SABDAweb ©
Biblical
Introduction
28 Nov 2020 | Home | Bible | Biblical | Tools | Download | | SiteMap |
Bible Versions
Alkitab Terjemahan Baru
Alkitab Kabar Baik (BIS)
Firman Allah Yang Hidup
Perjanjian Baru WBTC [draft]
Alkitab Terjemahan Lama
Kitab Suci Injil
Alkitab Shellabear [draft]
Alkitab Melayu Baba
Alkitab Klinkert 1863
Alkitab Klinkert 1870
Alkitab Leydekker [draft]
Alkitab Ende
TB Interlinear [draft]
TL Interlinear [draft]
AV with Strong Numbers
Bible in Basic English
The Message Bible
New King James Version
Philips NT in Modern English
Revised Webster Version
God's Word Translation
NET Bible [draft]
NET Bible [draft] Lab
BHS with Strongs
Analytic Septuagint
Interlinear Greek/Strong
Westcott-Hort Greek Text
Textus Receptus

Introductions
Pengantar Full Life
Pengantar BIS
Pengantar FAYH
Pengantar Ende
Pengantar Jerusalem
Pengantar Bible Pathway
Intisari Alkitab
Ajaran Utama Alkitab
Garis Besar Full Life
Garis Besar Ende
Garis Besar Pemulihan
Judul Perikop Full Life
Judul Perikop BIS
Judul Perikop TB
Judul Perikop FAYH
Judul Perikop Ende
Judul Perikop KSI
Judul Perikop WBTC

Verse Notes
Catatan Ayat Full Life
Catatan Ayat BIS
Catatan Ayat Ende
Catatan Terjemahan Ende
Catatan Ayat Jerusalem
Referensi Silang TSK
Referensi Silang TB
Referensi Silang BIS
Santapan Harian

Dictionaries
Kamus Kompilasi
Kamus Easton
Kamus Pedoman
Kamus Gering
Maps

Lexicons
Greek Lexicon
Hebrew Lexicon
Garis Besar Ende - Hebrews
Chapter: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Previous bookNext book

Isi surat

Isi surat ini terdiri dari dua atjara pokok jang terdjalin satu dengan jang lain, dan bersisipkan peringatan-peringatan, adjakan-adjakan dan andjuran- andjuran untuk praktek hidup.

Atjara pertama ialah: Hidup umat Allah jang baru adalah terlambang dalam perdjalanan umat Israel dari Mesir ketanah jang didjandjikan kepada mereka; dan atjara kedua: Kristus adalah Imam Agung abadi bagi kita.

Ringkasan atjara pertama

Umat Israel dibebaskan dari perhambaan mereka di Mesir oleh Allah sendiri, dengan kekuatan kemahakuasaannja dan tindakan-tindakan jang adjaib, lalu dipimpin olehNja dengan tjinta kebapaan, melalui gurun pasir kedalam tanah terdjandji. Segalanja itu diselenggarakanNja dengan perantaraan Moses. Djalan pandjang dan berat, sepi dan penuh rintangan dan kesusahan, sehingga mendjadi pokok banjak penggodaan. Jang bertahan, tetap setia kepada perdjandjian jang ditetapkan Allah dengan mereka, dan dalam pada itu taat kepada pimpinan Moses, kemudian dengan selamat sampai ditanah terdjandji, tanah "istirahat" (Ibr 3:11 (ENDE) dsl) itu. Tetapi orang-orang jang tidak pertjaja, bersungut-sungut dan memberontak, achirnja murtad dari perdjandjian, semua binasa ditengah djalan.

Sedjadjar dengan itu umat Allah jang baru, dibebaskan oleh Allah dari perhambaan dosa, lalu dipimpin olehNja dengan perantaraan Kristus menudju "istirahat abadi" (Ibr 4:9-11 (ENDE)). Tetapi djalan inipun pandjang dan penuh kesukaran, jang banjak dapat membangkitkan penggodaan. Menempuh djalan ini berarti mengikuti djedjak Jesus, jang ganti bahagia jang tersedia baginja, memilih salib dengan tidak menghiraukan segala kehinaan (Ibr 12:2 (ENDE)). Tetapi mengikuti Jesus dalam sengsaraNja berarti pula mengikutiNja dalam kebahagiaan "istirahat Allah" jang abadi.

