Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/misi/2012/6

e-JEMMi edisi No. 06 Vol. 15/2012 (7-2-2012)

Konsep Misi 1

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________

SEKILAS ISI
ARTIKEL MISI: KONSEP MISI DALAM INJIL DAN KISAH PARA RASUL 1
DOA BAGI MISI DUNIA: FILIPINA
DOA BAGI INDONESIA: PENUTUPAN GEREJA

Shalom,

Konsep misi dalam keempat kitab Injil dan Kisah Para Rasul adalah hal
yang penting dan sangat menarik untuk dikupas. Untuk itu, dalam dua
edisi berturut-turut kami akan menyajikan topik tersebut ke hadapan
Anda. Kami berharap artikel yang kami sajikan dapat memberi wawasan
yang mendalam tentang konsep misi kita. Tuhan Yesus memberkati.

Staf Redaksi e-JEMMi,
Yosua Setyo Yudo
< http://misi.sabda.org/ >

              ARTIKEL MISI: KONSEP MISI DALAM INJIL DAN
                         KISAH PARA RASUL 1

Rentang waktu antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Selama berabad-abad, antara nabi terakhir Perjanjian Lama dan
kelahiran Yesus, posisi orang Israel dalam memegang prinsip tidaklah
berubah. Prinsip pemisahan masih dipegang dengan teguh. Israel
diwajibkan untuk mempertahankan keberadaan mereka di tengah-tengah
bangsa lain. Meskipun demikian, kondisi riil lingkungan di mana bangsa
Israel tinggal mengubah pemisahan itu dan dengan demikian siap untuk
berbagai karya misi. Kita seharusnya menaruh cukup perhatian untuk
fenomena ini, jika kita ingin memahami Perjanjian Baru.

Perubahan dalam lingkungan yang sedang kita bicarakan, terutama ketika
bangsa Israel baru saja tiba dari penawanan di Babel. Orang Yahudi
menemukan diri mereka sekali lagi berada di tanah air mereka sendiri
sebagai suatu umat perjanjian. Di bawah kepemimpinan Ezra dan Nehemia,
mereka memurnikan diri mereka dari berbagai hal yang bersifat berhala,
dan menemukan kembali hukum sebagai sebuah tanda perkenanan Tuhan atas
umat-Nya. Namun, sejumlah besar orang Yahudi tertinggal di Persia.

Menurut Ezra 2:64 dan Nehemia 7:66, hanya empat puluh dua ribu orang
Yahudi yang kembali dari penawanan. Jumlah mereka yang tertinggal,
tanpa diragukan lagi pastilah sangat besar. Sebuah diaspora orang
Yahudi pun terjadi, sebuah kumpulan jemaat Yahudi yang tersebar.
Seiring dengan penyebaran para saudagar Yahudi, diaspora ini semakin
meningkat di Barat, seperti yang terjadi di Timur. Kumpulan-kumpulan
jemaat Yahudi ditemukan di seluruh Asia Kecil dan Makedonia, di Aikea
dan Italia, di Mesir, dan bahkan di Gaul (sekarang bagian dari
Perancis).

Diaspora di Barat secara umum dianggap remeh oleh para pemimpin di
Yerusalem daripada di Timur. Diaspora di Barat harus menjalani sebuah
pergumulan yang lebih pahit melawan faktor-faktor yang tidak sulit
diperhitungkan seperti semangat Hellenistik, dengan kecenderungannya
pada spekulasi filosofis, sinkretisme, dan kosmopolitanisme. Untuk
alasan inilah, diaspora di Barat berada dalam bahaya yang terus
mengancam akan penyimpangan pada tradisi suci yang telah diterimanya.
(dalam Kisah Para Rasul 6:1 diaspora Barat dianggap sebagai kaum yang
berbicara bahasa Yunani dan menganut Hellenisme)

