Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/misi/2012/5

e-JEMMi edisi No. 05 Vol. 15/2012 (31-1-2012)

Bambam, Pitu Ulunna Salu, Indonesia

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________

SEKILAS ISI
RENUNGAN MISI: PENGHARAPAN DI BALIK PENDERITAAN
PROFIL SUKU: BAMBAM, PITU ULUNNA SALU, SULAWESI BARAT, INDONESIA

Shalom,

Dalam surat Paulus kepada Timotius, ia berkata bahwa Kristus Yesus
adalah dasar dari segala pengharapan kita. Tidak peduli apa pun yang
Anda alami, pengharapan Anda kepada Yesus tidak akan mengecewakan.
Dalam edisi kali ini, kami menyajikan renungan mengenai pengharapan
yang benar dan mengapa pengharapan itu dapat disebut sebagai "sauh
yang kuat dan aman bagi jiwa kita". Dalam profil bangsa, kami membawa
Anda untuk mengenal orang-orang Bambam dari Indonesia dan berdoa bagi
mereka. Kiranya, sajian kami dalam edisi ini dapat menjadi berkat bagi
Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Staf Redaksi e-JEMMi,
Yosua Setyo Yudo
< http://misi.sabda.org/ >

          RENUNGAN MISI: PENGHARAPAN DI BALIK PENDERITAAN

Pengharapan adalah menantikan sesuatu yang tidak kelihatan namun pasti
(Roma 8:24). Pengharapan itu akan lebih terasa kekuatannya apabila
dialami secara langsung. Pengharapan bukan sekadar teori atau kata
orang lain. Ada tiga hal berkaitan dengan kekuatan sebuah pengharapan.

1. Pengharapan Membuat Orang Mampu Bertahan

Seorang tawanan Nazi Jerman mampu bertahan ketika yang lain meninggal
satu per satu dianiaya. Pengharapan memampukannya bertahan hingga
akhirnya ia selamat. Ia bersama tawanan lainnya dijebloskan ke dalam
penjara bawah tanah yang pengap dan gelap, di mana untuk dapat keluar
hidup-hidup dari sana kemungkinannya sangat kecil. Selain kondisi
penjara dapat membuat nyali seseorang ciut, para tawanan juga
diharuskan menjalani kerja rodi. Mereka sering kali dihukum secara
sadis. Keadaan yang berat ini menyebabkan para tawanan tidak mampu
bertahan dan mati satu per satu.

Kematian mereka disebabkan beberapa faktor. Ada yang sakit, stres
karena tidak mampu menahan siksaan yang kejam, dan berbagai perlakuan
di luar batas kemanusiaan. Dari sekian banyak tawanan, ada satu orang
yang mampu bertahan hidup. Kendatipun telah mengalami penderitaan di
kamp konsentrasi selama sebelas tahun, akhirnya ia dapat keluar dengan
selamat.

Kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II melawan sekutu, membuat situasi
menjadi kritis. Kondisi itu menjadi celah yang memungkinkannya untuk
bebas dari kamp konsentrasi. Ketika orang menyaksikan ia keluar dalam
keadaan hidup, orang bertanya-tanya mengenai rahasia yang membuatnya
mampu bertahan. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, ia hanya berkata
bahwa kuncinya pengharapan. Dia berpikir bahwa satu kali kelak
penderitaan ini pasti akan berakhir. Fakta menunjukkan bahwa akhirnya
pengharapannya tidak sia-sia.

2. Pengharapan Membuat Orang Berhasil

Sebelum orang meraih keberhasilan, biasanya harus mengalami kegagalan
berulang kali. Tetapi orang yang berpengharapan tidak mudah putus asa.
Orang yang mudah menyerah akan patah semangat ketika mengalami
kegagalan. Hal yang sama dialami seorang atlet renang internasional.
Atlet ini telah berulang kali berhasil menyeberangi samudra Pasifik
tanpa menggunakan alat bantu. Karena prestasinya, namanya dicatat
dalam "Guiness Book of Record". Namun, pada suatu kali dia gagal
menyelesaikan tugasnya. Setelah sampai di darat orang bertanya mengapa
dia sampai gagal. Jawabannya sederhana yakni karena ia kehilangan
pengharapan ketika tidak melihat ujung lautan.

