah positif, Polemik mereka hanya melawan ~I yang
 dilakukan secara lahiriah melulu, karena tidak mengandung makna bagi
 hidup susila. Tersebarnya tempat ~I di seluruh tanah Palestina tetap
 ada, yang barangkali disebabkan oleh pengaruh Kanaan yang tak
 kunjung putus, meskipun sudah ada pengaturan baru dan pemusatan ~I
 di Yerusalem, yang didambakan oleh Salomo dan pembanguan Kenisah.
 Setelah ~I kurban diikat pada kenisah Yerusalem dan setelah tanah
 kafir dinyatakan najis, maka bangsa Isr. harus meninggalkan setiap
 ~I, waktu mereka berada di dalam pembuangan. Setelah kembali dari
 pembuangan, maka ~I resmi baru dapat dilakukan kembali. Bersamaan
 dengan itu di --> sinagoga-sinagoga diadakan kebaktian tanpa kurban.
 Berdoa, berpuasa dan memberi dana termasuk bilangan pengganti yang
 dipandang sempurna. Dari perkembangan tersebut, dapatlah dimengerti,
 betapa gampang Yudaisme para rabi bisa hidup tanpa ~I kurban pada
 waktu Yerusalem sudah hancur.

 (III). DI DALAM PB.
      Meskipun Yesus tidak menolak ~I yang tradisional, namun Ia
 taruhkan Diri-Nya di atas dan Ia melawan hukum-hukum rituil, selama
 hukum-hukum itu hanya diikuti secara formalitas belaka. Hukum cinta
 kasih ada di atas kebiasaan Sabat dan kebiasaan kurban
 (/TB Mat 5:23-24; 12:7-8; Mark 7:1-13). Yesus memberitahukan
 terlebih dahulu perihal kehancuran kenisah dan dengannya juga akhir
 dari ~I (/TB Mark 13:2 dsj). Dengan kurban kematianNya Yesus
 menempatkan Diri selaku pengganti bahan kurban dan imam. Menurut
 Paulus seluruh hidup kristen dilibatkan pada kejadian kurban Yesus
 dan dengan demikian menjadi sebuah kebaktian yang berlangsung
 terus-menerus. Sesuai dengan pengkristenan seluruh hidup itu,
 pelakanaan PB harus dilakukan dengan tanpa ibadat dan sakramental
 yang baru (: Baptis, tobat, pengolesan orang sakit, penumpangan
 tangan dan terutama ekaristi). Dalam pemberian bentuk lainnya orang
 dapat mengambil-alih praksis Yahudi. Pada dasarnya ~I PB itu kurang
 sekali untuk menjadi sebuah pelayanan yang aktif terhadap Tuhan,
 sebab Ia lebih merupakan suatu penerimaan pemberian keselamatan
 penuh syukur di dalam sakramen dan sabda. Oleh karena itu para
 pejabat dan pemimpin jemaat bukan "liturgi" yang berdiri sendiri,
 melainkan hanyalah "abdi Kristus dalam melayani rahasia-rahasia
 ilahi" (/TB 1Kor 4:1).

| About Us | Support Us | F.A.Q. | Guest Book | YLSA Sites |copyright ©2004–2015 YLSA