Diaspora menjelaskan kenyataan bahwa sebuah bagian dari bangsa Israel,
dengan sukarela hidup di tengah-tengah bangsa lain, bukan sebagai
orang terasing dan terkadang bahkan hidup dengan keadaan kaya raya.
Orang-orang Yahudi ini secara alami menggunakan bermacam-macam
pengaruh dunia Yunani, beberapa pengaruh yang dapat diringkas seperti
berikut ini:

a. Penghinaan dan Kesalahpahaman

Orang Yunani tidak mengerti orang Yahudi. Beberapa di antaranya
berpikir bahwa orang Yahudi menyembah bintang-bintang dan
mempersembahkan korban berupa manusia; yang lain berpikir bahwa orang
Yahudi belajar dari kebijaksanaan orang India; dan yang lain berpikir
bahwa orang Yahudi lebih rendah daripada sekumpulan penderita kusta
yang keluar dari Mesir, dan bahwa Orang Yahudi menyembah sebuah kepala
keledai emas di kuil-kuil mereka.

b. Penghormatan

Ada juga bukti bahwa agama Yahudi menimbulkan sebuah kesan mendalam
untuk bangsa-bangsa lain. Beberapa di antaranya kagum dengan ketaatan
orang Yahudi pada hari Sabat dan banyak hal yang lain, namun
monoteisme yang kuat pada orang Yahudi, iman orang Yahudi akan Tuhan
yang tidak terlihat, dan tingkat moral mereka yang relatif tinggi
menimbulkan rasa hormat. Sejumlah orang dari bangsa-bangsa lain secara
spontan memeluk kepercayaan Yahudi, demikian juga di mana pun diaspora
ada muncul sekumpulan penganut baru yang dalam hal terpenting, tidak
mau disunat namun memegang teguh hukum Yahudi dan mengirim persembahan
mereka ke Yerusalem.

Dalam Kisah Para Rasul, hal seperti itu disebut sebagai para penyembah
Tuhan (sebomenoi, phoboumenoi, lihat Kisah Para Rasul 13:43).
Orang-orang dari bangsa lain yang menyunatkan dirinya dianggap oleh
rekan sebangsanya sebagai orang Yahudi. Sejarahwan Romawi, Tacitus,
mengkritik para penganut baru ini karena meninggalkan tanah air dan
keluarga mereka, dan membiarkan diri mereka tinggal di antara orang
asing.

c. Tiadanya Karya Misi

Yang patut dicatat, penerimaan para pemeluk baru ini bukanlah hasil
kegiatan misi yang disengaja. Yang ada, bagaimanapun juga, sebuah
propaganda dalam bentuk tertentu. Dalam suatu waktu tertentu, kemudian
terdapat sekumpulan orang Yahudi yang sangat sibuk sebagai utusan
Injil (Matius 23:15). Pada awalnya, gelombang para pemeluk baru lebih
sebagai akibat dari menariknya agama orang Israel. Dalam perkawinan
campuran, biasanya disyaratkan pria dari kalangan bangsa-bangsa lain
untuk mengizinkan dirinya disunat atau paling tidak anak-anak mereka
disunat. Menurut Josephus, orang Yahudi sering berupaya untuk
memancing orang Yunani datang ke kebaktian mereka dalam rangka
memenangkan mereka untuk memeluk kepercayaan mereka.

d. Agama Filosofis

Pada sebuah dunia intelektual yang sudah lelah dengan mitos-mitos kuno
para penyair Yunani, tidak mengejutkan bahwa agama Yahudi dihargai
karena konsep kerohaniannya akan Tuhan. Orang Yahudi sendiri
menggunakan secara luas penghargaan ini, dan tidak malu-malu untuk
membicarakan penyembahan mereka sebagai sebuah "agama filosofis".
Mereka mencoba mendemonstrasikan bahwa mereka orang-orang yang
berbudaya, dan bahwa Plato dan Aristoteles berhutang budi karena
ide-ide mereka yang agung. Pemikir Yahudi, Aristobulus, menulis
sebuah karangan mengenai hukum yang ditujukan pada raja Ptolomeus
Philometor (170-145 SM), yang sekarang hanya sedikit bagian yang
berhasil diselamatkan. Salah satu dari beberapa bagian itu berpendapat
bahwa Plato dan Pythagoras telah meminjam banyak pengajaran mereka
dari terjemahan kuno hukum Musa. Sering ditegaskan bahwa pengajaran
yang mendalam dan agung dari Perjanjian Lama, seluruhnya sesuai dengan
pemikiran-pemikiran terhebat para pemikir Yunani.