3. Pengharapan Memberikan Ketegaran

Pengharapan membuat seseorang tetap tegar meskipun sedang berada di
ambang kematian. Saya melihat hal ini dalam kehidupan seorang teman
yang menderita sakit kanker stadium IV. Dokter memvonis bahwa usianya
tinggal tiga bulan. Badannya tinggal tulang berbalut kulit dan
wajahnya pucat. Berkali-kali dia menjalani kemoterapi, tetapi
penyakitnya tidak kunjung sembuh. Bersyukur akhirnya dia disembuhkan
Tuhan. Meski rambutnya sudah dua kali digunduli, tetapi dia pantang
menyerah.

Dalam menjalani sisa hidupnya, ia setia melayani sebagai "singer" dan
aktif di kelompok persekutuan. Kepada teman-temannya yang senasib, dia
juga memberikan penghiburan dan dorongan semangat. Pengharapannya
ditularkan kepada teman-temannya, dengan harapan mereka juga dapat
bersikap tegar menghadapi kenyataan. Vonis dokter yang menyatakan
usianya tinggal tiga bulan, akhirnya bertahan hingga tiga tahun. Ini
terjadi karena ia memiliki pengharapan kepada Tuhan. Semangat dan
pengharapannya yang kuat kepada Tuhan mampu melawan penyakit yang
menggerogoti kesehatannya. Inilah kekuatan sebuah pengharapan.

Alkitab menyatakan bahwa pengharapan itu ibarat sauh yang kuat dan
aman bagi jiwa kita (Ibrani 6:19). Tanpa sauh yang kuat, sebuah kapal
tidak akan mungkin dapat berlayar dengan baik. Kapal akan
terombang-ambing oleh gelombang lautan sebelum akhirnya karam
diterjang badai. Sebagai orang percaya, Yesus adalah dasar pengharapan
(1 Timotius 1:1).

Yusuf adalah salah satu figur yang mengalami langsung kekuatan sebuah
pengharapan. Dia tidak goyah atau bimbang melihat keadaan yang
berkembang semakin buruk. Yusuf harus mengalami dibuang ke dalam sumur
kering, dijual sebagai budak di negeri asing, menjadi budak Potifar,
difitnah, dan kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Padahal Tuhan
sudah berjanji bahwa Yusuf akan menjadi orang besar dan berpengaruh,
sesuai mimpi yang dialaminya.

Meski untuk mencapai jenjang puncak, ia harus melalui jalan panjang
dan berliku, ia tidak patah semangat. Akhir penantiannya tidak
sia-sia. Harapannya terwujud menjadi kenyataan. Yusuf menjadi orang
nomor dua di Mesir. Semua orang sujud menyembahnya. Inilah bukti
kekuatan sebuah pengharapan. Untuk mencapai semua itu diperlukan
ketaatan dan kesabaran menanti waktu Tuhan. Sesuai dengan sifatnya,
pengharapan itu baru akan terjadi di waktu yang akan datang, bukan
sekarang. Untuk itu, diperlukan kesabaran menunggu. Sementara dalam
proses menunggu, diperlukan sikap taat. Taat terhadap rencana dan
kehendak Tuhan. Berjalan di jalur yang sudah ditetapkan Tuhan baginya.
Dengan demikian kuasa pengharapan akan dapat dirasakan. Oleh sebab
itu, ketika keadaan menjadi sulit dan tak terkendali jangan kecewa dan
putus asa. Tetaplah berharap kepada janji Tuhan yang tidak pernah
berubah. Kita dikasihi Allah agar kita mengejar kasih itu menjadi
milik kita dan mempraktikkan dalam hidup yang nyata.

Diambil dari:
Nama majalah: Kalam Hidup, Januari 2007
Judul artikel: Pengharapan di Balik Penderitaan
Penulis: Tony Tedjo, S.Th.
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup
Halaman: 14 -- 16

    PROFIL SUKU: BAMBAM, PITU ULUNNA SALU, SULAWESI BARAT, INDONESIA

Pendahuluan/Sejarah

Orang-orang Bambam menurut asal-muasal mereka berdasarkan tujuh
turunan dari Pongkapadang dan Torije`ne`, yang telah membentuk suatu
subsuku yang disebut Pitu Ulunna Salu (tujuh kepala sungai), yang
telah mempersiapkan suatu kekuatan yang dipersatukan untuk menghadapi
pihak luar, yakni kelompok-kelompok musuh dari luar. Pemerintah
Kolonial Belanda datang pada permulaan tahun 1900-an dan mendirikan
sekolah-sekolah, menghapus perbudakan, memperkenalkan pajak, dan
menyebarkan agama Kristen. Selama Perang Dunia II, Jepang mengirim
pasukan tentaranya untuk mengawasi wilayah ini, meskipun wilayah ini
sangat terpencil dan tidak menguntungkan secara ekonomi.