Perlu dengan sepenuhnja pertjaja kepada pimpinan Kristus. Didalam kemuliaanNja didalam surga Ia selalu mempersembahkan "darahNja" bagi kita, dan itu mendjamin kemenangan jang terachir. Akan tetapi orang jang tidak bertahan dan murtad, akan mengalami "hukuman jang mengerikan dan api jang dahsjat" (Ibr 10:27 (ENDE)).

Ichtisar atjara jang kedua

Kalau Jesus disebut Imam Agung abadi kita, itu bukan kiasan sadja, melainkan kenjataan jang diwahjukan dengan memakai kiasan-kiasan bahasa manusiawi.

Sesudah pengarang menundjukkan keagungan Kristus sebagai Putera Allah, Pentjipta dan Tuhan segala machluk (Ibr 1:1-2:8 (ENDE)) dan mulai Ibr 2:9 (ENDE), telah menerangkan bahwa Kristus untuk sementara waktu merendahkan diriNja dibawah para Malaekat, dengan mendjadi manusia jang dalam segalanja ketjuali dosa sama dengan kita, untuk demikian menebus "saudara-saudaraNja, lalu dalam Ibr 2:17 (ENDE) ia pada pertama kali menjebutNja "Imam Agung kita". Disitu selandjutnja pengarang menerangkan, bahwa Imam Agung kita itu sendiri mengalami segala sengsara dan pertjobaan dan sebab itu sanggup turut merasa kesengsaraan dan kelemahan kita, sehingga Ia didorong untuk menolong kita dan menjerahkan DiriNja seluruhnja bagi kita. Dalam Ibr 3:1 (ENDE) Kristus disebut "Utusan (Allah) dan Imam Agung jang harus kita ikuti seperti umat Israel harus mengikuti pimpinan Moses. Dalam Ibr 4:14 (ENDE) pengarang mengingatkan para pembatjanja, bahwa Imam Agung mereka jang berada disurga selalu ingat akan kelemahan mereka dan menolong. Dalam bab 5 Kristus dibandingkan dengan imam-imam agung turunan Aaron dan ditekankan bahwa Kristus dilantik mendjadi Imam Agung langsung oleh Allah sendiri, dengan sabdaNja dalam Maz 110:4* (ENDE): "Engkau adalah Imam Agung abadi serupa Melkisedek". Dalam bab Ibr 7:1-10 (ENDE) diuraikan apakah artinja "serupa Melkisedek" itu. Pengarang melihat tokoh Melkisedek dan peristiwa pertemuannja dengan Abraham (Kej 14:17-20* (ENDE)) semata-mata sebagai lambang Kristus dan sebagai nubuat akan martabat dan tugasNja. Maksudnja disini membuktikan bahwa Kristus djauh lebih tinggi martabatNja dari pada Abraham dan imam-imam agung turunan Aaron dan bangsa Levi.

Kristus Imam abadi kita disurga

Kristus pada pokoknja mendjadi Imam Agung kita dan pertama kali setjara mutlak berfungsi Imam Agung, ketika Ia mentjurahkan darahNja disalib, sebagai kurban kepada BapaNja untuk memperdamaikan denganNja kita bangsa manusia jang berdosa. Dan kurban itu sempurna, sehingga terdjadi satu kali sadja untuk selama-lamanja, dan demikian sempurna, sehingga olehnja seluruh umat manusia dapat memperoleh keselamatan abadi dengan sesempurna-sempurnanja. (Ibr 7:25-27 (ENDE)).

Tetapi jang chusus penting untuk hidup keagamaan kita, ialah keinsjafan, bahwa pengurbananNja disalib dilandjutkan dan bahwa Ia disurga tetap berfungsi Imam Agung bagi kita.