e. Yahweh -- Zeus

Pemikiran seperti itu mengarah pada penyamarataan konsep filosofis
Dewa Yunani dengan Yahweh, tanpa mempertimbangkan perbedaan besar di
antara keduanya. Dalam sebuah surat dari Aristeas untuk Raja Ptolomeus
II yang membahas penerjemahan Perjanjian Lama ke Bahasa Yunani,
dinyatakan mengenai "keagungan penulis hukum tersebut dengan
pemerintahan Ptolomeus; Dia adalah Zeus yang maha mengetahui dan
menciptakan". Di sini Tuhan orang Israel disamakan seluruhnya dengan
konsep monotheistik filosofis tentang Zeus dari dunia Helenistik.
Lebih lagi, pemikir Yahudi pada masa itu merasakan adanya sebuah
hubungan etis dengan para filsuf Stoic, sejak bagian-bagian
terakhirnya mengkhotbahkan tentang sebuah hidup yang tenang dan penuh
penyangkalan diri.

f. Septuaginta

Semua usaha tersebut sangat erat terhubung dengan penerjemahan
Perjanjian Lama ke dalam Bahasa Yunani, sebuah penerjemahan Tujuh
puluh (septuaginta). Septuaginta mempersiapkan jalan dengan penuh
penghormatan untuk membuka mata dunia Yunani akan keindahan Perjanjian
Lama, dan dengan mengadaptasi banyak konsep dan ide Perjanjian Lama
pada pemikiran-pemikiran Yunani.

g. Kuatnya Daya Pikat

Suatu cara yang jauh lebih kuat tentang propaganda daripada pendekatan
melalui filsafat Yunani adalah "eksklusivitas" dan "kohesivitas"
komunitas orang Yahudi. Dalam sebuah studi yang berjudul "Die Jüdische
Propaganda als Vorläuferin der Urchristlichen Mission", Axenfeld
mengatakan, "sebagai sebuah agama filosofis, Yudaisme benar-benar
menjangkau orang yang terdidik secara tertutup. Namun, sebagai sebuah
perkumpulan religius dan sosial dengan sebuah cara hidup yang unik,
hal itu menarik sejumlah besar orang." Dengan masuk ke komunitas
Yahudi, seorang pemeluk baru dibawa ke dalam penyatuan dengan sebuah
dunia perkumpulan, dan karenanya dia menikmati semua jenis
keistimewaan politis dan sosial.

Yudaisme adalah sebuah agama yang dilegitimasi pada zaman kekaisaran
Romawi. Seorang Yahudi menikmati banyak keuntungan sebagai warga
negara. Orang-orang Yahudi yang tinggal di kota-kota memiliki semacam
pemerintahan mereka sendiri, dan karenanya merupakan negara di dalam
negara. Untuk taraf tertentu, mereka bahkan memiliki pengurusan hukum
mereka sendiri, sehingga menjadi bagian dari komunitas seperti itu
sangat diinginkan oleh banyak orang. Mulai dari orang biasa dan
sekumpulan orang yang tanpa berpikir panjang, tidak bisa memikirkan
sebuah agama tanpa dewa-dewi, sehingga mereka mungkin mengatakan bahwa
orang Yahudi itu atheis. Namun, mereka yang masuk ke sebuah pengertian
yang lebih mendalam mengenai penyembahan Yahudi, hanyalah salah satu
dari banyak cara yang ada, menjadi terpengaruh karenanya.

Ketika kita mengingat kembali masa ini, sangat jelas bahwa hal itu
mengambil sebuah tempat penting dalam bimbingan jalan Tuhan. Pemisahan
orang Israel, isolasi yang kuat masih berlanjut. Tembok pemisah yang
memisahkan orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain masih ada (Efesus
2:14). 
Dari titik tolak teologis, posisi orang Israel tidak berubah.
Namun faktor-faktor politik dan budaya, yang terhubung erat dengan
isolasi orang Israel telah jauh berubah. Israel bukan lagi sebuah
daerah kecil yang terasing pada sebuah sisi dunia yang terlupakan.
Israel sekarang telah menjadi sebuah provinsi dari Kekaisaran Romawi
yang besar, dan dalam cara yang khusus berhubungan dengan budaya yang
memerintah dunia.