Wilayah Bambam mengalami masa sukar berikutnya sejak 1950 hingga 1965
sampai dengan masa penyerangan dan pemberontakan. Sekelompok
pemberontak Muslim fanatik mengambil alih kota Mambi dan mulai memaksa
orang-orang di desa-desa lain untuk memeluk agama Islam. Sebagai
akibatnya, orang-orang Bambam membentuk Organisasi Pertahanan Rakyat
(OPR). Dengan bantuan dari Batalion Nasionalis 710, OPR menyerang
Mambi dan menggiring para pemberontak ke pantai dekat Mamuju. Sesudah
peristiwa ini, Batalion 710 mulai menyiksa orang-orang daerah Bambam,
sehingga OPR memaksa 710 untuk mundur. OPR memutus-tuntas semua jejak
menuju daerah itu, dan terus mengawalnya hingga pemerintahan sipil
dipulihkan pada tahun 1964.

Dimanakah Lokasi Mereka?

Mayoritas orang Bambam tinggal di Kabupaten Mamasa, di dataran tinggi
Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Desa-desa terbentang sepanjang
tepian aliran anak sungai Salu Mambi, Salu Dengen, dan sungai-sungai
Salu Mokanam. Tempat ini merupakan suatu wilayah pegunungan, dengan
puncak-puncaknya yang ketinggiannya mencapai 3000 meter.

Seperti Apakah Kehidupan Mereka?

Rumah dan keluarga merupakan prioritas utama bagi orang-orang Bambam
pada umumnya. Keluarga inti terdiri dari orang tua, anak-anak yang
belum menikah, namun sering kali dalam sebuah rumah tangga termasuk
juga para orang tua yang sudah lanjut usia atau anak-anak yang baru
menikah. Di permukaan, hubungan mereka tampaknya sangat harmonis.
Kemarahan jarang sekali terjadi. Menyesuaikan diri, menjaga kedamaian,
dan memelihara status quo [keadaan tetap pada suatu saat tertentu,
Red.] merupakan nilai-nilai budaya. Pada umumnya, mereka sangat suka
bekerja sama dan hidup bersosial dengan baik, yang berjalan
bergandengan tangan dengan cara mereka bergotong-royong. Baik
mempersiapkan lahan, menanam, menyiangi, memanen, memperbaiki jalan,
maupun membangun rumah, mereka senang mengerjakannya secara
berkelompok. Kadang-kadang upah dilunasi, tetapi sering kali hal ini
menjadi urusan untuk membantu seseorang dalam hal pengembalian atas
bantuan mereka di lain waktu. Mengerjakan sawah secara bergiliran
merupakan pusat gaya hidup orang-orang Bambam. Aktivitas harian dan
perencanaan didasarkan pada giliran perawatan padi, menanam,
menyiangi, dan memanen. Pesta rakyat dan upacara juga terikat dalam
putaran musim ini. Tugas-tugas dibagi berdasarkan jenis kelamin.
Sementara mengerjakan lahan sawah secara bergilir merupakan pusat gaya
hidup, dalam tahun-tahun terakhir ini ekonominya lebih banyak
dipengaruhi oleh tanaman-tanaman, seperti kopi dan kakao. Kedua
komoditi ini menyediakan uang tunai untuk pembelian barang-barang yang
dibawa masuk dari luar.

Apakah Kepercayaan Mereka?

Ada tiga kelompok pemeluk agama di kalangan orang Bambam: Umat Kristen
(Protestan dan Katolik), kaum Muslim (Islam), dan Mappuhondo
(animisme). Kepercayaan tradisional Mappuhondo memengaruhi
kepercayaan-kepercayaan mereka yang menyebut diri mereka sebagai umat
Kristen atau kaum Muslim.

Secara turun-temurun, seseorang mendapatkan kesenangan bersama para
dewa dengan cara memiliki "panaba sambulo-bulo" (napas yang lurus).
Hal ini adalah menjadi yang baik, yang artinya memedulikan orang lain,
tidak berbohong, melakukan apa yang seseorang katakan untuk mereka
lakukan. Para dewa tidak menyukainya apabila Anda berusaha untuk
menghancurkan rencana-rencana orang lain. Anda perlu menemukan sisi
baik orang lain.