Dalam bab 8 dilandjutkan bahwa Kristus sesudah selesainja kurban darahNja dibumi, lalu sebagai Imam Agung dengan membawa darahNja masuk kemah sedjati, jaitu tempat Allah bersemajam dalam kemuliaanNja, dan disitu Ia didudukan disebelah kanan Allah jang Mahamulia sebagai "leiturgos" kemah jang mahakudus itu (Ibr 8:1-2 (ENDE)). Dan sebagai Imam Agung harus ada padaNja apa-apa untuk dipersembahkan (Ibr 8:3 (ENDE)). Dalam Ibr 9:12 (ENDE) kita batja: Setelah Ia mengadakan penebusan abadi bagi kita Iapun telah melintasi segala tingkatan langit sampai dihadirat Allah, dengan membawa darahNja. Dan menurut Ibr 7:25 (ENDE) Ia disana tetap hidup sebagai pengantara kita, dan menurut Ibr 9:24 (ENDE) Ia "menghadap bagi kita". Dan dalam Ibr 10:5-7 (ENDE) dinjatakan hakekat kurbanNja dengan perkataan: "Engkau telah menjediakan satu tubuh bagiku .... lihatlah Aku datang untuk memenuhi kehendakMu. Dan dalam Ibr 10:10 (ENDE) diterangkan: Dan berkat kehendak (ketaatan kepada kehendak Allah) itu kita semua telah dikuduskan oleh tubuh Kristus itu.

Utjapan-utjapan diatas kita dapati bertebaran tanpa hubungan lurus dan njata. Bagi orang-orang Ibrani jang dikirimi surat tentu tjukup terang sebab mereka telah diberi peladjaran itu lebih luas (Ibr 6:1-3 (ENDE)). Bagi kita ungkapan- ungkapan itu merupakan mutiara-mutiara jang tjemerlang, tetapi jang harus kita sendiri kumpulkan dan aturkan sampai mendjadi suatu gambar mosaik jang memuaskan dan memang akan terasa indah sekali. Dengan djalan perenungan agak bebas kami hendak mentjoba menjusun gambar itu.

Dalam pengurbananNja disalib, Jesuslah imam jang mengurbankan dan kurban jang dipersembahkan. Dan pengarang menamakannja "Imam-Agung", sebab ia memandang imam-imam agung Jahudi dan tugas utama mereka sebagai lambang Kristus dan tjara Kristus mendjadi Penebus kita. Imam agung Jahudi, dan hanja ia boleh dan harus tiap-tiap tahun satu kali masuk kedalam "kemah" (ruang mahakudus dalam kenisah) jang dianggap tempat kehadiran Allah, dengan membawa darah seekor domba jang baru dikurbankan. Darah itu harus dipertjikkannja pada peti perdjandjian jang penutupnja dianggap sebagai singgasana Allah, dan pada barang kudus lain disitu untuk memperoleh pengampunan dosa bagi umat dan "memperdamaikan" mereka kembali dengan Allah.

Upatjara itu lambang dan dikatakan "bajangan" dari kenjataan jang akan datang. jaitu perdamaian seluruh umat manusia dengan Allah oleh Kristus. Kristus mengurbankan diri satu kali sadja untuk selama-lamanja. Sesudah menumpahkan darahNja Ia naik melalui segala lapisan langit sampai kedalam "kemah" jang sedjati, tempat Allah bersemajam disurga, lalu mempersembahkan darah jang dibawaNja, jaitu darahNja sendiri kepada BapaNja, dan dengan itu Ia telah memperoleh pengampunan dosa bagi seluruh umat manusia, memperdamaikan mereka dengan Allah.

Kristus disebut Imam-Agung abadi, jaitu Ia tetap imam, meskipun Ia hanja satu kali mengurbankan DiriNja disalib. Tetapi satu kali "untuk selama-lamanja". Imam-Agung abadi bukan gelaran kehormatan sadja, melainkan Ia berfungsi Imam- Agung untuk selama-lamanja djuga. Ia dinamakan "leiturgos" kemah sedjati. Leiturgos dalam bahasa Kitab Kudus (Septuaginta) umumnja berarti imam jang bertugas melakukan upatjara jang resmi dalam kenisah. Dikatakan pula, bahwa Kristus sebagai Imam-Agung atau "leiturgos" harus mempunjai apa-apa untuk dipersembahkan. Jang dimaksudkan sudah terang, jaitu darahNja. Bukan dipersembahkan setjara menumpahkannja lagi, melainkan setjara mistik. Kurban disalib adalah pokok dan sumber lengkap dan sempurna penjelamatan kita dan tak usah, malah tak boleh diulangi lagi. Dan sebagai peristiwa bersedjarah kurban itu dalam pikiran kita telah lalu, dibatasi dengan ukuran waktu (dalam dimensi waktu). Tetapi bagi Allah pembatasan itu tidak ada. Segala tindakan Allah adalah kekal. Demikian djuga pengurbanan Kristus, Putera Allah, tidak terbatas dalam waktu, melainkan berlangsung untuk selama-lamanja.