Sekarang Israel memasukkan pengaruhnya dan menjadi subjek untuk
pengaruh budaya yang lain. Situasi seperti itu, tanpa diragukan lagi
membawa sebuah bahaya besar dan godaan yang tetap untuk Israel, sebuah
perubahan yang dihadang dengan kuat dengan cara mempraktikkan hukum
menurut cara-cara orang Farisi. Kerumitan yang terjadi kemudian
terbukti dengan kenyataan ancaman yang semakin meluas untuk Israel.
Pintu-pintu secara bertahap mulai terbuka, hampir tanpa terlihat;
pemisahan penuh dan menyeluruh Israel mulai melemah. Hal itu paling
terlihat dalam peninjauan kembali untuk kemudian menyadari bahwa Tuhan
sedang mempersiapkan sebuah periode baru, di mana gereja-Nya akan
mengajarkan Injil keselamatan dalam Kristus, dari Yerusalem untuk
kemudian menuju seluruh penjuru dunia.

Rahasia Injil

Semua hal tersebut secara mendasar berubah dengan kedatangan Yesus
Kristus. Siapa pun yang mempelajari kehidupan Yesus yang bertentangan
dengan dengan latar belakang pengharapan Perjanjian Lama akan
keselamatan, segera terkena masalah-masalah besar yang dengan cepat
muncul. Para Nabi Perjanjian Lama, tanpa ragu menyatakan dalam
berbagai kesempatan mengenai seorang Mesias yang menderita (sebagai
contoh Yesaya 53), namun sebagai sebuah kebiasaan, datangnya Mesias
digambarkan oleh mereka sebagai sebuah transformasi radikal
pemerintahan dunia, yang ditandai pada setiap sisinya dengan
berubahnya konsep pikir mengenai keselamatan. Sekolah-sekolah teologi
pada masa Yesus begitu menekankan aspek tertentu dari nubuatan tentang
Mesias, sehingga pada sebuah pertimbangan yang lebih mendalam, mereka
salah menggambarkan gambaran Perjanjian Lama. Kondisi seperti itulah
yang menegakkan dasar rahasia, yang ditampilkan dalam Injil.

Dari masa pertama pengajaran Yesus, nampaknya seolah-olah Yesus
mengharapkan pendekatan yang sesegera mungkin mengenai keselamatan
besar. Markus memberi tahu kita bahwa beban khotbah Yesus adalah
"Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat" (Markus 1:15).
Maksud "waktu" yang "telah genap" hanya dapat merujuk pada masa
terdahulu pada datangnya keselamatan untuk seluruh dunia. Dalam Matius
10 
Yesus berkata pada murid-muridNya, "Apabila mereka menganiaya kamu
dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota
Israel, Anak Manusia sudah datang" (Matius 10:23).

Kesan yang sama diberikan di Matius 16:28: "Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan
mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam
Kerajaan-Nya." Dalam Markus, kata-kata yang terakhir berbunyi "Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada
yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah
datang dengan kuasa" (Markus 9:1); bandingkan juga Lukas 9:27. Dalam
semua bagian ini, seolah-olah pada bagian paling awal dari
pelayanan-Nya, Yesus mengharapkan datangnya keselamatan dengan cepat.
Kemudian Dia tidak lagi membicarakan hal ini dengan kata-kata yang
keras, namun lebih sering dengan merujuk pada penderitaan dan
kematian-Nya yang semakin mendekat. (tRinto)

Diterjemahkan dari:
Judul buku: An Introduction to the Science of Mission
Judul asli artikel: The Concept of Mission in The Gospel and
                    the Acts of the Apostles
Penulis: J. H. Bavinck
Penerbit: Presbyterian and Reformed Publishing Co., Phillipsburg, New Jersey
Halaman: 25 -- 30

                    DOA BAGI MISI DUNIA: FILIPINA
                   Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Terakhir kali N melihat saudara laki-lakinya ketika mereka bertemu
pada makan malam pada 5 Mei 2009. Tiga hari kemudian, saudara laki-
lakinya ditemukan tewas. Dia dibunuh oleh sekelompok garis keras, yang
marah karena ia telah melewati daerah mereka -- Mindanao. Para
penyerang mengikat tangan dan kakinya, memukulinya, sebelum akhirnya
sebutir peluru menembus kepalanya. N dan orang Kristen lainnya yang
tinggal di Mindanao, diteror setiap hari oleh kelompok garis keras.
Pulau ini mendidih dalam perang saudara antara tentara pemerintah dan
kelompok garis keras, yang berperang untuk memperoleh kemerdekaan.
Orang-orang Kristen tidak hanya terjebak di tengah-tengah; mereka juga
secara khusus menjadi target oleh kelompok garis keras, yang percaya
bahwa orang Kristen adalah mata-mata yang tinggal di Mindanao dan
bekerja untuk pemerintah.