"Tometampa" sang dewa pencipta manusia, binatang, dan tumbuhan, segala
sesuatu yang ada di dunia ini. Dialah sang dewa pencipta, namun tidak
dianggap sebagai pemimpin dari segala dewa. Setiap dewa mengawasi
wilayah kekuasaan mereka masing-masing (sungai, bukit, desa, jenis
tugas atau pekerjaan, dll.). Orang-orang Kristen percaya kepada Allah
sang Pencipta dan bahwa Dialah yang mengatur segala-galanya.

Ketika seorang Bambam meninggal, ia pergi "sau`anitu" (turun ke dalam
sungai, ke dunia roh) yaitu dunia orang mati. Mereka tidak yakin di
mana tempat itu, "mungkin saja di tepi dunia". Sungai diseberangi
(salu sidilambam), dan mereka tidak bisa menyeberangi jika mereka
tidak memiliki kerbau air untuk menarik menyeberangkan semua harta
milik mereka. Itulah sebabnya, keluarga harus memenggal satu kerbau
untuk upacara penguburan.

Orang-orang Kristen masih memotong kerbau untuk upacara penguburan,
namun mereka berkata bahwa mereka akan dipermalukan jika mereka tidak
melakukannya.

Apakah Kebutuhan-Kebutuhan Mereka?

Sebagai petani, perhatian mereka adalah pada tanaman: serangga dan
tikus yang akan merusaknya, dan tanah longsor yang akan membabas
tanaman mereka dan merusakkannya. Kebanyakan tempatnya potensial sulit
untuk dijangkau dan daerahnya terpencil, yang dilihat oleh orang
Bambam sebagai suatu penghalang besar. Mereka merasa bahwa akibat
sukarnya daerah mereka untuk dijangkau, para pejabat pemerintah tidak
begitu memahami daerah Bambam, termasuk orang-orangnya dan situasinya.
Beberapa orang Bambam percaya bahwa mereka sedang berada di luar
jangkauan bantuan yang disediakan pemerintah, karena mereka tinggal di
daerah yang sangat terpencil seperti itu. Dengan transportasi yang
sukar, harga-harga kopi dan kakao yang ada di Bambam menurun. Dan
harga-harga barang yang dibawa masuk ke daerah ini tinggi. Fasilitas
medis juga jarang, baik tenaga medis maupun ketersediaan obat-obatan.
Ini semua masalah yang dipersoalkan secara sepihak karena alasan
tempat atau daerah yang berbukit, sukar untuk dijangkau.

Pokok Doa

1. Alkitab Perjanjian Baru dan kitab Kejadian dalam bahasa Bambam
sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Bambam tahun 2004. Doakanlah agar
kitab-kitab Suci itu dibaca dan diaplikasikan dalam kehidupan.

2. Rekaman kitab Perjanjian Baru dengan kaset-kaset yang telah
dipersiapkan, khususnya kitab Injil Yohanes dan program "Kabar Baik"
di Bambam. Doakanlah agar rekaman-rekaman ini dapat diterima dengan
baik dan menyentuh kehidupan mereka yang mendengarkannya.

3. Tekanan-tekanan politik dan agama telah mengganggu kehidupan di
daerah Bambam. Doakanlah agar tekanan-tekanan itu membuat mereka yang
menyebut dirinya Kristen, agar sungguh-sungguh mendekatkan diri pada
Kristus, dan agar orang lain akan datang kepada Kristus melalui masa
yang sukar ini.

4. Berdoalah untuk kebangunan rohani para penerus kekristenan, yang
kebanyakan telah menjadi Kristen karena tradisi. Berdoa pula untuk
ketersediaan Film Yesus dalam bahasa utama dari orang-orang Bambam.
(t/Samuel)

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Joshua Project
Judul asli artikel: Bambam, Pitu Ulunna Salu of Indonesia
Penulis: Tidak dicantumkan
Alamat URL: http://joshuaproject.net/people-profile.php?peo3=10616&rog3=ID
Tanggal akses: 24 Januari 2011

"IF YOU HAVE HALF A MIND TO TURN ON THE TELEVISION, THAT ALL YOU NEED
FOR MANY PROGRAMS"

Kontak: < jemmi(at)sabda.org >
Redaksi: Novita Yuniarti, Yosua Setyo Yudo
(c) 2012 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/misi >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org