Inti dan hakekat pengurbanan bukan bentuknja, melainkan udjudnja, dorongan batin dan kehendak jang mengambil keputusan untuk melaksanakannja. Dan udjud, dorongan dan kehendak Jesus dalam pengurbananNja dinjatakan dalam Ibr 10:5-7 (ENDE) dengan sabda Maz 39:7-9* (ENDE): "Kurban sembelihan dan persembahan- persembahan tiada Kaukehendaki, tetapi sebuah tubuh telah Kausediakan bagiKu; kurban-kurban bakaran dan kurban-kurban perdamaian tiada Kausukai, maka berkatalah Aku: Lihatlah Aku datang memenuhi kehendakMu ja Allah, seperti ada tertulis tentang Aku dalam gulungan Kitab".

Dan dalam Ibr 10:10 (ENDE) pengarang melandjutkan: "Berkat kehendakNja (ketaatanNja) itu kita telah dikuduskan oleh Kurban tubuh Jesus Kristus, satu kali untuk selama- lamanja.

Kutipan dari mazmur diatas boleh dikatakan adalah doa dan djiwa persembahan, jang tak pernah ditarik kembali, melainkan selalu hidup. Doa jang mengandung udjud, dorongan batin dan kehendak tersebut, mendapat bentuknja, jang kelihatan bagi kita dalam kurban disalib. Dan dengan doa itu Kristus sebagai Imam-Agung selalu "menghadap bagi kita" dan "hidup sebagai pengantara kita". Setjara kiasan dapat dikatakan, bahwa Ia selalu mempersembahkan darahNja kepada BapaNja bagi kita, mengingatkan BapaNja bahwa darah itu ditumpahkanNja untuk keselamatan kita. Seperti Joanes dalam buku Wahjunja menulis: Lalu kulihat dimuka tachta dan keempat machluk jang berhajat itu, dan dikelilingi orang tua-tua, Anak-domba berdiri dalam keadaan sebagai disembelih (Wah 5:6 (ENDE)).

Dengan itu kurban disalib tidak diulangi, melainkan dilandjutkan, bagi kita setjara tidak kelihatan. Tetapi kita sekarang ingat akan Ekaristi jang Mahakudus. Bukankah mungkin Imam Agung kita disurga, memberi suatu bentuk sakramentil kepada pengurbanan abadiNja, seperti dahulunja Ia memberi bentuk kurban disalib kepadaNja? Jesus bersabda: "Ambillah dan makanlah, inilah tubuhKu; Minumlah, inilah darahKu jang tertumpah bagi banjak orang untuk pengampunan dosa". Mat 26:26-28 (ENDE). "Buatlah ini untuk peringatan akan Daku". Luk 22:19 (ENDE).

Tak mungkinkah Imam Agung kita mengutjapkan sabda-sabda itu terus-menerus dengan perantaraan imam-imamNja, dan demikian bukan mengulangi kurbanNja disalib, melainkan melandjutkannja dengan memberi suatu bentuk, supaja kita betul-betul ingat akanNja dan supaja demikian anugerah keselamatan abadi sebagai buah-buah kurban disalib disalurkan kepada kita? Dalam djalan pemikiran itu ajat Ibr 13:10 (ENDE). "Kita mempunjai altar dari pada orang jang melajani kemah tidak boleh makan" penuh berarti dan mendapat tempatnja jang wadjar.

Previous book Top Next book
< ABLE align="center" width="700" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" id="b"> | About Us | Support Us | F.A.Q. | Guest Book | YLSA Sites |copyright ©2004–2015 YLSA