Sumber: KDP, Edisi Januari-Februari 2012, Hal. 10 -- 11

Pokok doa:

1. Berdoa untuk umat Kristen di Mindanao, agar Tuhan memberi kekuatan
   dan penghiburan di tengah teror dan aniaya yang kerap kali dialami
   oleh anak-anak-Nya.
2. Doakan agar N dan keluarganya diberi kekuatan oleh Tuhan, untuk
   tetap setia dalam mengikut Dia dan menjadi berkat bagi orang-orang
   yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.
3. Berdoa untuk para pemimpin gereja dan organisasi Kristen yang
   melayani di Mindanao, agar Tuhan memberi perlindungan selama mereka
   melayani di ladang-Nya. Doakan juga agar melalui pelayanan mereka,
   setiap orang -- baik umat percaya maupun yang belum percaya dapat
   merasakan kasih Kristus.

                 DOA BAGI INDONESIA: PENUTUPAN GEREJA
                   Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Sebuah gereja -- R, yang terletak di salah satu Kabupaten di Jawa
Barat telah ditutup paksa oleh massa. Gereja yang mulai dirintis sejak
1987 itu, dimulai dengan melayani 4 jemaat saja. Pada tahun 2002,
jumlah jemaat bertambah menjadi 300 jemaat. Oleh kerena itu, gembala
di gereja tersebut, berkeinginan mengurus perizinan gereja melalui
sekretaris desa. Dua tahun berlalu, namun izin belum juga keluar. Pada
tahun 2010, jumlah jemaat yang digembalakan meningkat menjadi 500
jemaat. Karena jumlah jemaat semakin banyak, pada awal tahun 2011,
bapak gembala ini dipanggil oleh Polsek, Dandim, dan Camat, agar
segera mengurus izin gereja.

Pada suatu hari Minggu, saat sedang berlangsung ibadah Pemuda/Remaja,
yang dihadiri sekitar 70 anak muda, tiba-tiba dihentikan secara paksa
oleh sekelompok massa. Sekelompok massa ini datang dengan membawa
senjata tajam. Pada September 2011, Satpol PP mengeluarkan beberapa
peralatan musik, kursi-kursi, lalu mengunci dan menyegel gedung
gereja.

Pada Oktober 2011, salah satu penyidik, mengajukan bapak gembala ke
persidangan, dan hakim menyatakan bahwa gembala bersalah atas tuduhan
penyalahgunaan rumah yang dijadikan tempat ibadah tanpa dilengkapi
IMB, atau melanggar Perda No. 4, Thn 2000. Hakim memvonis dengan denda
Rp. 25.000.000 yang harus dibayar dalam jangka waktu 1 tahun, atau
diganti dengan hukuman penjara selama 3 bulan.

Saat ini, jemaat gereja tersebut banyak yang tercerai-berai di gereja
lain, karena gedung gereja tidak dapat lagi digunakan untuk kegiatan
ibadah.

Sumber: KDP, Edisi Januari-Februari 2012, Hal. 3

Pokok doa:

1. Dukung dalam doa perjuangan jemaat gereja ini untuk memperoleh izin
   melakukan kegiatan ibadah.
2. Doakan untuk bapak gembala, agar Tuhan memberi hikmat dan kesabaran
   dalam menghadapi masalah yang sedang dihadapi gereja yang
   digembalakannya ini.
3. Doakan juga agar iman setiap jemaat gereja ini dapat tetap
   terpelihara, meskipun saat ini mereka tidak beribadah di tempat yang
   sama. Doakan agar Tuhan melindungi dan memelihara hidup mereka.
4. Doakan untuk pemerintah setempat, agar mereka melakukan tugasnya
   dengan Tuhan akan Tuhan sehingga dengan setia menjunjung tinggi
   keadilan dan kebenaran.

"WHEN YOU CAN`T FIND A WAY OUT, LOOK UP!"

Kontak: < jemmi(at)sabda.org >
Redaksi: Novita Yuniarti, Yosua Setyo Yudo
(c) 2012 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/misi >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org